Perjalanan Melawan Dunia

Perjalanan Melawan Dunia
Bab 46


__ADS_3

Pandangan Shua Xie tidak pernah lepas pada Tetua Permata setelah dia masuk ke ruang kerja Tetua Pertama klan Mo. Beberapa menit yang lalu Shua Xie tiba di kediaman klan Mo dan langsung bertemu dengan Tetua Pertama di kediaman ini. Shua Xie tetap waspada di tempatnya tapi dari luar dia terlihat tenang.


Terlihat di sisi lain Tetua Pertama juga menatap Shua Xie sambil tersenyum, tapi dibalik senyumannya itu tersirat rencana licik.


"Kudengar kau telah memukul Guwei Mo? Ternyata ada juga yang berani memberi pelajaran pada anak itu," ungkap Tetua Pertama pelan setelah lama mereka tidak ada yang berbicara.


Shua Xie melihat ke kiri dan kanan, "Apa begini cara kalian menyambut tamu? Tidak ada kursi bahkan jamuan kecil. Padahal dari rumor yang aku dengar, klan Mo sangat menghormati tamu-tamunya," balas Shua Xie diakhiri dengan helahan nafas, ke dua bahunya juga ikut terangkat ketika dia menghela nafas.


Ekspresi Tetua Pertama berubah, tidak pernah dia sangka gadis di hadapannya ini berani mengutarakan sesuatu yang tak seharusnya diutarakan di saat waktu seperti ini. Seharusnya dia gugup ketakutan atau mengelak ucapan Tetua Pertama tadinya, tapi tidak disangka Shua Xie malah membahas yang lain.


Tetua Pertama menepuk tangannya sekali, lalu muncul 5 orang dari pintu masuk membawa meja kecil berserta kursinya, dan minuman serta makanan ringan. Ke 5 orang itu menyediakan tepat di depan Shua Xie, setelah tersedia mereka pun meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Shua Xie sempat terkejut atas kedatangan mereka, tapi setelah tahu tujuan mereka, Shua Xie menjadi lebih santai.


Shua Xie duduk di kursi lalu menuang arak di gelas yang ada di meja, "Tidak aku sangka akan disediakan minuman arak. Kau tahu, aku sudah lama tidak minum arak."


Shua Xie meneguk segelas arak hingga habis tanpa memperdulikan pandangan Tetua Pertama terhadapnya.


"Oh ... iya. Ada urusan apa mengundangku bertemu dengan anda? Saya pikir orang sibuk seperti anda sulit ditemui," tanya Shua Xie santai sambil menatap Tetua Pertama.


Dari tadi Tetua Pertama memperhatikan Shua Xie benar-benar membuatnya kesal, andai dia tidak punya tujuan tertentu tidak akan pernah dia memperlakukan orang yang sudah menghina klan Mo sebaik ini. Seharusnya dia melenyapkan atau menyiksa orang di hadapannya ini dari awal. Tapi Tetua Pertama masih harus menunggu saat-saat yang tepat, sampai semua orang-orangnya sudah menjalakan perintah seusai rencana.


"Ehem ... aku dengar kau telah memukul Guwei Mo hingga babak belur."


Shua Xie mengangkat alisnya dengan tatapan tidak percaya, "Hah? Apa anda mengundangku cuma bertanya soal itu? Aku pikir ada urusan sepenting apa sampai bertemu di ruang berdua saja." Shua Xie menggelengkan kepalanya diiringi helahan nafas, terkesan menganggap pertanyaan Tetua Pertama tadi tidak penting.


Tetua Pertama mengepalkan tangannya berusaha menahan amarahnya.


"Tapi karena anda telah bertanya, maka tidak baik bagiku tidak menjawab. Memang benar aku telah menghajar Guwei Mo hingga babak belur. Apa anda marah karena itu? Apa anda tidak ingin bertanya apa alasanku menghajarnya?"


"Aku sudah dengar," balas Tetua Pertama datar.


"Oh? Baguslah. Aku harap cerita aslinya tidak dikarang-karang oleh Guwei Mo itu. Kalau tidak aku akan memukulnya lagi."


"Tampaknya kau tidak takut dengan klan Mo? Mungkinkah kau memiliki latar belakang yang kuat. Aku harap tidak ada kesalah pahaman di antara kita." Dari awal Tetua Pertama sudah melihat gelagat Shua Xie begitu santai terhadapnya sehingga dia berpikir bahwa Shua Xie memilik pendukung yang tak boleh diremehkan, sehingga Tetua Pertama tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan.


Shua Xie menuang lagi arak ke gelasnya, lalu meneguknya hingga habis. Suara benturan antara meja dan gelas terdengar ketika Shua Xie meletakkan gelasnya di meja lumayan keras.

__ADS_1


'Shua, ada yang tidak beres. Sebaiknya kau selalu waspada, dari tadi aku merasakan ada pergerakan dari mereka. Sepertinya mereka sudah mengepung ruangan ini dengan puluhan Kultivator.' Phoe mengingatkan Shua Xie agar selalu waspada, sebab Phoe merasa ada sesuatu yang akan terjadi, yang pastinya bukan sesuatu yang baik.


'Baik,' balas Shua Xie.


"Aku tidak memiliki latar belakang apapun. Kalian bisa menganggap aku hanyalah gadis pengelana tanpa rumah." Shua Xie semakin memancing Tetua Pertama, dia ingin tahu apa alasan utama Tetua Pertama klan Mo mengundangnya. Tapi dari tebakan Shua Xie pasti bukanlah hal baik.


Tetua Pertama mendapat pesan telepati dari Tetua lainnya yang sedang bersembunyi di balik kegelapan. Sepertinya rencana mereka sudah berjalan lancar, tinggal menunggu aksi dari Tetua Pertama.


"Apa kau tahu kau sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Tetua Pertama intonasi nadanya mulai meninggi. Dia benar-benar tidak tahan lagi dengan Shua Xie. Tidak pernah ada seorang pun berani meremehkannya seperti ini bahkan Master-Master di kota Kekai.


Phoe sedari tadi juga menyimak pembicaraan mereka berdua kini menjadi lebih gelisah, 'Oy, Shua. Jangan sampai memancing kemarahannya, bisa gawat kalau sampai dia marah. Dia memang bukan lawanmu, tapi kalau seisi klan Mo menyerangmu, kupastikan kau tidak akan selamat.'


'Berisik! Aku tahu, aku hanya memancingnya saja, lagi pun aku memiliki kartu andalan,' balas Shua Xie lewat telepati.


Shua Xie melempar guci yang ada di atas meja ke lantai. Air arak berhamburan di lantai disertai pecahan guci. Suasana yang tadinya mencekam kini semakin mencekam, beberapa orang yang sedari tadi bersembunyi di balik kegelapan kini keluar dan berdiri tepat mengelilingi Shua Xie. Bahkan para Tetua klan Mo lainnya juga muncul di dekat kursi Tetua Pertama. Shua Xie sengaja membuat keributan agar mereka semua yang bersembunyi segera keluar.


Shua Xie berdiri lalu menendang meja di depannya, tampak raut wajah marah terbias di wajah cantiknya, "Awalnya aku pikir mendapat undangan yang menyenangkan. Tapi siapa sangka aku akan dikepung begini? Akhirnya wajah asli kalian terlihat juga."


Senjata dari orang-orang yang mengelilingi Shua Xie tertuju padanya. Shua Xie menatap ke sekelilingnya tajam, ada 10 orang Kultivator di tahap Raja Putih sedang mengepungnya.


Tidak Shua Xie sangka dia akan memakai token khusus secepat ini karena keadaan mendesak. Sebenarnya dia bisa saja melawan Tetua Pertama seorang diri walau akan mendapat luka berat, tapi kalau ada tambahan semut-semut klan Mo, Shua Xie tidak bisa menghadapinya.


"Kalian tahan dulu. Masih ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada gadis ini," ujar Tetua Pertama pelan. 10 orang itu langsung menurunkan senjatanya dan memberi sedikit jarak.


Shua Xie menatap Tetua Pertama tajam, dalam tatapannya itu tersirat ingin membunuh. Shua Xie paling benci didesak seperti ini, sebagai mantan Mafia di kehidupannya dulu dia tidak pernah didesak oleh siapapun.


"Seharusnya kau tidak perlu mencari masalah dengan klan Mo kalau tidak memiliki bantuan apapun. Apa kau tahu, klan Mo sangatlah kuat! Bahkan aliansi Gold Lion tidak berani mencari masalah dengan klan Mo." Pandangan Tetua Pertama terhadap Shua Xie semakin merendah, "Dari awal kau sudah mempermainkanku, apa kau tahu konsekuensi jika mempermainkanku?"


"Nyawamu taruhannya!" Lanjut Tetua Pertama dengan nada menekan setiap kalimatnya.


Shua Xie berdecak kesal dalam hatinya, melihat sikap Tetua Pertama begitu meremehkannya benar-benar membuatnya tidak tahan ingin menghajar wajah arogannya itu. Shua Xie masih menunggu saat-saat yang tepat untuk menggunakan token khusus ditangannya saat ini.


Shua Xie tersenyum sinis, "Heh! Aku pikir apa. Kau tahu aku sudah sering mempertaruhkan nyawaku. Bisakah ancamanmu kau ganti? Bosan aku mendengar ancaman seperti itu," balas Shua Xie diiringi senyuman meledek.


Terkejut sekaligus marah mereka semua yang mendengar balasan Shua Xie yang tak masuk akal itu. Ini baru pertama kalinya mereka menemukan orang seunik Shua Xie saat sedang berhadapan dengan maut.

__ADS_1


Tetua Pertama tersedak mendengarnya, tangannya memukul kursinya kesal. Lagi-lagi dia dipandang remeh oleh gadis kecil di hadapannya, padahal dia sudah berusaha membuat Shua Xie untuk takut dengan gertakkannya.


"Berani sekali! Gadis ini gila!" teriak Tetua ke Dua sambil menunjuk Shua Xie dengan tatapan murka.


"Hei gadis kecil, kalau kau sayang nyawamu jangan bicara sembarangan. Apa kau sadar sedang berada di mana? Apa karena minum arak kau jadi mabuk!" sahut Tetua ke Tiga.


"Sebaiknya kau jangan menyulut api semakin besar."


Shua Xie menarik kursi lalu duduk di kursi itu, walau pun raut wajahnya terlihat santai tapi dalam hatinya dia juga tidak tenang. Di hadapan banyak Kultivator seperti ini, Shua Xie tidak bisa bergerak bebas. Bahkan untuk kabur saja dia sulit.


Shua Xie menghela nafas pelan, "Baiklah. Sekarang jelaskan apa tujuan kalian memanggilku ke sini? Kalau hanya sekadar bertanya apakah aku memukul Guwei Mo atau tidak, kurasa itu tidak mungkin. Kalian bisa saja mengirim beberapa orang klan Mo untuk mencariku."


"Heh, kau cukup pintar juga. Seharusnya dari awal kau tidak perlu membuat kami memperlakukanmu seperti ini." Terdengar sahutan Tetua ke Dua diiringi tawa kecil meledek. Mungkin dia berpikir bahwa Shua Xie merasa terpojok dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Raut wajah Tetua Pertama menjadi lebih tenang, "Baiklah akan kujelaskan dulu padamu tentang leluhur klan Mo. Agar kau paham maksud kami mengundangmu ke sini."


Shua Xie diam menunggu penjelasan Tetua Pertama.


"Di kota Kekai klan Mo merupakan klan terkuat dari dua klan lainnya. Bahkan aliansi Gold Lion pun tidak bisa menandingi kekuatan klan Mo. Sejak awal berdirinya kota Kekai, klan Mo lah yang paling berpengaruh besar di kota ini. Tidak hanya dalam kekuatan tapi juga dalam bidang politik. Tak jarang banyak asosiasi besar ingin bergabung dengan klan Mo demi mendapat perlindungan kuat. Kami diwarisi kekuatan hebat dari leluhur pertama klan Mo. Leluhur pertama ialah orang terhebat di daratan tengah ini, bahkan Kultivator hebat dari kota tetangga tidak berani mencari masalah dengannya." Tetua Pertama menjeda sejenak penjelasannya.


Mata Shua Xie menyipit, pandangannya terhadap Tetua Pertama semakin tajam. Walau pun Shua Xie masih belum mengerti garis utama Tetua Pertama menjelaskan tentang klan-nya. Tapi dibalik semua itu, Shua Xie merasa tidak tenang.


"Leluhur pertama adalah orang pertama yang bisa mengendalikan tiga elemen kekuatan di Dunia Bawah. Dalam sekejap dia bisa menghancurkan kota semudah dia membalikkan tangannya. Bahkan Pemimpin Besar Dunia Bawah kesulitan menanganinya. Kehebatannya itu terkesan sampai saat ini, walau Leluhur telah mati. Tapi tidak lama lagi dia akan bangkit!"


Shua Xie terkejut saat mendengar penjelasan Tetua Pertama yang terakhir.


"Kau tahu! Dari mana asal leluhur pertama klan Mo? Dia berada dari dunia Atas. Dia merupakan salah satu Jenderal dari klan Langit yang berkhianat sebelum masa-masa kehancuran klan Langit. Karena kasus kejahatannya dia diasingkan di suatu tempat gelap dan dingin selama ribuan tahun. Selama ribuan tahun dia tidak pernah melihat cahaya, tidak pernah mendengar tanda-tanda kehidupan, dan tidak pernah tahu sudah berapa lama dia terkurung. Setelah dia keluar dari tempat terkutuk itu, dia menjadi buta karena cahaya sebab sudah lama dia tidak melihat cahaya, matanya mengalami kerusakan. Tapi sekali pun dia buta, instingnya dalam menebak tidak pernah salah."


"Ini bagian pentingnya. Kau tahu kenapa dia dikurung selama ribuan tahun? Karena dia memakan daging manusia dari klan Langit demi mendapatkan kekuatan. Karena dia tahu, orang-orang dari klan Langit adalah orang-orang terpilih memiliki keajaiban yang tidak pernah dimiliki manusia biasa sepertinya."


***


Bersambung


Ayo jangan lupa dukung cerita ini dengan cara like, vote, rate, and share ke teman-teman kalian. Terimakasih buat kalian yang sudah mendukung cerita ini, maaf kemarin lamban up, pihak NT masih mereview selama 3 hari, jadi 3 hari kemarin author gak up.

__ADS_1


__ADS_2