Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 179


__ADS_3

"Hah!" Shua Xie hampir saja terjatuh ke depan, untung saja dia cepat menstabilkan langkahnya.


Ternyata, menggunakan pintu dimensi sangat mengurus tenaganya, terbukti dari ke dua kalinya sudah dia memakainya. Ditambah lagi, dia mendapat dorongan besar seakan dimensi itu tidak menerima dirinya. Sebenarnya tidak begitu, hanya saja Qi Shua Xie yang mulai melemah semenjak perpisahan jiwa Menma dari tubuhnya. Seolah seperdelapan kekuatan mengikuti Menma, sedang Shua Xie hanya mendapat seperduanya saja.


Shua Xie mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sepi. Itulah yang dia rasakan. Tampaknya pintu dimensi membawanya pergi jauh dari kerajaan Xuilin. Shua Xie segera berlari memasuki hutan, agar dia terlepas dari pengejaran Lou Yue.


"Cih! Sial sekali, kenapa tubuh ini lemah sekali terhadap guncangan dimensi," sungutnya sambil memegang perutnya yang terasa sedikit mual.


Setelah beberapa menit berjalan memasuki hutan, muncul sebuah pintu dimensi tak jauh di depan Shua Xie. Dia pun menghentikan langkah dan dibuat terkejut dengan kemunculan seorang pria yang berusaha ia hindari.


"Kau memilih tempat yang bagus. Apa kita akan bermain-main sejenak di sini?" Lou Yue, keluar dari pintu dimensi sambil menyeringai tipis.


Shua Xie berdecak pelan sembari menutupi kelemahannya dengan berpura-pura terlihat tegar. Shua Xie berdiri tegap, wajahnya sedikit terangkat dan tampaklah raut wajah angkuh di sana.


"Kau makin jauh makin nakal ya?" Percayalah Shua Xie ingin muntah mendengar ucapannya sendiri. Ini hanya pengalihan, karena dia tahu Lou Yue menyukai dirinya. Ralat, mungkin saja menyukai tubuhnya.


Lou Yue mengusap dagunya pelan, senyum di wajahnya tak kunjung pudar, justru semakin lama semakin mengembang. "Bagaimana jika kita bermain sebentar sayang? Sudah lama aku tidak, ah ... kau pasti paham apa maksudku."


"Kau!" Shua Xie hampir mengumpat keras, dia mana paham apa maksud ucapan Lou Yue. Yang terbesit di pikirannya sesuatu yang mengarah pada hal dewasa. Tapi Shua Xie tidak ingin memikirkan hal semacam itu di saat seperti ini. Dia pun menghentakkan kakinya hingga terbentuk tongkat yang terbuat dari tanah muncul.


"Hem ... semakin menarik." Lou Yue terus menyengir, tak ada yang tahu arti senyumannya itu. Tapi Shua Xie tak bisa menutupi bahwa seluruh badannya terasa bergetar ketika melihat LouYue. "Mari kita lihat sejauh mana kau bisa menemaniku bermain."


Lou Yue yang memulai pertarungan, dia mendekati Shua Xie tanpa memegang satu pun senjata. Bahkan satu tangannya bersembunyi di belakang punggungnya. Sementara Shua Xie, dia telah mengerahkan kekuatannya melawannya.


Bam!


Srak!


Duak!


Pertarungan semakin lama semakin memanas. Namun, meski pun begitu Lou Yue masih belum mengeluarkan senjatanya. Shua Xie memainkan tongkatnya dengan lihai, berniat memukul perut dan dada Lou Yue tapi pemuda itu sudah berpindah tempat begitu cepat. Bahkan mata Shua Xie tidak bisa melihat kapan dia berpindah.


Duak!


Krak!


"Aakh!" Satu pukulan mengenai punggung Shua Xie. Lou Yue mungkin tidak memukulnya begitu kuat, tapi kandungan Qi yang ada di telapak tangan kanannya itu sanggup membuat satu tulang Shua Xie patah.


Meski pun telah mendapat serangan balik, Shua Xie masih tetap tidak menyerah. Ketika pukulan itu mengenainya, dia membalasnya dengan serangan tongkat yang dia ayun secara horizontal. Tapi, Lou Yue berhasil menghindarinya dengan mudah.


Sial! Shua Xie sudah sangat geram tidak bisa memukul Lou Yue sejak tadi.


"Bagaimana jika kita akhiri saja pertarungan ini. Aku tidak ingin membawamu dengan tubuh yang mungkin saja sudah remuk." Lou Yue menawarkan kebaikannya, tak ingin melukai Shua Xie lebih jauh lagi. Lou Yue yakin, jika pertarungan terus berlanjut, percaya atau tidak seluruh tulang Shua Xie bisa dia buat patah.


Tapi hanya orang bodoh yang mau menerima tawaran Lou Yue.


"Bahkan jika aku harus mati, aku tidak akan sudi ikut bersamamu!" timpal Shua Xie tegas dengan sorotan tajam nan dingin. Tentu dia tidak akan menerima tawaran bodoh itu.


Lou Yue tidak lagi terkejut atau semacamnya dengan sikap Keras kepala Shua Xie. "Keras kepala, kau akan menyesalinya."


"Jurus tapak-seribu tangan."


Lou Yue kembali menyerang. Kali ini dengan kecepatan lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan Shua Xie sampai kewalahan karenanya. Ditambah lagi dia tidak tanggung-tanggung melepaskan ratusan pukulan yang tak bisa Shua Xie tepis semuanya.


Krak!


Duak!

__ADS_1


Buk!


"AAkkhh!" Terus menerus menerima pukulan membuat Shua Xie memuntahkan banyak darah. Apalagi tubuhnya yang lemah seakan tak sanggup menerima serangan tapak yang terus Lou Yue berikan. Dia Bahkan sampai terpental mundur dan terkapar kasar di tanah.


Baru mendapat satu jurus sederhana saja dia sudah tak sanggup, bagaimana jika dua, tiga dan empat jurus lainnya? Ternyata Lou Yue sangat kuat jauh dari perkiraannya.


Senyuman Lou Yue sudah tak menghiasi wajahnya. Pandangan dingin dan tajam tertuju pada Shua Xie yang terbaring lemah di tanah dengan muntahan darah di sudut mulutnya. Bahkan wajah cantik Shua Xie sudah tidak lagi terlihat menawan lagi, seluruh bibirnya merah karena darah. Tapi, meski pun begitu, wajah angkuhnya itu masih terpasang di sana.


Tap, tap, tap ....


"Bagaimana rasanya?" Lou Yue sudah berdiri di depan Shua Xie. Wajahnya masih senantiasa dingin seakan tidak menaruh simpati pada Shua Xie yang terluka parah karena perbuatannya.


Shua menengadah. "Kau."


"Sakit?" Lou Yue tersenyum, tapi sebuah senyuman meledek. "Itu bahkan tak seberapa denganmu yang melukainya." Shua Xie menatap menatap heran Lou Yue karena tak mengerti.


"Apa maksudmu!" Shua Xie mengernyit keras.


Lou Yue berdecak sinis sambil memutar bola matanya malas. "Jangan berpura-pura bodoh, aku mengetahui semuanya"


"Kau tahu apa?" Shua Xie semakin tidak mengerti ucapan Lou Yue.


"Anggap lukamu ini pembalasan karena kau melukainya," balas Lou Yue datar.


"Siapa?! Katakan padaku!" Shua Xie membentak, dan lagi membuat darah di mulutnya mencekat kerongkongannya.


"Bersyukurlah karena seseorang sudah memohon nyawamu padaku," timpal Lou Yue semakin dingin. Dan Shua Xie semakin tidak mengerti. "Aku mungkin tak bisa membunuhmu. Tapi dia? Aku kurang yakin tentang itu."


"Dia?"


"Bersiaplah menemuinya."


***


Tap, tap, tap ....


Setelah lama dia berjalan, dua penjaga kerajaan yang berjaga di depan sebuah bangunan sederhana melihatnya. Mereka pun segera mencegat langkah gadis cantik itu.


"Siapa kau! Beraninya menyusup di kerajaan Langit! Tidak takut mati ya!" bentak salah satu penjaga.


Gadis itu tak menjawab apapun selain diam sambil menatap dua penjaga itu bergantian. Geram tak didengarkan, salah satu penjaga menyerangnya dengan tombak yang dia pegang.


"Matilah! Kyaatt!"


Srash!


Darah merembes deras di tanah. Menciptakan sebuah kubangan kecil dengan bau anyir yang mulai merembak. Darah itu bukan milik si gadis, tapi darah penjaga yang hendak menyerangnya. Tidak tahu bagaimana, tombak penjaga itu justru melukai dirinya sendiri. Menusuk lehernya hingga tembus. Alhasil, penjaga itu meregang nyawanya di ujung tombaknya sendiri dengan suara ngorok yang cukup keras.


Gadis itu beralih mata penjaga yang tersisa. Datar emang pandangannya, tapi mampu membuat penjaga itu menciut dan jatuh berlutut di depannya.


"A-ampuni saya! Saya masih mau hidup! Saya rela melakukan apapun untuk anda! Tapi ampuni saya!" Begitu rengek penjaga itu di tanah. Dia bahkan berani menyetuh sepatu kaca yang digunakan gadis itu. Kaki jenjang putih halus milik gadis itu menggoda hasrat pria itu, gadis itu memang menggunakan gaun. Tapi bagian depan gaun itu pendek hingga di atas lututnya. Sedangkan bagian belakang panjang hingga menjuntai ke tanah. Anehnya, gaun dan gadis itu tidak terciprat sedikit pun darah, padahal jelas darah itu menciprat deras hingga mengenai penjaga satunya.


"Menyingkir." Satu kata singkat keluar dari mulut gadis itu. Dan si penjaga yang bersujud di kakinya segera menyingkir dengan tubuh sedikit bergetar. Gadis itu melangkah masuk ke dalam bangunan yang dia yakini adalah penjara. Tapi pada langkah ketiga, dia berhenti.


"Bunuh," ucap gadis itu yang tentunya tidak dimengerti penjaga itu. Dia pikir gadis itu sedang berbicara padanya, jadi dia beranjak bangun berniat menghampiri gadis itu. Namun, sebelum dia melangkah, kepalanya sudah lebih dulu jatuh ke tanah. Seorang pria tampan bermata jingga yang muncul entah dari mana telah menebas kepala penjaga itu secara rapi.


"Ck! Merepotkan." Pemuda bermata jingga itu berdecak pelan sambil menanggalkan darah yang masih tertempel di pedangnya. "Hei! Jangan berlagak kau seorang Tuan di sini. Ingat, aku hanya menemanimu agar kau tak terluka." Pemuda itu berseru pada gadis di depannya. Kesal saja karena gadis itu telah memerintahnya. Anehnya, dia tidak bisa menolak dan secara refleks mendengarkan perkataan gadis itu.

__ADS_1


"Terserah."


***


Klang!


Trang!


Kriek!


Pintu jeruji besi berdecit keras di ruang sepi kurang pencahayaan. Seseorang yang berada di dalam penjara mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah pria yang masih tampan meski usianya sudah terbilang cukup tua.


Gadis yang diyakini membuka pintu jeruji itu melangkah masuk dengan anggun bersama seorang pemuda di belakangnya.


"Siapa kalian?" Pria paruh baya itu bertanya datar dengan pandangan cukup tajam. Tapi dia masih tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Masih menekuk ke dua lutut dan memeluknya.


"Penyelamatmu," balas gadis itu singkat sembari mendekati sang pria paruh baya. "Ambil ini." Dia memberikan sebutir pil bening yang langsung ditangkap pria itu.


Sejenak pria itu menatap pil yang dia tangkap. Lalu detik berikutnya dia beralih menatap gadis cantik di depannya. "Untuk apa kau memberiku pil?" Dari sekian banyak pertanyaan, pria itu lebih memilih mempertanyakan hal ini. Bukannya kenapa, dia sudah sering kedatangan tamu tak diundang, sehingga kedatangan gadis dan pemuda itu tidak terlalu mengejutkannya. Tapi yang membedakan kedatangan dua anak muda dengan yang lain adalah pil yang mereka berikan.


"Pil yang akan membebaskanmu. Bukannya kau ingin bebas dari penjara terkutuk ini?"


Sejenak dia terdiam karena masih tidak mengerti. Namun tidak butuh waktu lama dia mendapat jawabannya. "Kenapa kau memberikannya padaku? Siapa sebenarnya kalian?" tanya pria itu setengah terkejut antara tak percaya dengan pil yang dia pegang dan kebebasan yang sudah lama dia bayangkan.


"Karena aku penyelamatmu." Lagi-lagi gadis memberi jawaban yang terdengar aneh baginya.


"Atau kau sedang berusaha menipuku? Mungkin pil ini adalah pil yang bisa membuatku mati lebih cepat." Pria itu memicingkan tatapannya seakan sedang mencari jawaban dari raut wajah datar gadis itu. Dia mana percaya begitu saja dengan ucapan gadis itu.


Penyelamat? Ck! Omong kosong dengan itu. Dia bahkan sudah belasan tahun lamanya terkurung di dalam penjara ini.


"Kau bisa mencobanya, pak tua. Dan kau akan tahu apa fungsi pil itu! Apa pil itu akan membunuhmu atau menghilangkan kutukan gelap dj jantungmu!" Pemuda di belakang gadis itu menyahut kesal. Lantaran tidak menduga pria itu menunduh hal yang tidak-tidak pada gadis di depannya.


Pria paruh baya itu kembali terdiam, tampak sedang menimbang-nimbang memakan atau membuang pil di tangannya. Jika benar pil itu bisa membantunya terbebas dari penderitaan yang telah dia alami selama belasan tahun, maka dia akan sangat berterima kasih. Tapi, jika ternyata sebaliknya, hanya penyesalan dan rasa tidak terima yang dia dapat.


"Cepatlah makan, karena aku masih ada urusan dengan pemimpin kerajaan ini," ucap gadis itu membuyarkan lamunan pria itu tentang pil di tangannya.


"Apa maksudmu, Lou Zhou?"


"Ya, kau bisa beranggapan seperti itu," lugas gadis itu.


Dia tak paham apa sebenarnya maskud dua anak muda itu. Datang membantunya, tapi ingin mengunjungi Lou Zhou. "Siapa sebenarnya kalian? Dan kenapa kalian membantuku keluar dari penjara ini sementara kalian akan mengunjungi seseorang yang mengurungku di sini," tanyanya menyelidik.


"Kau bisa menganggap kami, seseorang yang akan merebut kembali kerajaan ini." Gadis itu berbalik setelah memberikan jawaban. Lalu melenggang pergi meninggal pria paruh baya itu.


Sementara yang mereka tinggal dibuat terkejut karena ucapannya yang tak biasa. Spontan pria paruh baya itu berdiri lalu mengejar dua anak muda tersebut.


"Tunggu dulu! Apa maksudmu perkataanmu tadi?" tanyanya yang hanya ingin memastikan apakah tebakannya benar atau salah. Dia tidak yakin jika dua anak muda itu berniat merebut kerajaan Langit dari seorang Lou Zhou. Mustahil! Itu yang langsung terbesit di kepalanya.


"Apakah perkataannya tadi kurang jelas?!"Si pemuda yang menyahut. Lagi-lagi dengan nada kesal.


"Sebenarnya siapa kalian?" Pria paruh baya itu melontarkan pertanyaan yang sudah dua kali dia tanyakan.


"Kami penyelamatmu!" Pemuda itu lagi yang membalas. Masih dengan nada ketus seperti biasa.


"Baiklah penyelamat. Lalu siapa nama kalian? Tidak mungkin bukan aku memanggil kalian dengan sebutan penyelamat?"


"Nama?" Gadis itu terdiam sejenak. Tampak sedang memikirkan pertanyaan yang pria paruh baya itu lontarkan. "Dia, Azura. Aku, Menma. Sudah cukup?"

__ADS_1


_____________


A/N : Ternyata oo ternyata, Menma langsung mendatangi kediaman Lou Zhou, gaes! Daebak! omo! 😱 gasak si Lou Zhou sampe habis!


__ADS_2