Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 141


__ADS_3

Shua Xie berpikir dia akan menikmati waktu berkelilingnya seorang diri, tapi tampaknya takdir berkata lain. Xingxing teman seasramanya menjadi temannya atau mungkin bisa dikatakan sahabat, entah kepercayaan diri dari mana Xingxing dapatkan sehingga bersikap begitu dekat pada Shua Xie, seolah mereka merupakan sahabat dekat yang terpisah cukup lama.


Raut wajah Shua Xie sedikit memburuk, bukan karena suasana sekte Kunlun kurang menarik, tapi karena Xingxing terus berbicara sepanjang mereka jalan dan bahkan terus menempel dengannya seperti magnet. Membuat Shua Xie sedikit risih.


'Entah dosa apa yang pernah aku lakukan hingga bertemu dengan bocah seperti ini,' lenguh Shua Xie dalam hatinya.


"Kita sama-sama murid baru, tapi karena kau lebih tua tiga tahun dariku aku akan memanggilmu Kak Shua." Xingxing mulai menentukan panggilan yang lebih sopan namun akrab untuk Shua Xie, sebagai teman asrama Xingxing tidak ingin Shua Xie tidak betah bersamanya.


"Terserah kau saja, Xing," balas Shua Xie apa adanya, sungguh dia sudah tidak sanggup dengan sikap Xingxing yang begitu bersemangat seolah tidak ada waktu lelahnya. Sifat semangat memang boleh, tapi jangan sampai menyulitkan orang di sekitarnya.


"Oh, ya, Kak Shua. Kau memiliki wajah sangat cantik dan tubuh sangat bagus, katakan padaku bagaimana cara Kak Shua Xie mendapatkannya?" tanya Xingxing lagi.


Harus Xingxing akui pertama kali dia melihat Shua Xie, Xingxing sangat terpukau melihat kecantikan dan bentuk tubuh Shua Xie, gadis mana pun pasti akan mengakui Shua Xie seperti pahatan sempurna maha karya Dewi, membuat gadis lain sangat iri padanya.


Mendengar pertanyaan Xingxing membuat Shua Xie sedikit berkerut. Jika membahas tentang kecantikan, Shua Xie juga tidak tahu harus menjawab seperti apa, dia saja memasuki tubuh orang lain secara tidak sengaja, jadi bisa dikatakan kecantikannya sekarang itu karena sebuah keberuntungan bukan?


"Kenapa kau bertanya tentang itu? Bukankah kau lebih mementingkan kekuatan?" balas Shua Xie sedikit bingung, dia berpikir Xingxing tidak akan pernah peduli soal gaya dan kecantikan mengingat karakteristik Xingxing sangat berbeda.


Ekspresi wajah Xingxing mendadak berubah, yang sebelumnya terlihat bersemangat berganti sedih seperti tertindas. Xingxing melihat ke bawah, tepatnya ke dadanya yang cukup rata untuk dada seorang perempuan, pandangannya itu membuat Shua Xie paham dan merasa canggung bersalah.


Jika diperhatikan seksama, ketika Xingxing jalan berdampingan bersama Shua Xie dirinya terlihat seperti adik laki-lakinya Shua Xie. Dengan pakaian hitam seperti pakaian pria, ditambah lagi bentuk tubuhnya juga lebih memperlihatkan dirinya seperti pria, terlalu rata.


"Aku terlalu rata sebagai perempuan," ungkap Xingxing pelan dengan nada malu, wajahnya juga merona merah. Tentu saja malu mengakui bentuk tubuhnya yang terlalu rata.


Shua Xie tersenyum canggung seraya tangannya kirinya menggaruk telinga belakangnya, 'Ini, jangan bilang bocah ini iri melihat bentuk tubuhku?' tebak Shua Xie dalam hati.


Tidak bisa Shua Xie pungkiri juga bentuk tubuhnya juga sangat bagus dan tentunya menggoda banyak mata pria. Ya, meskipun tubuhnya memang bagus tapi Shua Xie tidak pernah mengharapkan memiliki kecantikan dan bentuk tubuh seperti sekarang, Shua Xie juga harus akui dia dibuat kesulitan karena kecantikannya. Terlalu banyak pria yang tergoda membuat Shua Xie risih.


Shua Xie menyentuh bahu Xingxing membuat pandangan gadis muda itu seketika beralih menatapnya, "Jika aku jadi dirimu, akan lebih baik memiliki tubuh sepertimu dari pada tubuh sepertiku. Tapi ini sudah takdir, kita tidak bisa menentukan lahir dengan bentuk apa bukan?" Shua Xie tahu dia memang tidak bisa membantu Xingxing mendapatkan tubuh ideal sepertinya, tapi paling tidak Shua Xie masih mau menyemangatinya untuk bersyukur dengan apa yang dia punya.


Ke dua bola mata hitam seperti malam itu berbinar indah, seperti lampu kaca berkilau, Xingxing sungguh terharu akan kata-kata Shua Xie meski menurut banyak orang kata-kata itu tidak lebih tepat menghibur saja, "Kak Shua, kau orang yang tidak merendahkanku setelah Ayah dan Ibuku." Karena haru Xingxing memeluk Shua Xie.


"Ah, ini." Shua Xie menepuk jidadnya tanpa sadar, sikap Xingxing terlalu berlebihan baginya, "Xingxing lepaskan aku, orang lain bisa salah paham melihat kita." Berniat melepaskan pelukan Xingxing darinya, tapi gadis kecil itu semakin menguatkan pelukannya.


"Uuwwahh! Tidak mau! Tidak mau!"


"Lepaskan, Xingxing!"


"Tidak mau!"


"Wah, wah ... pemandangan yang sungguh mengharukan." Sekelompok pria yang muncul entah dari mana datang menghampiri Shua Xie dan Xingxing. Kedatangan sekelompok pria itu bersama beberapa wanita yang menempel pada pria paling depan, pemimpin kelompok itu membuat pandangan Shua Xie dan Xingxing seketika menatap mereka.


Xingxing perlahan melepaskan pelukannya, matanya yang sebelumnya terlihat sedih berubah seketika. Xingxing maju selangkah ke depan, "Siapa kau? Dan mau apa kau ke sini?" tanya Xingxing dengan nada cukup tinggi, tidak suka melihat kedatangan pria itu bersama beberapa wanita murahan di sekitarnya.


Xingxing mendapat firasat buruk ketika melihat kedatangan pria itu, cukup melihat dari plakat kayu yang bergantung di pinggang pria itu Xingxing dapat menebak status pria itu sebagai murid dalam. Berarti kedudukan status murid antara Xingxing dan pria itu berbeda.

__ADS_1


Pria berbawakan kipas putih di tangannya mengukir seringai seraya tangan kirinya itu merangkul seorang wanita berpakaian hijau di sampingnya, matanya tidak lepas memandang gadis cantik di depannya yang tidak lain adalah Shua Xie.


"Aku adalah Diqiu, seorang murid dalam." Pria bernama Diqiu itu memperkenalkan dirinya dengan gaya cukup sombong. Tangannya yang memegang kipas terangkat menunjuk ke arah Shua Xie sembari dia tersenyum lebar, "Hei, gadis manis, aku menginginkanmu!" lanjutnya lagi.


"Hah?" Mulut Xingxing terbuka, tebakannya benar bukan, melihat dari perangai pria itu saja Xingxing bisa mengetahui pria itu menginginkan Shua Xie menjadi wanitanya. Tapi Xingxing tidak akan membiarkan hal itu terjadi, "Hanya murid dalam beraninya mengganggu orang terdekatku! Kau tidak layak!" sinisnya tajam membalas Diqiu.


Diqiu segera menatap Xingxing geram, telinganya baru saja mendengar kata penghinaan untuknya. Diqiu memandang Xingxing dari bawah hingga atas, tidak ada yang menarik dari gadis kecil itu, "Rata." Satu kata namun memiliki beribu makna, kan?


Para pengikut Diqiu menutup mulut mereka, ingin tertawa namun tidak tega juga, pemimpin mereka menyinggung bocah kecil, jika mereka tertawa keras takutnya membuat bocah itu menangis. Tapi itu hanyalah kekhawatiran yang menghina, bukan?


Alis Xingxing berkedut cukup keras sembari tangannya itu mengepal keras, "Kau mengatakan apa tadi?" tanya Xingxing pelan namun nadanya terdengar menekan.


Diqiu melepaskan rangkulannya, dia maju selangkah ke depan dengan seringai menghina, "R-A-T-A," balas Diqiu mengeja satu persatu huruf kalimat yang dia ucapankan.


Kalian pasti tahu, menghina fisik wanita sama saja memancing kemarahan mereka. Xingxing menutup matanya rapat masih berusaha untuk sabar, tapi ke dua tangannya sudah mengepal kuat begitu gatal ingin menghajar pria di depannya.


Melihat Xingxing sudah tidak merespon, Diqiu mengalihkan pandangannya kepada Shua Xie. Bisa dia lihat gadis yang menarik perhatian matanya itu berekspresi cukup datar, tidak bisa dikatakan tidak senang ataupun sebaliknya.


"Hai, gadis cantik. Jadilah wanitaku, aku akan menjamin kau akan bahagia," ungkap Diqiu lagi seraya dia berjalan mendekati gadis itu.


Shua Xie berjalan ke depan, membuat Diqiu menyeringai semakin lebar, dirinya mengira Shua Xie akan menghampirinya tapi ternyata pemikirannya itu tidak lain hanya bisa menjadi angan. Melihat gadis yang dia sukai melewatinya begitu saja, Diqiu tidak bisa menutupi rasa kesalnya. Segera dia berbalik dan melihat Shua Xie berdiri di samping Xingxing.


"Adik Xing, jangan dengarkan ucapannya. Dia hanyalah pria yang tidak ada harganya, sedangkan kau sangatlah berharga," ujar Shua Xie menghibur Xingxing yang tampak sedang menahan amarahnya.


"Kak Shua, kau benar, Aku terlalu berharga untuk mendengarkan ucapannya," balas Xingxing.


Diqiu tentu mendengar jelas ucapan Shua Xie dan Xingxing telah merendahkannya, sudah pasti Diqiu tidak terima akan hal itu, "Kau! Beraninya mengatakan aku tidak berharga, justru kalianlah para wanita yang tidak berharga!" pekik Diqiu keras sembari tangannya itu menunjuk Xingxing dan Shua Xie bergantian.


"Apa yang kau katakan tadi!" Xingxing mendekati Diqiu lalu menarik kerah bajunya, "Apa kau tidak menghargai Ibumu yang juga merupakan seorang wanita!?" tanya Xingxing sangat geram.


Wajar bukan jika Xingxing marah karena Diqiu telah menghina derajat wanita, meskipun Xingxing tidak terlalu memedulikan hal itu tapi kata-kata Diqiu juga telah menyinggung seluruh wanita di dunia termasuk Ibu Xingxing sendiri. Tentunya Xingxing tidak terima!


Diqiu melebarkan senyumannya, semakin ingin memancing kemarahan gadis di depannya, "Kenapa? Kau tidak terima? Tapi memang begitulah kenyataannya! Lihatlah berapa banyak wanita yang ingin bersamaku! Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau wanita itu sangat rendah!" balas Diqiu sinis.


"Kau!" Xingxing mengangkat tangannya siap menghajar wajah pria di depannya itu, tapi sebuah tangan lain mencegah tindakannya. Hal itu membuat Xingxing langsung menoleh ke belakang dan menemukan Shua Xie sedang menahannya.


"Kak Shua?"


"Lepaskan, tanganmu terlalu bersih menghajar pria rendahan seperti dia," balas Shua Xie cepat. Dan dalam sekejap saja Xingxing melepaskan cengkeramannya dari Diqiu.


Xingxing mendengus kasar, "Benar, tanganku hanya akan kotor gara-gara orang rendahan sepertinya." Xingxing mengiyakan ucapan Shua Xie. Menyindir Diqiu sangat sinis.


"Kau dasar wanita jalang! Tidakkah kau tahu aku ini murid dalam!?" pekik Diqiu keras, benar-benar tidak tahan lagi setiap mendengar ucapan yang Shua Xie lontarkan. Meski hanya sebuah ucapan, tapi sanggup menjatuhkan harga dirinya selaku murid dalam.


Shua Xie menatap sinis Diqiu, "Lalu kenapa? Hanya seorang murid dalam idiot, apa yang perlu disombongkan?" balas Shua Xie datar.

__ADS_1


Para pengikut Diqiu menutup mulut karena terkejut, seorang gadis baru saja meremehkan Diqiu yang merupakan murid dalam. Di dalam status murid dalam, mereka juga dibedakan berdasarkan urutan peringkat, yang artinya urutan kekuatan mereka. Peringkat murid dalam hanya dua puluh saja, jadi bisa dikatakan dua puluh murid dalam yang mendapat peringkat dijuluki murid jenius. Jika ingin menaikan peringkat cukup menantang peringkat di atas mereka, dan jika yang mereka tantang kalah maka mereka akan menduduki posisi peringkat yang mereka kalahkan, sedangkan yang kalah akan turun dari posisinya.


Karena murid dalam hampir dua ratusan, persaingan antar murid pun cukup ketat, hal itu membuat kerenggangan di antara mereka. Hingga banyaknya terjadi perkelahian yang membuat beberapa dari mereka tewas hanya untuk merebut dan mempertahankan peringkat.


Diqiu menatap Shua Xie geram, gadis itu benar-benar telah memancing kemarahannya, "Kau beraninya merendahkanku! Hanya murid luar tapi berani bersikap sombong! Rasakan pukulanku ini!" Diqiu melayangkan tapaknya hendak memukul bahu Shua Xie agar gadis itu jera tidak meremehkan para murid dalam termasuk dirinya.


Alih-alih memberi pelajaran kepada Shua Xie, justru Diqiu yang mendapat pelajaran baru. Baru saja tapaknya itu hampir mengenai gadis di depannya, Shua Xie lebih cepat merespon, mengangkat kaki kanannya menendang wajah wajah Diqiu, membuat pria arogan itu terpental ke kiri Shua Xie dengan cepat menghantam tanah.


Ketika melihat pemimpin mereka terjatuh di tanah dengan setengah wajah bengkak akibat tendangan, mereka semua segera membantu Diqiu berdiri, tentu tidak ingin mendapat cacian dari pria itu jika terlambat bergerak.


Diqiu sendiri terlalu terkejut, tendangan Shua Xie terlalu cepat mendahului tapaknya, tentu saja menimbulkan rasa pertanyaan di benaknya, kapan dan bagaimana bisa gadis itu memiliki kecepatan lebih cepat darinya. Diqiu memandang Shua Xie gentar, muncul rasa takut sekaligus terkejut.


"Kau! Beraninya menendang wajahku, akan kuberi tahukan sikap tidak sopanmu kepada Senior Senlin!" umpat Diqiu keras.


Meskipun Diqiu tahu dia kalah kecepatan dengan gadis itu, tapi dia memiliki pelindung yang tentunya bisa melawan gadis itu.


Berpikir Shua Xie akan takut dan memohon ampun padanya, justru Shua Xie bersikap semakin dingin dengan memandang Diqiu sangat tajam, "Hanya seorang pecundang yang bersikap sepertimu. Aku yakin pemimpin sama bawahan sama-sama idiot."


***


Tidak perlu sampai satu hari, kabar perkelahian yang terjadi pada Diqiu tersebar ke seluruh sekte Kunlun. Kabar itu menjadi topik utama yang menggemparkan, terlebih lagi ketika mereka tahu Diqiu kalah dari seorang gadis, dan lebih menariknya lagi gadis yang mengalahkan Diqiu itu menantang Seniornya Diqiu. Tentu saja membuat gempar seisi sekte Kunlun, bahkan para Tetua pengurus sekte Kunlun juga mendengarnya.


Di asrama khusus murid pria, murid dalam, seorang pria berbaju kuning memukul penyangga kursinya cukup kuat, sembari matanya itu menatap sosok pria lain sedang bersujud dengan wajah cukup menyedihkan.


Pria bernama Senlin itu telah mendengar semuanya, bagaimana juniornya ditindas dan dipermalukan, lebih mengesalkannya lagi ketika dia tahu gadis itu menantang dirinya. Sebagai murid dalam peringkat ke


20, suatu penghinaan jika dia tidak menerima tantangan dari seorang murid yang baru saja masuk.


"Diqiu, siapa nama wanita itu?" tanya Senlin cukup tegas, membuat beberapa orang di sekitarnya bergetar takut, "Berani menantang seorang murid dalam peringkat dua puluh, nyalinya cukup besar juga."


Diqiu menundukkan kepalanya, "Senior, dari informasi yang kudapat wanita itu bernama Shua Xie. Kekuatannya hanya berada di tingkat Langit level enam. Statusnya juga tidak tinggi, hanya seorang kultivator pendatang yang memberanikan diri masuk ke sekte Kunlun," jelas Diqiu.


Semakin meluap amarah Senlin ketika dia mengetahui gadis bernama Shua Xie itu hanya soeorang Kultivator pendatang dengan tingkat tidak tinggi darinya. Padahal Senlin sempat berpikir gadis itu berasal dari keluarga terhormat sehingga berani bersikap sombong di sekte Kunlun, tapi nyatanya Shua Xie hanya gadis biasa berbekal nyali tinggi.


Sedangkan Diqiu yang berasal keluarga cukup terpandang namun dikalahkan oleh seorang gadis biasa, sungguh memalukan!


"Apa? Hanya wanita biasa, tapi keberaniannya melewati batas! Pantas saja dia menyebutmu pecundang!" pekik Senlin keras ikut memaki kebodohan Diqiu. Sangat sependapat dengan Shua Xie kalau Diqiu seorang pecundang.


Diqiu menjadi gelagapan, mau membela diri tapi Senlin sendiri juga sependapat dengan Shua Xie, selain diam menerima cacian tidak ada yang bisa dia lakukan. Jika melawan Diqiu hanya akan membuat dirinya mendapat pukulan dari Senlin.


"Hemp! Tidak perlu sampai diriku turun tangan mengurus seorang gadis, tapi karena dia telah melukai Adik Diqiu, aku akan membalaskan untukmu."


_______________


A/N : Ada aje masalah 😧

__ADS_1


__ADS_2