Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 138


__ADS_3

"Apa kau dengar, daratan Alam Abadi tidak lama lagi terbuka. Sekte Kunlun akan mengirim murid berbakat mereka ke sana untuk menguji seberapa besar kemampuan murid mereka." Pria berbaju coklat usang menepuk bahu teman sebangkunya yang sedang asik memakan makanannya.


Pria yang ditepuk itu segera menoleh ke temannya, "Kalau berita itu aku sudah dengar. Katanya juga, bukan hanya sekte Kunlun yang akan hadir, tapi masih banyak sekte lainnya seperti sekte Pedang Langit," balasnya dengan nada sedikit antusias.


"Seandainya aku murid dari sekte Kunlun, aku juga ingin ikut ke daratan Alam Abadi. Dengar-dengar di daratan sana banyak harta berharga, jika aku bisa membawa pulang sebagian harta itu, aku yakin aku akan kaya."


"Mimpimu terlalu tinggi, mendaftar masuk sekte Kunlun saja belum tentu lulus," sahut temannya dengan nada merendah, cukup meledek betapa tingginya khayalan temannya itu.


Shua Xie yang tidak jauh dari ke dua pria itu bisa mendengar perbincangan mereka. Mendengar banyak harta berharga, membuat Shua Xie tertarik mendengarkannya.


'Ternyata benua barat cukup banyak menyimpan misteri, sangat menarik.' Shua Xie menopang dagunya seraya tersenyum tipis, 'Daratan Alam Abadi? Tempat seperti apa itu, sepertinya aku harus ikut serta. Barangkali aku bisa menemukan sesuatu yang menarik.'


Meskipun Shua Xie tidak tahu seperti apa Daratan Alam Abadi, tapi dari nama dan perbincangan dua pria itu cukup menarik perhatian Shua Xie. Tentu saja Shua Xie tidak akan melewati kesempatan itu, selagi dia masih di benua barat Shua Xie akan memanfaatkan waktu yang ada mencari pengalaman baru.


Tapi, dari penjelasan itu juga Shua Xie berpikir Daratan Alam Abadi tidak sesederhana yang dia pikirkan. Biasanya di mana banyak harta berharga pasti selalu banyak masalah. Bukankah istilah itu bisa dikatakan benar?


Shua Xie beranjak berdiri, membuat Ogher sedikit terkejut, dengan cepat Ogher meletakkan kembali mangkuk mienya dan segera berdiri mengikuti majikannya.


"Putri, ada apa?" tanya Ogher penasaran, melihat Shua Xie berdiri begitu antusias seharusnya ada yang menarik perhatian gadis itu.


Shua Xie menatap Ogher lalu tersenyum manis, "Kita akan pergi ke sekte Kunlun. Ada hal menarik yang harus aku lakukan di sana."


***


Keributan menarik perhatian banyak orang terutama para Kultivator. Mata mereka semua menyaksikan pertarungan yang terjadi di arena berbentuk lingkaran yang terbuat dari beton. Di atas beton itu, dua orang Kultivator sedang bertarung satu sama lain, ingin memenangkan pertandingan dan mendapat plakat menjadi murid luar sekte Kunlun.


Tidak jauh dari arena itu, tiga orang pria sesepuh tengah duduk menyaksikan pertarungan, mereka adalah juri dalam pertandingan, atau bisa dikatakan sebagai guru luar yang akan membawa masuk para calon murid ke sekte Kunlun.


Pria sesepuh berbaju putih polos, mengelus janggut putihnya, pandangannya terhadap pertarungan yang sedang berlangsung sedikit menunjukkan ketertarikan, "Jiang Liang, aku merasa pemuda Kultivator masa sekarang semakin berkembang. Hanya saja, mereka masih terlalu dini berpikiran naif."


Pria sesepuh yang bernama Jiang Liang itu menutup matanya seraya mengangguk pelan mengiyakan ucapan pria sesepuh di sampingnya. Memang benar pemuda Kultivator sekarang begitu cepat berkembang, hanya saja emosional mereka tidak bisa dikontrol dengan baik. Sehingga pembawaan pemuda sekarang kurang bertata krama.


"Kau benar Dong tua, pemuda jaman sekarang terlalu arogan, mereka bahkan tidak lagi menghormati yang lemah dan tua. Di mata mereka, yang kuatlah yang berada di atas, meski istilah itu benar tapi tetap saja mereka menerapkannya dengan cara yang salah," balas Jiang Liang dengan suara pelan. Cukup prihatin dengan sikap pemuda jaman sekarang.


Pria berambut merah yang umurnya tidak jauh berbeda dengan dua pria sesepuh di sampingnya tertawa cukup keras sambil mengelus janggut pendeknya, "Hahaha ... kita kaum tua bisa apa? Tidak mungkin bukan kita mengatur seluruh pemuda di daratan ini," sahutnya cukup keras.


Ekspresi Jiang Liang sedikit memburuk, dia tadi cukup terkejut mendengar tawa pria di sampingnya, tiba-tiba saja muncul dan mengejutkan telinganya, "Houlang, kau mengejutkanku. Tawamu itu tidakkah bisa lebih pelan sedikit?" sahut Jiang Liang cukup keras memaki pria berambut merah bernama Houlang.

__ADS_1


"Hahaha ... tua bangka. Kau selalu terkejut, mungkin saja kau tidak lama lagi akan mati!" sahut Houlang semakin memanasi Jiang Liang. Membuat pria tua itu ingin melempar kursi yang dia duduki ke wajah Houlang.


"Kaparat kau Houlang tua! Jika saja tempat kita sekarang tidak di sini, mungkin aku sudah merengut nyawamu sejak tadi." Meskipun ucapan Jiang Liang terdengar seperti kebenaran, tapi nyatanya mereka semua hanya melepas canda, hitung-hitung melepas sedikit kebosanan mereka sejak tadi.


Houlang semakin tertawa keras, menarik banyak perhatian penonton di sekitar arena itu. Cukup terkejut mereka akan melihat para tetua sekte Kunlun bisa bercanda seperti itu, sekalipun cukup mengerikan di telinga mereka tapi mereka tahu tiga pria itu memang selalu bercanda meski bahan candaan mereka terkadang melewati batas. Bercandanya seorang sahabat memang berbeda.


Di sisi lain, Shua Xie juga bisa melihat ke tiga pria sesepuh itu, meski tiga pria sesepuh itu terlihat sedang bercanda dengan tawa mereka, tapi percayalah rasa kewaspadaan tiga pria sesepuh itu sangat tajam. Shua Xie bisa merasakan tingkatan kultivasi tiga sesepuh itu, lumayan tinggi.


'Jika tidak salah mereka hanyalah tetua yang bertugas menerima tidaknya para calon murid luar sekte Kunlun. Melihat tingkat kultivasi mereka cukup tinggi, seharusnya sekte Kunlun bisa dikatakan sekte besar di kota Awan Merah.' Meskipun ini hanya spekulasi Shua Xie saja, tapi seharusnya memang benar.


Tiga pria sesepuh itu berada di tingkat Jenderal Emas, sedangkan status mereka bisa dikatakan tetua paling rendah, jika tebakan Shua Xie tidak salah seharusnya di atas tiga sesepuh itu berada di tahap lebih tinggi lagi, mungkin saja ada yang berada di tahap Nirwana. Bukankah dengan begitu sekte Kunlun memang bisa dikatakan sekte besar?


Pandangan Shua Xie beralih lagi ke panggung arena, bisa dia lihat pertarungan di sana tidak lama lagi akan usai.


"Teknik Pedang-Tarian Musim Semi!" Peserta pertarungan melepaskan serangannya dengan cepat menuju pria di depannya.


"Ck! Hanya jurua kecil, akan kuperlihatkan padamu jurus yang sebenarnya." Pria itu memutar pedang secara jarum jam, raut wajahnya menunjukkan keseriusan, "Teknik Pedang-Momentum Galaksi!" Satu jurus mematikan segera melesat ke arah serangan yang juga melesat ke arahnya. Setelah ke dua serangan itu bersentuhan, serangan pria berbaju cokelat itu dipatahkan dengan mudahnya. Dan langsung melukai pria berbaju cokelat itu.


Semua orang sudah bisa menilai, pria berbaju cokelat itu sudah kalah. Serangan yang dia terima cukup mematikan, bahkan membuat pria itu terluka parah. Bersamaan dengan itu seruan suara dari penonton menggema keras, membuat pria yang menang itu merasa bangga.


"Tuan Muda He memang berbakat!" teriak salah satu penonton kemudian diikuti dengan beberapa penonton lainnya.


Pemuda bermargakan He itu segera memberikan hormat, "Terimakasih Tetua Jiang," balasnya dengan penuh kewibawaan sebagai bentuk rasa hormatnya.


***


"Ogher, karena kau tidak bisa ikut pertandingan ini. Aku mau kau menungguku selama beberapa hari di penginapan jika aku diterima menjadi murid sekte Kunlun." Shua Xie menatap Ogher serius.


Ogher sedikit terkejut, tidak dia sangka ternyata Shua Xie tertarik menjadi murid dari sekte Kunlun padahal kekuatan Shua Xie sangatlah hebat, untuk apa lagi Shua Xie berguru di sekte Kunlun. Namun saat dia teringat ucapan Shua Xie beberapa waktu yang lalu, Ogher langsung mengerti, Shua Xie sedang mencari sesuatu di sekte Kunlun.


Ogher mengiyakan perintah Shua Xie, dia tidak niat mencegat Shua Xie melakukan apa yang gadis itu mau. Meski terlalu bahaya membiarkan gadis itu sendiri di tempat asing, tapi Ogher juga tidak ada kuasa menahan kemauan Shua Xie, dia hanyalah prajurit tugasnya hanya menjaga bukan melarang.


"Baik, Putri. Tapi berhati-hatilah selama Putri di sana. Aku akan menunggu Putri di penginapan tadi," balas Ogher.


Shua Xie tersenyum tipis melihat kepatuhan Ogher, tidak Shua Xie sangka Ogher akan mengiyakan perintahnya. Padahal Shua Xie berpikir akan menolak perintah itu mengingat tugas Ogher adalah menjaga Shua Xie, tapi tampaknya Ogher sadar dia tidak akan bisa menghentikan Shua Xie. Shua Xie cukup terkesan dengan kepatuhan Ogher.


"Baiklah, sekarang tunggulah di bawah. Aku akan naik ke atas bertarung. Apapun yang terjadi di atas nanti jangan pernah naik." Setelah berkata demikian Shua Xie melenggang pergi menuju pinggir arena, mendekati salah satu panitia di sana.

__ADS_1


Kedatangan Shua Xie sedikit mengejutkan panitia, sebagai seorang pria siapa yang tidak akan terpesona dengan kecantikan Shua Xie. Tidak hanya memiliki badan bagus tapi kecantikannya juga sangat mempesona banyak mata. Tapi meski pun begitu, mereka juga tidak berniat menganggu Shua Xie mengetahui tingkat kultivasi Shua Xie sangat tinggi dari mereka.


Shua Xie sengaja menunjukkan sedikit tingkatan kultivasinya, gunanya menarik perhatian tiga pria sesepuh itu untuk menjadikannya murid dalam secara langsung. Tentu saja Shua Xie tidak berniat menjadi murid luar, akan memakan waktu cukup lama jika dia tidak langsung menjadi murid dalam.


"Baiklah, pertarungan kali ini. Nona Shu melawan Pemuda Xiang He!" teriak pembawa acara yang ada di bawa. Bersamaan dengan itu, dua peserta yang namanya disebut segera naik ke atas arena. Karena pertandingan real tidak ada perbedaan gender tidak mengejutkan jika pria dan wanita bertemu di arena yang sama. Hal itu sudah biasa bagi mereka.


Naiknya Shua Xie ke atas arena mengejutkan banyak Kultivator di bawah sana, meraka tidak hanya terkesima dengan kecantikan Shua Xie tapi juga terkejut akan tingkat kultivasi Shua Xie. Cukup mengejutkan di daratan mereka akan muncul wanita secantik itu dengan tingkat kultivasi cukup tinggi, bisa mereka katakan Shua Xie adalah Kultivator berbakat.


Pemuda bernama Xiang He menatap Shua Xie terkejut namun penuh nafsu, untuk pertama kalinya dia melihat wanita secantik di depannya sekarang. Apalagi perawakan gadis itu sangat anggun, dengan gaun hanfu merah hitam yang dia kenakan.


"Nona, bagaimana jika kau mengalah saja. Aku takut melukai wajah cantikmu, akan sayang bukan jika wajah secantik itu terluka?" ujar Xiang He dengan seringai menjijikan.


Ekspresi Shua Xie masih datar sebagaimana dia naik ke atas arena, ucapan pria di depannya sudah banyak kali dia dengar, jadi Shua Xie tidak akan terpancing sedikitpun, "Dibandingkan memikirkan wajahku, lebih baik kau memikirkan nasibmu nanti. Aku tidak akan segan melukaimu," balas Shua Xie datar.


Alih-alih merasa takut dengan ancaman Shua Xie, pemuda Xiang He itu justru tertawa kencang, menganggap gertakan Shua Xie hanyalah lelucon untuk menakutinya, lagi pun wajar dia memandang rendah Shua Xie apalagi Shua Xie hanyalah seorang gadis, "Hahaha ... Nona Shu sepertinya anda terlalu naif. Bagaimana jika kita bertaruh?" Xiang He menatap Shua Xie penuh hasrat, sebuah seringai licik terlukis di wajahnya.


Alis Shua Xie naik sebelah, raut wajahnya menunjukkan sedikit ketertarikan, "Taruhan apa?" balas Shua Xie.


Seringai Xiang He semakin lebar, tidak dia sangka Shua Xie akan semudah ini menerima tawarannya, meskipun Shua Xie tidak secara langsung mengiyakan ajakan Xiang He, tapi dia tahu Shua Xie sudah menerima tawarannya itu dari sikap yang ditunjukkan Shua Xie.


"Cukup mudah, jika aku kalah, aku akan memberikan Nona uang sebanyak seratus tael emas, bagaimana?" tanya Xiang He.


Untuk sesaat Shua Xie terdiam, memikirkan tawaran Xiang He. Seratus tael memang bukan seberapa bagi Shua Xie, dengan statusnya sekarang dia bahkan memiliki lebih banyak yanh dari ditawarkan pria itu, tapi karena sekarang kondisi keuangan Shua Xie sedikit sulit, Shua Xie lupa membawa uang sebelum pergi ke dunia Bawah, tidak salah bukan jika Shua Xie menerima tawaran itu. Paling tidak ketika dia masuk sekte Kunlun nanti, Ogher tidak akan kesulitan keuangan selama Shua Xie pergi.


"Hah, baiklah. Tapi jika aku kalah, apa yang akan kau minta?" tanya Shua Xie balik, tentu dia yakin pemuda itu pasti memiliki niat tersendiri terhadapnya.


"Jadilah wanitaku," jawab Xiang He. Mendengar tawaran yang Xiang He ajukan, beberapa orang terkejut, meski ini hanya pertandingan tidak akan mereka sangka Xiang He memanfaatkan kesempatan ini untuk memiliki wanita itu. Bukankah Xiang He terlalu licik?


Ogher bahkan yang mendengarnya juga terkejut, rasanya dia ingin menghajar pemuda Xiang He itu, bersikap tidak sopan terhadap majikannya yang berstatus Putri adalah pelanggaran besar. Namun, karena Shua Xie sudah mengingatkan dirinya untuk tidak melakukan apapun selama Shua Xie di atas arena, mau tidak mau Ogher menuruti perintah itu. Meski hatinya sangat geram ingin menghajar pria itu.


Shua Xie menarik seutas senyum, lagi-lagi tawaran yang diajukan tidak jauh dari apa yang Shua Xie pikirkan, sudah dia duga pemuda Xiang He itu tertarik dengan kecantikannya. Shua Xie tidak tahu harus menyebut kecantikannya berkah atau petaka, tidak hanya membawa kebaikan tapi juga menyusahkan dirinya.


"Pemuda Xiang, aku terima tawaranmu." Shua Xie tentu tidak akan menolak tawaran Xiang He, tidak ada ruginya Shua Xie mendapatkan uang sebanyak itu, ditambah lagi tawaran yang diajukan jika dirinya kalah, cukup membuat Shua Xie ingin tertawa licik.


'Pemuda Xiang He, aku rasa kerugian sudah ada padamu.'


____________

__ADS_1


A/N : Hanya bisa bilang cerdas ya kamu Xiang He 😨


__ADS_2