Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 132


__ADS_3

Hening kian berlangsung, mata tajam dari tiap pria berpakaian bordir menawan menatap satu sama lain, tapi tidak seorang pun dari mereka membuka suara. Sang pengantar pesan sudah pergi beberapa waktu yang lalu, namun sampai sekarang kehadirannya bersama sosok yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang.


Pria berambut mulai memutih menghela nafas, dia lelah dan sesak dengan suasana yang kian lama kian mencekam, bahkan atmosfer pun serasa ingin mencekik nafasnya.


"Kita sudah menunggu untuk waktu yang lama, apakah Kaisar Feng Kim mengundang kami hanya untuk diam di ruangan mencekam seperti ini?" Akhirnya salah satu dari mereka membuka suara, tak lama itu terdengar lagi suara helaan nafas berat dari sisi lain.


"Benar, kita semua telah berkumpul, perlu menunggu siapa lagi?" Seorang pria seusia Feng Kim ikut protes, kakinya sudah keram duduk untuk waktu yang lama.


Memahami keadaan, Feng Kim pun menghela nafas berat, dia pun berpikir sama, seseorang yang dia dan lainnya tunggu terlalu lama untuk datang. Padahal dirinya sudah berpesan pada sang adik untuk segera memberitahukan kabar ini secepatnya, tapi tampaknya adiknya itu cukup terlambat.


"Maaf atas waktu yang lama ini ... seseorang yang kita tunggu sangat berperan penting dalam rapat ini. Aku memohon waktu kalian sebentar lagi," ujar Feng Kim dengan suara merendah, bahkan kepalanya juga ikut merendah, menunjukkan bahwa dia memang benar-benar memohon.


Ke empat pemimpin lainnya cukup terkejut melihat tindak Feng Kim, dia adalah pemimpin negara, menunduk di hadapan seseorang memang membuktikan Feng Kim ialah pemimpin yang baik dan bijaksana. Hanya saja, dengan sikapnya barusan sama saja Feng Kim merendahkan statusnya di hadapan pemimpin lainnya. Hal ini membuat ke empat pemimpin itu menjadi penasaran, sebenarnya siapa sosok yang mereka tunggu bisa membuat seorang Kaisar Feng Kim memohon kepada mereka.


Pria kurus berusia tidak kurang dari 60 tahun menghela nafas, cukup kagum sekaligus terkejut akan tindakan Feng Kim, "Kaisar Feng Kim, anda tidak perlu merendah seperti itu. Kedatangan kami pun juga karena surat yang anda kirim, jika anda tidak memberitahukan kabarnya, mungkin saja kami ... pasti tidak berakhir dengan baik," balas pria itu yang tak lain pemimpin dari negara Shuji, Raja Kou Lyan.


Feng Kim merasa tidak enak hati melihat para tamunya menunggu cukup lama, apalagi para tamunya bukan sekadar tamu biasa, melainkan tamu paling penting yang pernah datang.


Tidak lama waktu berjalan, kurang dari beberapa detik setelah Kou Lyan berbicara, pintu ruang rapat itu terbuka, memperlihatkan seorang gadis berpakaian cukup minim berwarna hitam berjalan masuk dengan tampang wajah dinginnya. Kedatangannya juga membuat ke empat tamu itu terkejut.


Gadis berwajah cantik itu, berjalan mendekati Feng Kim lalu duduk di sampingnya. Setelah duduk, gadis itu mengedarkan pandangannya. Bisa dia lihat para tamu menatapnya dengan pandangan berbeda-beda.


"Kaisar Feng Kim, apa gadis ini yang anda maksud peran penting dalam rapat ini?" tanya seorang pria seusia Feng Kim bernama Jilie Chen pemimpin kerajaan Dilie.


Kou Lyan berekspresi cukup serius sembari matanya menatap Feng Kim cukup dalam, "Anda tidak bermain-main bukan, Kaisar Feng Kim."


"Kaisar Feng Kim, tolong jelaskan," tegas pria berkulit sangat putih dengan bola matanya yang juga sama putih, Raja Cuzzia, Asha.


"Ini ... cukup mengejutkan. Aku pikir siapa yang sejak tadi kota tunggu. Ternyata, hanya seorang gadis muda, yang tidak lain adalah anak Kaisar Feng Kim, bukan?" Pria berkulit coklat matang menambahkan rasa protesnya, dia adalah Raja dari Kerajaan Moa, Rokuro. Dirinya cukup kesal melihat tamu yang sejak tadi mereka tunggu hanya seorang gadis muda.


Kekesalan yang ke empat raja itu keluarkan memang wajar, dan Feng Kim memaklumi hal itu, dia bahkan juga sama kesalnya sebab gadis yang sejak tadi dia tunggu-tunggu ini terlalu lama datangnya.

__ADS_1


Sesaat Feng Kim ingin berbicara, gadis di sampingnya lebih awal mendahuluinya, "Maaf telah membuat kalian menunggu, meskipun begitu aku tidak akan beralasan apapun." Pandangan gadis itu menatap semua tamu cukup serius, "Aku harap para pemimpin mau memaafkan keterlambatanku," lanjutnya lagi dengan nada sedikit tegas. memperlihat dirinya sangat berwibawa dan berwawasan luas.


Mendengar permintaan maaf dari gadis itu, ke empat tamu terdiam cukup lama, sampai akhirnya mereka hanya bisa memaafkan gadis itu, lagi pula hanya sebuah keterlambatan, bukan masalah besar.


"Aku senang kalian bisa memaafkanku." Gadis itu mengulum senyum tipis, "Sebelum rapat di mulai, aku akan memperkenalkan diriku kepada ke empat tamu penting ini." Sejenak gadis itu berhenti menarik nafas cukup dalam lalu menghembuskannya, "Namaku adalah Shua Xie, kalian pasti cukup kenal diriku, aku juga merupakan Putri dari Kaisar Feng Kim, Putri ke Lima."


Melihat tidak ada satu pun berniat membuka suara, Shua Xie kembali berbicara, "Di sini aku akan berterus terang saja, dan tidak akan memaksa kalian mempercayaiku. Perang tidak akan lama lagi terjadi, dan sungguh ini bukan perang biasa seperti perang antar negara mempertahankan wilayah. Tapi, ini soal mempertahankan dunia kalian, aku berharap semua pemimpin mau berkerja sama melawan para musuh nanti," jelas Shua Xie dengan nada sangat serius.


Rokuro mengerutkan keningnya, tangannya yang sebelumnya berada di dadanya kini turun memegang meja, "Perang? Pada siapa? Dan kenapa bisa terjadi perang?" tanyanya serius.


Pertanyaan yang sangat tepat untuk diajukan, tidak ada salahnya mereka mengetahui siapa dan kenapa bisa terjadi perang. Sebagai pemimpin negara di wilayah yang berbeda, jika ingin berkerja sama mengetahui rahasia dan kabar buruk bersama adalah hal umum.


Shua Xie beralih menatap Rokuro, manik matanya menatap sosok pria berkulit coklat itu cukup tajam, "Jika pun kujelaskan akan memakan waktu cukup lama. Tapi untuk membuat kalian percaya, aku akan menjelaskan secara ringkas." Shua Xie kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi di belakangnya, "Dunia itu luas, dan kalian seharusnya sudah tahu. Di kehidupan ini, dunia tidak hanya ditempati manusia saja bukan? Masih ada hewan, tumbuhan, dan roh. Tapi sebenarnya tidak hanya itu, masih ada iblis dan monster spirit lainnya. Bahkan manusia tidak hanya ada di dunia kalian." Shua Xie berhenti sejenak, memperhatikan reaksi dari semua orang cukup kebingungan dan serius, "Maksud dari dunia kalian, dunia yang kalian tempati sekarang, di sebut dunia Tengah, berada di antara dunia Atas dan dunia Bawah. Dan di tiga dunia yang berbeda ini, ada banyak jenis mahkluk hidup dengan ras dan gen yang berbeda. Mungkin kalian tidak akan percaya, ada manusia bersayap seperti burung? Manusia bertanduk seperti iblis, macan bertubuh separuh gagak, dan tumbuhan pemakan manusia."


Asha yang bereksi cukup berbeda lebih awal, mendengar penjelasan Shua Xie membuat kepalanya pusing. Dia hanya tidak mengerti, apa yang sebenarnya dijelaskan Shua Xie, terlalu berbelit-belit dan sulit dipercaya.


"Gadis muda, ucapanmu membuat kepalaku pusing. Bagaimana langsung ke intinya saja?" sahut Asha.


"Ah ... begitu?" Shua Xie tersenyum untuk sesaat, "Baiklah, langsung ke intinya, siapa yang menyerang dan kenapa mereka menyerang? Akan kujawab. Mereka adalah pasukan dari dunia Atas, alasan mereka menyerang sebab ingin menguasai dunia Tengah dan mengendalikan kalian seperti budak," jelas Shua Xie membuat ke empat tamu itu terkejut sebab sulit mempercayai omongannya.


Shua Xie tersenyum lagi, "Mereka memang tidak bertanduk, tapi hati mereka tidak jauh berbeda dengan hati iblis." Shua Xie memandang semuanya lagi, "Jumlah mereka sangat banyak, dan ditambah lagi mereka semua sangat kuat. Mereka seorang Kultivator."


"Kultivator?" sahut Kou Lyan sembari memberikan ekspresi kebingungan.


Shua Xie menatap pria tua itu, "Kultivator tidak jauh berbeda seperti Pendekar. Hanya saja kekuatan mereka jauh di atas Pendekar, atau bahkan tidak pernah terbayangkan di kepala kalian," jelas Shua Xie.


"Hah ... ucapanmu tidak masuk akal. Jika mereka memang hanya sekumpulan pasukan, kami juga memiliki pasukan, bukankah sudah cukup bagi setiap negara untuk melindungi wilayah masing-masing?" sahut Rokuro sembari berdecak pelan.


Shua Xie menghela nafas pelan, sungguh Shua Xie yakin, rapat ini akan menjadi rapat panjang dan perlu kesabaran besar seumur hidupnya. Jika mereka bukan seorang pemimpin, mungkin Shua Xie bisa saja menjelaskan dengan sedikit kasar. Shua Xie sebenarnya bisa saja tidak peduli hidup mati para pemimpin itu, lagi pun mati hidupnya mereka bukan urusannya, jika bukan karena mereka hanya manusia biasa dan memiliki banyak rakyat tidak bersalah harus dilindungi, Shua Xie tidak akan repot-repot membantu mereka.


Shua Xie meletakkan ke dua tangannya di meja, "Kekuatan mereka tidak sebanding dengan pasukan kalian, bahkan jika petarung terbaik kalian telah keluar, tidak akan seorang pun dari kalian selamat jika tidak mendengarkan saranku," jelas Shua Xie lagi, masih dengan nada serius.

__ADS_1


"Nak, aku rasa kau terlalu meninggikan mereka. Jika pun mereka memang kuat dan banyak, kita bisa lebih banyak jika bergabung," balas Kou Lyan dengan nada sedikit meragukan. Wajar saja jika dia meragukan apa yang diucapkan Shua Xie, pasalnya mereka tidak pernah melihat seperti apa ganas dan berbahayanya pasukan dunia Atas.


Shua Xie terdiam sesaat mendengarkan balasan Kou Lyan, tampaknya Shua Xie paling enggan mengatakan bagian dari terbaiknya di sini, tapi percayalah ketika dia mengatakan ini, para tamu itu bisa saja membalasnya lagi dengan beribu pertanyaan, "Bahkan jika kalian semua bergabung tidak akan cukup untuk menghentikan mereka."


Apa yang Shua Xie bayangkan terjadi, seketika pandangan para tamu terhadapnya berubah terlihat meragukan atau bahkan menganggap Shua Xie terlalu berlebihan.


"Nak-"


"Karena mereka seorang Kultivator," sela Shua Xie memotong ucapan Kou Lyan.


Untuk sesaat terjadi keheningan di antara mereka semua, tampak sebagian mencermati sedangkan Feng Kim berkeringat dingin mendengarkan Shua Xie menjelaskan kepada para pemimpin lain. Cukup takut jika para pemimpinnya itu tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan Putrinya, apalagi sampai membuat mereka semua marah dan murka.


"Berikan kami contoh jika mereka memang kuat seperti yang kau katakan, jika memang benar, aku akan mempercayaimu." Kou Lyan menatap Shua Xie tajam, memperlihatkan tatapan keseriusan di sana. Hatinya sempat terguncang mendengar penjelasan gadis di depannya, tapi ... tanpa adanya bukti sulit baginya untuk mempercayai cerita seperti itu.


Asha mengangguk sekali, "Benar, jika ada bukti yang benar memang mengatakan bahwa mereka sangat kuat, aku rela membiarkan kepemimpinanku sebagian juga menjadi hakmu. Atau bisa dikatakan kau memiliki drajat yang sama denganku jika datang ke negara Cuzzia," sahutnya dengan tatapan cukup bisa dipercayai.


Semua pandangan tidak bisa tidak menatap Asha, mendengar si pemimpin paling tidak suka berbagi wilayah apalagi kekuasaan memberikan tawaran seperti itu mengejutkan mereka semua terkecuali Shua Xie. Sejak kapan seorang pemimpin seperti Asha memberikan kepercayaan kepada generasi muda?


"Raja Asha, tidakkah yang anda katakan itu terlalu berlebihan?" sahut Rokuro dengan nada terkejut, telinganya hampir saja lepas mendengar seorang Asha memberikan janji seperti itu.


"Anda terlalu percaya dengan omongan gadis ini, aku bahkan meragukan setiap ucapannya." Jilie Chen mendengus pelan seraya menatap Shua Xie dengan pandangan tidak suka, meskipun begitu Jilie Chen tidak bisa secara terang-terangan tidak menyukai Shua Xie mengingat status gadis itu adalah Putri dari Kaisar Feng Kim.


Kou Lyan memberikan tanggapan sedikit berbeda, dia tertawa kecil mendengar ucapan Asha, "Hahaha ... aku tidak menyangka akan ada saatnya Raja Asha memberikan kepercayaan kepada generasi muda. Mungkinkah pandangan anda pada generasi muda telah berbeda," ucap Kou Lyan dengan gelak tawa kecil. Ini adalah momen yang jarang Kou Lyan bisa temukan, tentu saja Kou Lyan tidak akan menyia-nyiakan apalagi melupakannya.


Pipi Asha mulai memerah, antara malu dan kesal mendengar balasan dari ke tiga pemimpin itu. Asha merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya, kenapa mereka sebegitunya menanggapi ucapannya, "Hemp ... salah benarnya ini adalah urusanku. Lagi pula, aku bisa melihat tidak ada satu pun kebohongan dari gadis itu."


Shua Xie cukup tersanjung mendengar pembelaan dari Asha, berpikir paling tidak ada beberapa orang mempercayai ucapannya meski meminta adanya bukti untuk menguatkan ucapannya. Shua Xie memaklumi permintaan mereka, lagi pun siapa pun juga akan meminta bukti seperti itu jika mereka mendengar ucapan seperti itu.


Sesaat Shua Xie mengulum senyum tipis, "Baiklah, akan kutunjukkan pada kalian semua seperti apa kuat dan berbahayanya mereka." Shua Xie menyandarkan lagi tubuhnya, sembari melipat ke dua tangannya di depan dadanya. Bersamaan dengan itu, semua kursi yang mereka duduki tiba-tiba terangkat ke atas. Entah bagaimana bisa dan dari mana munculnya akar besar berwarna cokelat mengkilap, mengangkat mereka melambung tinggi ke udara.


Hal itu tentu saja mengejutkan semua orang bahkan Feng Kim sendiri. Setelah lama kursi mereka bergerak ke atas dan berhenti tepat sesaat jarak antara kepala mereka dengan langit-langit ruang tinggal beberapa jengkal saja.

__ADS_1


Tidak hanya berhenti di situ, lima akar lain muncul lagi di tanah lalu mereka meruncingkan ujung akar mereka menjadi seperti senjata tajam. Akar seperti senjata itu bergerak-gerak seperti benda hidup di sekitar Shua Xie, siap kapan saja menerima perintah membunuh siapa saja yang tuannya kehendaki.


"Ini adalah sedikit contoh seperti apa kuat dan bahayanya mereka," jelas Shua Xie di akhiri dengan senyuman cukup sinis. Bisa Shua Xie lihat para tamu sedang terkejut di kursi mereka masing-masing, bahkan dengan posisi begitu tegang dan mata membulat sempurna. Mungkin karena semua ini terjadi begitu cepat dan mengejutkan mereka.


__ADS_2