
Yey! selamat aku update lagi 🎉
____________________________
Sekarang, di hadapan banyak orang, Lou Yue memimpin pasukan perangnya. Sebenarnya dia bisa saja menunggu di posko utama mereka yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari kerajaan Xuilin, namun teringat dia akan perintah Ayahnya untuk segera menangkap Putri Langit. Jadi, mau tidak mau dia harus ikut terjun ke medan perang demi menangkap Putri Langit itu sendiri. Lou Yue tidak mengizinkan siapapun menangkap Putri Langit selain dirinya. Entah alasan apa sampai Lou Yue berkata seperti itu.
"Bunuh siapa saja yang menghalang tugas kalian, sementara para rakyat wanita, anak kecil dan orang tua lansia tangkap dan sekap di gua. Sisanya, bunuh." Begitu ucapan Lou Yue pada semua pasukannya, terutama pada satu Jenderal Bulan yang bersamanya.
Mereka semua menjalan perintah tanpa bertanya kenapa Lou Yue memilih menahan para rakyat di dunia Tengah. Kenapa tidak menahan para bangsawan atau lainnya? Mereka mungkin lebih bermanfaat dari pada rakyatnya.
Setelah semua pasukan menyerbu ke kerajaan Xuilin. Lou Yue terbang menuju timur kerajaan Xuilin dengan kecepatan tinggi. Dan tidak butuh waktu lama, dia menemukan targetnya sedang bertarung melawan para pasukan musuh.
"Ketemu." Lou Yue mengulum senyum tipis. Dia pun segera mendekati Shua Xie. Tapi sialnya Shua Xie menyadari kehadirannya, hingga secara refleks dia menghindar saat Lou Yue berusaha meraihnya.
"Lama tidak berjumpa, Lou Yue?" Shua Xie tersenyum sinis dengan nafas yang sedikit menderu cepat. Mungkin efek banyaknya pasukan musuh yang terus menerus dia bunuh.
"Ah, apa kau merindukanku, Shua Xie?" Lou Yue tersenyum hangat. "Tapi sambutanmu terasa sedikit menusuk."
"Cih! Aku tidak sudi merindukan anak dari pria jahat sepertimu."
"Jangan berkata seperti itu. Aku pun tak sudi merindukan wanita licik sepertimu," timpal Lou Yue tajam.
"Kau!" Shua Xie mengeraskan rahangnya. Sementara Lou Yue hanya tersenyum sinis padanya, namun sekejap senyuman itu berubah menjadi tawa kecil.
"Bercanda, aku hanya bercanda, sayang." Lou Yue terkekeh pelan, merasa sangat lucu melihat ekspresi geram Shua Xie terhadap dirinya. Sepertinya, dirinya selalu berhasil membuat Shua Xie marah kepadanya.
"Dasar bajingan!" Percaya atau tidak Shua Xie sudah sangat geram dan ingin segera merusak wajah tampan Lou Yue. Jika tidak mengingat kondisi saat ini, mungkin Shua Xie sudah lebih dulu menyerang Lou Yue.
"Aku tidak memiliki urusan denganmu. Datanglah lain kali jika kau ingin pertarungan di antara kita berdua." Shua Xie sudah hampir berbalik, tapi terhenti saat sebuah akar melilit kaki kanannya. Pertanyaannya, kapan akar itu meliliti kakinya? Kenapa dia tidak menyadarinya?
"Sayangnya aku tidak ingin lain hari. Seharusnya kau merasa tersanjung aku datang secara khusus untukmu. Kemarilah ...."
"Apa yang-" Shua Xie tersentak kaget tatkala akar yang membelit kakinya menariknya mendekati Lou Yue. Tentu Shua Xie melawan dengan sekuat tenaga, tapi entah akarnya yang terlalu kuat atau Shua Xie-nya yang terlalu lemah, dia tidak sanggup melepaskan dirinya dari akar tersebut. Jadilah dia berada dalam genggaman Lou Yue dalam sekejap saja.
"Lepaskan aku bajingan!" Shua Xie melayangkan pukulan yang tentunya sudah dia alirkan Qi besar. Tapi, Lou Yue, dengan ajaibnya menangkap kepala tinju Shua Xie seperti menangkap kepalan tinju anak bayi.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, kekuatanmu, masih belum cukup kuat untuk melawanku." Lou Yue tersenyum manis yang mungkin lebih cocok dikatakan mengerikan. Jadi waktu itu, saat Lou Yue mencium kening Shua Xie, dia tidak berkata bohong sedikit pun tentang kekuatan Shua Xie yang masih jauh di bawahnya.
"Jangan harap kau bisa membawaku pergi!" Shua Xie segera membuka pintu dimensi kemudian masuk ke dalamnya dengan sangat cepat. Setelah itu dia menghilang dalam waktu sekejap. Lou terdiam sejenak seperti orang linglung, tapi tanpa tahu kenapa tiba-tiba dia terkekeh seperti orang kerasukan.
__ADS_1
"Ah, semakin menarik." Lou Yue menggeleng pelan sembari mengukir senyum tipis. Kemudian muncul sebuah pintu dimensi serupa dengan milik Shua Xie. Dia pun memasuki dimensi itu dan lenyap dalam sekejap.
***
Trang!!
"Cih! Mereka terlalu banyak, selain itu kekuatan mereka tidak setara dengan pasukan kita," ucap Feng Xian pada Feng Kim. Feng Xian akui kekuatan para pasukan musuh memang sangatlah kuat, terlebih lagi mereka semua merupakan Kultivator tingkat tinggi yang tentunya tidak setara dengan mereka manusia sederhana.
"Tetap fokus, jangan sampai mereka memanfaatkan kelemahan," timpal Feng Kim keras. Dia tahu kekuatan musuh sangat kuat, tapi tidak ada gunanya meruntuki hal tersebut selain terus menyerang dari pada mengaku kalah. Itu lebih baik meski harus kehilangan nyawa.
Srahs!
Satu tebasan pedang berhasil melumpuhkan 3 Kultivator, untunglah meredian dan dantian Feng Kim telah disembuhkan oleh Shua Xie, jika tidak, kemungkinan besar Feng Kim tidak akan sanggup melawan banyaknya pasukan musuh.
"Bagaimana dengan Shua Xie? Aku tidak melihatnya sejak kita melawan para sialan ini!" teriak Feng Xian.
Feng Kim menoleh kiri dan kanan, ia pun baru tersadar jika Shua Xie sudah tidak ada di dekatnya. Di mana Shua Xie berada?
"Aku punya firasat buruk akan hal ini." Feng Kim menyabit pedangnya yang sudah dialiri Qi tinggi. Dan dalam sekejap saja 3 Kultivator yang hendak menyerangnya tewas seketika dengan tubuh yang sudah terbelah dua.
"Aku akan mencarinya, kau tahan sebentar mereka agar tidak masuk ke istana," ucap Feng Kim pada Feng Xian.
Feng Kim bergegas pergi, berlari menuju barat tempat kediaman Shua Xie. Firasatnya mengatakan Putrinya itu ada di sana. Semoga saja.
Tapi ....
Belum jauh Feng Kim berlari, tiba-tiba saja ada seorang pemuda menghalang jalannya. Tampaknya pemuda itu memang sudah menunggu kedatangan Feng Kim, terlihat jelas dari gayanya dan sikapnya yang sudah terlihat bosan menunggu.
"Menyingkirlah anak muda Jika kau tidak ingin mati," ucap Feng Kim penuh penekanan. Dia tidak berniat bertarung dengan pemuda itu karena di pikirannya saat ini hanyalah Shua Xie.
Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum miring pada Feng Kim. Seakan tak menyangka ada seseorang berkata seperti itu padanya. "Pak tua, seharusnya aku yang berkata seperti itu. Segeralah lenyap dari pandanganku sebelum aku membunuhmu. Karena aku, tidak senang bermain dengan pria tua sepertimu."
"Cih! Anak muda jaman sekarang memang tidak tahu sopan santun. Kalian pikir karena siapa kalian ada di dunia? Beginikah cara kalian menghormati yang tua?" decak Feng Kim tajam sambil mengalirkan Qi-nya pada pedangnya. Feng Kim yakin, pemuda itu bukan Kultivator biasa, bisa dirasakan dari auranya uang begitu pekat. Dan bisa saja pemuda itu bisa tiba-tiba menyerangnya.
Sring!
Pemuda bermata hitam legam seperti rambut panjangnya membuka kipas yang dia pegang dalam sekali kibas. Kemudian menutup sebagian wajah tampannya dengan kipas tersebut. Di balik kipas itu dia tersenyum penuh arti.
"Terkadang, sikap tidak sopan santunnya para anak muda datang dari sikap mereka yang tua, mereka yang tidak menghargai para anak muda. Terlebih ketika mereka sering meremehkan kami para kaum anak muda," balas pemuda itu santai. Bahkan terdengar sedang merendahkan para kaum tua.
__ADS_1
Fiks jangan dicontoh!
"Aku sedang tidak ingin berdiskusi denganmu," timpal Feng Kim dingin. Dia tidak peduli tentang pembicaraan pemuda itu, yang dia pikirkan hanyalah segera menemukan Shua Xie sebelum seseorang yang tak diinginkan menemui Shua Xie lebih dulu.
"Aku juga tidak ingin, tapi kau yang duluan mengajakku," balas pemuda itu enteng.
Feng Kim menahan rasa kesalnya yang mulai mendarah daging, jika tidak mengingat Shua Xie mungkin dia sudah menghajar pemuda itu habis-habisan. Emang ya, anak muda tuh selalu bikin kesel para kaum tua.
"Menyingkirlah!" tegas Feng Kim setengah keras sambil menahan emosinya.
Pemuda itu tersenyum miring. "Tapi aku tidak mau."
"Menyingkir sebelum kau menyesal anak muda." Feng Kim semakin menekan nada bicaranya. Bahkan tatapan matanya terlihat sangat tak ingin berdebat, itu artinya jangan buat dia marah.
"Tadinya aku tidak ingin bermain denganmu, Pak tua. Tapi sekarang aku berubah pikiran, sepertinya bermain sejenak denganmu sedikit menyenangkan, jadi jangan kecewakan ekspektasiku padamu, Pak tua." Pemuda itu menurunkan kipasnya. Tampaklah semirik senyum meremehkan di wajah tampannya.
"Kau!"
Bam!
Untung! Untung Feng Kim cepat menghindar saat serang Qi berupa angin yang melesat cepat ke arahnya. Jika tidak cepat, sudah pasti tubuhnya terbelah dua, ini pun meski sudah menghindar dia masih mendapat sayatan luka kecil di pinggangnya.
Feng Kim menatap pemuda itu tajam. Di saat dia sedang berbicara pemuda itu tiba-tiba mengibas pelan kipasnya, dan tanpa bisa diduga serang Qi berupa angin muncul.
'Apa kipas itu merupakan senjata spirit?' tanya Feng Kim dalam hatinya sambil menatap kipas yang dipegang pemuda itu. Bentuknya memang sederhana, tapi siapa sangka kipas sederhana ini mampu mengeluarkan serangan berbahaya.
Pemuda itu berdecak pelan. "Tidak ada waktu untuk kagum pada kipasku ini. Bagaimana jika kita segera memulai pertarungan. Aku telah bosan berbicara terus padamu."
______________
**A/N : Kaum muda oo kaum muda 💣
Anjai baru buka komen dah ribut sama angka, pfftt! ngakak banget 😂 apalagi banyak yang nembak usiaku di atas 25 tahunan, aku gak bisa berhenti ketawa gegara kalian, bahkan Ibuku sampe teriakin aku kayak orang gila!😂
pertanyaanku setua itukah diriku? 🙃 hehehe gak salah sih kalian nebak usiaku di atas 25 sampe 35 karena gak semua dari kalian mengenal diriku yang kuece ini 😎😂 (pede banget si Author ngeselin ini_-) oke pokoknya aku up lagi karena ada yang berhasil nebak meski dia nembak beruntun.
usia sebenarnya aku tuh 17, cuman tanggal 20 juli nanti udah 18 🙎 ckckck mau menjelang tua diriku ini. sebagai bonus jawaban kalian bener, aku mau liatin kalian visual asli Menma 💁**
__ADS_1
Cantik gak? kalau gak ya gak papa 🙃 oh iya Menma belom muncul juga di medan perang, ke mana ya dirinya itu?