Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 187


__ADS_3

"Makanan lezat! Makanan lezat! Sudah lama kita tidak mendapat persembahan, seharusnya Raja Iblis itu tahu, tanpa kita, mereka tidak akan bisa hidup tenang."


"Diamlah, kau mengganggu kesenanganku. Yang penting kita sudah mendapatkan apa yang kita mau."


"Kikikiki, benar, benar."


'Ingin memakanku, ya? Mimpi saja kalian.' Kelopak matanya terbuka, menampilkan iris mata cantik benderang di sana. Menma menatap lekat ke tiga mahkluk di depannya, mulut mereka terbuka lebar, memperlihatkan deretan gigi tajam yang tidak tersusun rapi. Tanpa mengeluarkan suara, Menma mengibas tangannya, keluar lagi pedang Pembelah Langit dari cincinya. Pedang tersebut berenang, atau mungkin lebih tepatnya terbang menuju tiga mahkluk itu.


Karena Menma menyembunyikan wujud Pedang Pembelah Langit dengan mantra, ke tiga makhluk itu tidak menyadari kedatangan pedang Pembelah Langit. Alhasil wajah mereka mendapat tamparan keras hingga sebagian gigi kiri mereka terlepas. Bahkan lidah mereka yang tadinya menjulur hendak menjilati tubuh Menma terpaksa tertarik kembali, lantaran kaget mendapat pukulan di wajah mereka.


"Aarrgg, manusia ini, manusia ini membuat gigiku patah!"


"Beraninya dia!"


"Persembahan kurang ajar!"


Tidak terima mendapat pukulan dari Menma, mereka bertiga pun membalas dengan tangan kaki mereka yang tiba-tiba memanjang, melesat secepat anak peluru ke tubuh Menma.


Srahs!


"Aarrgg! Tanganku!!"


"Kakiku!!"


"Kurang ajar!"


Alih-alih membalas serangan yang Menma lontarkan tadi, mereka kembali mendapat serangan, pedang Pembelah Langit menebas kaki dan tangan mereka secara bersamaan, tanpa suara dan tanpa dirasakan aura keberadaannya.


Berhasil melepaskan diri dari gurita raksasa berbadan manusia itu, Menma segera berenang menjauh, menjaga jarak setidaknya agar gurita itu tidak menangkapnya lagi. Mendengar tiga siluman itu meraung-raung kesakitan lantaran anggota tubuh mereka terpotong, seutas senyum sinis meriasi wajah Menma.


'Tidak sia-sia pedang Pembelah Langit diberikan rapalan suci. Setidaknya berfungsi untuk siluman iblis seperti mereka.' Menma teringat akan kata-kata Master Gu sesaat pria penempa pedang Pembelah Langit itu menjelaskan, bahwa pedang Pembelah Langit telah disucikan dengan air suci dari kota kelahirannya. Selain berfungsi membelah apapun seperti gunung dan lautan, juga bisa membiasakan siluman dan iblis. Bisa dikatakan pedang serba guna.


Duar!


Bam!


Menma menengadah ke atas ketika mendengar suara dentuman keras dari pemurkaan, sepertinya terjadi pertarungan besar di atas sana. Menma mendengus pelan, tidak bisa membiarkan pertarungan di atas terjadi begitu saja, dia yakin King Lan sudah datang, dan seharusnya yang bertarung dengan King Lan saat ini adalah Azura.


"Mau ke mana kamu?! Kamu sudah membuat kami marah, rasakanlah amukan kami!" Salah satu dari 3 siluman itu segera menahan Menma dengan kakinya, tidak akan membiarkan Menma pergi begitu saja setelah membuat beberapa kaki dan tangan mereka terpotong.


'Kalian pikir aku akan kabur setelah kalian membuatku masuk ke dasar telaga ini?' Menma menatap nyalang ke tiga siluman itu, sedikit membuat ke tiga siluman itu merasa terintimidasi. 'Justru kalian lah yang aku cari, sumber kekuatanku.' Menma menyeringai, membuat ke tiga siluman keheranan.


"Kikikiki, apa-apaan senyumannya itu? Apa dia-"


Duak!


"Aarrggg!!!" Belum selesai siluman itu berbicara, Lagi-lagi serangan yang sama menghantam wajahnya, merontokkan semua giginya. Genggamannya terhadap Menma juga terlepas.


"Sialan! Dia memiliki senjata spirit tingkat tinggi yang tidak terlihat, pantas saja dia bisa menyerang kita!" ujar siluman lain kesal, dia rasa apa yang dia katakan pasti benar. Pantas saja sejak tadi ada serangan aneh yang tiba-tiba datang tanpa jejak. Setelah diperhatikan serangan itu juga bukan datang dari mangsanya.


"Di mana senjata itu?! Cari cepat lalu kita hancurkan! Tanpa senjata itu dia tidak akan bisa menang!" timpal siluman yang lain.

__ADS_1


'Heh, percaya diri sekali kalian.' Menma melirik sekilas ke kiri, pada pedang miliknya yang terdiam di sana, hanya dia yang bisa melihat pedang Pembelah Langit.


Srash!


Salah satu siluman itu menyerang, sesuatu seperti jarum, tapi tak kasat mata menyerang Menma. Itu adalah ludah yang dipertajam dengan Qi, bisa menembus tubuh manusia dan meninggalkan racun berbahaya di dalam tubuh yang diserang.


Menma segera menghindar, meski pun jarum itu tidak bisa dia lihat, tapi gelombang dari pergerakan jarum itu bisa dia rasakan. Cukup mengonsentrasikan pendengaran dan indera kepekaan terhadap sekitar, keberadaan jarum-jarum itu bisa dia rasakan.


Tapi tidak hanya jarum-jarum itu saja yang menyerang Menma, siluman lain pun tidak ingin tinggal diam saja. Serangan berubah bola air panas diluncurkan dari siluman lainnya, begitu cepat dan banyak agar ruang gerak Menma terkunci.


'Mau bermain-main, ya? Membosankan.' Menma berhenti menghindari serangan dari dua siluman itu. Dengan gerakan cepat, tangannya mengibas, menciptakan gelombang besar yang membuat ketenangan air menjadi kacau.


'Di mana teratai Api Kutukan itu? Aku harus cepat mencarinya.' Berhubung ke tiga siluman itu dibuat sibuk oleh gelombang serangan Menma. Menma harus mengambil kesempatan ini mencari benda yang dia inginkan. Dengan gerakan sangat cepat Menma berenang ke dasar, tidak ingin membuang-buang waktu lagi.


Namun, semakin Menma turun ke bawah, semakin gelap dan menakutkan telaga itu. Memang telaga itu nampak sepi, tidak ada penghuni atau pun tanda-tanda kehidupan, tapi justru dari keheningan ini lah yang membuat telaga tampak lebih menakutkan.


Srash!


'Em?' Menma berhenti berenang. Tangannya beralih memegang wajahnya yang baru saja mendapat sayatan kecil. Bisa Menma rasakan ada luka di sana. Darahnya pelahan mulai menyebar. 'Sepertinya sudah dekat.'


Kembali lagi Menma berenang ke dasar telaga, tapi belum jauh dka masuk ke dasar, tiba-tiba saja muncul suara berat dan serak di pikirannya, membuat Menma berhenti berenang.


'Manusia, sepertinya kau salah mendatangi tempat.'


'Meski pun kau adalah manusia yang kuat. Namun, tempat ini bukan tempat yang pantas untukmu. Keluar lah dan aku akan menganggap pelanggaran ini tidak pernah terjadi,' ucap suara asing itu lagi, di dalam pikiran Menma.


Menma melihat ke segala penjuru, tidak ada apapun, sepi dan tidak ada tanda-tanda makhluk hidup selain dirinya. Bahkan aura ke tiga siluman itu juga tidak ada. Jadi siapa?


'Kau mengusirku setelah bagaimana aku rela mengobarkan sebagian umurku, aku tidak akan mendengarkanmu,' balas Menma tegas, tidak ingin mendengarkan ucapan asing itu meski sebenarnya Menma cukup merasa terintimidasi sekarang. Pasti lah sosok pemilik suara asing itu adalah sosok yang kuat, lebih kuat dari Menma.


Menma terkejut. Kaget mengetahui bahwa sosok suara asing itu tahu tentang rahasia di dalam tubuhnya. 'Sepertinya aku memang datang ke tempat yang benar.' Menma memberanikan diri membalas.


'Kuberi kau waktu untuk pergi, jika masih mencoba masuk, jangan salahkan aku membunuhmu.'


'Kau mengancamku?' Menma kembali melirik ke sana kemari, berjaga-jaga jika ada serangan tidak terduga muncul.


'Aku hanya memperingatimu. Ini adalah telaga terkutuk bagi manusia, tidak seharusnya manusia sepertimu ada di sini,' balas suara asing itu.


'Aku tidak akan berbasa-basi, berikan aku teratai Api Kutukan. Lalu aku akan pergi.' Menma langsung menyampaikan inti kedatangannya, tidak ingin diusir begitu saja setelah bagaimana susahnya ia datang ke sini.


'Heh, kau pikir siapa kau di sini? Meski kau memiliki takdir besar, tapi tetap tidak akan bisa memerintahku. Aku adalah jiwa yang bebas, tidak seseorang pun bisa memerintahku.'


'Aku tidak memerintahmu, tapi aku meminta darimu,' balas Menma tenang.


'Hmm ....'


Hening.


Tidak ada lagi suara asing itu, sepertinya sudah begitu saja meninggalkan Menma. Menma melihat ke segala penjuru mencari keberadaan sosok itu, tapi nihil, tidak ada apapun.


'Hei! Ke mana Kau pergi? Aku bilang berikan aku teratai Api Kutukan! Hei! Hei!'

__ADS_1


Hening. Tidak ada jawaban.


'Sial! Dia sudah pergi. Apakah aku harus kembali tanpa membawa apapun? Sia-sia aku datang jika pergi tanpa membawa apapun. Seperti bukan diriku saja!'


***


"Bagaimana? Masih ingin lanjut? Kau sudah kalah, Azura." King Lan menyeringai sinis, menatap rendah Azura yang kini berlutut dengan bantuan tombak miliknya. Tampak luka-luka kecil di sekujur tubuh pemuda itu, sebab mendapat serangan mematikan secara terus-menerus dari King Lan.


"Harus aku akui kau bertambah kuat, tapi tetap tidak cukup untuk mengalahkanku. Aku ini abadi, tidak akan ada yang bisa melawanku!" ujar King Lan lagi, dengan nada angkuh.


Azura menengadah ke atas, lalu diikuti dengan decak pelan dari mulutnya. "Abadi dengan cara yang salah, Langit pasti akan menghukummu, King Lan!" timpal Azura keras, meski dia telah kalah dalam pertarungan, bukan berarti dia akan diam dan pasrah di tempatnya. Jika bisa membuat Raja Iblis muda itu kesal, kenapa tidak Azura lakukan?


"Apapun itu, selagi bisa membuatku kuat, maka akan aku lakukan." King Lan memandang Azura dingin. "Bersiaplah mati, Azura. Kau akan menemui malaikat kematian hari ini juga. Tidak akan ada seorang pun yang bisa menghalangi hari kematianmu." King Lan mengeluarkan Qi gelap yang kemudian membentuk sebuah pedang raksasa, memiliki panjang hingga 20 meter dengan lebar 7 meter. Selain berukuran besar, pedang itu juga mengeluarkan aura yang pekat, membuat siapa pun di dekatnya akan tertekan.


"Kau terlalu percaya diri, King Lan. Justru aku khawatir jika hari ini adalah hari kematianmu," sinis Azura.


Trak!


King Lan mengarahkan senjatanya tepat di wajah Azura. Kurang beberapa senti saja, pedang raksasa itu akan menyentuh dahi Azura. Pandangan King Lan terhadap Azura masih sama, dingin sejak hari itu terjadi, hari di mana hubungan persahabatan antara ke dua pemuda ini berakhir.


"Kau masih saja angkuh seperti dulu, membuatku semakin ingin membunuhmu."


Azura menyeringai mendengar ucapan King Lan. "Bukan, Azura, namanya jika tidak angkuh. Kenapa? Kau kesal melihatku masih bisa angkuh? Cih, kau tidak akan sanggup membuat seringai di wajahku pudar, King Lan. Tidak akan bisa. Dari dulu sampai sekarang akan tetap seperti itu," balas Azuta arogan.


King Lan diam, tidak ingin menanggapi ucapan Azura.


Wus ....


Angin timur berhembus, menyapu debu yang masih tersisa akibat pertarungan Azura dan King Lan. Jubah api hitam yang dikenakan King Lan berkibar, diikuti dengan gerakan lembut rambut panjang miliknya. Dengan gerakan pelan King Lan mengangkat tangannya, diikuti dengan pedang miliknya yang bergerak ke atas. Lalu secepat kilat turun ke bawah, hendak menebas leher Azura.


"Mati lah kau, Azura!"


Srahs!


Trang!


Bam! Duar!


Kepulan debu melambung tinggi ke atas, hampir memenuhi daratan kecil yang dipijak Azura. Bagaimana mungkin tidak, jika pedang besar dan berbahaya milik King Lan itu menghantam tanah, membuat getaran besar dan kuat di sana.


Hampir saja, hampir saja pedang raksasa itu menebas kepala Azura jika tidak segera ditepis oleh benda lain. Azura menghela nafas lega, bersyukur pedang raksasa itu tidak jadi memisahkan kepalanya.


"Kenapa begitu terburu-buru, Raja King Lan? Apakah kau tidak sabar membunuh mantan sahabatmu sendiri?" Itu Menma. Dia telah keluar dari telaga Iblis dan dia juga yang berhasil menangkis pedang raksasa milik King Lan dengan pedang Pembelah Langit miliknya.


"Kau!!" King Lan menatap ke arah Menma nyalang, kesal dengan kemunculan gadis itu yang membuat rencananya gagal.


"Ups, sepertinya, Raja, kita marah?" Menma menutup mulut lalu terkekeh pelan, sedang menghina King Lan. "Sebelum kau membunuh orangku, aku sudah membunuh orangmu terlebih dahulu." Menma mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan sebuah kepala tanpa tubuh di sana. Kepala itu adalah kepala Lou Zhou yang telah dia tebas sewaktu keluar dari telaga Iblis. Menma melempar kepala Lou Zhou ke arah King Lan, dan Raja Iblis itu menangkapnya, lalu menatap kepala Lou Zhou dengan pandangan jijik.


"Dasar tidak berguna." King Lan meramas kepala Lou Zhou hingga kepala itu hancur menjadi abu. "Kau pantas mati, Lou Zhou, melawan seorang gadis kecil pun tidak mampu. Dasar tidak berguna."


"Jangan salah dia, salahkan dirimu yang memilih pengikut lemah sepertinya," balas Menma setelah mendengar decakan kesal King Lan terhadap kinerja Lou Zhou.

__ADS_1


**Bersambung


A/N : gak tahu mo ngomong apa, intinya aku udah up, itu aja, soalnya si Menma ngebet pengen up kisahnya lagi 😹 btw ada yg kangen gak? Gak ada ya? Ya udah up lambat lagi aja 😶**


__ADS_2