
Tolong ya jangan lupa beri like sebelum membaca ^@^
________________________________
Sekali lagi terdengar suara dentuman kecil, lagi-lagi semua orang melihat ke sumber suara itu. Shua Xie terdiam saat melihat anak kecil bahkan lebih kecil dari Xiao Mei berdiri di depan kubus putih. Banyak orang berbisik ketika kubus itu berubah warna hitam, artinya levelnya lebih tinggi dari Ye Guan Yu. Bahkan lama sekali warna hitam kubus itu menjadi seperti semua, sekitar memakan waktu sepuluh menit. Semua orang tercengang karenanya, termasuk Shua Xie sendiri.
Berbeda dengan Xiao Mei, dia menatap anak yang tak jauh beda dengannya penuh kebencian.
"Soa Yun," gumam Xiao Mei pelan. Melirik Shua Xie ke arahnya karena mendengar gumaman Xiao Mei.
"Kau mengenalnya?" tanya Shua Xie.
Xiao Mei sudah pasti mengenalnya, dia adalah cucu yang satu kakek dengannya. Dulu kepala suku Xiao menemukan anak kecil itu di hutan dengan keadaan tidak baik, sekujur tubuhnya penuh dengan luka, bahkan ada racun juga di tubuhnya. Karena kasihan, Xiao Jhu membawanya pulang dan merawatnya seperti dia merawat cucunya. Hari silih berganti, sampai satu tahun Soa Yun tinggal di kediaman Xiao, pada suatu hari Soa Yun menghilang entah ke mana. Tidak ada seorang pun menemukan jejaknya, bahkan Xiao Jhu Kultivator tingkat tinggi tidak bisa menemukannya. Menurut para petinggi desa Bintang, Soa Yun adalah kata-kata keluarga Ye, karena semenjak dia menghilang banyak konflik bermunculan dan selalu terkait dengannya.
"Hanya orang yang tak penting," jawab Xiao Mei datar, tampak sekali dia sangat tidak suka membahas Soa Yun.
Shua Xie menghela nafas pelan, dia dapat merasakan ada hubungan tidak baik antara Xiao Mei dengan Soa Yun itu, dari nada bicaranya saja sangat terdengar jelas.
Soa Yun turun dari panggung dengan wajah tanpa ekspresi. Banyak peserta lain menatapnya takjub sekaligus takut, ada pun yang mengatakan gadis kecil itu ialah reinkarnasi dari monster spirit, padahal tubuhnya kecil dan terlihat lemah, tapi tidak disangka dia memendam kekuatan yang begitu besar. Benar-benar jenius di antara jenius.
Shua Xie menatap Soa Yun yang sudah berdiri tepat di depan Xiao Mei. Dari tatapannya itu, tampaknya dia mengenal Xiao Mei sekalipun Xiao Mei memakai topeng.
"Kenapa kau memakai topeng?" Terdengar suara lembut namun datar dari mulut Soa Yun.
Xiao Mei menyilang ke dua tangannya di depan dadanya, "Apa urusannya denganmu. Aku benci melihat wajah munafikmu itu, aku tebak kau ikut karena keluarga Ye bukan?" balas Xiao Mei dengan nada acuh tak acuh.
"Tidak, aku ikut atas kehendakku sendiri. Tidak ada hubungannya dengan keluarga Ye."
Xiao Mei berdecak pelan diiringi kepalanya menoleh ke samping kanan, "Ck, dasar sok misterius."
"Kau sudah menjadi kuat, aku harap kita bisa bertanding di arena nanti. Jangan mengecewakanku." Soa Yun berjalan melewati Xiao Mei setelah dia berbicara. Xiao Mei diam tak bergeming saat Soa Yun melewatinya begitu saja.
"Hah, aku harap kau yang jangan mengecewakanku," balas Xiao Mei sinis.
Shua Xie menepuk punggung Xiao Mei hingga membuatnya maju beberapa langkah ke depan. Kesal Xiao Mei menatap Shua Xie karena membuatnya terkejut. Shua Xie menatap ke panggung tempat kubus berada, jarinya menunjuk ke arah panggung kecil itu. Xiao Mei melihat ke arah jari Shua Xie menunjuk.
Tampak seorang pria seusia Shua Xie berbaju serba hitam, berambut putih, sedang berdiri di depan kubus. Xiao Mei terkejut melihat pria itu, tidak lebih tepatnya terkejut melihat kubus itu mengeluarkan warna emas. Bertambah bisinglah di sekitar area panggung, sebelumnya Ye Guan Yu memukul kubus hingga berwarna merah, lalu muncul anak kecil yang tidak jelas asal-usulnya memiliki pukulan lebih kuat dari Ye Guan Yu, dan sekarang muncul lagi pemuda asing yang tidak lain rekan Soa Yun memiliki pukulan lebih kuat dari Soa Yun.
__ADS_1
Di sudut pojok tak jauh dari panggung, Ye Guan Yu berdecak kesal. Karena muncul lagi dua musuh yang jauh lebih hebat darinya, tentu saja itu akan menghalanginya mendapat token calon murid Sekte Kilat. Ye Guan Yu berbisik pada salah satu pengawalnya, setelah dia berbisik pengawal itu mundur dari hadapannya dan pergi entah ke mana.
"Perhatikan, banyak sekali saingan yang lebih kuat darimu. Jadi jangan lengah, ingat misi kita ke sini, jangan sampai melenceng ...," ujar Shua Xie tanpa menoleh ke arah Xiao Mei.
Xiao Mei mengangguk paham, berjalan dia menuju panggung. Tatapan dan bisikan bermacam-macam keluar, aneh bagi peserta lain melihat seorang peserta memakai topeng menutupi wajah aslinya. Ada sebagian yang mengatakan mungkin wajahnya jelek karena itu dia memakai topeng, atau dia ingin terlihat misterius di hadapan banyak orang.
Semakin mendengarkannya membuat Xiao Mei semakin geram. Rasanya dia ingin sekali membekukan mereka semua lalu menghancurkannya berkeping-keping. Semenjak kelurganya dikurung kelurga Ye, emosinya menjadi tidak terkendali.
"Berisik!" seru Xiao Mei keras sambil memukul keras kubus di hadapannya. Kubus putih itu bergetar hebat, perlahan warna mulai berubah, dari putih ke biru, biru ke hijau, dan hijau ke merah. Warna kubus berhenti di warna merah. Tercengang semua orang melihat kekuatannya.
"Huhf! Aku pikir dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Ternyata dia bisa mengontrolnya," gumam Shua Xie pelan sambil menghela nafas, rasanya lega melihat Xiao Mei bisa menahan emosinya.
***
Bangku penonton semakin lama semakin banyak dipenuhi para pendatang. Suara riuk pihuk dari semua pengunjung terdengar sampai di luar stadion, dari jarak 100 meter pun masih terdengar. Karena hari ini hari penting bagi kota Brotavia, maka hampir ke keseluruhan warga kota Brotavia berbondong-bondong memenuhi kursi stadion.
Di kursi lainnya, tepatnya kursi khusus untuk para petinggi kota, juri, dan beberapa tamu penting dari daerah lainnya juga mulai dipenuhi. Satu persatu para tamu penting berdatangan, mungkin karena acara tidak lama lagi akan diselenggarakan.
Shua Xie duduk di kursi yang telah disiapkan, kursi tepat di samping Tetua Gong Chen. Tentunya kalian sudah mengenalnya, dia adalah Master Gong Chen dari sekte Sun. Dia mengunjungi kota Brotavia karena permintaan Shua Xie.
"Aku tidak mengikuti pertandingan, tapi seseorang yang ingin menyelamatkan keluarganya. Aku hanya membantunya," balas Shua Xie. Kembali Shua Xie menoleh ke arah lapangan arena.
"Kenapa tidak minta bantuan kami? Kami bisa membantu kalau dia berhubungan denganmu. Bagi kami keselamatan Nona adalah prioritas sekte Sun."
"Belum saatnya aku menggunakan kekuatan kalian, tiba saatnya nanti kalian pasti akan kewalahan karena membantuku. Ini hanyalah masalah kecil, tapi aku ingin melihat potensi bocah yang aku bantu."
Gong Chen menghela nafas, "Jika bocah yang kau maksud itu gagal di arena nanti, Apa kau akan turun ke sana dan membuat kekacauan? Bukankah itu akan semakin memperburuk rencanamu?" balasnya, entah kenapa Gong Chen sedikit merasa tidak dibutuhkan Shua Xie saat ini. Padahal menurut pandangan Gong Chen situasi yang dihadapi Shua Xie saat ini sangatlah berbahaya.
"Aku punya rencana sendiri. Aku tidak akan bertindak gegabah, Kau tahu itu."
"Haih, pemikiranmu masih saja sulit ditebak." Terdengar lagi helahan nafas dari Gong Chen.
Stadion semakin ribut saat seorang pria paruh baya muncul di tengah arena. Tampaknya dia adalah wasit dalam pertandingan, mungkin pertandingan sudah akan dimulai. Shua Xie melirik kiri dan kanan, tampak hampir semua kursi khusus untuk para tamu penting mulai penuh. Hanya tinggal beberapa lagi yang kosong, seharusnya itu tidak akan menghambat pertandingan melihat para tamu paling penting sudah bermunculan.
"Hadirin yang terhormat! Pertandingan seleksi pemilihan yang akan mewakili kota Brotavia memasuki Sekte Kilat akan dimulai," ujar pembawa acara keras, dia berada di tengah panggung berdampingan dengan wasit.
"Tapi kita masih menunggu satu tamu penting, dia adalah pemimpin kota Brotavia. Mari kita sambut ke datangannya." Lanjut pembawa acara lagi sambil menengadah ke langit.
__ADS_1
Semua orang menatap ke langit termasuk para tamu penting, jauh di langit ada seorang pria berpakain hitam melayang perlahan menuju kursi khusus yang disediakan untuknya. Semua orang terpukau melihat, semua orang tahu hanya sedikit saja Kultivator yang bisa melayang di udara, melihat secara langsung begini adalah hal langka yang sangat jarang ditemukan.
Berbeda dengan Shua Xie yang tidak tertarik melihat pemimpin kota itu, dia lebih tertarik melihat Xiao Mei yang berdiri tak jauh dari arena. Tersenyum Shua Xie saat dia melihat Xiao Mei sedang menendang salah satu peserta, entah apa yang terjadi sebelumya tapi tidak ada yang perlu Shua Xie cemaskan.
"Dasar Xiao Mei," gumam Shua Xie pelan sambil menggelengkan kepala.
"Permisi, bisakah saya duduk di sampingmu?" Melirik Shua Xie ke sumber suara itu saat terdengar suara bertanya padanya, tampak semua orang terkejut saat melihat pemimpin kota meminta izin duduk di samping orang bertopeng yang tak jelas dia pria atau wanita karena memakai jubah apalagi wajahnya tertutupi topeng.
"Kau dengar itu, pemimpin kota meminta izin padanya!"
"Harusnya orang bertopeng itu yang meminta izin balik!"
"Astaga mimpi apa aku semalam, pemimpin kota meminta izin padanya!"
Mata Shua Xie membulat sempurna melihat pria di depannya masih melayang di udara. Mendadak Shua Xie terdiam karena pria itu, pria yang sangat tidak asing baginya.
"Anda diam berarti jawabannya iya," ujar pemimpin kota itu lagi. Tampa menunggu balasan dari Shua Xie dia langsung duduk di samping Shua Xie. Semua orang masih terkejut melihat hal itu.
Pemimpin kota itu menyampingkan kepalanya mendekati telinga Shua Xie, "Senang bertemu denganmu lagi Darling," bisiknya pelan di telinga Shua Xie, diiringi senyuman kecil dari sudut bibirnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ^-^
Terimakasih atas dukungannya sejauh ini ^-^
author sangat senang, tolong bagi yang baca jangan lupa beri like ya ^-^ author butuh dukungan kalian ....
__ADS_1