
Long Suan meringis tatkala dia merasakan wajahnya seperti dipukul menggunakan pemukul terberat dan terkuat, hampir keseluruhan gigi bagian kirinya lepas dan hanya menyisakan gigi bagian kanan. Long Suan meludahi darah di mulutnya bersamaan gigi yang terlepas.
"Sial! Gadis sialan!" umpat Long Suan keras sambil memegang wajahnya, "Kau merusak wajah tampanku!" Sekali lagi Long Suan mengumpat keras.
Shua Xie sendiri tersenyum sinis tak jauh dari Long Suan, tatapan sinisnya itu dia tujukan pada Long Suan yang sedang menatapnya marah.
"Heh, kau harusnya senang aku tidak membuat kepalamu pecah," balas Shua Xie tajam.
Shua Xie berjalan menjauhi Long Suan yang masih berusaha berdiri setelah menerima pukulan keras dari Shua Xie, dia sendiri juga tidak menyangka Shua Xie memiliki tenaga sekuat itu, sampai mampu membuat wajah Long Suan mati rasa.
Di sisi lain Shua Xie bergerak mendekati Lan Susu yang juga sama mendapat luka serius akibat tendangan Long Suan. Shua Xie menghampirinya dan membantunya berdiri, awalnya Lan Susu tidak mau dibantu tapi Shua Xie tetap ingin membantunya bahkan memberikan Lan Susu pil penyembuh luka yang di dalam cincin Ruangnya.
"Kau! Kau ternyata keturunan klan Langit? Tapi kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Lan Susu setelah menerima pil penyembuh dari Shua Xie.
Shua Xie hanya tersenyum kecil, "Makanlah dulu pil itu, setelah itu aku akan memberitahukanmu alasanku datang ke sini."
Lan Susu menatap Shua Xie penuh kecurigaan, dia curiga kalau Shua Xie ternyata bersekutu dengan Long Suan sebab mereka sama-sama dari dunia Atas. Bagaimana pun pemimpin besar dunia Bawah baru saja memberitahukan kota Kekai bahwa dunia Bawah akan berperang dengan dunia Atas. Tentu sulit percaya dengan Shua Xie yang sama seperti Long Suan berasal dari Dunia Atas.
Namun Lan Susu bisa melihat tidak ada tanda kecurigaan atau kebohongan di mata dan wajah Shua Xie, mau bagaimana pun Shua Xie juga telah membuktikan dia tidak berpihak dengan Long Suan, mengingat Shua Xie memberikannya pil penyembuh luka dan juga Lan Susu bisa melihat Shua Xie justru bertarung dengan Long Suan. Kalau mereka sama-sama rekan seharusnya mereka tidak saling bertarung, apalagi pertarungan mereka sangat serius.
Lan Susu menelan pil pemberian Shua Xie setelah merasa tidak ada yang mencurigakan dari Shua Xie. Setelah menelannya dia langsung menyerap khasiatnya. Begitu pun dengan Shua Xie, dia juga menelan 3 pil sekaligus sebab tangan dan kakinya sudah mati rasa, apalagi perutnya yang telah menerima banyak pukulan keras dari Long Suan.
Di sisi lain Long Suan baru saja selesai menyerap pil penyembuh luka miliknya, ketika dia membuka mata dan melihat Shua Xie dan Lan Susu masih memproses pil yang mereka berdua serap, Long Suan langsung berdiri dan menarik kembali tombaknya yang sebelumnya terlepas dari tangannya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan di mana Shua Xie dan Lan Susu masih fokus memproses pil, Long Suan akan langung menyerang mereka berdua.
Long Suan berlari dengan cepat ke arah mereka berdua namun belum terlalu dekat tiba-tiba saja muncul 5 orang pria berpakaian khusus aliansi Gold Lion. Mereka semua menghadang Long Suan dan memberikan tatapan tajam.
"Jangan lupakan bahwa kami ini aliansi! Dan kau hanya sendiri! Kalau mau menyerang mereka berdua lewati kami dulu!" ucap Moroi tajam. Moroi baru saja tiba di aliansi setelah mendapat kabar bahwa aliansi Gold Lion diserang 4 orang asing.
Long Suan langsung berdecak kesal dan langsung menjaga jarak antara dia dan 5 orang di depannya. Walau 5 orang di depannya bukan masalah besar baginya, tapi mengingat pesan dari seseorang dia tidak boleh mencari perhatian banyak dia harus mengurung niatnya membunuh semua aliansi Gold Lion. Sebenarnya Long Suan bisa saja menghancurkan aliansi Gold Lion dengan mudah, hanya saja dia mendapat pesan tidak boleh melupakan pesan.
Long Suan berbalik menatap ke 3 bawahannya yang sama juga tengah bertarung melawan anggota aliansi Gold Lion. Walau pun mereka bertiga memiliki kultivasi lebih unggul dari musuhnya tapi tetap saja mereka akan kesulitan melihat begitu banyak musuh menyerang mereka bertiga.
__ADS_1
"Maafkan Jenderal Chin Gua, sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku," gumam Long Suan pelan. Setelah bergumam Long Suan langsung mengaktifkan tato auranya, Long Suan memiliki tato aura elemen cahaya dan petir. Di usia begitu muda dia sudah berada di tahap kultivasi tinggi dan sudah mampu membangkitkan tato aura yang mana tidak semua Kultivator mampu membangkitkannya, apalagi tato auranya memiliki 2 elemen.
Tato aura ini seperti tambahan kekuatan untuk Kultivator, dan tato aura tidak mudah dibangkitkan, butuh perjuangan besar agar bisa membangkitkannya.
Tombak yang Long Suan pegang langsung mengalami perubahan, sebelumnya tombaknya terlihat seperti tombak biasa, tapi sekarang ke dua ujung tombaknya mengeluarkan petir dan cahaya berwarna merah. Ke 5 orang yang menghadangnya dapat melihat perubahan itu, dan mereka langsung terkejut, apalagi melihat musuh mereka ternyata mampu membangkitkan tato aura 2 elemen sekaligus.
"Gawat! Ternyata dia sudah membangkitkan tato aura, kalau begini kita bukan tandingannya, Senior," ucap salah satu dari 5 orang itu pada Moroi.
Moroi hanya bisa berdecak kesal sebelum akhirnya menjawab, "Seberapa pun kuatnya dia kita tetap harus menahannya, paling tidak sampai Pemimpin berhasil menyerap pil penyembuh."
Ke 4 rekannya mengangguk setuju, mereka pun sama-sama mengeluarkan senjata masing-masing. Long Suan tertawa melihat perlawan mereka berlima, tentu saja dia tahu hasil akhirnya sebab itulah dia tertawa melihat mereka berlima mengeluarkan senjata mereka.
"Mau melawan, baiklah. Akan kubuat kalian mati terhormat di ujung tombakku dan menjadi nutrisinya. Tapi sebelum itu, biar aku memanggil pasukanku yang sebenarnya biar sekalian saja kota kalian hancur!" Long Suan menembakkan cahaya mereka ke langit dan meledak. Semua orang bahkan yang tinggal di sisi kota Kekai pasti bisa melihat ledakan cahaya merah itu.
***
Shua Xie dan Phoe bertemu di alam batin Shua Xie. Phoe sengaja memanggil Shua sebab ada hal yang ingin dia beritahukan.
"Musuhmu tidak hanya empat orang, melainkan seribu orang. Tapi seribu pasukan itu masih ada di luar kota Kekai," ujar Phoe singkat.
"Dari mana kau tahu?" tanya Shua Xie.
Phoe tersenyum kecil, "Kau meremehkanku? Apa kau lupa aku ini bisa melihat daratan seluruh Kekai."
Shua Xie semakin panik, dia memang lupa Kalau Phoe bisa menyebarkan indera spirit-nya, "Kalau seperti itu kita tidak akan bisa lolos darinya! Mungkin aku bisa lolos dari Long Suan, tapi kalau dari seribu pasukan! Itu mustahil." Shua Xie menggigit ibu jarinya sambil memikirkan cara untuk bisa kabur walau pun sulit.
"Bukankah kau bisa membantai mereka? Seperti kau membantai klan Mo, kekuatan klan Mo setidaknya setara dengan kekuatan pasukan itu," balas Phoe sambil menatap Shua Xie.
Shua Xie tersenyum kecut lalu menatap ke dua tangannya, "Waktu itu aku tidak sadar kalau aku telah membantai klan Mo. Lagi pun aku juga dibantu oleh empat Tetua dari kota Perak."
Pandangan Phoe sedikit menyipit ketika mendengar ucapan Shua Xie, "Benarkah? Jadi maksudmu kau tidak sadar saat itu? Jadi ada sesuatu yang merasuki jiwamu? Tapi apa? Kenapa aku tidak merasakannya, jika memang kau dirasuki sesuatu seharusnya aku bertemu dengannya sebab aku juga ada di dalam jiwamu."
__ADS_1
Phoe sendiri tidak percaya jika sewaktu Shua Xie membantai klan Mo itu bukanlah Shua Xie yang sebenarnya, jika memang benar Shua Xie dirasuki sesuatu seharusnya Phoe sendiri bertemu dengan sesuatu yang merasuki Shua Xie. Tapi sejujurnya Phoe juga berpikir demikian, saat Shua Xie membantai klan Mo terlihat begitu berbeda, sangat jelas kalau Shua Xie terlihat seperti monster haus darah. Tapi itu hanya tebakan Phoe saja sebab dia tidak bisa membuktikan apa itu Shua Xie atau bukan.
Shua Xie menatap ke arah Phoe, terbesit di pikirannya ingin memberitahukan Phoe bahwa dia memilki penyakit jiwa yang tidak bisa disembuhkan, namun Shua Xie sendiri tidak suka memberitahukan kelemahannya pada siapa pun.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Phoe yang melihat tatapan Shua Xie merasa ada sesuatu yang ingin Shua Xie katakan.
"Ah, itu. Aku, hum ... bagaimana menjelaskannya ya? Sebenarnya aku memiliki dua karakter yang berbeda, di saat aku hilang kendali karakter jahatku akan muncul, tapi jika tidak kau akan melihatku yang seperti biasanya," jawab Shua Xie.
"Itu? Jadi maksudnya karakter ke duamu yang membantai klan Mo?" tanya Phoe dengan wajah terkejut, sebab seumur hidupnya dia tidak pernah mendengar hal seperti itu.
Shua Xie mengangguk pelan mengiyakan ucapan Phoe. Phoe sendiri semakin terkejut mendengarnya dan akhirnya dia malah tertawa membuat Shua Xie kebingunan.
"Kenapa? Kenapa kau tertawa, Phoe?" tanya Shua Xie sambil menatapnya.
"Hahaha ... tidak hanya lucu saja. Kau tahu ini pertama kalinya aku melihat manusia mendapat penyakit jiwa tapi masih bisa sadar. Seperti dirimu, kau bisa kembali ke jatih dirimu yang sebenarnya. Bukankah itu unik?" balas Phoe sambil tertawa.
Shua Xie tersenyum kecut mendengarnya, apa yang dia bayangkan ternyata terjadi juga. Sebab inilah dia tidak suka memberitahukan masalah penyakitnya pada orang lain.
"Berhentilah! Saat ini kita harus fokus untuk bisa melawan pasukan Lou Zho. Tidak ada waktunya tertawa."
Phoe berhenti tertawa namun masih sedikit terdengar samar-samar suara tawa yang tertahan. Shua Xie menatap tajam ke arah Phoe, membuat Phoe langsung berhenti tertawa sebab tak tega melihat ekspresi Shua Xie.
"Hah! Baiklah aku berhenti tertawa. Sekarang apa kau punya ide?"
Shua Xie menggelengkan kepalanya, walau pun dia sudah berpikir keras tapi nyatanya otaknya saat ini sedang buntu tidak menemukan satu ide pun.
"Hah, kupikir kau sudah punya ide. Tapi untungnya aku punya ide," balas Phoe sambil memalingkan wajahnya.
Shua Xie langsung tersenyum ceria mendengar Phoe memiliki ide untuknya, "Katakan apa idemu itu?"
"Dekati orang yang memegang kota merah, paling tidak berjarak dua meter darinya."
__ADS_1
Shua Xie mengerutkan keningnya, "Untuk apa? Apa pentingnya kita mendekatinya?"
"Di dalam kotak itu ada bulu Phoenix kakak tertua, aku akan menyerapnya dari jarak dua meter. Asalkan kau bisa mendekatinya, dan aku bisa menyerapnya, ke depannya mereka semua bukanlah masalah besar."