
Banyak manusia berdiri di depan sebuah bangunan megah bertingkat tujuh, yang mereka disebut 'Tujuh Pagoda Kembar'. Para manusia itu berbondong-bondong ingin masuk ke dalam pagoda itu agar bisa segera keluar dari Daratan Alam Abadi yang menurut mereka dunia neraka. Tapi, mereka semua tidak masuk sebab terhalang sebuah pelindung transparan. Sudah banyak dari mereka berusaha mencoba membobol pelindung itu, tetap saja tidak ada yang bisa menghancurkannya.
Selama mereka terus berusaha merusak pelindung transparan itu, hanya ada dua orang yang berlaku santai mengamati mereka semua yang terus berusaha memecahkan pelindung dari pada ikut membantu. Sikap mereka berdua yang super santai membuat mereka kesal, pasalnya mereka tidak ada niatan membantu atau pun sekadar menyemangati.
"Apa kalian berdua tidak ingin keluar dari dunia terkutuk ini?!"
"Tentu saja mau."
"Lalu kenapa kalian tidak membantu kami menghancurkan penghalang sialan itu."
"Karena aku tidak mau."
"Kau! Sialan!" Pria itu geram akhirnya melayangkan pukulannya kepada seorang gadis cantik di depannya. Namun pukulannya terhalang sesaat tiba-tiba muncul seorang pria berjas hitam menangkap kepalan tangannya.
Pria itu terkejut dan langsung segera menjauh lalu kabur dari harus berurusan dengan pria berjas hitam yang baru saja menghalang pukulannya. Karena dia tahu pria itu tidak akan bisa dia kalahkan, cukup dia lihat dari sorot mata pria berjas itu cukup tajam mengintimidasinya.
Gadis itu tertawa kecil, melihat pria yang hendak memukulnya sudah berlari ketakutan, "Tsakuya, sepertinya kau perlu menganti wajahmu? Pasalnya tak jarang dari mereka yang melihatmu pasti berakhir ketakutan," ujar gadis itu sembari dia menangkup dagunya menatap pria bernama Tsakuya.
Tsakuya berbalik, menatap gadis yang sedang menatapnya nakal. Tsakuya menghela nafas pelan, "Maaf, saat ini sebaiknya anda menghindari pertarungan yang tidak ada gunanya," jelas Tsakuya membuat gadis itu mendengus pelan.
"Lagi-lagi alasan sama seperti itu. Apa kau tidak bosan memperingatiku dengan alasan yang sama?" Gadis itu menjelingkan matanya, bosan sudah dia mendengar Tsakuya melarangnya bertarung. Padahal dia tipe manusia yang memang suka berkelahi dari sejak sebelum dia datang ke dunia ini.
Tsakuya menghampiri gadis itu dan bersandar pada pohon yang juga sedang disandari gadis itu, "Anda harus ingat, kekuatan anda bisa memancing banyak masalah." Lagi-lagi dengan alasan yang sama lagi, membuat gadis itu mencibir tanpa suara.
"Kau lebih pengaturan dibandingkan saudaramu, Tsakuya. Aku jadi merindukan Kakakmu yang narsis itu." Gadis itu tertawa kecil, mengingat masa-masa yang membuatnya bahagia. Namun sekejap saja masa-masa itu terganti dengan hal yang tidak pernah dia duga. Tsakuya datang menjadi pengawalnya. Tidak, mungkin lebih tepatnya mirip seperti seorang kakak yang mengawasi adiknya dari masalah-masalah yang seharusnya tidak pernah terjadi.
"Lalu kenapa anda tidak-"
"Karena aku ingin dia menjagakan seseorang untukku," sela gadis itu cepat, dia masih menatap ke samping, tidak sadar kalau Tsakuya sedang menatapnya lekat.
Tsakuya menghela nafas pelan, dia sudah mendengar alasan itu untuk ke dua kalinya. Dan rasanya dia cukup cemburu karena gadis itu lebih mempercayai Kakaknya dibanding dirinya yang sudah menyelamatkannya dari ambang kematian.
"Anda membuatku cemburu," tukas Tsakuya jujur, bahkan dia juga mengeluarkan ekspresi sedih, tidak berbohong dengan ucapannya.
Gadis itu berbalik, menatap Tsakuya tidak percaya. Menurutnya aneh saja, seorang Tsakuya yang selama ini dia kenal tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya kepadanya. Tidak seperti biasanya, dia selalu tenang dan santai.
"Apa aku tidak salah dengar? Seorang Tsakuya cemburu dengan Kakaknya sendiri? Bhahahaha ... kau membuatku ingin muntah mendengarnya." Gadis itu tertawa lepas, memegang perutnya yang terasa geli karena perkataan Tsakuya. Sedangkan Tsakuya, dia semakin kesal melihat sikap gadis itu, padahal dia tidak sedang bercanda, dia memang benar-benar cemburu dengan Kakaknya.
Tepat di saat gadis itu terus tertawa, datang segerombolan pemuda yang langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Terutama bagi para pria yang tertarik pada kecantikan salah satu gadis di rombongan itu, sedangkan para wanita tergugah dengan pria tampan yang juga satu rombongan dengan gadis cantik itu.
Tsakuya juga langsung menatap rombongan yang baru datang itu, matanya tertuju pada gadis cantik yang menjadi sorotan semua mata pria. Tsakuya bukan tertarik karena kecantikan gadis itu, tapi karena Tuannya ini tertarik pada gadis cantik itu.
"Lihat, dia sudah datang," ujar Tsakuya. Sekadar ingin memberitahukan bahwa gadis yang dari tadi mereka tunggu telah tiba.
Gadis itu berhenti tertawa, pandangannya juga langsung tertuju pada segerombolan yang menjadi pusat perhatian semua orang. Gadis itu mendengus pelan disertai senyum tipis yang mulai mengembang. Dia menopang dagunya, menatap pria tampan berpakaian hitam yang menjadi sorotan semua wanita.
"Mari kita lihat apa yang akan mereka lakukan."
***
Zusami dan lainnya langsung menjadi sorotan semua orang ketika mereka tiba di area Tujuh Pagoda Kembar berada. Meski menjadi sorotan banyak orang mereka terus berjalan menuju Tujuh Pagoda Kembar, tidak peduli dengan tatapan yang orang-orang lemparkan.
"Jadi itu Tujuh Pagoda Kembar?" Xiu An terpana melihat sebuah bangunan megah bertingkat tujuh. Sebuah bangunan pagoda yang terbuat dari giok berwarna putih bersih tanpa kotoran sedikit pun, dia pun menjadi merasa kalau pagoda itu merupakan tempat suci dan sakral karena pagoda itu mengeluarkan aura yang cukup menghangat siapapun yang melihatnya.
Tidak hanya Xiu An yang terpana, yang lain pun merasakan hal yang sama, terkecuali Zusami dan Shua Xie, mereka berdua masih tampak tenang seperti biasanya. Qixuan berniat mendekati pagoda itu, namun baru saja dia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja tubuhnya terpental seperti ada sesuatu yang mendorong dari depan.
Semua terkejut melihat Qixuan tiba-tiba saja terpental. Xiu An dan Yue Jian langsung membantu Qixuan kembali berdiri.
"Ketua, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa." Qixuan menjawab lemah, pandangannya langsung tertuju pada Pagoda megah itu, "Sepertinya ada pelindung transparan yang melindungi pagoda itu," jelasnya yang langsung membuat mereka semua menatap pagoda itu.
Shua Xie mendekati tempat yang sebelumnya membuat Qixuan terpental, dia mengangkat tangannya merabah sesuatu di depannya. Dan benar saja, sesuatu seperti sengatan listrik langsung menyengat tangannya, sontak Shua Xie kembali menarik tangannya sambil bergerak menjauh.
"Ya, aku bisa merasakan ada mantra pelindung yang melindungi pagoda ini. Mantra yang cukup kuat." Shua Xie juga menyampaikan pendapatnya, 'Bahkan aku sampai terkejut karena kekuatan mantra pelindung itu.' Lanjutnya lagi dalam hatinya.
__ADS_1
Yue Jian menutup mulutnya, mulai panik mengetahui jalan pulang mereka satu-satunya terlindung oleh sebuah kekuatan yang besar. Bahkan Shua Xie yang merupakan sosok paling kuat di antara mereka memuji kekuatan mantra pelindung itu. Berarti kemungkinan Shua Xie akan kesulitan memecahkan mantra pelindung itu.
"Lalu apakah kita tidak akan bisa pulang?"
"Tidak mungkin! Tidak mungkin mereka sengaja membuat kita masuk ke dunia ini jika mereka tahu jalan pulang sangat sulit dilewati. Pasti ada cara lain menghancurkan penghalang itu."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu, tapi aku berharap lebih pada Shua Xie."
"Ya, Shua Xie pasti bisa menghancurkannya."
"Tentu saja, Shua Xie kan sangat kuat."
Semua menatap Shua Xie, berharap besar pada gadis itu bisa membantu mereka pulang kembali ke dunia mereka. Shua Xie merasa terbebani dengan tatapan mereka, lagi pula dia merasa tidak memiliki kewajiban menjaga mereka semua. Tapi melihat tatapan mereka semua, sedikit membuka hatinya untuk menolong mereka.
"Kenapa kalian berharap padaku? Bagaimana jika aku tidak bisa menghancurkan penghalang itu?" Shua Xie menggerutu, sedikit tidak senang saja dia harus dibebankan tugas seperti ini.
"Karena kau paling kuat di antara kami. Kami percaya kau bisa menghancurkan penghalang itu," sahut Yue Jian penuh harapan.
"Ya, harus aku akui, meski aku kesal padamu, aku berharap besar pada kekuatanmu." Kiseki ikut menambahkan, tanpa menatap Shua Xie karena masih dia merasa kesal dengan sikap Shua Xie yang akhir-akhir ini berlagak begitu sombong. Selain itu, Shua Xie jugalah yang mengamputasi tangannya meski niatnya membantunya selamat dari kematian.
"Ya, aku juga berharap padamu." Xiu An tersenyum kepada Shua Xie.
"Aku juga."
"Hem! Aku juga."
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi karena mereka semua berharap padamu, mau tidak mau aku juga harus melakukan hal sama. Aku juga berharap padamu." Juan Yu memandang ke sisi lain, gengsi sendiri dengan ucapannya yang memohon pada Shua Xie.
Alih-alih merasa tersentuh dengan ucapan mereka semua yang berharap lebih padanya, Shua Xie justru merasa terbebani. Dia hanya khawatir, bagaimana jika dia tidak bisa mengabulkan harapan mereka? Shua Xie sudah merasakan mantra pelindung itu sangatlah kuat, bahkan dia tidak yakin bisa menghancurkannya.
"Aku, juga berharap seperti mereka." Fang Xin juga ikut menambahkan. Semua pandangan langsung tertuju padanya, mungkin mereka hanya tidak percaya seorang Pangeran juga akan berharap pada seseorang seperti Shua Xie. Semua itu wajar, di situasi seperti ini akan lebih baik memikirkan nyawa dari pada gengsi. Di situasi seperti ini gengsi, harta dan tahta tidak lagi dibutuhkan, hanya orang kuatlah yang dibutuhkan.
Shua Xie berjalan mencari posisi yang lebih bagus agar serangannya pada pelindung itu bisa bekerja lebih baik. Setelah menemukan posisi yang bagus, Shua Xie langsung mengeluarkan kekuatannya, sebuah teknik serangan mantra yang menggunakan formasi sulit.
"Teknik Matra-Api Matahari!"
Sebuah serangan api besar nan panas langsung meluncur menyerang pelindung itu. Seketika terjadi getaran yang membuat semua orang panik dan takut. Mereka yang berdiri cukup jauh dari Shua Xie langsung mendekat, ingin melihat apakah Shua Xie bisa memecahkan pelindung itu atau tidak. Tapi tentunya mereka berharap Shua Xie bisa memecahkannya.
Duar!!
Suara ledakan menggema keras disertai kepulan asap yang mulai menutupi pandangan. Namun sekejap kepulan asap itu menghilang disapu oleh jurus angin yang keluar dari pedang Qixuan. Dan mereka melihat pelindung itu masih berdiri kokoh tanpa mendapat kerusakan sedikit pun.
Shua Xie tidak tinggal diam meski serangan pertamanya gagal. Dia kembali meluncurkan sebuah serangan mantra kuat yang memunculkan ratusan senjata roh berwarna ungu dengan aura pekat. Ratusan senjata roh itu segera dilayangkan menghantam pelindung itu. Getaran dan suara ledakan kembali terjadi.
Duar!!
Bam!!
Bom!!
Srahs!!
Semua orang yang berada di dekatnya panik, pasalnya tanah yang mereka pijak bergetar cukup kuat, bahkan menjatuhkan sebagian besar dari mereka. Mereka menatap Shua Xie dengan berbagai macam pandangan, sangat terpana mengetahui gadis seperti Shua Xie memiliki kekuatan yang begitu besar.
Namun sayangnya serangan itu masih belum cukup merusak atau bahkan melecetkan pelindung itu.
Shua Xie menjadi geram karena pelindung itu tidak lecet sedikit pun meski dia sudab menyerang dengan jurus-jurus yang kuat. Shua Xie kembali melancarkan berbagai bentuk jurus dan serangan demi menghancurkan pelindung itu. Tidak peduli kalau manusia di sekitarnya sudah hampir tidak bisa berbuat apa-apa selain takut melihat kekuatannya yang super dasyat.
Tapi meski Shua Xie sudah menyerang pelindung itu dengan berbagai macam serangan terkuat miliknya, masih saja belum mampu merusak bahkan melecetkan pelindung itu. Sampai akhirnya Shua Xie menjadi kelelahan karena terus menyerang tanpa henti. Dia pun jatuh berlutut di tanah dengan nafas yang sudah tidak teratur.
'Sudah ku duga aku tidak akan mampu menghancurkan pelindung itu! Sial!' Shua Xie memukul tanah, kesal dan marah karena dia tidak sanggup memecahkan pelindung itu.
Semua kembali tenang setelah Shua Xie menghentikan serangannya. Semua terkejut melihat pelindung itu masih saja berdiri kokoh tanpa mendapat lecet sedikit pun. Padahal Shua Xie sudah meluncurkan serangan dasyat bertubi-tubi yang bahkan membuat tanah di sekitarnya hancur berantakan. Tapi masih saja tidak sanggup merusak pelindung itu.
__ADS_1
"Shua Xie, tidak bisa menghancurkannya? Bagaimana ini? Apa mungkin kita tidak akan bisa pulang dari dunia ini?" Yue Jian kembali panik, pikirannya berangsur buruk setelah melihat Shua Xie tidak mampu menghancurkan pelindung itu.
"Tidak mungkin! Bahkan Shua Xie telah mengeluarkan seluruh jurusnya, tapi kenapa pelindung itu masih tidak bisa dihancurkan?" Qixuan tertegun, tidak tahu lagi harus berbuat apa jika Shua Xie saja tidak mampu menghancurkan pelindung itu, apalagi dia dan lainnya?
"Bukankah kau kuat, Shua Xie?! Tapi kenapa kau tidak bisa menghancurkan pelindung sialan itu!?" Juan Yu berteriak, panik dan tidak terima Shua Xie tidak bisa menghancurkan pelindung itu, "Bagaimana pun kau harus bisa membukanya! Kau kan yang terkuat di antara kita semua! Aku ingin pulang! Aku tidak ingin tinggal di sini selamanya!" Juan Yu mendekati Shua Xie, berniat memerintah gadis itu untuk kembali menghancurkan pelindung itu dengan cara apapun asalkan pelindung itu bisa dihancurkan. Dia tidak ingin terkurung di dunia terkutuk ini. Tapi Zusami muncul dan langsung menghalanginya.
"Jangan egois, kau pikir hanya kau saja yang tidak ingin terkurung di dunia ini? Mereka semua pun ingin pulang. Tapi kau tidak bisa memaksakan seseorang yang memang tidak mampu melakukannya."
"Minggir kau sialan! Aku tidak ingin dia berhenti, aku ingin dia terus berusaha menghancurkan pelindung itu." Juan Yu berniat melawan Zusami agar pria itu tidak menghalanginya. Tapi Genji dan yang lain langsung menghentikannya.
"Apa kau sudah tidak waras, Juan Yu? Kau tidak boleh memaksa Shua Xie! Dia sudah berusaha keras, jika memang dia tidak bisa kita tidak boleh memaksanya!" tegur Genji menasihati Juan Yu. Namun jika manusia sudah dirasuki rasa egoisnya, nasihat saja tidak akan cukup menghentikannya.
"Lalu apa kau ingin terus dunia ini? Apa kau tidak ingin keluar? Salahkah aku bertindak egois demi mempertahankan nyawaku? Genji, sadarlah, di dunia ini tidak ada manusia yang tidak egois! Mereka semua egois dan hanya mementingkan keinginan sendiri. Mereka akan melakukan semuanya demi mencapai apa yang mereka inginkan!" Juan Yu menatap semua orang yang ada di sekitarnya, "Aku tanya pada kalian! Apa kalian tidak ingin keluar dari dunia terkutuk ini?!"
Pertanyaan Juan Yu membuat suasana mendadak hening.
"Aku ingin keluar!" Salah satu dari banyak orang yang ditanya Juan Yu menjawab.
"Aku juga ingin keluar!"
"Ya! Aku juga!"
"Aku juga!"
"Aku juga!"
"Aku juga sama!"
"Aku juga!"
Satu demi satu dari meraka mulai menjawab sependapat dengan Juan Yu. Maafkan jika meraka bertindak egois kali ini, tapi semua ini demi menyelamatkan nyawa mereka masing-masing. Jika memang harus mengobarkan seseorang, kenapa tidak harus dilakukan asalkan nyawa meraka terus berlanjut?
Egois? Ya, karena pada dasarnya begitulah sifat manusia. Akan ada saatnya di mana meraka akan bertindak egois demi diri mereka sendiri.
"Tapi apakah harus mengorbankan seseorang?" Genji masih berpihak pada Shua Xie, dia hanya tidak tega jika gadis malang itu menjadi pengorbanan keegoisan mereka semua.
"Maaf, Genji, aku rasa apa yang dikatakan Juan Yu ada benarnya. Maafkan jika aku egois untuk kali ini." Xiu An menunduk, tidak berani memperlihatkan wajahnya karena dia tidak berpihak pada Shua Xie. Yue Jian menutup mulutnya terkejut, tidak menyangka Xiu An akan berdiri di posisi Juan Yu.
"Xiu An ... kau?"
"Maaf, Yue Jian. Aku hanya ingin kembali pulang. Dunia itu kejam, dan tidak ada manusia baik di dunia ini."
Selain Xiu An yang berpihak dengan Juan Yu, Yurui juga berpihak dengannya. Sedangkan Juan Yu, Genji dan Qixuan berada di pihak Shua Xie. Begitu pun dengan Zusami, meski sebenarnya dia cukup kesal dengan Shua Xie. Tapi karena cukup banyak orang yang berada di pihak Juan Yu, mereka kalah suara dari mereka yang terus mendesak Shua Xie untuk terus berusaha menghancurkan pelindung itu.
"Shua Xie, kau harus tetap menghancurkannya sampai pelindung itu hancur!!"
"Ya, hanya kaulah satu-satunya harapan kami saat ini!"
"Jangan berhenti, Shua Xie!! Kau harus terus berusaha menghancurkannya!"
"Kami berharap padamu!!"
_______________
A/N : Jika kalian berada di posisi si Shua Xie, apa yang akan kalian lakukan?
A. Menuruti paksaan mereka?
B. Membalas meraka yang terus memaksa?
C. Bodoh amat dengan paksaan mereka?
D. Punya jawaban sendiri?
Komen gaes 👇📍
__ADS_1