Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 71


__ADS_3

"Tidak ada gempa! Kita telah sampai!"


Ke 3 pria itu langsung terdiam menatap Shua Xie tersipu malu sebab bertingkah konyol di hadapan seorang gadis belasan tahun yang bahkan tidak kaget seperti mereka. Mereka bertiga serempak berdehem bersikap seolah-olah kejadian tadi tidak pernah terjadi. Pria baju merah mendekati Shua Xie yang fokus menatap jalan ke depan.


"Xui Sha, kenapa kami ada di sini? Bukankah kita tadi masih jauh dari kota Bora? Tapi kenapa ... ini sungguh membingungkan."


Shua Xie tersenyum sekilas lalu kembali ke watak dingin, melihat senyuman sekilas itu membuat pria berbaju merah itu tersenyum kaku, sebab merasa ngeri melihat wajah dingin Shua Xie.


"Kenapa harus bertanya? Yang penting kalian telah sampai. Sekarang kita berpisah di sini, seharusnya kalian sudah tahu tidak jauh di depan sana ada gerbang kota."


Pria baju merah itu bernama San Sang, dia menatap Shua Xie sedikit berkerut, "Kenapa kita harus berpisah? Apakah kau tidak ingin pulang ke kerajaan?"


San Sang masih berpikir mungkin Shua Xie yang dia pikir keponakannya ini tidak ingin pulang ke kerajaan karena tidak mau dijodohkan, atau mungkin masih marah padanya.


Di sisi lain Cen Hui dan Wei Rong, 2 pria yang juga merupakan paman dari Xui Sha mendekati Shua Xie, setelah mendengar ucapan Shua Xie mereka langsung mendekat. Mungkin ingin bertanya kenapa Shua Xie tidak ingin ikut bersama mereka bertiga.


"Xui Sha, kami sudah berjanji akan memberikanmu apapun. Apa kau tidak mau hadiah maaf dari kami?" sahut Cen Hui dengan wajah memelas.


"Bahkan jika kau minta baju termahal atau perhiasan terbaik, kami akan membelikan untukmu. Ikutlah bersama kami, kau tahu Ayah dan Ibumu sangat merindukanmu. Tidak hanya mereka, kami semua sangat merindukanmu." Wei Rong juga ikut menambahkan, agar kiranya Shua Xie yang dia anggap Xui Sha mau ikut pulang bersama mereka bertiga.


Shua Xie tersenyum lebar sambil menepuk pundak Sang San pelan bersamaan dengan kembalinya wajah dinginnya, "Terimakasih, tapi aku masih ada urusan yang ingin kulakukan. Tenang saja aku akan kembali ke kerajaan Bora mengikuti ujian pemilihan calon murid sekte Kilat, kalian tunggu saja. Dan jangan lupa janji yang kalian buat padaku, jika kalian berbohong. Percayalah, membuat kalian kembali ke hutan bukan hal sulit bagiku."


Terdiam dan tercengang, itulah ekspresi ke 3 pria yang Phoe anggap bodoh setelah mendengar ucapan Shua Xie, seperti terkena mantra pengendali mereka langsung menuruti ucapan Shua Xie dengan anggukan. Mungkin mereka gemetar mendengar ucapan Shua Xie dan melihat sosok wajah Shua Xie jika mengancam. Di dalam sana rasanya Phoe ingin keluar dari alam batin Shua Xie dan mentertawakan wajah jelek mereka, jujur saja sejak awal Shua Xie membawa mereka ke kota Bora, Phoe tak henti-hentinya mentertawakan 3 pria bodoh itu.


Bagaimana mungkin 3 pria bangsawan memiliki karakter seperti itu? Harusnya mereka tegas dan berwawasan, atau paling tidak berkarisma layaknya bangsawan. Tapi 3 pria ini justru bertingkah sebaliknya.


Setelah berucap demikian, Shua Xie langsung meninggalkan mereka bertiga tanpa tunggu apa yang ingin 3 pria itu sampaikan. Ke 3 pria itu saling memandang cukup lama, sampai akhirnya mereka tersadar harus segera pulang dan melaporkan bahwa Putri Xui Sha tidak mati, dan akan segera pulang.


***


"Singkirkan anak miskin itu dari hadapanku! Melihatnya membuat suasana hatiku rusak!"


2 prajurit berjirah menjawab serempak dan langsung menendang anak kecil yang asik makan di pinggir jalan terlempar beberapa meter. Anak itu meringis keras saat merasakan kepalanya terbentur tembok di dekat kapalnya, melihat dia ke arah pria berpakain bangsawan itu dan langsung bangun bersujud mohon ampun.


Pria bangsawan itu adalah Xui Lang, keponakan dari Xui Sukong, anak dari San Sang. Dari kecil Xui Lang sudah dibiasakan hidup mewah dan manja, mengakibatkan masa dewasanya bergelamor dan suka bertindak semena-mena, hanya karena pamannya seorang Raja dan Ayahnya seorang perdagangan tersukses di kota Bora, dia berpikir dengan pangkat Paman dan Ayahnya dia bisa melalukan apapun. Usia Xui Lang masih terbilang sangat muda, yaitu 13 tahun, tidak jauh berbeda dengan umur Chen Xui.


"Ampuni hamba Pangeran, maafkan hamba karena telah membuat anda marah."


Xui Lang melihat acuh tak acuh pada anak kecil berusia 6 tahun itu. Segera dia melirik ke arah 2 prajuritnya dengan makna tatapan segera singkirkan anak miskin itu.


2 prajurit itu mengangguk paham dan langsung menyeret anak kecil itu ke tempat di mana Xui Lang tidak bisa melihatnya lagi, atau mungkin mereka bisa saja membunuh anak kecil itu.

__ADS_1


Warga di sekitar yang menyaksikan itu hanya bisa diam, bertindak seperti tidak pernah melihat kejadian tadi. Warga sudah sangat mengenal Xui Lang yang selalu bersikap semena-mena hanya karena mempunya latar belakang yang kuat, tapi walau pun begitu siapa yang berani melawan keponakan dari Raja Bora. Mereka hanya bisa pasrah, jika melawan bisa-bisa nyawa mereka jadi taruhannya.


Hal ini sudah sering terjadi, jika Xui Lang muncul di alun kota, para warga akan bersikap sebisa mungkin jangan sampai membuat Xui Lang marah. Ada pun yang pernah membentak kembali Xui Lang karena tidak suka akan perlakuan Xui Lang yang semena-mena, justru berakhir mati. Sebab itu tidak ada satu pun lagi yang berani menentang atau bahkan melihat Xui Lang secara langsung.


Di sisi lain, gadis berjubah hitam sejak tadi memperhatikan Xui Lang dengan pandangan datar. Awalnya gadis itu ingin menolong anak kecil yang ditindas tanpa alasan, namun dia mengurungkan niatnya sejenak ketika melihat 2 prajurit Xui Sukong. Bukan karena takut, tapi gadis itu menunggu 2 prajurit itu membawa pergi anak kecil itu.


Setelah 2 prajurit itu pergi, gadis itu langsung menghilang dari tempatnya dan muncul di dekat 2 pengawal yang menyeret anak kecil itu. Gadis itu menendang bongkong dari salah satu prajurit hingga tersungkur kasar di tanah.


Prajurit yang satunya langsung melihat ke belakang setelah melihat temannya jatuh karena di serang dari belakang. Dia mendapati seorang gadis berjubah hitam tengah berdiri di hadapannya.


"Siapa kau! Beraninya kau menyerang prajurit kerajaan Bora! Apa kau tidak takut mati hah!?" teriak prajurit itu keras.


Gadis itu tidak lain adalah Shua Xie, dia menatap prajurit itu datar tidak menunjukkan ekspresi takut atau pun lainnya. Sebenarnya Shua Xie tidak ingin mencampuri urusan seperti ini, tapi karena Xui Lang bertindak semena-mena pada anak kecil yang bahkan tidak ada salahnya, membuat Shua Xie sedikit geram.


"Kau bilang kerajaan Bora? Bahkan aku bisa membuat kerajaan itu tidak pernah ada lagi di kota ini," balas Shua Xie tajam dengan seringai menghina.


Ya, dia bisa saja membuat kerajaan Bora tidak pernah ada lagi di kota Bora jika dia mau, yang pastinya Xui Sukong akan menuruti jika dia sudah bertitah pada Jenderalnya. Shua Xie ini Putri Langit calon Ratu masa depan, Xui Sukong yang merupakan Jenderalnya tentu saja tidak berani membantah ucapannya. Bahkan Xui Sukong justru bisa saja melenyapkan marganya jika Shua Xie sudah berkehendak.


Prajurit itu geram mendengar ucapan Shua Xie, dengan raut wajah super marah dia menyerang Shua Xie tanpa berbasa-basi lagi. Shua Xie tersenyum sinis melihat prajurit bodoh itu menyerangnya, itu namanya cari mati menyerang Ratu masa depan. Dengan sekali pukulan prajurit itu langsung terpental sangat jauh dengan perut hancur, Shua Xie bahkan tidak tanggung-tanggung menggunakan saja Kutukan.


Pengawal yang satunya dapat melihat rekannya mati dalam satu kali serangan mendadak bergetar hebat, dia tidak berani membalikkan kepalanya sebab takut bernasib sial seperti rekannya. Tapi karena Shua Xie telah menghina kerajaan yang dia lindungi, prajurit itu memberanikan diri menatap Shua Xie walau pun tubuhnya sudah bergetar ketakutan.


"Si-siapa kau! Kenapa kau berani menyerang prajurit kerajaan Bora? Apa kau tidak tahu, kerajaan Bora merupakan kerajaan ke tiga terbesar di dunia Bawah! Kau akan menyesal jika berani mencari masalah dengan kerajaan Bora. Raja kami tidak akan tinggal diam!"


"Baiklah! Kau akan menyesal seumur hidup, akan kupastikan Raja kami tidak akan pernah melepaskanmu sekali pun kau pergi ke dunia lain." Prajurit itu berbalik dan segera lari meninggalkan Shua Xie dengan raut wajah marah, sebab tak terima akan ucapan Shua Xie. Bahkan dia lupa sedang berjalan bersama Xui Lang yang saat ini sedang menunggunya.


"Beritahukanlah, aku tunggu kabarnya. Kuharap kau tidak mati terkejut," balas Shua Xie sambil melambaikan tangannya pada prajurit itu.


Shua Xie beralih menatap anak kecil yang meringkuk ketakutan, Shua Xie berjalan mendekatinya tapi anak itu justru langsung mendorongnya kasar. Shua Xie sedikit terkejut atas perlakukan anak kecil itu terhadapnya, padahal dia baru saja menolongnya tapi kenapa anak itu justru bertingkah seolah Shua Xie lah yang menjahatinya. Bukankah seharusnya dia berterima kasih pada Shua Xie?


Anak kecil itu menatap tajam ke arah Shua Xie sebelum akhirnya dia bersuara keras, "Beraninya kau menghina kerajaan Bora! Apa kau tidak tahu Raja kami sangatlah baik, dia tidak akan melepaskan orang arogan sepertimu." Setelah berucap demikian anak itu langsung berlari meninggalkan Shua Xie yang tertegun mendengar ucapannya tadi.


Shua Xie menatap kepergian anak itu cukup lama sampai anak itu hilang dari pandangannya.


"Dia marah hanya karena aku mengatakan hal sepele? Sepertinya Jenderal Xui Sukong telah berbuat banyak pada rakyatnya, sehingga rakyatnya tidak terima jika Rajanya dihina. Sungguh manis, tapi aku tidak suka perlakuan keluarga bangsawan Bora."


***


Xui Lang menggerutu kesal sebab sudah cukup lama dia menunggu kedatangan 2 prajuritnya. Berulang kali Xui Lang melihat ke arah di mana 2 prajuritnya pergi membawa anak kecil tadi sambil berharap 2 pengawalnya itu segera muncul. Menunggu di tengah jalan seperti ini membuat dirinya menjadi sorotan warga sekitar, hal itu membuatnya semakin marah dan bahkan meneriaki siapa saja yang melihatnya.


"Apa yang kalian lihat!? Apa kalian sudah bosan hidup!?" teriak Xui Lang keras pada 2 pasangan yang baru saja menatapnya.

__ADS_1


Xui Lang kembali melihat ke tempat 2 prajuritnya pergi tadi, namun masih saja belum ada tanda-tanda kemunculan mereka.


"Ayolah! Kenapa dua bawahan itu lama sekali? Apa mereka sudah tidak ingin berkerja di kerajaan!?" gumam Xui Lang pelan sambil menendang batu kerikil di depannya.


Batu kerikil itu berguling sampai ke kaki seorang gadis berjubah hitam yang tak lain ialah Shua Xie. Xui Lang menatap Shua Xie sedikit bersemu sebab dia bisa melihat wajah gadis di hadapannya sangatlah cantik, dan itu membuatnya malu. Namun Xui Lang menyembunyikan ekspresinya itu dan justru bertingkah kesal.


"Apa yang kau lihat?! Minggir sana, kau menghalangi pandanganku!" teriaknya keras dapat didengar semua orang.


Shua Xie tidak memperdulikan teriakan Xui Lang membuat Xui Lang semakin kesal.


"Kau tidak sayang nyawamu hah? Tapi karena kau cantik aku bisa mengampuni nyawamu, jika kau mau menjadi pelayanku!"


Shua Xie tertawa kecil, "Pelayan? Mimpimu terlalu tinggi bocah," balas Shua Xie sinis dengan raut wajah menghina.


Xui Lang menggertakkan giginya marah, belum pernah ada seorang pun berani melawannya. Bahkan ayah dan ibunya saja tidak pernah, tapi kenapa justru gadis di hadapannya ini berani menghinanya.


Semua orang dapat mendengar ucapan Shua Xie dan langsung berbisik-bisik, mengenai keberanian Shua Xie mencari masalah dengan Xui Lang.


"Berani sekali gadis itu, astaga dia pasti pendatang baru sebab itu dia berani melawan Pangeran Xui Lang."


"Gadis itu cari mati, seharusnya dia menuruti ucapan Xui Lang dari pada berakhir mengenaskan. Aku tidak tahu penyiksaan apa yang akan dilakukan Xui Lang padanya nanti."


"Kalau aku jadi gadis itu, aku akan langsung bersujud dan berterima kasih. Atau mungkin segera meninggalkan kota Bora agar selamat dari kematian."


Shua Xie dan Xui Lang dapat mendengar bisikan-bisikan para warga sekitar, Xui Lang justru bangga mendengar bisikan itu yang menandakan bahwa dia memang sangat berkuasa di sini. Siapa berani mencari masalah dengannya, maka pamannya akan bertindak untuknya. Berbeda dengan Shua Xie, dia bahkan tidak memperdulikan bisikan itu.


Kabur? Itu cerita konyol buat Shua Xie. Buat apa dia kabur dari kota Bora yang bahkan bisa saja menjadi miliknya. Apa lagi takut, justru kalian yang harus takut, sebab bisa saja Shua Xie yang akan memimpin kerajaan Bora jika dia mau.


Shua Xie menatap Xui Lang yang sedang tersenyum sinis padanya, mungkin karena bangga mendengar pujian dari warga sekitar.


"Apa kau mendengar itu? Kusarankan kau segera berlutut dan cium kakiku, mungkin aku akan memaafkanmu. Dan Pamanku tidak akan memburumu," ucap Xui penuh rasa bangga.


"Bocah kecil, kau terlalu dini memintaku berlutut di hadapanmu. Aku rasa Pamanmu kurang mendisiplinmu." Shua Xie menarik kera baju Xui Lang dan langsung menyeretnya menuju kerajaan Bora. Semua orang yang melihat itu terkejut setengah mati sebab tak percaya ada orang yang berani melakukan hal seperti itu pada Xui Lang.


Xui Lang merontah-rontah dalam genggaman Shua Xie, berusaha melepaskan diri namun percuma dia kalah tenaga dengan Shua Xie.


"Lepaskan aku! Sialan! Kau akan mati, akan kupastikan kau menderita seumur hidup! Lepaskan aku! Mau kau bawa ke mana aku!? Apa kau tidak tahu aku ini pangeran kerajaan Bora! Seluruh prajurit kerajaan Bora pasti akan memburumu ke mana pun kau pergi!"


"Heh? Kalau begitu jabatanmu sebagai pangeran akan hilang selamanya, percayalah bahkan Rajamu tidak akan berani menentang keputusanku."


Tertegun Xui Lang mendengar ucapan Shua Xie, berani mengatakan hal seperti itu berarti dia memiliki jabatan tinggi di kerajaan Bora. Tapi kenapa Xui Lang tidak pernah melihatnya?

__ADS_1


"Siapa kau? Kenapa kau berani mengatakan hal seperti itu?"


"Siapa aku? Kau bisa bertanya pada Pamanmu sendiri."


__ADS_2