
Kekalahan Kiseki semakin memicu para murid luar beraksi, entah dengan kata-kata sengaja memprovokasi para murid dalam atau bahkan dengan sedikit tenaga ketika para murid dalam hendak menghajar mereka. Kericuhan yang ke dua kubu itu perbuat mengundang para Tetua lain berdatangan, tentunya ingin menenangkan para murid yang bertengkar.
Kejadian ini sungguh tidak Shua Xie duga, meski dia tahu perbuatannya bisa saja memicu konflik tapi Shua Xie tidak menyangka pemikirannya itu menjadi kenyataan. Shua Xie tentu tidak bisa berbuat banyak, jika dia menghentikan murid luar mereka pasti malah semakin mengganas.
'Hah ... merepotkan. Ini semua karena Tetua Besar, kuharap dia tidak melupakan janjinya meski kekacauan telah terjadi.' Shua Xie mengeluh dalam hati, sembari dia menatap para Tetua yang mulai menenangkan para murid itu.
Tepat pada saat itu, seorang perempuan naik ke atas arena, perempuan berusia tidak jauh berbeda dengan Shua Xie, memiliki sepasang mata bulat berwarna biru, rambut cokelat sepinggang, serta badan ramping yang bagus. Tapi tetap saja kecantikannya tidak sebanding dengan Shua Xie. Gadis itu berjalan mendekati Shua Xie, ketika jaraknya antara Shua Xie tinggal beberapa meter dia berhenti.
"Aku murid dalam peringkat delapan belas, Huanran, menantangmu. Apakah kau menerimanya? Jika tidak sebaiknya tarik kembali ucapanmu tentang murid dalam, dan berhentilah membuat kekacauan." Gadis bernama Huanran itu menunjuk Shua Xie dengan ekspresi wajah terlihat marah.
Berpikir Shua Xie akan ketakutan sebab Huanran sendiri yang menyatakan tantangan ternyata dugaannya itu salah, Shua Xie dengan angkuhnya tersenyum tipis dan menjawab, "Oh, jika seperti itu aku tidak perlu memanggil sebab kau datang sendiri ke sini."
Ya, tentu saja Shua Xie tidak akan menolak tantangan Huanran, justru bagus gadis itu yang lebih awal menyatakan tantangan dengan begitu Shua Xie sebagai murid luar tidak akan mendapat terlalu banyak tekanan dari para Tetua sebab telah membuat kekacauan, yang jelas dengan tantangan ini bukan hanya Shua Xie yang bersalah namun murid dalam pun juga.
Huanran mengigit bibirnya geram, meskipun dia tahu bakat Shua Xie sangat cocok menjadi murid dalam tapi tetap saja karena perbuatan Shua Xie terlalu mengundang masalah besar. Mereka selaku murid dalam tidak bisa menerima murid seperti Shua Xie begitu saja.
"Murid baru memang selalu saja membuat onar, pantas saja banyak Tetua mengeluh tentang kalian," ujar Huanran sinis.
Shua Xie tidak peduli, apakah Huanran sengaja memprovokasinya atau tidak, karena pada akhirnya Shua Xie juga akan tetap melawan gadis itu, "Kebiasaan perempuan selalu merundung dan merasa paling benar," sinis Shua Xie membalas hinaan yang Huanran lontarkan.
"Apa kau bilang!?" sahut Huanran keras merasa tersinggung akan ucapan Shua Xie.
Shua Xie tertawa kecil meledek Huanran sambil tangannya itu menutup mulutnya, "Heh! Aku pikir telingamu masih cukup sehat untuk mendengar lebih jelas."
Jangan tanya seperti apa Huanran sekarang, wajahnya memerah, ke dua tangannya mengepal kuat, tentu saja Huanran marah mendengar ucapan itu. Tidak perlu basa-basi lagi dia segera menarik pedangnya dan melesat dengan cepat ke arah Shua Xie.
Shua Xie mendengus pelan melihat Huanran menyerang ke arahnya dengan serangan seperti itu, "Ternyata para murid dalam sangat mudah diprovokasi dan selalu menganggap lawan mereka lemah. Perlu kuajari padamu murid luar tidak selemah yang kalian pikirkan." Ketika pedang Huanran sedikit lagi menyetuh wajahnya, Shua Xie menangkap pedang itu dengan ke dua harinya, menghimpit pedang itu berhenti bergerak.
Terbelalak semua orang melihat Shua Xie menangkap pedang itu dengan ke dua jari tanpa menerima luka, bahkan Huanran sang pemilik pedang pun tidak bisa menutupi keterkejutan. Namun Huanran tidak tinggal diam begitu saja, ketika pedangnya tertangkap dia segera bersalto memutari pedangnya sembari kaki kirinya melayangkan tendangan yang telah dialirkan tenaga Qi. Shua Xie jelas segera menghindari tendangan itu, meski itu hanya tendangan biasa baginya tapi Shua Xie tidak bisa menunjukkan lebih banyak lagi kekuatannya, para Tetua di pinggir arena memperhatikannya dengan tatapan serius, tampak jelas mereka kaget melihat Shua Xie mampu menahan pedang dengan ke dua jarinya.
Ketika Shua Xie menghindar, Huanran mengambil kesempatan itu menarik kembali pedangnya, dan setelah terlepas dari genggaman Shua Xie dia segera menjauh menjaga jarak.
'Dia mampu menahan senjata dengan dua jari, tidak salah dia bisa mengalahkan Kiseki dan Senlin. Tapi aku ... jangan harap kau bisa menang.' Huanran menatap Shua Xie dengan tatapan sangat tajam.
Meski pandangan Shua Xie tertuju pada Huanran, namun di ujung pandangannya dia menatap para Tetua, penasaran apakah Tetua itu akan bertindak setelah melihat kemampuan Shua Xie atau tidak. Dengan kemampuan yang Shua Xie perlihatkan tadi sudah seharusnya para Tetua sekte bergerak menghentikan pertarungan, jelas mereka tahu Shua Xie menyembunyikan kultivasinya.
Tapi tampaknya apa yang Shua Xie harapkan tidak terjadi, para Tetua itu masih saja diam menatap dirinya membuat Shua Xie sedikit bingung. Namun sejenak Shua Xie sadar kehadiran Tetua Besar di sana menghalangi para Tetua menghentikan pertarungan.
'Sudahlah, selesaikan dengan cepat saja, aku telah bosan bermain-main dengan mereka. Tapi kudengar selama ini murid dalam selalu merasa seperti Raja. Heh ... Raja apaan, akan kuajari pada mereka bagaimana rasanya dipermalukan bawahannya.' Shua Xie kembali fokus kepada Huanran, di mana gadis itu kembali menyerangnya.
Huanran memainkan pedangnya dengan cekatakan berniat melukai wajah Shua Xie dengan ujung pedangnya, tapi ... Shua Xie dengan anggunnya menghindari setiap ujung pedang yang hendak menusuk wajahnya.
"Ck! Jangan bilang kau iri dengan kecantikanku sehingga terus menyerang ke arah wajahku." Shua Xie memberikan tatapan meledek, melihat Huanran hanya menyerang wajahnya membuatnya paham, gadis itu tidak hanya marah karena keangkuhan Shua Xie tapi juga karena kecantikan Shua Xie.
"Hahaha ... kau sadar juga. Akan kurusak wajahmu itu dan biar aku yang menjadi gadis tercantik di sekte Kunlun," balas Huanran di akhiri dengan senyuman mengerikan.
"Mimpi saja!" Shua Xie langsung menangkap pedang Huanran dengan tangan kosong, lalu menarik pedang itu kuat membuat sang pemiliknya terjerembab ke depan, bersamaan dengan itu Shua Xie melayangkan tamparan dengan tangan kirinya. Sekejap saja Huanran langsung terpental keluar arena dengan wajah memerah bengkak akibat tamparan yang dia terima, bahkan dia merasa tulang wajahnya seperti tidak berbentuk lagi.
"Wa-wajahku! Aakkkhh! Wajahku hancur!" pekik Huanran sambil memegang wajahnya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang cermin kecil, entah sejak kapan dia telah mengeluarkan cermin itu.
Dengan cepat murid yang berlatih ilmu medis segera membawa Huanran ke ruangan untuk mendapat perawatan medis, tentu saja memberikan penanganan dengan wajah Huanran yang bisa dikatakan telah kehilangan kecantikannya.
Di atas arena, Shua Xie menjatuhkan pedang yang dia pegang lalu melirik ke arah Fen, di mana Tetua itu juga sedang menatapnya terkejutnya. Beruntunglah Shua Xie masih menahan kekuatan sajak Kutukan, jika tidak kepala Huanran bisa saja pecah karena tamparannya, "Tetua, apakah aku menang?" Shua Xie membuyarkan lamunan Fen lagi.
"Ah, ya, kau memenangkannya!" balas Fen cukup keras, terlalu kagum melihat kekuatan fisik Shua Xie. Tentu Fen sadar, sedari awal Shua Xie belum menggunakan kekuatan Qi dan senjata, tapi mampu membuat tiga murid jenius kalah dengan kondisi memalukan.
'Sungguh bakat yang luar biasa,' puji Fen penuh kekaguman.
Tidak hanya Fen saja yang berpikir seperti itu, bahkan Jiang Liang yang bisa dikatakan Tetua paling dekat dengan Shua Xie juga mengungkapkan kekagumannya kepada Shua Xie dalam hatinya. Ini kali pertama baginya melihat Kultivator jenius seperti Shua Xie, bertarung tanpa Qi sedikit pun.
"Siapa murid itu? Apa dia benar murid luar?" tanya seorang perempuan 40 tahunan, dia adalah Biming, salah satu Tetua di sekte Kunlun dan satu-satunya Tetua perempuan. Biming memiliki kemampuan dalam meracik racun dan juga merupakan Kultivator tingkat Jindan level awal. Sehingga kedudukannya di sekte Kunlun cukup dipandang, terlebih lagi dia adalah Wakil ketua Sekte, atau bisa disebut Tetua di bawah Tetua Besar.
__ADS_1
"Ya, dia memang murid luar, namanya Shua Xie," sahut Jiang Liang dengan nada bangga, sebab dirinya memiliki kedekatan dengan Shua Xie.
"Tampaknya Tetua Jiang cukup mengenalnya," balas seorang pria berumur di atas Biming, beda sekitar 6 tahunan. Qiaofeng, Kultivator tingkat Jenderal Emas level 7, ahli dalam ilmu pedang, dan juga mantan murid dari sekte Kunlun.
"Yang kutahu gadis itu memiliki banyak cara mengejutkanku, dia tidak hanya cantik tapi juga cerdas," balas Jiang Liang lagi masih dengan nada terdengar bangga.
"Ya, dia juga mengejutkanku. Mampu menang tanpa menggunakan Qi, aku pikir dia memiliki kekuatan fisik hebat, atau mungkin dia menyembunyikan basis kultivasinya," sahut Dongxue dengan nada tenang.
Pandangan pria berambut merah menoleh ke arah Dongxue, ya dia adalah Houlang, Tetua yang paling sering bercanda, "Baru kali ini aku melihat si tua Dong tampak serius, mungkinkah kau tertarik dengan gadis itu? Aku ingat dialah gadis yang meminta plakat murid dalam ketika berhasil melewati seleksi awal di luar sekte." Houlang takjub, gadis yang dulunya dia padang sebelah mata kini membuka lebar matanya, sekarang Houlang baru sadar dia terlalu banyak meremehkan seseorang dari basis kultivasi.
"Dan gadis itu juga yang membuat seisi sekte Kunlun gempar kemarin bukan? Apa aku benar?" sahut pria cukup tua, dikenal dengan Tetua Wang, atau Tiaowang. Tetua alkemis di sekte ini, meski hanya alkemis tingkat menengah tapi kemampuannya cukup diakui.
"Kau benar Tetua Wang, dialah gadis yang memukul murid Diqiu, namun dia melakukan itu juga karena ada alasan, Diqiu lah yang memaksa gadis itu menghajarnya," sahut Jiang Liang membalas pertanyaan Tiaowang.
"Heh ... Ini perasaanku saja atau kalian juga merasakan kalau Tetua Jiang sangat senang dengan gadis itu. Mungkinkah kau menyukainya? Ingat Jiang, kau sudah tua dan memiliki istri serta cucu, jangan berpikir gadis itu mau denganmu." Melihat Jiang Liang terus bangga membahas tentang Shua Xie membuat Houlang curiga, mungkin saja Jiang Liang menyukai gadis itu.
"Kaparat kau Houlang! Mana mungkin aku menyukai wanita muda, aku bahkan menganggapnya seperti putriku sendiri. Asalkan kau tahu, gadis itu sedang bertaruh dengan Tetua Besar," sahut Jiang Liang menjelaskan. Yang benar saja dia menyukai Shua Xie? Hem! Bahkan membayangkan pikiran kotor seperti itu saja tidak pernah, bagaimana bisa dia menyukai Shua Xie. Jiang Liang hanya bangga memiliki murid berbakat seperti Shua Xie di sekte Kunlun, entah kenapa dia merasa sekte Kunlun akan bersinar di masa depan dengan adanya murid seperti Shua Xie.
Penjelasan Jiang Liang barusan mengejutkan semua Tetua di dekatnya, "Apa bertaruh dengan Tetua Besar!?" sahut 5 Tetua itu bersamaan dengan wajah sangat terkejut. Tepat setelah itu mereka beralih menatap Tetua Besar yang berdiri tidak jauh dari mereka, jelas ingin menanyakan kapan dan apa yang Tetua Besar pertarungan dengan gadis itu.
Tetua Besar hanya berdehem pelan tanpa menoleh ke 5 Tetua yang menatapnya penasaran, bertingkah seolah dia tengah fokus menatap Shua Xie di arena sana meski sebenarnya dia juga menguping pembicaraan para Tetua itu.
'Apa yang dipikirkan Tetua Besar sehingga dia membuat taruhan kepada gadis itu?' Inilah yang menjadi pertanyaan ke 5 Tetua itu sembari mereka menatap Tetua Besar penasaran.
***
Suasana menjadi lebih panas setelah Shua Xie berhasil mengalahkan Huanran, dan beberapa jam kemudian Shua Xie berhasil mengalahkan sepuluh murid dalam berperingkat 20-11. Meski Shua Xie memenangkan pertarungan itu, percayalah Shua Xie hampir mati rasa, melawan dengan fisik saja tidak cukup, bahkan otaknya juga harus berpikir keras melawan setiap lawan di mana para lawannya menggunakan seluruh tenaga mereka.
Murid luar semakin menggila, keberhasilan Shua Xie mengalahkan 10 murid dalam berperingkat membuat mereka bangga, sebagai sesama murid luar tentu menjadi kebanggaan jika di antara mereka akan mampu mengalahkan para murid dalam berperingkat, terlebih lagi murid luar yang menaruh dendam kepada murid dalam kini bisa membalas mereka dengan penghinaan ini.
Sedangkan para murid dalam telah menelan rasa malu mereka sendiri, bahkan beberapa dari mereka memaki murid dalam berperingkat tidak mampu mengalahkan seorang murid luar. Bukankah reputasi mereka sebagai murid dalam berperingkat sangat dipandang? Tapi kenapa mengalahkan satu murid luar saja tidak mampu, apakah itu yang disebut murid jenius sekte Kunlun? Masa bodoh murid jenius, para murid dalam membenci senior berperingkat mereka.
Karena situasi juga semakin mencekik murid dalam berperingkat, mau tidak mau mereka harus membalikkan keadaan agar para murid tidak semakin membuat kekacauan. Qixuan yang awalnya tenang berpikir para murid dalam di bawah peringkat mampu mengatasi masalah itu ternyata tidak, memaksa wajah tenangnya berubah kesulitan.
"Ya, dia temanku, tidak lebih tepatnya aku menganggapnya sebagai Kakakku." Xingxing menjawab sambil menatap Shua Xie yang berdiri di atas arena, decak kagumnya kepada Shua Xie semakin besar setelah dia menyaksikan betapa hebatnya Shua Xie, 'Tampaknya aku memang telah meremehkan Kak Shua.' Xingxing akhirnya sadar kenapa Shua Xie begitu yakin bisa memenangkan pertarungan, ternyata memang Xingxing saja yang terlalu meremehkan Shua Xie.
'Aku lega Kak Shua tidak apa-apa,' ujar Xingxing tenang dalam hati sambil dia tersenyum manis.
Melihat Xingxing tersenyum, Qixuan juga mengulum senyum tipis, "Tampaknya Putri telah menemukan seseorang yang berarti?"
"Seseorang berarti?" Xingxing merasa bingung dengan kalimat itu, namun beberapa detik kemudian dia sadar makna dari kalimat itu, "Ya, sepertinya begitu." Lanjutnya lagi dengan senyuman hangat.
"Aku turut senang jika Putri telah menemukannya." Qixuan beranjak berdiri, berjalan mendekati pagar pendek pembatas lantai bertingkat itu. Qixuan menggenggam erat pagar, mengumpulkan rasa kesalnya padanya genggaman tangannya, "Tapi sepertinya aku harus turun tangan sekarang, mau bagaimana pun kericuhan ini harus dihentikan. Aku harap Putri tidak mempermasalakan aku melawannya."
Tentu saja Xingxing terkejut mendengar ucapan Qixuan, dia tahu jelas kalau Qixuan merupakan murid paling berbakat di sekte Kunlun, bahkan kejeniusannya diakui seluruh Tetua sekte Kunlun termasuk Tetua Besar. Xingxing tidak yakin apakah Shua Xie bisa mengalahkan Qixuan atau tidak.
"Ini." Xingxing terdiam sesaat, dia juga tidak memiliki alasan melarang Qixuan menantang Shua Xie mengingat peraturan sekte memperbolehkan menantang murid selagi murid tersebut belum menantang siapapun, dan kebetulan sekali Qixuan sampai sekarang belum menantang murid mana pun, jadi dia bebas menyatakan tantangan kepada Shua Xie, "A-aku tidak memiliki hak menghentikanmu tapi kuharap kau tidak membuatnya terluka parah, dia seseorang yang berarti bagiku." Xingxing sadar selain memohon agar Qixuan tidak membuat Shua Xie terluka parah itu sudah lebih dari cukup.
Qixuan tersenyum tipis, "Tentu saja aku tidak akan melukai orang terdekatmu, Putri."
***
Semua murid luar terkejut melihat Qixuan sang murid dalam peringkat pertama turun dari paviliun Xionglue. Apalagi melihat Qixuan berjalan menuju arena, tentu saja mereka tahu apa yang akan dilakukan Qixuan terhadap Shua Xie, pasti menyatakan tantang demi memperbaiki nama baik murid dalam.
Shua Xie mengerutkan keningnya melihat seorang gadis naik ke atas arena, awalnya Shua Xie tidak mengenal gadis itu namun setelah telinganya menangkap kalau gadis itu adalah murid dalam peringkat pertama, Shua Xie sedikit terkejut, terkejut sebab tidak menyangka sang peringkat pertama akan dengan suka rela turun dari paviliun Xionglue.
'Kupikir dia akan tinggal diam saja,' ujar Shua Xie dalam hatinya.
Sebelum Qixuan menyatakan dia akan menantang Shua Xie, terlebih dahulu dia memberi hormat kepada Tetua di dekat arena sebagai bentuk dia menghormati keberadaan sosok itu sebelum bertarung, tidak seperti sepuluh murid dalam berperingkat sebelumnya, main serang tapi tidak menunjukkan sopan santun kepada para Tetua.
"Ini sedikit serius, Qixuan telah turun tangan, pastinya dia tidak akan melepaskan murid Shua Xie," ungkap Tiaowang dengan nada sedikit cemas. Ya, dia tahu seberapa besarnya potensi Qixuan dan tentu saja tidak sebanding dengan Shua Xie.
__ADS_1
Meski pun begitu, Jiang Liang masih percaya Shua Xie mampu mengatasinya, "Murid Shua Xie pasti bisa mengalahkan Qixuan, buktinya dia telah mengalahkan sepuluh murid dalam berperingkat dalam waktu singkat," sahut Jiang Liang penuh percaya diri.
"Heh! ... apa kau lupa Jiang Liang? Qixuan bukan murid sembarangan dia-"
"Aku tahu, tapi aku yakin murid Shua bisa menanganinya." Jiang Liang menyela ucapan Qiaofeng cepat.
"Sudahlah, semuanya akan kita lihat setelah mereka bertarung." Biming menengahi Jiang Liang dan Qiaofeng, dia juga sedikit yakin dengan kemampuan Shua Xie namun mengingat lawan Shua Xie kali ini berbeda dari murid lainnya, Biming tidak sepenuhnya berharap Shua Xie akan keluar sebagai pemenang.
"Bagaimana jika kita bertaruh Tetua Jiang? Jika murid yang kau bela itu menang aku akan memberimu uang lima puluh tael perak, tapi jika Qixuan menang kau harus membayarku lim puluh tael perak," ujar Qiaofeng, sengaja dia mengusulkan taruhan seperti ini karena dia tahu Jiang Liang begitu percaya dengan Shua Xie. Jika Shua Xie kalah dia akan mendapat untung.
"Tentu saja, aku bertaruh Shua Xie akan menang!" sahut Jiang Liang cepat menyetujui taruhan yang Qiaofeng berikan. Sedangkan 4 Tetua lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Jiang Liang dan Qiaofeng.
Kembali kepada Shua Xie, dia masih tampak tenang meski Qixuan telah naik ke atas panggung. ketenangannya itu membuat para murid luar yakin kalau Shua Xie mampu mengalahkan Qixuan.
Qixuan tersenyum kepada Shua Xie sebelum akhirnya dia memberi hormat sebagai sesama pertarung, tradisi ini memang ada tapi tidak semua para Kultivator menerapkannya. Melihat Qixuan memberi hormat, Shua Xie juga segera melakukan hal yang sama meski dirinya sempat terkejut dengan sikap sopan yang dimiliki Qixuan.
"Murid Qixuan menantang murid Shua Xie," ucap Qixuan lembut, bahkan dia tidak menyebutkan dirinya sebagai murid dalam peringkat pertama membuat Shua Xie semakin terkejut.
"Ya, aku menerima tantang dari Senior Qixuan," balas Shua Xie cepat dengan senyuman kaku, 'Aku tidak menyangka ternyata dia memiliki sikap seperti ini, aku pikir semua murid dalam berperingkat memiliki sifat sombong.' Shua Xie memuji sikap Qixuan yang begitu rendah hati.
Tidak perlu banyak basa-basi lagi Qixuan segera menarik pedangnya, namun melihat Shua Xie tidak menarik pedang di punggungnya, Qixuan mengernyit, "Murid Shua Xie tidak ingin menarik senjata?"
"Ah, ini ... aku tidak memerlukannya." Shua Xie segera membalas, bukan tidak memerlukan tapi karena dilarang menggunakan.
Qixuan paham, dia pun juga menyarungkan kembali pedangnya, agar pertarung adil Qixuan juga tidak akan menggunakan pedangnya, "Jika seperti itu, aku juga tidak akan menggunakan senjata. Tapi kuharap murid Shua Xie mengerahkan seluruh kemampuan karena aku tidak akan sungkan lagi melihat kemampuanmu sebelumnya."
"Oh, tentu." Shua Xie tersenyum tipis, meski dia telah berkata seperti itu tetap saja Shua Xie tidak akan mengerahkan seluruh kekuatannya. Tetua Besar ada di sini, dan juga dia memiliki ide tersendiri untuk menyelesaikannya.
Qixuan segera melesat ke arah Shua Xie sembari dia melayangkan tinjuan kepada Shua Xie. Berpikir Shua Xie akan menahan atau menangkis serangannya sebagaimana Shua Xie melakukan cara seperti sebelumnya kepada murid dalam berperingkat lainnya. Tapi ternyata ... dugaan Qixuan salah. Entah apa yang dipikirkan Shua Xie, dia sengaja menerima pukulan itu dan membuat dirinya sendiri terpukul keluar arena.
"Eh?"
Semua orang terpelongo di tempat, melihat Shua Xie baru saja keluar arena karena satu serangan. Pada waktu yang bersamaan Shua Xie segera berdiri dengan bertopang di pinggiran arena lalu mengacungkan jempol kepada Qixuan.
"Senior Qixuan memang hebat!" ungkap Shua Xie dengan senyuman penuh arti meski dipinggir bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
"Eh? Ini." Qixuan kebingungan, dia tidak mengerahkan seluruh kekuatannya dan juga yakin Shua Xie pasti sanggup menghindar ataupun menangkisnya, tapi yang terjadi justru pukulannya itu membuat Shua Xie keluar arena dan bahkan membuat Shua Xie memuntahkan sedikit darah di sudut bibirnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Qixuan lagi, masih tidak mengerti dengan keadaannya sendiri.
"Tidak ada yang salah, Senior memenangkan pertarungan! Tidak salah Senior berada di peringkat satu," jelas Shua Xie dengan senyuman. Kemudian dia berjalan meninggalkan arena, tentu saja menuju kediamannya untuk mengobati lukanya.
Sesaat semua orang terdiam karena tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Shua Xie tiba-tiba kalah secepat itu. Tepat pada semua orang tengah mencermati keadaan, Tetua Besar tertawa memecahkan keheningan dan membuat semua orang semakin kebingungan, bersamaan dengan tawanya itu Tetua Besar berjalan meninggalkan arena.
Meski Qiaofeng tidak tahu apa yang terjadi, tapi pada intinya dialah yang menang pada taruhan ini, "Tetua Jiang kuharap kau tidak melupakan lima puluh tael perak yang kau janjikan. Aku selalu menunggumu di kediamanku membawa uang itu," ujar Qiaofeng dengan tawa kecil.
Jiang Liang mendengus pelan, "Tentu saja aku tidak akan melupakannya, hanya lima puluh tael perak." Jiang Liang langsung melenggang pergi dengan perasaan hati yang sakit. 50 tael perak bukanlah uang yang sedikit, mengumpulkan 50 tael perak membutuhkan waktu setahun.
Di sisi lain para murid dalam berteriak riang, senang melihat Qixuan mampu mengalahkan Shua Xie, dengan begitu reputasi para murid dalam tidak akan dipandang rendah oleh murid luar lagi.
Sedangkan para murid luar segera bubar sembari mereka mengumpati para murid dalam dan juga kecewa kepada Shua Xie tidak mampu mengalahkan Qixuan. Padahal mereka telah menaruh harapan lebih kepada Shua Xie.
"Aku tidak menyangka murid Shua lebih menarik dari apa yang kupikirkan," ungkap Biming dengan tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Ya, aku juga merasakan hal yang sama," sahut Dongxue sembari dia mengukir senyum tipis. Dia dan Biming tentu paham kenapa Shua Xie tiba-tiba kalah, andaikan saja Tetua Besar tidak tertawa tentu mereka berdu tidak akan sadar.
Sedangkan Houlang masih kebingungan, Biming dan Dongxue terlihat tenang dan semakin tertarik kepada Shua Xie, tapi dirinya malah tidak mengerti, "Ada apa? Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak mengerti?" tanya Houlang kepada Dongxue.
"Apakah kau tidak paham? Dia sengaja mengalah," jelas Dongxue singkat.
_________
__ADS_1
A/N : Eeh? kok aku gak paham 🤔 kalau kalian bagaimana?