
Perjalanan kembali berlanjut, kali ini Zusami yang memimpin jalan, dia mengatakan akan mempercepat kepulangan mereka dengan caranya sendiri. Tidak ada yang menolak Zusami sebagai pemimpin sementara. Hari demi hari terus berjalan, tidak terasa sudah seminggu mereka ada di dalam Daratan Alam Abadi. Selama itu juga mereka sering bertemu monster spirit atau penghambat, namun tidak bertahan lama karena Zusami mampu menuntaskan semuanya secara singkat, tanpa perlu mengeluarkan keringat.
Akhir-akhir itu juga Qixuan merasa ada yang aneh, bukan aneh yang berlebihan, hanya saja dia merasa kedekatan Zusami dan Shua Xie akhir-akhir ini memburuk. Terkadang mereka berdua berdebat, jarang saling berbicara apalagi bertegur sapa. Qixuan sempat mempertanyakan apa yang terjadi antara mereka berdua kepada Shua Xie, tapi gadis itu dengan dingin hanya menjawab, hanya kesalah pahaman kecil. Qixuan tidak yakin kalau itu hanya kesalah pahaman kecil, buktinya mereka tidak berbaikan bahkan sampai hari ini. Terlebih lagi, Zusami juga sering memojokkan Shua Xie dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Shua Xie bungkam, terkadang demi menghindari pertanyaan itu, Shua Xie memilih beristirahat sendiri tanpa teman.
Sikap Shua Xie yang seperti itu tidak hanya membuat Zusami semakin curiga, semuanya juga merasakan hal yang sama. Selain itu, Zusami tidak lagi merasakan adanya aura besar atau semacam aura terang yang biasanya selalu terpancar di tubuh Shua Xie, Zusami sering merasakan dan melihat aura itu, namun semenjak Shua Xie tersadar, Zusami tidak pernah lagi melihat aura itu.
Aura itu memang tidaklah penting, tapi bagi Zusami, aura itu sebagai bukti kalau Shua Xie ialah calon Pemimpin seluruh dunia. Aura itu memiliki sesuatu perasaan khusus yang hanya kaum tertentu yang bisa merasakannya.
Malam ini, seperti biasa, mereka sudah menyalakan api, membakar daging hasil buruan lalu memakannya bersama-sama. Namun hanya Zusami yang sedikit berbeda, beda di mata mereka semua. Pasalnya mereka tidak pernah melihat Zusami kelaparan ataupun kehausan. Zusami selalu tampak bugar meski tidak pernah makan selama seminggu ini.
Hal itu wajar karena dia memiliki basis kultivasi yang tinggi meski seluruh kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Lagi pula, makhluk agung sepertinya tidak memakan makanan sama seperti makanan manusia.
"Besok, kemungkinan kita akan tiba di Tujuh Pagoda Kembar asal perjalanan kita tidak terhambat. Tapi aku rasa, besok akan menjadi hari terakhir kalian di sini," ujar Zusami, semua menatapnya serius, tapi tidak untuk Shua Xie.
"Lalu apa besok kami akan pulang? Tapi di mana harta magisnya? Di mana harta karun yang banyak orang bicarakan? Tidak mungkin kita pulang tanpa membawa apapun? Bukankah perjalanan ini terasa sia-sia?" Juan Yu menatap semuanya satu persatu, dia hanya ingin mereka sadar, perjalanan ke Daratan Alam Abadi sangat membuang waktu saja. Jika dia tahu hasilnya akan seperti ini alangkah baiknya dia belajar di sekte Kunlun dari pada ikut serta. Sudah tidak mendapat apa-apa, nyawa mereka juga terancam.
"Benar juga, bagaimana ini Ketua?" Xiu An menatap Qixuan, ingin tahu bagaimana pendapat Ketuanya itu. Qixuan melenguh pelan diikuti dengan gerakan bahu pasrah. Dia juga tidak tahu harus seperti apa, jujur saja dia juga merasa kecewa dengan perjalanan kali ini.
"Tidak menemukan apapun itu lebih baik dari pada nyawa kalian berakhir seperti pengikut Pangeran ke Tiga," sahut Shua Xie. Seketika semua pandangan tertuju padanya. Shua Xie melongos santai, "Kenapa? Apa perkataanku ada yang salah?"
"Tidak, lupakan saja." Qixuan menghela nafas pelan, beranjak berdiri berjalan menuju pohon yang tidak jauh darinya. Di sana, seorang pemuda sedang beristirahat nyaman di bawah rindangnya pohon diterangi bulan purnama yang terang.
"Qixuan." Fang Xin sedikit panik melihat Qixuan mendekatinya. Kaget saja karena selama seminggu ini Qixuan terus menghindarinya, tapi sekarang gadis kecil itu justru mendekatinya.
"Pangeran ke Tiga-"
"Panggil aku dengan namaku." Fang Xin menyela. Qixuan sempat terhenti mendengar ucapan Fang Xin, namun kemudian dia tersadar.
"Fang Xin." Qixuan sudah duduk di samping Fang Xin. Pemuda itu terus menatapnya, membuat Qixuan merasa sedikit canggung, "Ehem ... bagaimana keadaanmu?" Qixuan bertanya sekadar mencarikan suasana yang canggung.
Fang Xin tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja. Apa kau mengkhawatirkanku?" Gilirannya balik bertanya. Qixuan sempat salah tingkah lagi, tapi dia tetap berusaha mempertahankan sikap dinginnya agar tidak ketahuan kalau dia sedang malu, kesal dan bahagia.
"Tentu saja." Fang Xin segera menatapnya, sedikit terkejut Qixuan akan menjawab pertanyaannya dengan kata seperti itu. Qixuan berdehem lagi, "Em ... jangan salah paham. Adikmu Xingxing memintaku untuk menjagamu, dan aku sudah berjanji padanya."
"Kau mengklarifikasinya agar aku tidak salah paham? Harus ku katakan akan lebih baik kau tidak menjelaskannya, meski pun aku tahu kau hanya khawatir sesaat, paling tidak itulah saat-saat bahagia yang bisa ku milik sekarang." Fang Xin tersenyum pahit, menatap rumput yang terus dia mainkan sejak tadi. Sedangkan dia tidak sadar kalau ada jantung yang berdetak semakin kencang karena perkataannya.
Qixuan segera mengalihkan pandangannya ke kiri, pipinya sudah terasa panas, padahal semua itu hanga perkataan tapi entah kenapa jantung dan tubuhnya tidak bisa berkompromi. Qixuan merasa semakin gugup.
__ADS_1
"A-apa yang kau bicarakan?"
"Tidak penting, hanya sebatas perasaan yang sedang kacau," balas Fang Xin lemah. Qixuan kembali menatapnya dengan pandangan nanar. Runtuh sudah tembok besar yang dia buat untuk mengunci perasaannya. Percuma, meski dia sudah 2 tahun tidak pernah bertemu Fang Xin dan bahkan sudah bertekad untuk melupakan pemuda itu, tetap saja perasaan dan pikirannya tidak bisa bekerja sama. Pikirannya mungkin sudah menolak, tapi perasaannya ... bahkan Qixuan sendiri bingung ada apa dengan perasaannya.
"Oh ya ... besok juga akan menjadi hari pertemuan kita yang terakhir." Qixuan merasa lemah mendengar kalimat itu. Fang Xin menatapnya, "Bolehkah aku melakukan sesuatu padamu? Untuk terakhir kalinya."
"A-apa yang kau inginkan?"
"Tutup matamu."
"Hei! Apa kau mau melakukan hal mesum padaku?!" Qixuan marah, berpikir jika Fang Xin akan melakukan hal-hal aneh padanya. Namun yang dituduh justru menyembur tawa lucu yang membuat Qixuan menjadi salah tingkah.
"Hahahaha! Sejak kapan kau memiliki pikiran seperti itu? Atau kau memang berharap untuk ku cium?"
"Berhenti!"
"Hahaha!!"
"Bodoh!" Qixuan melayangkan pukulannya tepat di lengan kanan Fang Xin. Pemuda itu hanya meringis pelan tanpa menghentikan tawanya.
Fang Xin menangkap ke dua tangan Qixuan yang terus memukulnya, "Iya, iya ... aku bodoh. Tapi bisakah kau berhenti memukulku? Lenganku sudah terasa sakit."
Qixuan menarik kembali tangannya, mendengus pelan kesal dengan pemuda itu. Fang Xin tertawa kecil, senang bisa mempermainkan Qixuan seperti dulu lagi. Andai saja waktu itu tidak terjadi, mungkin hubungan mereka berdua masih sangat dekat sampai sekarang.
"Katakan apa yang kau inginkan?" Qixuan angkat suara, spontan membuat Fang Xin menatapnya terkejut namun sekejap berubah bahagia.
"Tutup matamu dan kau akan tahu."
"Kenapa harus tutup mata?"
"Karena ini kejutan."
"Cih! Menyebalkan." Qixuan segera menutup matanya, meski dia kesal dengan sikap Fang Xin yang tidak pernah berubah, selalu saja berhasil membuatnya kesal bertubih-tubih. Fang Xin mendekati wajah Qixuan, sembari tangannya itu mengarah ke leher putih gadis itu.
"Sudah, kau boleh membuka kembali matamu," perintah Fang Xin setelah selesai melekatkan sesuatu di leher gadis itu. Qixuan membuka mata, menatap sebuah kalung sederhana namun berbuah indah. Qixuan menatap Fang Xin terkejut.
"Kau menemukannya?!" tanyanya kaget.
__ADS_1
Fang Xin mengangguk pelan, "Waktu kau pergi, aku mencari kalung itu di reruntuhan rumahmu yang sudah terbakar. Dan aku menemukan kalung itu di dalam sebuah kotak kecil. Bukankah kau begitu menyayangi kalung itu?"
"Aku, aku sangat menyayangi kalung ini." Qixuan menatap kalung yang dia pegang. Perlahan tanpa sadar air matanya jatuh membuat pemuda di depannya panik, "Hiks, hiks ... ku pikir aku tidak akan melihat kalung Ibu lagi."
"Qixuan, kau menangis?"
Qixuan mengangkat wajahnya, tersenyum pada Fang Xin tanpa peduli air matanya yang terus berjatuhan, "Terimakasih."
"Tapi kau menangis!"
"Ini tangis bahagia bodoh!"
"Ah, benarkah? Aku tidak tahu."
"Dasar bodoh!" Qixuan berniat mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tapi Fang Xin langsung mencekal tangannya itu.
"Apa-"
"Sstt! Diamlah, biarkan aku menghapus air matamu." Fang Xin mulai menghapus air mata Qixuan dengan lembut. Tidak sadar kalau gadis itu tercengang karena perbuatannya. Bahkan jantungnya semakin berdetak kencang seakan tidak lama lagi akan meledak.
***
"Cinta yang indah bukan?"
"Apa yang anda maksud dua anak muda itu?"
"Kau pikir aku menyinggung siapa? Pohon? Batu?" Sosok berjubah hitam itu berbalik, menatap kesal pemuda berjas hitam.
"Apa anda iri dengan kisah cinta mereka?" tanya pria itu tenang.
Sosok berjubah itu melongos kesal, "Jangan bercanda! Aku tidak butuh cinta-cinta yang tidak berguna seperti itu."
"Benarkah? Jika aku tidak salah, anda sama sekali tidak pernah menjalin hubungan asmara. Mungkinkah anda ada kelainan? Atau tidak ada pria yang tertarik pada anda?"
"Tsakuya! Hentikan omong kosongmu itu sebelum aku menghabisimu!" Pria itu segera menutup mulutnya pura-pura takut dengan kemarahan sosok itu. Sosok itu memelototkan matanya, pertanda dia benar-benar tidak suka dengan perkataan pria berjas hitam itu.
"Aku tidak iri. Aku hanya tertarik pada wanita bermata unik yang duduk tidak jauh dari mereka! Wanita itu, aku menyukai auranya."
__ADS_1