
Seorang bocah berpakain cukup tertutup yang hanya memperlihatkan matanya menatap dua saudaranya di dekatnya. Manik mata hitam milik bocah 14 tahun itu bersinar tatkala pantulan matahari menyilaukan pandangannya.
"Sekarang kita ada di kota Xuilin, lalu bagaimana caranya kita mencari wanita itu?" tanya bocah 14 tahun itu.
Gadis 12 tahun mengerjapkan matanya beberapa kali sehingga manik mata hijau miliknya terlihat berbinar, "Aku dengar wanita itu adalah seorang Putri di wilayah ini, mungkin saja kita bisa menemuinya jika mendatangi kediamannya," balasnya dengan suara lembut.
Satu lagi bocah 10 tahun memiliki mata biru terang mencolok segera membuka suara, "Kita adalah pendatang, tidak akan semudah itu memasuki wilayah seseorang, apalagi berstatus sebagai seorang Putri," sahutnya dengan nada begitu datar terkesan tidak ada semangat menjalakan tugas dari Ayahnya. Sebenarnya bocah itu hanya mengingatkan, memasuki sebuah kerajaan pastinya memerlukan identitas dan keperluan penting, seperti tamu bangsawan atau lainnya. Lagi pun dia bisa menduga, bocah sepertinya pasti tidak akan diizinkan masuk begitu saja.
"Jiazhen, apa kau ada ide?" tanya bocah 14 tahun bernama Minghao, dia yakin adik bungsunya Jiazhen memiliki banyak cara untuk menemui wanita yang mereka cari.
Gadis 12 tahun bernama Yihua menatap Jiazhen penuh harapan sebab dia tahu yang paling cerdas di antara mereka bertiga adalah adiknya, Jiazhen. Sebab itu dia berharap penuh pada Jiazhen.
Melihat pandangan Minghao dan Yihua tertuju padanya, alis Jiazhen berkedut cepat, dia tahu maksud dari tatapan ke dua kakaknya, "Pertama-tama kita lihat dulu situasi kerajaannya, jika tidak terlalu ketat kita bisa menyusup, tapi jika tidak ... kita gunakan cara ke dua."
"Cara ke dua? Cara apa?" Minghao bertanya, alisnya bertaut cukup kuat.
Sesaat Jiazhen menghela nafas, "Akan kupikirkan. Saat ini kita ke sana saja dulu," balas Jiazhen dengan nada malas. Kemudian Jiazhen berjalan lebih awal meninggalkan ke dua kakaknya.
"Ah ... baiklah aku mengerti." Minghao menarik tangan Yihua mengikuti langkah adik bungsunya berjalan.
Ini untuk pertama kalinya mereka bertiga bisa sebebas ini berjalan, hampir lima tahun mereka terkurung di kerajaan Langit, bukan terkurung tapi Ayah mereka melarang mereka pergi sebelum cukup kuat. Dan sekarang ... mereka pergi hanya sebatas menjalakan perintah dari Ayah mereka.
Tidak lama mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di tembok yang membatasi kerajaan Xuilin dengan luar kerajaan. Jiazhen segera melompat ke tembok setinggi 4 meter itu, diikuti dengan Minghao dan Yihua.
Bisa mereka lihat, keamanan kerajaan Xuilin cukup longgar, bahkan hanya ada beberapa orang saja yang berjaga. Jiazhen cukup bingung kenapa bisa keamanan kerajaan Xuilin tidak ketat seperti yang dia bayangkan. Tapi hal ini juga menguntungkannya jika keamanan kerajaan Xuilin tidak ketat mereka bisa menyusup dengan mudah.
Jiazhen melirik ke arah dua saudaranya, "Keamanannya tidak ketat, kita bisa menyusup lewat atap. Tapi berhati-hatilah." Jiazhen menjelaskan secara singkat rencananya, dan setelah itu dia yang pertama melompat ke atap yang tidak jauh dari tembok itu.
Berikutnya Yihua melompat ke atap di mana Jiazhen melompat, dan segera mengejar adiknya itu yang lumayan jauh meninggalkannya. Setelah Yihua, giliran Minghao, tapi sebelum dia melompat, Minghao mengamati sekitarnya memastikan tidak ada seorang pun melihat keberadaan mereka. Dan setelah merasa tidak ada yang mengetahui, Minghao segera melompat ke atap dan mengejar dua adiknya.
Jiazhen berjalan lebih awal sebab dia yang memiliki rencana, jika sewaktu-waktu ada keadaan yang mendadak Jiazhen bisa segera mengubah rencananya.
Jiazhen mengamati suasana sekitarnya, cukup sepi dan hening tidak seperti kerajaan biasanya. Bukankah seharusnya penjagaan cukup ketat? Jika seperti ini, Jiazhen yakin musuh bisa saja menguasai kerajaan Xuilin.
__ADS_1
Jiazhen melompat dari bangunan satu ke bangunan lain, masih sama seperti awal dia masuk, pengajaran tidak ketat, hanya ada dua atau tiga orang yang berjaga. Jiazhen merasa bingung, tidak mungkin sebuah kerajaan memiliki keamanan seburuk ini.
'Ada yang tidak beres, ke mana sebagian prajurit kerajaan ini?' Jiazhen berpikir sejenak, 'Bahkan aku tidak melihat adanya pelayan atau pun para pejabat kerajaan, mungkinkah mereka ada di suatu tempat?' Saat ini hanya ini yang bisa Jiazhen pikirkan, jika sebagian penghuni kerajaan Xuilin tidak ada, seharusnya ada sesuatu yang terjadi.
Jiazhen melompat ke bagian timur, tidak butuh waktu lama, Jiazhen mendengar suara keributan cukup besar tidak jauh darinya. Hal itu membuat Jiazhen semakin mempercepat langkahnya. Dan saat dia melompat ke salah satu pohon, Jiazhen melihat podium yang diisi begitu banyak orang, tidak hanya itu, Jiazhen bisa melihat hampir seluruh prajurit istana ada di lapangan podium itu.
Sesaat Jiazhen memperhatikan apa yang terjadi, Jiazhen membulatkan matanya, badannya seketika terasa kaku, "Seorang Kultivator? Bagaimana bisa ada di dunia Tengah?" ucap Jiazhen tanpa sadar karena terkejut.
Bersamaan dengan itu, datang Yihua dan Minghao berdiri di sampingnya. Minghao langsung bertanya apa yang terjadi, kenapa di podium itu begitu terisi banyak orang.
"Tidakkah kau lihat terjadi pertarungan di sana?" Jiazhen menunjuk ke tengah lapangan, di mana telah terjadi pertarungan satu lawan satu, "Seorang Kultivator tahap Jindan, dan Kultivator tahap Langit sedang bertarung," jelas Jiazhen lagi.
Yihua memicingkan pandangannya, menatap secara tajam pertarungan yang telah terjadi, "Bukankah pertarungan itu tidak adil? Tahap Langit melawan tahan Jindan, tentu pemenangnya si pria berpakaian Kaisar itu." Yihua tanpa sadar memberikan penilaian sendiri.
Minghao juga ikut menatap secara tajam ke lapangan yang berjarak puluhan meter dari mereka, meski jarak jauh tapi mereka memiliki pandangan cukup tajam, "Sungguh tidak adil, tapi bagaimana bisa ada Kultivator di dunia Tengah?" tanya Minghao tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan itu.
Meskipun mereka tahu pertarungan itu cukup tidak adil, tapi ada yang aneh ... pertarungan itu justru memojokkan sang Kultivator tahap Jindan, sedangkan yang tahap Langit terlihat santai dan terhibur.
Minghao beralih menatap Jiazhen, ketika dia mendengar adiknya berbicara, "Jiazhen ... apa kau berpikir sosok bertopeng itu lebih kuat dari si Kaisar?" tanya Minghao.
"Tidakkah kalian lihat dia bertarung sangat santai, sedangkan Kaisar itu terlihat terpojok." Jiazhen mengalihkan pandangannya, "Cukup misterius," ucap Jiazhen sambil mengusap dagunya.
"Mungkinkah sosok bertopeng itu mengancam keamanan kerajaan Xuilin?" Yihua mulai menduga-duga, cukup melihat situasi pertarungan itu cukup memanas membuat firasat tidak nyaman di hatinya.
Minghao mendadak ingin menghentikan pertarungan itu sebab berpikir bahwa sosok bertopeng itu sedang mengancam wanita yang akan mereka lindungi. Tapi Jiazhen tahu apa yang akan dilakukan Minghao, segera Jiazhen menahannya sebab menurutnya bukan saat yang tepat mereka muncul tiba-tiba mengacaukan pertarungan.
"Minghao! Jangan bertindak gegabah, kau harus ingat tugas kita hanya melindungi bukan melawan musuh yang tidak kita kenal," tegas Jiazhen sambil memberikan tatapan tajam.
Minghao mendengus ketika Jiazhen menghentikannya, "Tapi sosok itu bisa saja mengancam keselamatan wanita yang akan kita lindungi!" balasnya sedikit tinggi.
"Kita belum tahu apa tujuan sosok bertopeng itu! Jadi jangan bertindak gegabah!" Jiazhen memperingati, dan seharusnya Minghao paham, tapi Jiazhen cukup mengenal Minghao, Kakaknya satu itu pasti tidak akan mendengarnya. Minghao adalah tipe yang lebih mengandalkan kekuatan dibandingkan otak.
"Jiazhen, maka dari itu kita harus mencegahnya!" Minghao masih tetap pada pendiriannya, menurutnya sosok bertopeng itu cukup berbahaya.
__ADS_1
Yihua menjadi panik melihat Jiazhen dan Minghao berdebat, "Kalian berhentilah ... jika Ayah tahu kalian bertengkar, Ayah pasti marah." Yihua berusaha melerai tapi justru mendapat penolakan keras dari ke dua saudaranya itu.
"Yihua, coba kau beritahu Jiazhen untuk tidak keras kepala!" Minghao menatap Yihua tajam, tapi ucapannya menyinggung Jiazhen sepenuhnya.
Alis Jiazhen bertaut cukup keras, "Apa kau bilang! Aku keras kepala? Kau yang keras kepala!" Jiazhen menyahuti Minghao cukup keras.
Minghao seketika menatap Jiazhen tajam, ingin rasanya dia memukul kepala adiknya itu tapi dia teringat kata-kata Ayahnya untuk tidak memukul apalagi berkata kasar pada Jiazhen dan Yihua. Sejenak Minghao menarik nafas, berusaha menahan kesabarannya, "Jiazhen, terserah kau ... aku sudah tidak peduli. Yang terpenting, sosok bertopeng itu harus kita ikuti, aku hanya khawatir dia mengancam banyak orang," balas Minghao dengan nada berwibawa.
Jiazhen mendengus pelan, sedikit tidak suka dengan perkataan Minghao, "Ckckck! Aku merasa kau mengalah karena takut ketahuan Ayah kan." Meski Jiazhen tahu Minghao sudah mengalah untuknya, tapi rasanya belum puas baginya menjahili Minghao selagi mereka berada di luar pengawasan Ayah mereka.
"Jiazhen, berhenti menggoda Minghao." Yihua angkat suara melarang Jiazhen untuk mengusili Minghao, "Jauh atau dekat, Ayah pasti selalu mengawasi kita." Tambah Yihua lagi yang membuat Jiazhen segera menutup telinganya
"Jiazhen jaga sikapmu, aku masih bisa bersabar untuk saat ini, tapi jika kau masih terus begitu, jangan salahkan aku memukulmu," sahut Minghao sedikit geram akan sikap Jiazhen yang tidak biasanya.
Hanya untuk saat ini Jiazhen ingin menjahili Minghao dan Yihua, kapan lagi bukan mereka bisa berada di luar pengawasan Ayah mereka? Sekarang adalah waktu yang tepat bagi Jiazhen membalas semua kenalan Minghao terhadapnya.
"Berani memukulku, percaya atau tidak aku akan memakan semua jagungmu." Ini adalah salah satu trik bisa membuat Minghao marah dan takut, "Kau tahu kan, jika aku sudah meminta pada Ayah, Ayah pasti mengabulkannya." Jiazhen tersenyum sinis sambil menutup matanya.
"Kau!" Minghao mengangkat tangannya menunjuk Jiazhen, tapi tidak berani berbuat apapun pada adik bungsunya itu, "Jangan berani-berani merebut jagungku, atau aku akan merobek semua buku sejarah jelek milikmu!" Kini Minghao yang mengancam balik membuat Jiazhen langsung menatapnya tajam.
"Buku adalah gudang ilmu! Pantas saja kau bodoh, ternyata selama ini kau merobek semua buku pemberian Ayah! Apa di otakmu hanya jagung saja!" balas Jiazhen keras.
Minghao membulatkan matanya, tidak akan mengira Jiazhen akan menggunakan kata-kata kasar membalasnya, "Jiazhen! Aku ragu buku robek bukan karena sendirinya tapi karena kau memakannya. Kau kan selalu tidak bisa lepas dari buku!" balas Minghao setengah meledek.
Tentu Minghao tidak akan terima jika dipermalukan hanya karena dia sangat menyukai jagung. Jiazhen juga memiliki rahasia, tidak bisa dikatakan rahasia karena sangat umum anak-anak suka membaca buku bukan?
"Kau!" Jiazhen mengangkat tangannya, "Jagung di bawa kasurmu sudah kubuang sebelum kita berangkat ke sini!" balas Jiazhen semakin menjadi-jadi.
"Apa! Kau buang ke mana jagungku! Itu jagung spiritual! Kenapa kau membuangnya!?" Minghao memegang bahu Jiazhen cukup kuat ketika mendengar tentang jagung miliknnya. Jangan membahas soal jagung pada Minghao, dia sangat suka jagung, dan bisa menggila juga karna jagung. Semua rasanya terhadap jagung karena hari pertama dia bertemu Ayahnya, dia diberikan sepotong jagung bakar, dari sejak saat itulah Minghao menganggap jagung sebagai makan favoritnya.
Yihua memijit pelipisnya, tidak tahu harus berbuat apa untuk melerai Kakak dan Adiknya. Tapi ... ketika tidak sengaja Yihua menatap lapangan pertarungan, Yihua melihat sosok bertopeng itu meninggalkan lapangan.
"Dari pada kalian bertengkar tidak jelas, lebih baik kita ikuti sosok bertopeng itu! Dia meninggalkan lapangan!" Yihua menengahi pertengkaran mereka berdua dengan memperlihatkan sosok bertopeng yang membuat Jiazhen dan Minghao bertengkar hendak pergi meninggalkan lapangan.
__ADS_1