Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 68


__ADS_3

3 Minggu Kemudian ....


Shua Xie termenung menatap langit biru dengan pandangan dingin, semenjak kejadian 3 minggu lalu sifat Shua Xie berubah drastis, biasanya dia sangat sering berbicara namun sekarang Shua Xie lebih banyak diam dan bersifat dingin terhadap semua orang. Sampai saat ini Shua Xie masih menyalahkan dirinya yang lemah, dia merasa karena dia lemah dia tidak bisa melindungi orang yang ingin dia lindungi, dan itu membuatnya sangat kesal dan selalu merasa bersalah.


Phoe sudah banyak kali mengingatkannya bahwa kematian Shu Chin bukan karena kesalahannya, semua manusia akan tiba saat dia akan mati, dan itu tidak bisa dihindari sebagaimana takdir setiap mahluk hidup. Tidak ada yang kekal di dunia, pada akhirnya mereka akan pergi jika waktunya sudah tiba.


Shua Xie paham akan hal itu, tapi dia masih tidak bisa menerima kesalahannya sendiri. Bagaimana pun usahanya melupakan kejadian itu, tetap saja mengiang di kepalanya. Satu hal saat ini yang tertanam kuat di hatinya, yaitu balas dendam pada Lou Zho atas apa yang dia perbuat.


"Aku ingin menjadi kuat, bagaimana pun caranya! Bahkan jika harus melanggar kehendak langit aku tidak akan peduli. Phoe, bantu aku menjadi kuat! Aku ingin balas dendam pada di ******** Lou Zho itu!"


Phoe menghela nafas pelan, melihat Shua Xie yang sekarang begitu dingin dan suram membuat suasana di antara mereka berdua sedikit berubah.


"Baiklah, bagaimana kita kembali ke kota Bora dan kau mengikuti ujian pemilihan calon murid sekte Kilat. Tapi sebelum itu kita bisa mencoba berlatih seminggu di hutan berburu monster spirit agar pengalamanmu semakin meningkat."


"Baiklah, asal aku bisa kuat. Apapun akan aku jalani!" balas Shua Xie dengan nada datar.


Shua Xie beranjak berdiri dan pergi berjalan menuju kediaman Feng Xian, dia berniat meninggalkan kota Kekai hari ini juga. Shua Xie sudah 3 minggu di kota Kekai, dan 1 minggu lagi pertandingan di kota Bora akan dilaksanakan. Shua Xie sudah berjanji akan mengikuti pertandingan itu, pada Jenderal Xui Sukong dan istrinya. Sebagai bukti dia akan membangkitkan kembali kerajaan Langit, Shua Xie akan menepa dirinya menjadi sekuat mungkin, bahkan jika harus menantang hukum langit sekali pun.


Kedatangan Shua Xie ke kediaman Feng Xian membuat para tamu di sana terkejut dan langsung memberi hormat padanya. Sebagai tokoh yang paling berperan penting saat terjadi penyerangan, dan berhasil membuat semua pasukan penyerang mati, dia mendapat gelar sebagai pahlawan kota Kekai. Semua warga kota Kekai menghormati Shua Xie sebagai pahlawan mereka, di mana pun Shua Xie berada selama dia masih di kota Kekai dia akan selalu dilayani dan dihormati.


Kebetulan Feng Xian saat itu tengah kedatangan Tetua klan Tang, Tetua klan Nara dan Walikota, jadi Shua Xie tak perlu repot-repot lagi mengunjungi rumah mereka semua jika 3 orang penting ini sudah ada di rumah Feng Xian.


"Kebetulan sekali kalian berkumpul di sini, jadi aku tidak perlu lagi mendatangi rumah kalian."


Ucapan Shua Xie membuat mereka berempat kebingungan tidak paham maksud dari ucapan Shua Xie. Feng Xian menatap Shua Xie sambil mengerutkan keningnya.


"Nona, apa maksud dari ucapanmu? Apa kau ingin membicarakan sesuatu dengan kami semua?" tanya Feng Xian, dia menoleh ke empat rekannya bergantian hingga akhirnya menatap Shua Xie.


"Ada urusan penting apa yang ingin pahlawan Shua sampaikan pada kami?" sahut Tetua Nara yang sama penasarannya dengan Feng Xian.


"Tolong jangan panggil aku pahlawan, panggil saja dengan namaku. Aku tidak suka dipanggil pahlawan." Shua Xie menatap Tetua Nara datar namun meninggalkan kesan yang menakutkan. Tetua Nara hanya bisa bergidik ngeri melihat tatapan Shua Xie, tatapan dingin dan tak berperasaan itu.


Tetua Nara mengangguk paham, "Baiklah, maaf jika saya menyinggung Nona Shua."


Shua Xie tidak memperdulikan reaksi dari Tetua Nara terhadapnya, mau seperti apapun reaksi orang di depannya dia tetap tidak akan peduli, jangan tanya kenapa? Kalian pasti tahu, saat ini Shua Xie benar-benar berubah. Tekadnya sudah bulat, dia akan menjadi kuat dengan cara apapun demi membalaskan dendamnya. Alasannya manjadi dingin sebab dia tidak ingin memiliki ikatan dengan siapapun agar tidak ada lagi orang mati karenanya.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkan kota Kekai hari ini juga. Tidak perlu melalukan penyambutan apapun, aku ingin pergi tanpa diketahui oleh semua orang, cukup kalian saja yang tahu," ucap Shua Xie datar dengan raut wajah tanpa ekspresi, benar-benar mirip dengan ekspresi Shu Chin saat peperangan.


"Pergi? Kenapa?" Tetua Tang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Nona akan pergi ke mana? Perlukah saya memberi beberapa pengawal untuk Nona, agar Nona tidak mengalami kendala selama perjalanan?" Rong Sui menawarkan para Kultivatornya untuk mengawal Shua Xie selama perjalanan, agar kiranya Shua Xie terhindar dari bahaya. Terutama para prajurit Lou Zho.


Shua Xie menatap Rong Sui datar, "Kau meremehkanku?" Apa yang keluar dari mulut Shua Xie barusan membuat ke 4 pria paruh baya di depannya sedikit terkejut, mereka semua sudah tahu semenjak kematian Shu Chin, Shua Xie mendadak berubah tanpa alasan membuat Rong Sui maupun Feng Xian bingung. Tapi mendengar ucapan sedingin itu keluar, sungguh mengejutkan pasalnya tidak terdengar sedikit pun rasa hormat pada yang tua dari ucapannya.


"Itu, bukannya aku meremehkan Nona. Hanya saja-"


"Hanya saja apa? Aku tidak perlu pengawal apapun, aku ini bukan Putri lemah! Putri Langit tidak boleh lemah! Bagaimana caranya dia ingin membangkitkan klan-nya jika dia saja tidak mampu melindungi dirinya." Shua Xie memotong ucapan Rong Sui.


Apa yang dikatakan Shua Xie tadi memanglah benar, namun saat ini bukan saatnya ajang unjuk siapa kuat dan siapa lemah bagi Rong Sui, bagaimana pun Shua Xie telah ditargetkan dunia Atas, pastinya akan banyak pasukan lagi mendatanginya dan jelas Rong Sui tidak mau terjadi sesuatu pada Shua Xie. Dia telah menganggap Shua Xie seperti putrinya sendiri walau pun sikap Shua Xie kurang baik padanya.


"Tapi-" belum sempat melanjutkan ucapannya lagi, Feng Xian langsung menepuk pundak Rong Sui kemudian menggelengkan kepalanya. Feng Xian meminta padanya agar tidak melawan ucapan Shua Xie lagi, bisa-bisa Shua Xie malah marah karena dipaksa.


Rong Sui menatap Feng Xian lalu menghela nafas berat, dia paham maksud tatapan Feng Xian terhadapnya. Dia tahu tidak baik memaksa seseorang bersifat seperti Shua Xie, justru menyulut api semakin besar, saat ini Shua Xie sedang diselimuti rasa dendam tidak baik mencari masalah dengannya, yang ada dia bisa menjadi pelampiasan Shua Xie. Tapi membiarkan Shua Xie sendiri di luar sana tentu saja membuatnya tidak tenang, bagimana pun dia tahu status Shua Xie saat ini ialah buronan nomer 1 dunia Atas, sudah pasti akan banyak hal buruk mengincarnya.


"Terimakasih telah peduli denganku, tapi kalian tidak perlu mencemaskanku. Aku tidak akan tertangkap oleh mereka, kedatangan mereka padaku justru mengundang ajal mereka semakin cepat." Shua Xie meyakinkan kalau dia saat ini tidak membutuhkan perlindungan siapa pun mengingat ada Phoe di dekatnya dan akan selalu melindunginya.


"Baiklah, tapi cukup satu orang saja. Aku tidak ingin banyak wargamu tahu kalau aku meninggalkan kota Kekai. Yang ada mereka malah menghambat perjalananku."


"Tidak masalah, satu pun aku sudah senang," jawab Rong Sui langsung dengan sebinar senyuman.


Shua Xie langsung melangkah pergi meninggalkan kediaman Feng Xian tanpa berucap sepata kata lagi, disusul dengan seorang pria berumur 20 tahunan mengejarnya dari belakang, pria itu adalah Kultivator suruhan Rong Sui mengantarnya sampai ke gerbang kota Kekai.


Tidak butuh waktu lama mereka berdua sudah tiba di depan gerbang, Shua Xie menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang menatap pria yang mengikutinya.


"Sudah cukup sampai di sini, sekarang kau bisa kembali," ucap Shua Xie memerintah pria berbaju kuning untuk kembali ke kota Kekai lagi.


Pria itu mengangguk lalu memberi hormat pada Shua Xie, "Terimakasih, karena anda kota Kekai telah aman seperti sekarang. Saya berharap perjalanan anda tidak banyak halangan," ucap pria itu setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Shua Xie.


Shua Xie tidak menanggapi ucapan pria itu, dia merongo sesuatu di dalam saku bajunya yaitu 4 token dari kota Kekai milik Rong Sui, Tetua Tang, Tetua Nara, dan Feng Xian. Gunanya token itu sama seperti token milik 4 sekte kota Perak, Shua Xie bisa kapan saja memanggil mereka jika dia butuh bantuan.


"Oke, sampai jumpa lagi kota Kekai. Jika aku sudah cukup kuat aku akan kembali lagi."

__ADS_1


***


"Hei apa kalian yakin ini jalan keluar hutan ini? Ini sudah lebih empat hari kita berjalan tapi tetap tidak bisa keluar," tanya salah seorang pria paruh baya berbaju merah pada 2 orang temannya.


2 temannya menatapnya sedikit kesal, pasalnya satu temannya ini selalu mengeluh sepanjang jalan tentang apa ini jalan keluar yang benar apa tidak? Benar-benar berisik, padahal dia sendiri tidak melakukan apa-apa tahunya hanya mengeluh.


"Sekali lagi kau bertanya sebaiknya kau cari jalan sendiri, pusing aku mendengar kau mengeluh terus. Kau pikir kita juga tidak sama seperti kau?"


"Ya, kau tahu hanya mengeluh saja." Temannya yang satu menambahkan lagi.


Pria baju merah itu merengut kesal melihat ekspresi temannya, apalagi ketika temannya memarahinya hanya karena dia bertanya.


"Aku kan hanya bertanya? Kenapa kalian kesal begitu!" balasnya dengan raut wajah ditekuk, membuat 2 temannya menatapnya lagi kesal.


"Kenapa kami kesal? Sekali kau bertanya jangan ikuti kami lagi!" Semakin kesal temannya yang satunya karena pertanyaan kanyolnya itu.


3 pria ini sudah 4 hari tersesat di hutan Kukuzu, mereka merupakan 3 pria dari kerajaan Bora yang mana mereka seorang bangsawan kerajaan Bora. 3 pria ini merupakan sepupu dan ipar dari istri Xui Sukong. Mereka bertiga awalnya berniat berburu bersama keluarga bangsawan Bora saat festival berburu diadakan, namun mereka bertiga terpecah dari rombongan dan nyasar di hutan. Ke 3 pria bangsawan ini bukanlah Kultivator, namun hanya seorang pedagang bangsawan.


Mereka bertiga terus berjalan menyusuri hutan sampai tak lama mereka melihat seorang gadis yang tengah bertarung melawan monster spirit Beruang Hitam. Ke 3 pria ini terkejut melihat pertarungan itu dan memilih mengintip pertarungan dari balik semak-semak.


"Hah! Gadis itu melawan beruang Hitam! Hebat!" Puji pria berbaju merah dengan wajah terkejut.


"Dia seorang Kultivator? Pasti sedang berburu di hutan. Bagaimana kita meminta bantuannya keluar hutan, dengannya kita bisa pulang dengan selamat." Usul temannya yang lain penuh semangat. 2 temannya mengangguk senang, sebab kesengsaraan yang mereka derita selama 4 hari ini akan hilang, mereka akui selama 4 hari ini benar-benar menderita, dikejar terus menerus monster spirit dan tidak bisa hidup tenang, sebagai manusia biasa mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain lari dan lari menyelamatkan diri.


3 pria itu menunggu sampai gadis itu selesai bertarung, tidak butuh waktu lama gadis itu selesai bertarung dengan beruang Hitam, siapa yang menang? Tentu saja gadis berpakain hitam legam itu. Setelah gadis itu menyapu bersih beruang itu dan mengambil inti spirit monsternya, 3 pria itu menghampirinya dengan raut wajah sedikit takut, setelah melihat kekuatan gadis itu bertarung mereka tak yakin apakah gadis itu masih manusia apa monster? Sebab gadis itu bertarung sangat cepat dan tanpa senjata sama sekali.


Gadis itu langsung menoleh ke bekalang saat merasakan ada 3 manusia biasa yang mendekatinya. Ke tiga pria itu terkejut tatkala mereka melihat wajah gadis itu begitu cantik, namun bukan parasnya yang memikat mereka tapi karena wajah itu sangat akrab dengan mereka.


"Pu-putri Xui Sha?"


Gadis itu memautkan keningnya bingung, "Xui Sha Saya Shua Xie bukan Xui Sha."


***


Ayo dukung author :)

__ADS_1


__ADS_2