
"Tidak percaya! Bagaimana mungkin Putri Langit sekuat dirimu?" Yihua menolak keras pengakuan gadis di depannya, meskipun terbesit sedikit rasa percaya, tapi Ayahnya sudah mengatakan Putri Langit sangatlah lemah, tidak mungkin Ayahnya berbohong dengan mereka bukan?
Minghao pun merasakan hal yang sama, tapi melihat gadis itu mengenal dan bahkan berani mengatai Ayah mereka, Minghao menjadi bimbang, mungkinkah gadis itu memang wanita yang mereka maksud.
Gadis itu tersenyum lagi, "Terserah kalian percaya atau tidak, bukan urusanku." Gadis itu mengibaskan tangannya, bersamaan dengan itu akar yang mengikat ke tiga bocah itu lepas, "Karena kalian anak dari si brengs*ek, aku akan memaklumi itu." Gadis itu segera berbalik, dan meninggalkan ka tiga bocah itu.
***
"Ibu ke mana kita akan pergi?" Anak kecil berpakaian cukup lusuh menatap seorang gadis di depannya.
"Bukankah sudah kukatakan, jangan panggil aku Ibu?" Gadis yang sebelumnya fokus berjalan ke depan mendadak berbalik ketika anak kecil di belakangnya memanggilnya dengan sebutan 'Ibu'. Membuat telinganya terasa panas.
Padahal gadis ini sudah berkali-kali menegaskan kepada tiga anak kecil itu untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi anak kecil itu terus saja memanggilnya seolah gadis ini memang benar ibu mereka.
"Tapi, Ayah mengatakan kau Ibu kami," balas anak laki-laki dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Anak laki-laki itu menggerakkan tubuhnya begitu imut, memanggil gadis itu ingin memukulnya.
Gadis yang tadinya menatap anak kecil perempuan kini beralih menatap anak kecil laki-laki dengan tatapan membara, seakan tangannya ingin mengoyak mulut anak laki-laki itu.
"Itu menurut Ayah kalian! Apa hubungannya denganku?!" bentak gadis itu sembari menahan rasa kesalnya. Dirinya baru saja dipertemukan dengan tiga anak kecil yang menyusahkan dan kenapa harus berakhir seperti ini.
"Tapi Ibu-"
"Aku sudah bilang jangan panggil aku Ibu!" sela gadis itu keras seraya menunjuk anak laki-laki berambut hitam.
Ke tiga anak kecil terdiam untuk sesaat, beberapa detik kemudian mereka menunjukkan raut wajah seperti tertindas, dengan mata berkaca-kaca dan tampang wajah memohon. Benar-benar menarik perhatian banyak orang, apalagi mereka berada di tengah keramaian kota. Mengundang bisik-bisik yang tidak diinginkan.
"Sungguh kasihan tiga anak itu, Ibu mereka tidak mau mengakuinya, lalu buat apa melahirkannya?"
"Dasar wanita tidak punya hati, bagaimana bisa dia setega itu dengan anak kecil?"
"Aku yakin anak itu pasti anak yang terjadi di luar nikah, sebab itulah wanita itu tidak mau mengakuinya."
"Wanita iblis, tega sekali dengan anak kecil. Di depan umum secara terang-terangan tidak mengakui mereka, sangat kejam."
"Entah dari keluarga mana gadis itu tega membuang anak malang seperti mereka, dasar tidak punya hati."
"Dia pasti berpisah dengan suaminya sebab memiliki pria lain, huh ... mentang-mentang cantik, tega membuang suami dan anaknya."
Bisikan-bisikan mulai menusuk gendang telinga gadis bercadar itu. Mendengar cemooh dari banyak orang di sekitarnya seperti gadis itu mendapat serangan pedang berkali-kali. Gadis itu terdiam kaku, ingin berbicara membenarkan diri tapi dia yakin, tidak akan ada seorang pun percaya padanya. Semua orang pasti akan lebih percaya omongan ke tiga anak kecil itu.
'Sialan, sejak kapan aku pernah berada di posisi ini. Jika aku bertemu si brengs*k itu akan kuliti dia sampai tersisa tulangnya!' pekik gadis itu dalam hatinya.
Aura suram keluar dari punggung gadis itu, tatkala ocehan demi ocehan dari banyak orang semakin melejit menusuk harga dirinya secara berkala. Memang benar bukan, gosip lebih menyakitkan dari pada pukulan nyata. Jika saja gadis itu tidak menghargai mereka sebagai mahkluk hidup, sudah pasti gadis itu akan membunuh siapa saja yang menceritakan dirinya tanpa tahu kebenaran.
Gadis itu menarik nafas sesaat lalu menghembuskannya cukup kasar, "Kalian bertiga ikutlah denganku. Ibu akan membawa kalian pulang." Akhirnya gadis itu hanya bisa pasrah sembari memberikan senyuman bak iblis di balik cadar gadis itu, membuat ke tiga anak kecil mendadak mendapat firasat tidak baik.
"Ah, Ibu, kami-"
"Kami apa? Ayok pulang sama Ibu." Gadis itu langsung menyela ucapan anak kecil berambut putih dan dengan cepat menarik ke dua anak kecil itu berjalan ke depan.
__ADS_1
"Ibu ...." Anak kecil perempuan yang tertinggal segera mengejar gadis itu.
Ke dua anak kecil yang digenggam gadis itu tidak bisa berkutik, kekuatan gadis yang memegang mereka terlalu kuat, bahkan rasanya tulang tangan mereka serasa ingin remuk. Mereka tahu gadis itu sudah cukup kesal, karena mereka memanggilnya dengan sebutan 'Ibu' di depan umum, tapi apa ada yang salah jika mereka memanggil dengan sebutan itu? Meskipun alasan mereka cukup masuk akal, tapi di kepala gadis itu tidak ada yang masuk akal, usianya masih muda bagaimana mungkin memiliki tiga anak sekaligus.
Lama gadis itu menarik ke dua anak kecil itu, mereka tiba di depan gerbang kerajaan. Xuilin. Saat gadis itu ingin masuk, dua prajurit penjaga gerbang langsung menghadangnya dengan tombak yang disilangkan di depan pintu gerbang.
"Siapa kamu? Ada perlu apa masuk, dan kenapa kau membawa anak kecil?" tanya salah satu prajuit cukup tegas.
Paham kalau gadis itu tampak kesal sembari menggenggam ke dua bocah itu cukup kuat, prajurit itu langsung sadar. Wanita itu pasti ingin pura-pura mengaku bahwa anak itu adalah anak dari keluarga kerajaan.
"Kau pasti jal*ang yang ingin mengaku-ngaku telah melahirkan anak dari keluarga kerajaan. Hemp ... jal*ang sepertimu sudah sering kamu temui." Prajurit lain menambah dengan nada meledek.
Alih-alih gadis itu pergi atau merasa tersinggung, gadis itu seperti tidak memedulikan ocehan dua prajurit itu, "Buka pintunya atau kalian akan menyesal," ucap gadis itu dengan nada begitu suram.
Ke dua bocah yang dalam genggaman gadis itu menelan saliva mereka kasar, pandangan mereka terhadap dua prajurit itu segera berubah. Tatapan seolah meminta ke dua prajurit untuk menuruti omongan Ibu mereka sebelum, kalau tidak, nasib sial menghampiri dua prajurit itu.
"Paman sebaiknya kau membukanya, Ibu sedang dalam suasana hati tidak baik," ucap bocah berambut hitam dengan tampang wajah terlihat begitu takut.
Bocah di sebelah kiri menganggukkan kepalanya, "Benar Paman, atau kau akan merasakan kemarahan Ibu."
Seperti mendengar lelucon paling lucu sedunia, dua prajurit justru tertawa membalas omongan dari dua bocah itu dan semakin memanaskan punggung gadis yang membawa dua bocah itu.
"Hahaha ... hanya seorang perempuan, apa yang bisa ditakutkan?" balas prajurit itu dengan gelak ketawa yang semakin besar.
"Benar lebih baik kalian-"
"Berisik! Mati saja sana!" Gadis yang tadi hanya menunduk dengan aura suram keluar dari tubuhnya kini melayangkan tendangannya kepada dua prajurit itu, dirinya sudah cukup dibuat kesal jangan lagi ditambahkan kesal. Dalam waktu singkat saja, ke dua prajurit itu terlempar dan menempel di dinding seperti cicak.
'Celakalah sudah kita. Ibu sangat marah!' pekik bocah berambut hitam dalam hati. Keringat dingin terus mengucuri wajah dan tangannya, 'Ayah, perintahmu mengantar kami ke gerbang kematian lebih cepat.'
Melihat dua prajurit itu sudah tidak sadarkan diri, gadis itu mengalihkab pandangannya dengan cepat ke bocah yang dia genggam. Sambil tersenyum lebar gadis itu berkata, "Ayok masuk anak-anak Ibu yang menggemaskan." Nada bicara gadis terdengar lembut tapi menyayat keberanian ke dua bocah laki-laki itu untuk mendengarkannya.
Perkataan gadis itu bisa ditebak ke dua bocah itu, mengartikan makna yang mengerikan. Tidak lama lagi mereka akan memasuki rumah neraka dan seharusnya meraka tahu apa yang akan terjadi di dalam sana nantinya.
'Ibu galak sekali! Pantas saja Ayah mengirim kami bukan dirinya!'
***
"Astaga Nona, bagaimana bisa anda memiliki anak selucu ini? Katakan siapa pria-nya, Nona?" Chi Su menghimpit ke dua pipi Yihua dengan gemasnya. Sungguh dia gemas melihat ke tiga bocah datang bersama majikannya dan mengaku sebagai anak dari majikannya. Chi Su merasa terharu mengetahuinya, sebab begitu lama dia mengikuti majikannya, akhirnya majikannya memiliki anak.
"Ayah kami bernama Lou Yue, dia Ayah yang tampan dan kuat." Minghao menyahuti pertanyaan Chi Su, seketika membuat pandangan pelayan itu tertuju padanya. Dan dengan cepat Chi Su mencubit-cubit ke dua pipi Minghao dengan gemasnya seperti dia melakukannya pada Yihua sebelumnya.
"Astaga menggemaskan sekali!" Chi Su semakin tidak bisa mengendalikan dirinya ketika Minghao dan Yihua bertingkah begitu imut. Chi Su segera berbalik, menatap Shua Xie yang kini duduk di kursi dengan wajah begitu tenang tapi aura suram terlihat di sana, "Nona ... sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu hubungan Nona dengan pria bernama Lou Yue itu? Apa statusnya? Apa dia punya kerajaan juga? Seperti apa tampangnya?" Chi Su melontarkan pertanyaan bertubi-tubi membuat gendang telinga Shua Xie menjadi panas.
"Tentu saja Ayah kami dari keluarga kerajaan, Ayah adalah seorang Pangeran." Minghao menjawab lagi pertanyaan Chi Su dan lagi-lagi memanggil Chi Su untuk mencubit pipinya dengan gemas.
"Dilihat dari umur mereka, bisa dikatakan Nona telah menjalin hubungan cukup lama dengan Tuan Lou Yue." Panggilan Chi Su terhadap Lou Yue mulai berubah, bahkan tanpa sengaja Chi Su mulai membayangkan rupa Lou Yue, "Mungkinkah selama ini Nona menyembunyikan semua ini?" tanya Chi Su lagi.
"Chi Su, apa yang kau katakan? Apa maksudmu aku memiliki hubungan dengan seorang Pangeran brengs*k sepertinya!?" sahut Shua Xie dengan nada kesal sembari melayangkan tatapan tajam.
__ADS_1
Chi Su bergerak secepat kilat mendekati Shua Xie lalu memijit-mijit pundak Shua Xie sembari memasang tampang begitu bodoh, "Ah ... Nona aku tahu anda malu mengakuinya. Tapi tenanglah mereka semua sangat menggemaskan, Yang Mulia pasti senang memiliki cucu seperti mereka," ujar Chi Su dengan senyum-senyum idiot.
Shua Xie menarik nafas frustasi, sekarang dia sudah tidak ingin berkata apapun jikalau tidak ada seorang pun percaya dia bukan Ibu dari ke tiga bocah itu. Shua Xie menyentuh keningnya, merasa sedikit pusing, tapi di dalam hati dia sedang memaki seserong, 'Pria brengs*k! Pria brengs*k! Pria brengs*k!'
Bersamaan dengan itu, entah ada masalah apa yang membuat Jenderal Besar Feng datang dan masuk ke kediaman Shua Xie begitu tergesa-gesa. Kedatangan Feng Xian cukup membuat banyak orang terkejut.
"Shua Xie." Jenderal Besar Feng menghentikan ucapannya tatkala matanya menemukan tiga sosok bocah berdiri di pinggir ruangan dengan tampang terlihat tertindas, sangat imut dan menggemaskan, "Siapa tiga anak kecil itu?" Lanjut Jenderal Besar Feng, sekejap saja Feng Xian melupakan tujuannya datang ke sini.
Chi Su adalah orang yang pertama kali bergerak mendengar pertanyaan Feng Xian, dengan cepat Chi Su mendekati Jenderal Besar Feng sambil memasang tampang wajah idiotnya.
"Tuan Jenderal Besar, mereka adalah cucumu." Entah keberanian dari mana, Chi Su berkata begitu terbuka seolah Feng Xian seperti teman dekatnya. Chi Su membawa ke tiga anak itu mendekati Feng Xian.
Alis Feng Xian berkerut, "Cucu?" Feng Xian mengulangi kalimat itu dengan nada tampak kebingungan.
"Ya, dia cucumu Jenderal Besar. Mereka adalah anak Putri ke Lima," jawab Chi Su bersemangat dengan senyuman bahagia yang lebar.
Bagai disambar petir, Feng Xian terdiam kaku di tempatnya, telinganya baru saja menagkap kalimat aneh bukan? Shua Xie memiliki anak, Feng Xian hampir muntah darah mendengarnya. Tapi beberapa saat kemudian Feng Xian kembali tersadar, pandangannya seketika menatap Shua Xie. Bisa dia lihat Shua Xie sedang duduk tenang dengan tampang eksrepsi terlihat pasrah. Ini kali pertamanya gadis seperti Shua Xie memasang tampang seperti itu.
"Shua Xie, katakan pria mana yang meng ... umumumu," ucap Feng Xian tegas di awal namun bergumam di akhirnya, sengaja menghindari kalimat itu agar tidak ditiru oleh ke tiga bocah itu. Usia mereka masih muda, tidak sebaiknya mereka mendengar ucapan dewasa seperti itu.
Baru saja Shua Xie ingin menjelaskan semuanya, tiba-tiba saja Chi Su langsung menjawab dengan semangat membuat semangat hidup Shua Xie kembali luntur.
"Pangeran bernama Lou Yue!" jawab Chi Su cukup keras.
"Seorang Pangeran? Bagaimana bisa menodai keponakanku!" balas Feng Xian dengan kobaran api di matanya, tapi sesaat saja kobaran kemarahan itu terganti saat Yihua menyetuh bajunya.
"Kakek, jangan marahi Ayah. Ayah bilang Ayah dan Ibu saling mencintai," ujar Yihua dengan suara pelan, tampak pipi Yihua menggembung terlihat sangat-sangat menggemaskan. Bahkan Yihua juga memainkan kaki kanannya maju mundur menyapu lantai.
Melihat betapa imutnya Yihua, dengan mata hijau berkaca-kaca, bibir dimanyunkan, pipi digembungkan, orang mana yang tidak ingin mencubit anak itu. Feng Xian tidak tahan melihat tingkah lucu Yihua, dan secara tidak sadar tangannya menarik hidung Yihua gemas, membuat sosok bocah gadis bermata hijau itu meringis pelan dengan nada imut.
Shua Xie saja yang berada jauh di sana ikut gemas melihatnya, tapi gemas Shua Xie berbeda, dia ingin sekali mencungkil dan membanting Yihua. Bocah itu semakin menarik kepercayaan setiap orang kalau mereka memang anak Shua Xie!
Jiazhen dan Minghao mendekati Feng Xian sambil berteriak memanggil Feng Xian kakek. Hal itu sontak membuat Feng Xian merasa terkejut, terharu dan bahagia. Dirinya dipanggil Kakek? Berapa lama dia menginginkan sebutan itu keluar dari mulut anak-anak kecil.
"Uwuuu ... kalian menggemaskan sekali." Feng Xian meraih ke tiga bocah ke dalam pelukannya, "Nanti kalian akan Kakek kenalkan dengan Kakek Kaisar, dia pasti akan senang melihat kalian."
Chi Su paling bahagia mendengar ucapan Feng Xian, tentu saja dia setuju jika Feng Xian mempertemukan ke tiga bocah itu dengan Feng Kim Ayah dari Shua Xie. Dengan begitu bisa dikatakan Feng Kim adalah Kakek sebenarnya mereka.
Tapi di sisi lain, Shua Xie seakan mau jatuh dari kursinya mendengar ucapan Feng Xian. Feng Xian mau mempertemukan ke tiga bocah itu dengan Feng Kim adalah hal terburuk yang pernah Shua Xie dengar! Jika itu terjadi ... maka seluruh kerajaan akan tahu kalau Shua Xie memiliki anak dari seorang Pangeran. Dan hal itu sama saja melukai harga diri Shua Xie sebagai gadis lajang!
Umurnya masih 18 tahun, bagaimana bisa memiliki tiga anak sekaligus, bukankah itu konyol!? Tapi di sinilah titik anehnya, kenapa semua orang mempercayai ucapan ke tiga bocah itu daripada dirinya. Apa mungkin Shua Xie terlihat begitu tua di mata mereka sehingga wajar memiliki tiga anak?
Shua Xie mengangkat tangannya, hendak menghentikan Feng Xian yang membawa pergi ke tiga bocah itu, "Jenderal Besar Feng, tunggu, bukankah kau datang kemari untuk sesuatu?" panggil Shua Xie dengan cepat.
Feng Xian langsung tersadar, dirinya datang ke kediaman Shua Xie ingin memberitahukan berita besar, bagaimana mungkin dia bisa lupa. Semua ini karena Feng Xian terlalu terkejut akan tiga anak Shua Xie. Seketika Feng Xian berbalik dan kemudian berbicara dengan serius, "Semua pemimpin negara telah datang, mereka menunggumu di aula utama."
Kabar ini memang kabar yang penting, wajar saja ketika Shua Xie mengingatkan Feng Xian langsung bersikap berbeda. Raut wajah Shua Xie yang tadinya berbeda kini menjadi datar, dengan anggun dirinya berjalan mendekati Feng Xian dan berkata, "Oh, kalau seperti itu aku akan ke sana. Jenderal Besar Feng, tolong jaga anak-anak ini, jangan sampai mereka membuat kekacauan." Setelah berkata seperti itu, Shua Xie lekas berjalan menuju istana utama.
________
__ADS_1
A/N : anak pen ta tabok 😂 bab ini berbeda dari biasanya bukan? hayuk komennn