
Shua Xie berdiri dengan tenang di pinggir kapal yang membawa dirinya dan para murid lainnya berserta Tetua Biming menuju gerbang masuk Daratan Alam Abadi yang berada cukup jauh dari sekte Kunlun. Shua Xie memang terlihat tenang dari luar, namun di dalam alam batinnya dia sedang berbicara dengan Phoe.
'Jelaskan apa yang kau ketahui tentang Daratan Alam Abadi, Phoe?' tanya Shua Xie dengan tenang, siap mendengarkan penjelasan tentang Daratan Alam Abadi yang akan Phoe jelaskan.
Namun sebelum burung berbulu merah itu menjawab, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Shua Xie, ' Jangan katakan kau pergi ke Daratan Alam Abadi tanpa mencari tahu terlebih dahulu tentang Daratan Alam Abadi itu?' Phoe bertanya balik, dia berpikir kalau Shua Xie pergi ke sana sebab gadis itu mengetahui sesuatu di sana, ternyata dugaannya itu salah. Bahkan Shua Xie terlihat belum pernah mendengar nama Daratan Alam Abadi.
Shua Xie tersenyum tipis, memperlihatkan raut wajah malu tak bersalah di sana, 'Seperti yang kau tebak, aku memang belum mencari tahu apapun tentang Daratan Alam Abadi, namun dari yang kudengar di sana ada begitu banyak harta karun,' balas Shua Xie pelan.
Jika saja Phoe bisa menepuk jidadnya saat ini juga pasti akan dia lakukan, tapi sayang dia berada dalam bentuk aslinya bukan bentuk manusia, 'Sudah kuduga, kupikir kau tahu sesuatu sehingga begitu bersemangat pergi ke sana sampai rela menerima tantangan dari si tua itu.'
'Si tua? Kenapa sebelumnya kau tidak pernah menyebutnya begitu, dan setelah kau jauh darinya barulah kau berani menyebutnya Tua? Hemp! Phoe kau ternyata tipikal yang suka membicarakan seseorang di belakang,' balas Shua Xie sinis. Shua Xie selalu memperhatikan Phoe dan tidak pernah melihat Phoe menyebut Tetua Besar dengan sebutan apapun selain kata 'dia'. Hal itu sempat membuat Shua Xie berpikir Phoe menghormati Tetua Besar, tapi ternyata ... dugaan Shua Xie terlalu berlebihan.
'Jika saja dia tidak lebih kuat dariku mana mungkin aku sungkan kepadanya?' balas Phoe dengan nada terdengar ketus.
'Jadi Tetua Besar mengetahui keberadaanmu di dalam tubuhku?' tanya Shua Xie sedikit terkejut, ucapan Phoe sebelumnya telah membuktikan, bukan? Kalau Tetua Besar mengetahui rahasia di dalam tubuh Shua Xie.
'Ck! Meskipun dia tahu dia juga tidak akan memberitahukan rahasia ini kesembarang orang.' Phoe berdecak pelan, seolah malas membahas Tetua Besar, 'Kesampingkan tentang si tua itu, aku akan menjelaskan padamu tentang Daratan Alam Abadi.' Phoe segera mengalihkan topik pembicaraan.
Shua Xie memasang wajah tampak antusias, tentu saja dia antusias dengan sesuatu yang berhubungan dengan harta terlebih lagi misteri. Shua Xie sangat menyukai sesuatu yang berbau hal misteri.
Phoe mulai menjelaskan, Daratan Alam Abadi adalah suatu Daratan terbuang dari dunia Surgawi.
'Terbuang?' Shua Xie mengulang satu kalimat itu dengan nada terdengar bingung. Bukankah aneh jika sebuah dunia membuang daratan mereka ke dunia lain? Pertanyaannya, bagaimana caranya mereka melakukan hal itu?
'Dengarkan dulu, kau tidak akan mengerti karena kau menyela ucapanku.' Rasanya Phoe ingin melayangkan cakar kakinya lalu memukul kepala Shua Xie, tapi mengingat roh Shua Xie tidak akan kuat menahan cakar kakinya Phoe menahan kekesalannya itu, 'Daratan Alam Abadi, nama itu hanyalah nama buatan di dunia Bawah, sedangkan di dunia Surgawi nama asli Daratan Alam Abadi adalah Lembah Pelangi. Kenapa namanya seperti itu karena memang di dalam Lembah Pelangi semua berwarna pelangi, kau tidak akan menemukan satu pun hutan berwarna sama, setiap pohon memiliki warna yang berbeda, tidak ada yang tahu kenapa Lembah Pelangi bisa seunik itu namun meskipun memiliki keunikan yang indah, tersimpan begitu banyak bahaya besar di sana. Meskipun banyak bahaya, seperti yang kau katakan di sana ada begitu banyak harta karun,' jelas Phoe dengan tenang.
'Lalu alasannya Lembah Pelangi berada di dunia Bawah?' tanya Shua Xie, dia masih bingung kenapa Lembah Pelangi bisa ada di dunia Bawah.
'Terjadi pergeseran ruang dan waktu, kau ingat pecahan dimensi yang pernah kuceritakan padamu? Karena pecahan itulah Lembah Pelangi bisa terbuang ke dunia Bawah.' Phoe mengangkat sedikit wajahnya, memperlihat paruh panjang miliknya yang berwarna kuning keemasan, 'Lembah Pelangi adalah Daratan milik wilayah Daratan Dewa. Kabarnya Lembah Pelangi telah hilang puluhan ribu tahun yang lalu, tapi siapa bisa menduga Lembah Pelangi akan terdampar di dunia Bawah? Jika saja orang-orang Daratan Dewa mengetahui hal ini, aku yakin mereka akan segera ke sini dan membawa kembali Lembah Pelangi dengan mantra pemindah.'
'Mungkinkah di sana ada portal menuju Daratan Dewa?' tanya Shua Xie asal tebak, jika Lembah Pelangi adalah Daratan Terbuang milik Daratan Dewa maka seharusnya ada portal menuju ke Daratan Dewa, kan?
Phoe menunduk, menatap Shua Xie yang sedang berdiri di depannya, 'Tentu saja ada, aku tahu di mana portal itu, apakah kau berpikir akan mendatangi portal itu?' tanya Phoe, dia tahu Shua Xie gadis yang sangat mudah penasaran dan tidak sungkan menjalani suatu tempat di mana pun jika sudah memicu rasa penasaran gadis itu.
Shua Xie terdiam sesaat dan beberapa detik kemudian dia menjawab, 'Pastinya, tapi tidak untuk sekarang, masih ada masalah yang harus aku lakukan. Tapi kita bisa mencari portal itu dan memastikan tidak seorang pun akan mendekati tempat itu.' Tentu saja Shua Xie tidak akan menolak mendatangi Daratan Dewa, tapi karena masalahnya masih ada Shua Xie hanya bisa menunda perjalanannya itu.
'Kebetulan aku sedang mencari sesuatu di Lembah Pelangi,' gumam Phoe pelan.
'Mencari apa?' tanya Shua Xie cepat sangat penasaran apa yang dicari Phoe di sana. Baru kali ini Shua Xie melihat Phoe tertarik akan sesuatu.
'Pecahan jiwaku yang terkahir, jika tidak salah ingat di sanalah aku menyembunyikan sebagian jiwaku, tapi aku lupa di mana aku menyembunyikannya,' jawab Phoe membuat Shua Xie sedikit terkejut.
'Pecahan jiwa?! Baguslah jika benar pecahan jiwamu ada di sana, dengan begitu setelah kau menyerapnya kemungkinan kau akan menjadi dirimu yang sepenuhnya!' sahut Shua Xie bersemangat. Suatu keuntungan juga jika Phoe bisa menyempurnakan kekuatannya, dengan begitu ada bantuan tambahan pasukan untuk membantu Shua Xie melawan pasukan dunia Atas.
__ADS_1
'Ini hanya tebakanku saja, lagi pun jika memang benar ada pasti tersembunyi tempat terbaik dan akan sulit dicapai oleh manusia, bahkan jika itu adalah kau.' Phoe segera membalas walaupun sebenarnya dia tidak ingin melunturkan semangat gadis itu tapi memang lebih baik jika Phoe memberitahukan yang sebenarnya demi menghindari hal buruk terjadi.
Berpikir semangat Shua Xie akan sedikit padam mendengar penjelasannya ternyata salah, justru gadis itu semakin terlibat bersemangat, 'Tidak peduli jika harus pergi ke neraka sekali pun, jika itu untuk membantumu aku siap melakukannya. Jangan melepaskan sesuatu yang sudah berada di genggaman kita, jika bisa direbut kenapa tidak?' balas Shua Xie di akhiri dengan seringai lebar.
'Kau ... keras kepala seperti biasanya.' Phoe mengulum senyum tipis merasa sedikit terharu dengan sikap Shua Xie, meski terkadang Shua Xie teramat naif dan ceroboh tapi Phoe akui Shua Xie memiliki rasa sayang yang begitu dalam kepada orang yang telah dianggap Shua Xie seperti keluarganya.
'Apa kau merasa terharu, Phoe? Apakah burung sombong ini bisa merasakan haru juga akhirnya?' Shua Xie mendekati Phoe menyenggol tubuh besar Phoe dengan tubuh mungilnya, 'Baru kali ini aku melihat si merah sombong merasa terharu.' Shua Xie tidak sepenuhnya meledek, dia juga senang jika Phoe juga senang, namun tidak ada salahnya bukan sesekali menjahilinya?
'Terharu? Yang benar saja, aku adalah hewan Agung buat apa terharu karena bantuan kecil seorang manusia? Ck, mimpimu terlalu tinggi.' Phoe segera membalas sambil memalingkan wajahnya yang malu, dia tidak ingin reaksinya ini dilihat oleh Shua Xie.
'Ah, yang benar saja? Aku tahu kau malu, kenapa begitu sungkan mengakuinya?' Shua Xie masih menjahili Phoe, tidak berpikir akan mengakhiri jahilnya dengan cepat.
'Arg! Aku tidak malu! Kau saja yang malu!' balas Phoe sedikit keras dengan cara bicara yang tidak seperti biasanya, bahkan Shua Xie tidak bisa menutupi rasa tawanya melihat reaksi Phoe.
'Reaksimu membuatku semakin yakin kalau kau sedang tersipu!'
***
"Lihatlah apa dilakukannya di pinggir kapal? Diam seperti patung, aku yakin dia sudah tidak waras."
"Ya, dia sudah cukup lama berdiri di sana tanpa melalukan apapun, mungkin dia kemasukan hantu kapal?"
"Hah? Masa iya ada hantu kapal? Asal ngomong kamu!"
Huanran yang kebetulan tidak jauh dari dua murid yang sedang membicarakan Shua Xie mendengar perbincangan dua pria itu. Seketika saja pandangan Huanran teralihkan kepada sosok gadis yang diam seperti patung di pinggir kapal, melihat sikap Shua Xie aneh begitu Huanran mengernyitkan keningnya.
'Apa yang dia lakukan? Seperti orang gila saja,' ujar Huanran dalam hati, heran melihat Shua Xie diam begitu saja tanpa melakukan apapun, bahkan tatapan yang Shua Xie pasang terlihat kosong seakan tidak kehidupan di sana.
'Ini aneh, tapi aku juga bisa memanfaatkan situasi ini untuk membalas dendam setelah dia mempermalukanku kemarin.' Huanran menyeringai sinis lalu dia berjalan mendekati Shua Xie. Ketika jaraknya antara Shua Xie semakin dekat, tiba-tiba kaki Huanran tersandung membuatnya terjerembab ke depan dan tanpa sengaja dia mendorong Shua Xie ke samping. Tentu kalian semua tahu apa yang terjadi pada Shua Xie.
Semua mata yang saat itu melihat kejadian membulat sempurna, mereka telah melihat Huanran tanpa sengaja membuat Shua Xie terjatuh dari kapal, entah itu sengaja atau tidak tapi yang terpenting Shua Xie dalam bahaya. Secepat mungkin murid berkumpul ke tempat Huanran terjatuh, sosok gadis yang sedang memasang ekspresi buruk di wajahnya.
"Shua Xie!" pekik Huanran cepat sembari dia berlari ke pinggir kapal, ingin melihat apa yang terjadi pada Shua Xie. Namun sayang kapal mereka berada jauh di atas awan, sehingga pandangan mereka terhalang awan, tapi yang jelas mereka semua melihat Shua Xie telah jatuh ke bawah.
"Dia terjatuh! Dia pasti telah mati!"
"Malang sekali nasibnya!"
"Segera panggil Tetua Biming dan laporkan segera kejadian ini!" pekik Qixuan keras membuat tiga pemuda yang berada di dekat segera bertindak. Pandangan Qixuan segera tertuju kepada sosok gadis yang membuat Shua Xie terjatuh, "Huanran! Kau sudah keterlaluan!"
"A-aku tidak sengaja melakukannya! Kaki tersandung saat aku berjalan mendekatinya! Sumpah aku tidak sengaja, tadi aku ingin memperingatinya untuk tidak berdiri di pinggir kapal, tapi, tapi ... tapi aku tersandung dan tidak sengaja mendorongnya." Huanran segera memberi alasan dengan raut wajah benar-benar terlihat takut, mungkin terlalu terkejut sebab secara tidak sengaja dia telah mendorong Shua Xie jatuh ke bawah.
Qixuan melangkah cepat mendekati Huanran lalu melayangkan tamparan ke wajah gadis itu, tatapan kemarahan jelas tergambar di mata Qixuan, "Pembohong! Jangan kira aku tidak tahu kau membenci murid Shua Xie karena dia lebih unggul darimu!"
__ADS_1
"Sungguh! Aku tidak berbohong! Kalian pasti melihat aku tersandung dan tidak sengaja terjatuh ke arahnya!" Huanran menatap dua pria yang sebelumnya membicarakan Shua Xie, berharap dua pria itu mengiyakan penjelasannya.
"Ya, aku memang melihatnya tidak sengaja tersandung, dan itu nyata hanyalah ketidak sengajaan." Salah satu pria membenarkan pembelaan Huanran, karena memang dari sudut pandangnya Huanran tidaklah sengaja menjatuhkan dirinya ke arah Shua Xie sehingga membuat Shua Xie terjatuh ke bawah.
"Benar Qixuan, aku juga saksi mata, Huanran memang tidak sengaja mendorong Shua Xie." Pria satunya lagi ikut membela Huanran.
Melihat dua pria itu membela dirinya, Huanran mengukir senyum tipis, merasa puas semua rencananya menyingkirkan Shua Xie berjalan dengan baik. Seharusnya Shua Xie sudah jatuh ke dasar dan mati mengingat dengan basis kultivasi Shua Xie yang sekarang tentu tidak akan tahan berbenturan dengan tanah dari ketinggian seperti ini.
Tepat pada saat itu, Biming datang bersama tiga murid yang mengikutinya dari belakang, ekspresi yang dikeluarkan Biming jelas terlihat sangat panik. Biming dengan cepat menghampiri Qixuan dan langsung bertanya, "Apa yang terjadi? Apa yang terjadi kepada murid Shua Xie!?" tanya Biming sambil menatap Qixuan lekat, meminta penjelasan dari pemimpin kelompok itu tentang apa yang terjadi. Biming baru saja mendapat kabar bahwa telah terjadi sesuatu kepada Shua Xie, membuatnya panik seketika. Bukannya apa, Biming mendapat tugas kepercayaan dari Tetua Besar sekte menjaga keamanan murid selama pergi ke Daratan Alam Abadi, jika terjadi sesuatu pada muridnya maka sama saja halnya Biming melalaikan amanah Tetua Besar dan sekte Kunlun kepadanya.
Baru saja Qixuan ingin menjelaskan, Huanran dengan cepat mendahului berbicara, "Tetua Biming, ini salahku! Aku, aku telah membuat Shua Xie celakaa!" Huanran bersujud di lantai minta maaf atas kesalahannya telah membuat Shua Xie celaka. Bahkan air matanya menjadikan sandiwaranya semakin terlihat sempurna.
"Huanran? Kau?" Alis Biming mengernyit, tidak menduga ternyata masalah ini berhubungan dengan gadis itu.
"Dia tersandung dan tidak sengaja mendorong murid Shua Xie yang kebetulan berada di pinggir kapal." Qixuan segera memberikan jawaban atas kebingungan yang melanda sang Tetua.
"Terjatuh!?" Mata Biming membulat sempurna, spontan dia langsung ke pinggir kapal dan melihat ke bawah, "Apa kalian maksud jatuh ke bawah!?" tanya Biming keras, terlalu terkejut mendengar Shua Xie terjatuh dan yang langsung muncul di pikirannya adalah jatuh dari kapal.
"Benar Tetua, murid Shua Xie jatuh ke bawah," balas Qixuan lagi membenarkan tebakan Biming.
"Apa!? Celaka!" Dengan cepat Biming naik ke pembatas kapal, siap terjun ke bawah menyusul Shua Xie. Untunglah Biming sudah berada di tingkat Jindan, meski masih level awal tapi dia sudah bisa terbang menggunakan Qi-nya.
Tepat pada saat Biming siap melompat, dari bawah kapal tiba-tiba saja terlihat sesorang tengah bergelantung di sana dengan tali yang terikat pada kapas bawah kapal.
"Tetua! Aku di sini!" teriak suara itu, suara yang tidak asing lagi. Membuat semua para murid segera melihat ke bawah dan menemukan Shua Xie bergantung di sana dengan tali.
Tanpa berkata apa-apa lagi Biming segera melompat turun, terbang mendekati Shua Xie kemudian merangkul gadis itu ke dalam genggamannya, "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Biming dengan nada terdengar sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa Tetua, beruntunglah aku cepat tanggap dan langsung melempar kail taliku ke kipas kapal, jika tidak ... mungkin aku sudah hancur di bawah sana," balas Shua Xie dengan nada sedikit panik. Reaksi ini wajar, jika Shua Xie bersikap tenang setelah terjatuh dari kapal, Biming dan murid lainnya pasti akan mencurigainya.
Biming membawa Shua Xie kembali naik ke kapal, setelah berada di atas kapal, Biming melepaskan ganggamannya di bahu Shua Xie.
"Untunglah kau tidak terluka, jika saja terjadi sesuatu padamu aku tidak akan pernah memaafkan diriku," ujar Biming dengan helaan nafas lega.
"Ya, untunglah aku cepat tanggap tadi, jika tidak aku mungkin saja sudah mati," balas Shua Xie dengan nada sengaja ditekan, gunanya agar seseorang tersinggung dengan ucapannya.
Huanran mengumpat keras dalam hati, memaki takdir baik yang Shua Xie miliki, padahal sedikit lagi dia bisa menyingkirkan Shua Xie namun tampaknya takdir tidak berpihak kepadanya. Sadar kalau Shua Xie hampir saja mati karena ulahnya, Huanran segera mendekati gadis itu dan langsung memeluknya. Ingin terlihat kalau dia juga merasa bersalah sebab tidak sengaja mencelakai Shua Xie.
"Shua Xie maafkan aku! Aku sungguh tidak sengaja! Aku tersandung dan terjatuh ke arahmu! Padahal aku berniat memperingatimu untuk berdiri di pinggir kapal, tapi-"
"Sudahlah, yang terpenting aku tidak mati. Aku menghargai niat baikmu." Shua Xie menyela ucapan Huanran sembari dia juga membalas pelukan Huanran. Shua Xie menundukkan sedikit wajahnya ke telinga Huanran lalu berbisik dengan nada mengerikan di sana, "Huanran, niat baikmu sangat menakjubkan. Tapi kuperingatkan untuk yang terakhir kalinya, jika kau masih berniat buruk padaku, aku tidak akan sungkan lagi mengantar nyawamu ke neraka."
_________
__ADS_1
A/N : Maaf gaes beberapa waktu lalu aku gak up lama banget, paket data abis, jadi numpang hospot sementara 😆