Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 169


__ADS_3


Cast : Shua Xie di kehidupan pertama. (Fiks!pasti ada yang kenal sama anime ini 😂)


__________________


"PARA BANDIT MENYERANG!!"


Zusami dan Tsakuya yang kebetulan berada di barisan belakang sedikit terkesiap mendengar para prajurit di depan berteriak. Bergegas mereka berdua bergerak ke depan dan melihat puluhan bandit berpakaian serbah hitam keluar dari dalam hutan. Masing-masing dari bandit membawa berbagai senjata di tangan mereka, selain itu basis kultivasi mereka juga cukup tinggi setara dengan para prajurit yang mengawal Xingxing. Jumlah para bandit juga jelas lebih banyak dari prajurit kerajaan.


"Bandit?" Tsakuya sedikit tersentak, bingung melihat kemunculan para bandit itu.


"Mereka datang atas bayaran," sahut Zusami di samping Tsakuya.


"Dari mana kau tahu?"


"Apa kau lupa aku sangat peka dengan perasaan manusia. Keserakahan para bandit ini terasa sangat kental." Zusami tersenyum miring sembari menatap puluhan bandit.


"Ah, baru ingat. Sekarang apa?"


"Apa? Ya dilawan! Sudah lama juga kita tidak bertarung. Mari kita habisi mereka semua. Tapi tidak perlu menunjukkan seluruh kemampuan."


***


"Jangan turun." Menma mencegat Xingxing yang sudah siap turun dan bahkan sudah memegang gagang pedangnya. Xingxing menatapnya aneh, tidak mengerti kenapa Menma melarangnya turun di situasi seperti ini, mana mungkin dia hanya duduk tenang di dalam kereta sementara para bandit menyerang rombongannya.


"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya kamu akan beruntung karena aku ikut bersamamu." Lanjut Menma lagi menjelaskan sebelum Xingxing bertanya.


"Maksudmu?" Alis Xingxing semakin berkerut, sudah pasti dia belum mengerti.


"Ke dua Kakakku akan menyelesaikan semuanya. Kamu tidak perlu turun tangan, lagi pula ada Azura yang juga cukup kuat menyesalkan semuanya," balas Menma dengan senyuman tipis.


"Tapi-"


"Lihat dan tunggu saja. Kamu akan mengerti kenapa aku mencegatmu untuk tidak perlu ikut turun menyelesaikannya," sela Menma.


Awalnya Xingxing tidak ingin mendengarkan perkataan Menma, dia mana bisa duduk tenang di dalam kereta sementara di luar terjadi hal besar. Tapi, melihat Menma begitu tenang dan bahkan masih sanggup tersenyum, entah kenapa dia juga merasa tenang, seakan perkataan Menma tidak akan melenceng jauh dari harapan. Padahal Xingxing baru pertama kali bertemu Menma, tapi entah kenapa dia merasa seperti sudah akrab.


"Baiklah. Tapi jika keadaan semakin memanas aku akan tetap keluar dan kamu tidak boleh menghentikanku," balas Xingxing sembari dia kembali duduk. Menma hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


Pandangan mereka berdua segera teralihkan ke jendela kereta, menatap para prajurit yang sudah berjaga di sekitar kereta karena lara bandit datang dari segala sisi sehingga mereka harus mengelilingi kereta demi menjaga keamanan Xingxing.


"Kalian tetap berjaga di sekitar kereta Tuan Putri! Biar aku yang menyerang!" teriak Azura memerintah. Tepat setelah itu jatuh sebuah sentuhan di bahunya, Azura langsung menatap ke


belakang.


"Kami! Bukan hanya aku," ucap Zusami membenarkan kalimat Azura.


Azura menepis tangan Zusami. "Terserah kalian," balasnya ketus.


"Sombong sekali kamu ya. Hampir aku tidak sadar, jika Menma tidak mengingatkan aku mungkin akan terkecoh dengan penampilanmu adik si Yun Hua." Tsakuya tersenyum sinis sambil melipat tangan di depan dadanya.


"Beraninya kamu memanggil nama Kakakku seperti itu!" Azura terpancing, berniat mengajar Tsakuya karena telah memanggil nama Kakaknya dengan nada tidak sopan. Tapi Zusami langsung menjadi penengah.


"Aku tidak akan melarang kalian berkelahi. Tapi setelah masalah ini selesai," ujar Zusami sedikit tegas. Ditatapnya Tskauya dan Azura bergantian. Zusami juga baru sadar kalau Azura ini bukan orang sembarangan, dan dia juga tahu Tsakuya dan Azura memiliki kesalah pahaman yang belum terselesaikan.


"Kamu tidak perlu mengingatkanku, aku juga tidak mau repot-repot mengurus burung sepertinya!" sindir Azura sinis.


"Apa kamu bilang? Dasar kucing darat!" balas Tsakuya tak mau kalah.


"Kucing memang di darat. Ada kamu lihat kucing hidup di air?"


"Kamu!"


"Sudah-sudah, kalau kalian bertengkar terus aku yang bakalan menang banyak." Zusami menengahi lagi, bisa dipastikan ucapannya ini bisa melerai dua pria itu. Dan benar saja, Tsakuya dan Azura langsung menarik senjata masing-masing, lalu saling bertatapan tajam dan akhirnya berpencar.


Zusami hanya menghela nafas melihat tingkah ke dua pemuda itu, pasti tidak akan akur kalau sudah bertemu. Tidak ingin ketinggalan, Zusami pun bergegas menyerang.


"Aarrgg!!"


"Kyat!!"

__ADS_1


Trang!


Duar!


Baru saja perlawanan di mulai, para bandit sudah mulai berjatuhan. Keberingasan Tsakuya dan Azura membunuh para bandit membuat para bandit merasa gentar. Baru kali mereka menemukan lawan seperti mereka berdua, apalagi mereka berdua tampak bersemangat saling menaikkan rekor membunuh paling banyak. Tidak hanya itu, Zusami juga tidak tidak kalah menyeramkan, mungkin karena efek Zusami masih belum sepenuhnya menyukai manusia.


Di sisi lain, keberingasan dan ketangkasan mereka bertiga membuat para prajurit berdecak kagum dan bahkan sampai terperangah kaget. Ini juga kali pertamanya mereka melihat Azura bertarung secara langsung di depan mereka. Mereka memang sering mendengar kabar kalau Azura sangatlah kuat sehingga bisa menjabat sebagai pengawal pribadi keluarga Kaisar Wexin. Dan memang tidak salah, bahkan kehebatan Azura membuat mereka sulit berkata.


Trang!


"Khiat!"


Duar!!


"HENTIKAN! HENTIKAN PENYERANGAN! MEREKA TERLALU KUAT!"


"SEGERA MUNDUR!"


Salah satu bandit berteriak menyerukan para bandit lain untuk kabur, karena jika dilanjutkan lagi akan banyak korban berjatuhan di pihak mereka. Dari pada kehilangan banyak anggota lebih baik segera


mundur.


Azura dan Tsakuya mengalihkan pandangan secara bersamaan, menatap pemilik suara yang tadi bertariak. Mereka pikir kemungkinan pemilik suara itu ialah pemimpin para bandit. Akhirnya mereka berdua mengejar si bandit itu, tentu ingin membunuhnya.


Srahs!


Sekejap saja kepala sang bandit terlepas dari tempatnya akibat dua senjata yang langsung memotong lehernya. Dua senjata itu milik Azura dan Tsakuya, mereka berdua datang bersamaan dan membunuh bersamaan juga.


"Kalau sudah datang jangan berpikir bisa pergi lagi," ucap mereka berdua bersamaan.


***


"Apa mereka masih manusia?!" ucap Xingxing tanpa sadar, masih kaget melihat sesuatu yang bahkan sulit dia terima. Baru pertama kali ini dia melihat seseorang bersemangat membunuh sampai tidak ingin melepaskan semua korban. Ah, jangan katakan korban karena para bandit itulah yang pertama menyerang.


"Mereka bukan manusia, tapi monster berwujud manusia," sahut Menma yang membuat pandangan Xingxing langsung beralih padanya.


"Kamu benar, mereka memang monster berkulit manusia. Pantas kamu tidak mengizinkan aku keluar, ternyata kemampuan mereka benar-benar membuatku takjub," puji Xingxing sambil tersenyum lebar. Cukup bangga memiliki seorang pengawal hebat seperti Azura.


"Aku pernah melihatnya namun hanya beberapa kali. Lagi itu aku juga jarang di rumah. Aku tidak pernah melihatnya bertarung secara langsung," jelas Xingxing setengah bersemangat, antara senang dan marah.


Menma tersenyum tipis, sekilas pandangannya tertuju pada Zusami dan lainnya yang masih sibuk menyelesaikan para bandit yang tersisa. Tapi kemudian pandangannya itu kembali kepada Xingxing. "Aku menginginkan Azura, tapi aku tahu aku tidak bisa mendapatkannya begitu saja. Aku akan memintanya pada Kaisar Wexin." Mendengar perkataan Menma, Xingxing berekspresi sedikit terkejut.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Ya, pokoknya tidak bisa!"


"Hem?" Menma mengenyit dengan raut wajah datar membuat Xingxing terbelalak gugup.


"Maksudku, Ayah tidak mungkin memberikan Azura padamu." Xingxing membenarkan kalimatnya, takut Menma salah paham dengan perkataannya.


"Benarkah? Atau karena kamu menyukai Azura?"


Xingxing terbelalak kaget. Bingung dan gugup harus bertindak seperti apa. Karena sikapnya itu Menma semakin yakin kalau tebakannya benar. "Ti-tidak, maksudku aku tidak. Arrgg ... mana mungkin aku menyukai pengawal keluargaku!" jelasnya gelagapan.


"Ah?" Menma mengangguk pelan. "Aku pikir kamu menyukainya, tapi ternyata tidak. Jika benar maka aku tidak akan kesulitan membawa, Azura." Menma menyeringai tipis, terlihat lega Xingxing tidak memiliki perasaan terhadap Azura, dengan begitu dia tidak akan kesulitan nantinya.


"Tapi bukan begitu mak-"


"Tuan Putri!" Azura dan Tsakuya datang bersamaan. Pandangan Xingxing langsung tertuju pada jendela. Sama halnya dengan Menma.


"Azura?"


"Apa anda baik-baik saja Tuan Putri?"


"Iya, ya aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, bahkan Menma melarangku untuk keluar," balas Xingxing setengah gugup, mungkin faktor perbincangannya tadi dengan Menma.


Pandangan Azura beralih menatap Menma ketika mendengar gadis itu melarang Xingxing untuk keluar. Begitu dia menatap Menma, suatu kebetulan Menma juga sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Menma.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," balas Azura acuh.


"Mungkinkah kamu sudah kagum denganku?" Azura tertegun namun hanya sesaat. Perkataan Menma membuatnya bergidik ngeri membayangkan jika suatu hari dia harus ikut bersama Menma dan dua pria yang dia tidak sukai.


"Jangan berbicara sembarangan," ketus Azura dingin kemudian melenggang pergi begitu saja.


Menma masih mempertahankan senyumannya sambil terus menatap punggung Azura yang semakin menjauh. Lama dia tersenyum memandang Azura, senyumnya itu sekejap hilang dan berganti wajah datar.


'Hem, semakin menarik saja.'


***


Gelap terlihat indah pada malam ini, berhiaskan bintang dan bulan setengah lingkaran. Tampak juga aurora menambah kecantikan sang malam, membuat makhluk di bawah terpanah akan pesonanya.


Di bawah indahnya malam, satu rombongan yang tadi terus berjalan kini mengistirahatkan tubuh mereka yang sedikit lelah, sebenarnya mereka masih sanggup melanjutkan perjalanan hingga besok siang, namun sang yang mereka kawal tidak ingin mereka kelelahan hanya karena perjalanan yang bahkan masih bisa mereka lanjutkan esok.


Tidak jauh dari rombongan itu, sekitar beberapa ratus meter. Tampak seorang gadis berambut perak duduk tenang di padang rumput, di bawah sinar bulan, diterpa angin malam. Pandangan datar fokus menatap sang bulan, wajahnya mungkin terlihat tenang dan seakan tidak memiliki masalah. Namun kenyataannya, jauh dalam lubuk hatinya, dia sedang mengalami kesedihan. Merindukan sosok yang cukup lama tidak dia temui.


"Sampai pada waktunya nanti, aku harap dia tidak melupakanku." Menma tersenyum pahit, merenungi seseorang yang sedang dia rindukan.


"Menyebalkan. Bahkan untuk menangis saja tidak bisa, penyakit ini benar-benar menyiksa." Menma mengepalkan tangan berusaha menahan penyakitnya yang mulai kambuh lagi. Inilah alasan kenapa Menma menyendiri dari rombongan lain. Dia juga sudah memberitahukan Zusami dan Tsakuya untuk tidak perlu mengikutinya.


Shass ....


Rumput yang dia pijak perlahan membeku, suhu udara di sekitarnya menurun drastis, bahkan tubuhnya juga seakan mulai membeku. Menma meringis pelan, meski telah menggunakan lebih banyak Qi untuk menekan penyakitnya tetap saja rasanya sakitnya terasa begitu keras hingga ke tulang-tulangnya. Sangat sakit dari semua rasa sakit yang pernah dia rasakan.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Kamu ... kenapa ke sini?" Menma menatap pemuda yang tiba-tiba saja muncul. Karena terlalu fokus menekan rasa sakitnya, dia sampai tidak menyadari kedatangan seseorang.


"Aku ...."


"Kenapa? Rindu?" Di saat situasi seperti ini pun Menma masih bisa bercanda. Bibirnya yang sudah membiru beku melekuk indah, tampak juga uap dingin keluar dari mulutnya itu. Pemuda itu berdecak pelan, tapi tetap mendekat dan


duduk tepat di sampingnya.


"Kamu sekarat begitu masih bisa bercanda. Lebih baik fokus saja menahan penyakitmu," tukas pemuda itu datar.


"Kamu mengkhawatirkanku?"


"Kamu asal bicara!"


"Lalu buat apa kamu ke sini jika bukan untuk menjagaku. Aku tahu kamu khawatir aku diserang di saat lengah begini, jangan berbohong."


"Kamu!" Pemuda kesal dan hanya mendengus pelan. Tidak bisa mengelak lagi. "Kalau sudah tahu kenapa memilih waktu sendiri. Tapi kamu jangan salah sangka, aku ke sini karena perintah Tuan Putri," jelasnya tidak ingin Menma salah paham. Tapi karena alasannya itu, Menma menyemburkan tawa kecil di sela rasa sakitnya.


"Ppfftt!"


"Kenapa kamu tertawa! Aku sungguh datang karena perintah Tuan Putri." Pemuda itu menatap Menma tajam, tidak suka Menma tertawa. Seakan dia tahu Menma sedang mentertawai dirinya.


Menma menggeleng pelan. "Tidak apa, aku hanya merasa apa yang dikatakan Yun Hua ada benarnya. Kamu sangat angkuh, tidak jauh berbeda dengan Tsakuya dan Zusami. Aku heran, apakah sembilan ras memang memiliki sifat yang sama?"


"Maksudmu?!"


"Perlukah aku katakan lagi kalau kalian sangat angkuh. Terutama terhadap diriku."


"Bukan itu, tapi tentang Yun Hua." Pandangan pemuda itu berubah serius, sangat serius ketika mendengar sesosok nama yang tidak asing lagi baginya.


"Yun Hua? Apa maksudmu, Yun Hua pemimpin ras Singa ke empat? Kakakmu bukan?" Menma membalas enteng.


"Kamu mengenalnya?"


"Tentu saja. Dia salah satu pengikutku."


"Pengikut? Jangan bercanda kamu!"


"Apakah aku terlihat bercanda?"


___________


**A/N : Apakah dia terlihat bercanda? Emang! wkwkwk!

__ADS_1


Sorry gaes 3 hari ini saya gak up, mungkin yang masuk dalam grup udah tahu alasannya. Kebetulan juga 3 hari itu saya sakit. Sekadar pemberitahuan juga, setiap hari sabtu saya libur, tapi khusus hari ini karena 3 hari kemarin gak up saya tetap up. Kalau saya mendadak gak up kadang saya kabarin ke grup, kalau tidak mau bosen menunggu tanpa kepastian masuk grup saya aja, hehehe ... menunggu yang gak pasti itu melelahkan ye kan? >0**<


__ADS_2