Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 133


__ADS_3

"I-ini! Kekuatan apa ini!" pekik Rokuro keras, rasa kagetnya tidak bisa dia tutupi, pasalnya ke dua matanya melihat sesuatu yang sangat mengejutkan dirinya.


Tidak hanya Rokuro, semua orang yang ada di ruangan itu juga sama terkejutnya. Sebuah akar tiba-tiba saja muncul dan mengangkat mereka jauh ke atas, siapa yang tidak akan terkejut?


Cukup puas membuat para pemimpin itu terkejut, Shua Xie kembali menurunkan mereka, dan setelah semua turun, ke empat pemimpin itu langsung berdiri menjauhi kursi, mungkin lebih tepatnya menjauhi Shua Xie.


Di mata mereka, Shua Xie adalah penyihir.


"Kau! Penyihir!?" sahut Kou Lyan setelah menjauh, tatapannya terhadap Shua Xie sangat mengintimidasi, berjaga-jaga jika Shua Xie mendadak menyerang menggunakan kekuatan aneh itu lagi.


"Feng Kim bisakah kau jelas hal ini?" Jilie Chen menoleh ke pria yang juga berdiri tidak jauh dari Shua Xie, tampaknya pria itu juga cukup terkejut namun berusaha untuk tenang, "Kau memiliki Putri seorang penyihir, katakan kepada ilmu sesat siapa kalian menyembah!" Jilie Chen yakin, Feng Kim menggunakan aliran sesat membuat anaknya menjadi kuat, dan pastinya kekuatan itu digunakan untuk kejahatan.


Pemikiran Jilie Chen terlalu melampaui batas bukan!


Asha sudah menarik pedangnya, sengaja dia bawa untuk berjaga-jaga jika terjadi hal tidak diinginkan, dan ternyata kejadian itu benar terjadi. Asha mengarahkan pedangnya kepada Shua Xie, tidak menyerang tapi waspada jika akar itu tiba-tiba muncul lagi.


Melihat reaksi mereka begitu berlebihan, ingin rasanya Shua Xie mentertawakan mereka tapi tidak tega juga mengingat status mereka jauh lebih tinggi darinya, "Haih ... bukankah kalian memintaku memberikan contoh seberapa kuatnya mereka. Tapi sekarang kalian justru mengklaimku mendalami ajaran sesat? Lucu sekali." Shua Xie mendengus pelan, "Lalu kenapa jika aku belajar ajaran sesat, pada intinya aku hanya menunjukkan kekuatan para pasukan nanti." Shua Xie memberikan tatapan menantang membuat para tamu itu mengernyit.


Ke empat tamu itu tidak bisa berkata apalagi mendalih pernyataan Shua Xie. Memang benar mereka yang meminta Shua Xie memberikan bukti, hanya saja mereka tidak menyangka bukti yang akan diberikan gadis itu di luar pemikiran mereka.


Shua Xie terlihat lemah dan baik, dari rupa wajahnya yang elok wajar saja akan banyak orang menilai dia adalah seseorang yang baik. Tapi bukankah ada pepatah mengatakan, cantik di luar belum tentu cantik di dalam. Kecantikan hanyalah topeng kehidupan, sedangkan perasaan dan pemikiran siapa bisa mengetahuinya?


"Jadi maksudmu mereka memiliki kekuatan yang sama sepertimu? Lalu bagaimana caranya kita mengalahkannya. Kami tidak memiliki kekuatan aneh seperti itu." Setelah memahami keadaan, Kou Lyan sadar kekuatan yang dimaksud Shua Xie sangat jauh dari mereka para manusia biasa. Apa yang bisa mereka lakukan? Ikut berperang sama saja mereka mengantar nyawa secara suka rela. Mau tidak mau Kou Lyan harus mendengarkan ide dari Shua Xie jika ingin selamat.


Asha dan Rokuro menurunkan kewaspadaan mereka terhadap Shua Xie setelah memperhatikan gadis itu tidak ingin berniat apapun selain memperlihatkan seberapa kuatnya musuh yang akan datang nanti. Meskipun kewaspadaan telah turun, tapi mereka akan terus berhati-hati, kesalahan kecil saja bisa membuat gadis itu bisa bertindak membunuh mereka sekejap saja.


"Nona, seharusnya ini pertama kalinya kita semua bertemu denganmu. Membantu kami dari peperangan, aku rasa Nona Shua Xie membutuhkan sesuatu?" ungkap Asha dengan nada mengintimidasi. Sadar kalau Shua Xie tidaklah sebaik wajahnya mengingat cara gadis itu memperlakukan mereka tadi di luar tata krama sebagai Putri. Seharusnya, Shua Xie memang membutuhkan sesuatu dari mereka.


Shua Xie tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya, "Aku tidak membutuhkan apapun, tapi kalian yang membutuhkan." Balasan Shua Xie tentu tidak akan semudah itu dipercaya, adakah seorang gadis sepertinya memiliki kebaikan hati begitu lapang jika bukan menginginkan sesuatu?

__ADS_1


Alasan itu cukup simple saja, Shua Xie hanya tidak bisa membuat rencana Lou Zhou berhasil. Jika yang diinginkan penjahat itu tercapai, pastinya Shua Xie akan semakin sulit mengalahkan pria itu dengan cepat. Mau bagaimana pun, Shua Xie harus mengagalkan rencana mereka. Saat ini hanya itu rencana Shua Xie.


Tapi, Shua Xie juga harus memberikan alasan yang tepat agar ke empat pemimpin itu bisa mempercayainya lebih dalam lagi. Shua Xie mengangkat ke dua kakinya ke meja, membuat pandangan semua mata membulat kaget, "Kalau memang kalian sangat ingin tahu, aku tidak akan sungkan." Shua Xie menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga lalu tersenyum, "Aku hanya menginginkan kemenangan. Melawan sendiri tentu akan sulit kumenangkan."


***


Setelah lama gadis itu menunggu tidak jauh dari pintu kayu, akhirnya pintu itu terbuka, mata gadis itu dikejutkan oleh sesosok gadis seusianya. Yang lebih mengejutkannya lagi, gadis itu sedang bercanda-canda kecil dengan para tamu penting itu. Memanggil api kebencian dari gadis yang menatapnya membesar dan tanpa sadar gadis itu mengepalkan tangannya.


'Shua Xie jalang! Apa yang dia perbuat ikut campur rapat penting?' tanya gadis itu dalam hatinya penuh kekesalan.


Sadar kalau Shua Xie tampaknya sudah mengambil hati para tamu itu, gadis itu segara keluar dari tempat persembunyiannya diikuti dengan dua pelayan di belakangnya. Gadis itu berjalan mendekati rombongan Shua Xie, dan setelah berdiri di depan para tamu, gadis itu memberi salam.


"Salam dari Putri Utama untuk para Raja." Gadis bermata hitam pekat itu tersenyum lembut, sangat lembut seperti perangainya.


"Putri Utama? Putri Shan Qiayu bukan?" tebak Asha dengan nada ramah. Dia ingat calon Putri Utama di kerajaan Xuilin bernama Wang Xinian. Kabarnya Putri itu memiliki bakat sastra dan musik yang lumayan.


Wang Xinian tersenyum lagi sembari mengangguk, "Benar Yang Mulia, Raja Asha." Nada bicaranya yang lembut membuat hati Asha seperti tersayat kapas. Bukankah kelemahan pria juga termasuk suara wanita yang begitu mendayu?


Wang Xinian menoleh kepada Rokuro, senyuman khasnya itu tidak lepas dari bibirnya, terlihat lebih cantik dan anggun, "Untuk melepas lelah setelah rapat, kami sudah menyiapkan acara makan siang bersama untuk menguatkan lagi rasa kepercayaan," ucapnya ramah.


'Sekali ular tetaplah ular, bahkan di hadapan Feng Kim, dia tidak memberi muka Ayahnya.' Shua Xie mendengus dalam hati melihat trik yang dimainkan Wang Xinian. Tapi Shua Xie tidak ingin melakukan apapun, dia masih ingin melihat apa yang akan dilakukan Wang Xinian.


Feng Kim sebenarnya ingin memarahi Wang Xinian sebab muncul tiba-tiba tanpa izin darinya, kapan Feng Kim memerintahkan Wang Xinian harus datang jika perjamuan telah disiapkan. Tapi mengingat tamu pentingnya ada di sini, Feng Kim akan memaklumi tindakan Putrinya itu demi mengajak citra keluarganya.


"Jika Putriku sudah mengatakan seperti itu, mari kita ke perjamuan siang," ucap Feng Kim sambil mengulum senyum tipis.


Semua mengiyakan ajakan Feng Kim, lagi pun ke empat tamunya itu sudah melakukan rapat hampir dua jam tanpa dijamu apapun, Feng Kim sengaja melakukan itu karena rapat ini sangat penting dan tidak boleh diketahui siapapun. Mereka pun menuju ruang perjamuan, disambut beberapa pejabat dan bangsawan di sana, cukup ramai sebab tamu kerajaan Xuilin cukup istimewa hari ini. Feng Kim duduk di kursinya, dan para tamu duduk di tempat yang telah di siapkan.


Asha dapat melihat Yao Lang yang merupakan Jenderal dari kerajaannya tengah berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Yang Mulia, apakah berjalan dengan baik?" tanya Yao Lang sedikit berbisik, tidak ingin pertanyaannya didengar banyak orang.


Asha tersenyum tapi terlihat tidak bahagia, "Lumayan. Ke depannya kita akan mengalami kesulitan, peperangan kali ini sangat berbahaya," jawabnya dengan tenang.


Yao Lang terkejut mendengar hal itu, jika Asha sudah mengatakannya, berarti benar berita peperangan itu akan terjadi, "Yang Mulia ...."


"Yao Lang, ingat di mana kita sekarang? Kita bahas setelah pulang saja," sela Asha cepat tanpa menolehkan pandangannya dari meja yang kian lama makin terhidangkan oleh makanan yang dibawa pelayan.


Yao Lang sedikit tersentak, dirinya juga baru sadar, karena terlalu ingin tahu Yao Lang sampai sedikit lupa tempat dan waktu. Yao Lang segera mundur tidak ingin membuat masalah.


Setiap meja tamu telah dipenuhi dengan jamuan-jamuan mewah, tidak perlu sungkan lagi Feng Kim membuka acara dengan cukup bahagia, mungkin sebagai bentuk rasa senangnya rapat tadi cukup membuahkan hasil bagus.


"Untuk hari ini!" Feng Kim mengangkat gelas anggur miliknya dan diikuti semua orang termasuk ke empat tamu penting mereka.


"Untuk hari ini!" sahut mereka semua bersamaan.


Melihat semua orang dengan bahagia dan senangnya melahap makanan menyejukkan mata Shua Xie, tidak akan pernah dia menduga situasi seperti ini akan terjadi. Bahkan Shua Xie tidak pernah berpikir bisa sedekat ini dengan Ayah angkatnya, mengingat dulu dia sangat membenci pria itu. Di belakang Shua Xie, pelayan pribadinya menatap sedikit bingung, pasalnya Shua Xie tidak memakan atau pun meminum sesuatu.


"Nona, anda tidak ingin makan apapun?" tanya Chi Su dengan suara berbisik.


Shua Xie tidak menoleh, tapi dia mengulum senyum tipis, "Aku tidak lapar, lagi pun gelas anggurku diberikan racun di pinggir gelasnya. Tebak apa yang terjadi jika aku memegang dan meminum gelas itu?" balas Shua Xie setenang mungkin.


Chi Su terkejut mendengarnya, ada racun di gelas majikannya, berniat memberitahukan Kaisar Feng Kim tapi Shua Xie mencegatnya, "Chi Su kebahagiaan ini jangan terganggu hanya karena masalah kecil seperti ini." Ucapan Shua Xie mampu membuat Chi Su tidak bergerak dari tempatnya meski hati dan pikirannya panas ingin memarahi siapa yang tega memberi racun di gelas majikannya.


"Tapi Nona, ini sangat serius, Yang Mulia pasti akan membelamu mencari pelakunya," balas Chi Su setengah berbisik.


"Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan," balas Shua Xie dengan tenang.


'Trik yang cukup cerdik, anggurnya memang tidak beracun, tapi gelasnya hampir penuh dengan racun. Rencana seseorang ini ... aku kagum.' Shua Xie tersenyum tipis sembari menatap Wang Xinian yang tanpa sengaja juga sedang menatapnya, 'Wang Xinian tidak mungkin secerdik ini, lalu siapa yang memberikannya ide?' Pandangan Shua Xie menatap seorang gadis di dekat meja Wang Xinian, dan entah kebetulan atau memang sengaja gadis itu menatap Shua Xie dengan seringai tipis.

__ADS_1


'Heh, menarik ... seekor ayam mau bermain dengan Pheonix, sebaiknya pikirkan apa jatih dirimu di sini.' Shua Xie rasa sesuatu menarik tidak lama lagi akan terjadi, dan dia menunggu saat-saat itu terjadi.


__ADS_2