
"Pertarungan dimulai!"
Berserunya suara pembawa acara itu, Xiang He segera menarik pedangnya, bersiap menyerang Shua Xie tapi dia merasa ada yang aneh dengan lawan bertarungnya itu. Xiang He menghentikan niat bertarungnya, melihat Shua Xie tidak bergerak atau pun menarik senjata membuat Xiang He beranggapan gadis itu meremehkannya.
"Nona Shu, kenapa kau tidak menarik pendangmu?" Xiang He memberi kode tatapan kepada dua pedang yang melekat di punggung Shua Xie, meminta Shua Xie segera menarik salah satu pedangnya agar pertarungan mereka bisa segera dimulai.
Shua Xie menguap sembari tangan kanannya itu menutup mulutnya, pertandingan baru saja dimulai tapi Shua Xie sudah merasa bosan, "Pemuda Xiang He, aku tidak perlu menggunakan senjata. Kau tidak cukup kuat membuatku harus memakai pedang ini," balas Shua Xie pelan.
Mendengar balasan Shua Xie, sebagain penonton langsung membisik satu sama lain, keangkuhan Shua Xie sangat wajar mengundang bisikan merendahkannya. Di benua barat Kultivator wanita sangat jarang, kalau pun ada kekuatan mereka tidaklah seberapa, meskipun ada beberapa sosok wanita yang memang terlahir dengan fisik ajaib. Jadi sangat wajar mereka mengkritik Shua Xie terlalu sombong sebab Shua Xie adalah wanita. Di mata mereka, wanita tidak jauh lebih lemah dari selembar daun yang gugur. Tapi Shua Xie dengan angkuhnya tidak ingin menarik senjatanya dengan alasan cukup merendahkan Xiang He sebagai pria.
"Siapa gadis itu, dari daerah mana dia berasal? Kenapa terlalu sombong?"
"Mungkin saja dia keturunan bangsawan, dilihat dari pakaian dan senjata spiritnya, aku yakin dia dari keluarga bangsawan. Wajar saja dia sombong."
"Hump! Keluarga bangsawan memang selalu sombong, hanya karena terlahir spesial dan memiliki banyak sumber daya serta senjata spirit mereka bersikap sombong sekali. Aku percaya gadis itu akan kalah dari Xiang He."
"Ssstt ... kecilkan suaramu. Jika dia dengar tamatlah riwayatmu!"
Di sisi lain, Ogher yang cukup dekat dengan para penonton bisa mendengar bisik-bisikan itu, menghina majikannya membuat Ogher ingin memenggal kepala mereka, jika saja Shua Xie tidak melarangnya meski harus mengorbankan nyawa Ogher rela melakukannya demi nama baik majikannya.
Bersamaan dengan itu, para juri yang tadinya sedikit kebosanan kini mulai mengeluarkan ekspresi cukup tertarik. Mereka bisa menilai kultivasi Shua Xie cukup tinggi, namun kultivasi Xiang He juga tidak bisa diremehkan, paling tidak tingkat ke dua kultivasi mereka tidak beda tipis meski Xiang He di atas Shua Xie. Melihat keberanian Shua Xie membuat Jiang Liang sedikit tertarik padanya.
Jiang Liang memicingkan sedikit pandangannya seraya tangannya itu kembali mengelus janggutnya, "Gadis ini cukup menarik, tapi keangkuhannya melewati tingkat kultivasinya. Aku harap dia tidak mengecewakan," gumam Jiang Liang pelan.
Dong Jie mendengar gumaman Jiang Liang, seketika saja pandangannya itu langsung teralihkan kepada gadis yang menarik perhatian sahabatnya itu. Setelah diperhatikan cukup lama, Dong Jie tidak menemukan hal menarik dari gadis itu selain sikapnya yang sedikit sombong.
Dong Jie kembali menatap Jiang Liang, "Jiang apa yang membuatmu tertarik dengan gadis itu? Aku melihat tingkat kultivasinya berada di bawah pemuda Xiang He itu. Seharusnya kau tahu gadis itu hanya bersikap sombong karena statusnya mungkin cukup dipandang," ungkap Dong Jie, sedikit bingung apa yang menarik dengan gadis itu.
Houlang mendengus pelan meremehkan ucapan Dong Jie, pandangannya juga tidak beralih dari panggung arena di mana dua Kultivator muda berdiri di sana. Houlang memang melihat tingkat kultivasi gadis itu di bawah pemuda Xiang He, hanya saja kerutan wajah kepercayaan diri dari gadis itu membuat Houlang tertarik, "Dong Jie tua, mungkin kau tidak sadar, gadis itu memang cukup menarik, sahutnya pelan membalas Dong Jie.
Dua pembelaan itu membuat Dong Jie mengerutkan keningnya, ke dua sahabatnya itu menaruh ketertarikan dengan gadis itu, tapi di mata Dong Jie tidak ada hal yang menarik dari gadis itu.
Kembali ke arena pertarungan, Xiang He merasa terhinakan ucapan Shua Xie. Sebagai seorang pria mendapat ucapan seperti itu, pria mana yang merasa tidak direndahkan? Xiang He menancapkan pedangnya ke arena yang dia pijak.
"Rasanya tidak akan adil jika aku melawan menggunakan senjata sedangkan Nona Shu tidak. Jika begitu aku juga tidak akan menggunakan senjata," ujar Xiang He dengan dengusan pelan keluar dari mulutnya.
Wajar saja jika Xiang He bersikap seperti itu, Shua Xie sudah merendahkan harga diri Xiang He sebagai pria sekaligus Kultivator, jadi Shua Xie tidak akan melarangnya pakai atau tidaknya senjata.
"Kuharap Pemuda Xiang He tidak akan menyesal, aku sudah mengatakan sebelumnya, aku tidak akan sungkan melukai Pemuda Xiang He." Shua Xie memberikan senyuman, sebuah senyuman yang terlihat cukup merendahkan.
Xiang He mengepalkan tangannya, dia sudah tidak tahan akan penghinaan Shua Xie, "Dari pada banyak bicara lebih baik kita bertarung dan lihat siapa yang akan menang!" Xiang He sudah tidak peduli pandangan orang lain terhadapnya meski dia menyerang lebih awal sebagai seorang pria. Rasa marah di hatinya dan penghinaan Shua Xie terhadapnya sudah membakar ketenangannya, jika tidak bisa memberi sedikit pelajaran pada gadis itu, Xiang He tidak akan bisa pernah merasa tenang setelah penghinaan yang Shua Xie lakukan padanya.
Meskipun Xiang He sudah menyerang ke arahnya dengan serangan sedikit kuat, Shua Xie tidak sedikit pun merasa takut atau bahkan bergerak dari tempatnya. Serangan Xiang He memang sangat kuat, tapi masih terlalu brutal.
__ADS_1
"Teknik Tinju-Tinjuan Harimau Merah!"
Satu tinjuan berselimutkan aura berwarna merah secepat mungkin melesat ke arah sosok gadis di depannya, melihat gadis itu tidak bergerak sedikit pun Xiang He mengukir seringai lebar berpikir kalau gadis itu tidak sempat menghindari serangannya.
"Hahaha! Rasakanlah pelajaran ini!" Rasa senang dan bahagia tidak bisa Xiang He tutupi. Namun, sesuatu mengejutkan terjadi, sedikit lagi tinjuannya itu hampir mengenai gadis di depannya itu, sebuah tendangan tidak terduga muncul menghantam wajahnya dengan kerasnya. Xiang He begitu cepat terpukul mundur dengan luka di wajahnya.
Dengan cepat dirinya bangkit seraya menatap gadis di depannya itu, pandangan tidak percaya terlontarkan pada Shua Xie. Jelas-jelas Xiang He yakin gadis itu tidak akan sempat menghindar ataupun melawan, tapi entah bagaimana bisa tiba-tiba saja gadis itu berganti posisi yang berbalik menyerangnya lebih cepat. Kecepatan Shua Xie barusan tidak bisa ditangkap oleh matanya.
'Ti-tidak mungkin, aku sangat yakin seranganku akan mengenainya dan dia tidak dapat menghindari ataupun menyerang balik. Tapi kenapa, gadis itu bisa menendangku tanpa pergerakannya tertangkap mataku, kecepatannya di luar dugaanku.' Rasa terkejut tidak bisa Xiang He tutupi, sembari matanya itu menatap Shua Xie dengan pikiran yang mulai kacau.
Jangankan Xiang He, beberapa penonton saja juga terkejut melihat kecepatan Shua Xie membalikkan keadaan. Padahal para penonton juga berpikir sama seperti Xiang He, gadis itu tidak akan sempat menghindar, namun siapa bisa duga gadis itu membalikkan keadaan dengan cepat.
Shua Xie masih berdiri di tempatnya, melihat Xiang He tidak bergerak di tempatnya membuat bibir mungilnya itu bergerak, "Pemuda Xiang He, apa anda sudah mengaku kalah?"
Xiang He meludahi dengan kasar darah dan liur yang bercampur ke tanah. Ekspresi Xiang He terlihat semakin tidak bersahabat, bisa dilihat Xiang He tidak terima dengan apa yang Shua Xie katakan padanya, terlebih lagi Shua Xie juga telah merusak wajahnya.
"Kalah? Hemp ... aku tadi terlalu meremehkanmu." Xiang He mendekati pedangnya yang masih tertancap kemudian menariknya, "Karena Nona Shu sangat kuat, aku tidak akan sungkan lagi." Lanjut Xiang He lagi.
Shua Xie tersenyum mendengar ucapan Xiang He, "Ternyata Pemuda Xiang He sadar juga, sekarang lawanlah aku dengan seluruh kekuatanmu," balas Shua Xie lembut namun semakin menusuk harga diri Xiang He.
"Kesombonganmu itu akan kupatahkan!" Xiang He kembali berlari ke arah Shua Xie, ketika jaraknya sudah hampir dekat Xiang He melompat ke udara cukup tinggi seraya mengangkat pedangnya lalu mengayunkannya dan berkata nama jurus yang dia keluarkan.
"Teknik Pedang-Tarian Pedang!"
Sebuah gelombang angin kuat segera melesat dengan cepat ke arah Shua Xie. Serangan berbentuk angin topan itu semakin menguat tatkala jaraknya dengan Shua Xie semakin dekat, bahkan arena beton yang digunakan itu mulai hancur karena kekuatan serangan itu teramat kuat.
"Jurus yang sangat kuat! Sekarang aku yakin gadis itu tidak akan bisa menghindar!" pekik salah satu penonton.
"Jika gadis itu kuat seharusnya dia hanya terluka parah saja, tidak akan mati!" sahut penonton lainnya keras.
"Heh! Aku rasa gadis itu pasti mati, ini adalah jurus andalah Tuan muda Xiang! Kekuatannya setara dengan lima ribu pukulan!" Penonton lain yang merupakan bawahan dari Xiang He menyahuti. Karena dia tahu jelas jurus andalan Tuannya ini, tentu dia juga akan memberikan kritikan.
Di sisi lain Ogher juga melakukan hal yang sama, dia menutup sebagian pandangannya dengan punggung tangannya sembari matanya itu menatap ke arena, melihat gelombang angin begitu kuat dan besar, Ogher tidak bisa menutupi rasa khawatirnya. Mau bagaimana pun gelombang angin itu sangatlah kuat, Ogher kurang yakin Shua Xie bisa menghindari atau menghentikannya.
'Nona, jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan menahan diri lagi.'
Alih-alih merasa takut dengan gelombang angin yang datang, Shua Xie justru tersenyum tipis. Serangan yang datang padanya itu memang kuat dan sanggup melukai Kultivator tingkat Bumi atau pun tingkat Langit cukup serius, namun untuk Shua Xie yang sebenarnya berada tinggi di atas kultivasi Xiang He, serangan itu hanya bisa mengotori bajunya.
Xiang He tertawa keras setelah dia melepaskan serangannya, terlebih lagi ketika dia melihat Shua Xie tidak menghindari serangannya, dia yakin Shua Xie tidak akan bisa menghindari lagi seperti sebelumnya.
"Hahaha ... rasakan jurus terkuatku itu, kau wanita jalang pantas merasakannya!" pekik Xiang He keras.
"Merasakan apa?" Tiba-tiba suara lembut menyahut di belakang Xiang He.
__ADS_1
Seketika saja tawa yang keluar dari mulut angkuh Xiang He berhenti, bersamaan dengan pandangannya yang seketika berbalik ke belakang. Ketika matanya itu menatap sesosok gadis sedang tersenyum padanya, mata Xiang He langsung membulat seketika.
"Kau ba-" Belum sempat Xiang He menyelesaikan ucapannya, Shua Xie langsung menendang wajah Xiang He sangat kuat dari sebelumnya. Membuat pemuda itu dengan cepatnya terpukul ke belakang, dengan badan terseret bahkan terguling-guling hingga akhirnya badannya berhenti tepat di pinggir arena, sekali gulingan lagi Xiang He pasti jatuh dan dinyatakan kalah.
Xiang He menghela nafas lega ketika dia berhasil membuat dirinya tidak jauh ke bawah, "Huft! Hampir saja. Gadis itu bagaimana bisa tiba-tiba muncul di belakangku. Bukankah sebelumnya dia di depan seranganku? Semua perlakukannya akan kubalas!" Xiang He segera berbalik siap membalas Shua Xie, gadis itu sungguh membuat harga dirinya benar-benar jatuh. Jika tidak membalasnya Xiang He merasa dia bukan lagi Tuan Muda dari keluarga Xiang!
Namun sayang, sepertinya niatnya itu tidak bisa dia lakukan, ketika Xiang He sudah berbalik, Shua Xie sudah berdiri tepat di depannya.
"Kau!"
"Kau kalah Pemuda Xiang He." Shua Xie tersenyum sembari kakinya itu menendang pelan perut Xiang He, membuat pemuda malang itu jatuh keluar arena.
Sekarang seharusnya pemenangnya sudah bisa diketahui. Untuk sesaat suasana hening, namun selang beberapa detik suara teriakan kebahagiaan berbunyi keras, suara itu dari Ogher lalu disusul lagi beberapa orang berikutnya.
"Hebat! Nona Shu hebat!"
"Aku tidak pernah melihat kecepatan seperti Nona Shu!"
"Selamat Putri anda menang!"
Bersamaan dengan sahut demi sahutan para penonton, salah satu juri tiba-tiba muncul di samping Shua Xie, juri itu adalah Jiang Liang. Jiang Liang tersenyum hangat kepada Shua Xie seraya tangannya mengeluarkan plakat kayu dari saku bajunya.
"Selamat Nona muda, kau lulus. Kecepatan dan kekuatan fisikmu sangat hebat." Jiang Liang melontarkan pujian, dan memang benar pujian itu bukan hanya sekadar pujian tapi hal nyata yang dimiliki Shua Xie.
Shua Xie membalas senyuman Jiang Liang, "Tetua terlalu memuji, semua itu juga berkat latihan keras," balas Shua Xie masih berusaha bersikap rendah meski dia telah menang. Sikap merendahnya itu membuat Jiang Liang semakin terkesan pada Shua Xie.
"Nona Shu silakan terima plakat ini, nanti aku akan mengantarmu dan murid lainnya masuk ke sekte Kunlun." Jiang Liang menyodorkan plakat kayu bertuliskan 'murid luar'. Melihat plakat itu Shua Xie terdiam, yang diharapkan Shua Xie bukan plakat itu tapi plakat resmi menjadi murid dalam dengan begitu ketika ekspedisi murid sekte Kunlun ke Daratan Alam Abadi Shua Xie bisa mengikutinya.
Shua Xie segera berlutut dengan satu lutut menyetuh tanah, tangannya juga saling menangkup menunjukkan rasa hormat pada sosok di depannya, "Tetua Jiang, bisakah aku menjadi murid dalam langsung?" Pertanyaan yang Shua Xie lontarkan mengejutkan Jiang Liang dan lainnya.
"Murid dalam? Ini." Jiang Liang menatap plakat di tangannya bergantian menatap gadis di depannya. Tidak dia duga gadis di depannya itu menolak plakat yang dia berikan dan ingin mendapatkan plakat murid dalam sebagai gantinya. Permintaan Shua Xie memang tidak aneh, hanya saja Shua Xie baru saja diterima dan tidak mungkin langsung mengajukan diri menjadi murid dalam, setidaknya butuh waktu sebulan baru Shua Xie bisa diterima sebagai murid dalam. Tapi melihat potensi yang dimiliki Shua Xie, Jiang Liang patut memikirkan hal itu.
Jiang Liang beralih menatap Dong Jie dan Houlang, ke dua sahabatnya itu juga terkejut sepertinya seakan tidak menyangka gadis itu akan meminta menjadi murid dalam secara langsung. Meski pun bakat gadis itu sangat bagus, tapi mereka hanyalah Tetua biasa tidak bisa mengiyakan permintaan gadis itu begitu saja, yang pastinya memerlukan persetujuan dari Tetua lainnya.
"Nona, kau masih muda, tidak perlu terburu-buru. Dalam sebulan dengan bakat yang kau miliki aku yakin kau bisa menjadi murid dalam," balas Jiang Liang.
'Yang benar saja, sebulan aku tidak ada waktu sebanyak itu. Peperangan bahkan tinggal tunggu minggu, kalau seperti ini tidak ada cara lain.' Shua Xie masih berlutut memberi hormat kepada Jiang Liang, berharap pria sesepuh itu mau berpikir ulang lagi, "Tetua Jiang, aku tidak punya waktu sebulan. Adakah cara cepat menjadi murid dalam?" tanya Shua Xie.
Melihat betapa kekehnya gadis di depannya membuat Jiang Liang terbatuk pelan, "Uhuk! Uhuk! Kalau itu, mungkin aku bisa bertanya pada Tetua Besar. Melihat bakatmu akan sangat disayangkan kau tidak jadi masuk sekte Kunlun," balas Jiang Liang.
Jiang Liang tentu tidak ingin melepaskan Shua Xie begitu saja, bakat Shua Xie sangat bagus, jika terus dikembangkan bisa membuat harum sekte Kunlun juga. Jadi tidak ada salahnya juga Jiang Liang menuruti permintaan Shua Xie.
Shua Xie mengukir senyum ceria, "Terimakasih, Tetua Jiang."
__ADS_1
_______________
A/N : Perbanyak komen gaes, komenan kalian terhadap cerita ini juga penambah semangatku 😈