
Setelah beberapa lama akhirnya mereka pulang. Sudah sore Abel juga harus istirahat.
"Kamu jaga diri baik-baik yah, kita akan jarang bisa berkumpul seperti ini. Kami semua Sibuk bekerja, sementara kamu tidak bisa bebas keluar." ucap teman nya.
"Iyah."
Mereka semua pergi Abel sangat senang sekali.
"Akhirnya.... sekarang perasaan ku sangat lega sekali, aku tidak lagi menyembunyikan hal apapun dari teman-teman ku."
Abel update foto bersama teman-teman nya. Radit di kantor nya melihat itu dan tersenyum.
"Dasar perempuan yang sangat keras kepala." ucap Radit dalam hati.
Dia mengingat pagi-pagi dia tidak langsung ke kantor melainkan mencari semua alamat teman Abel dan meminta nya ke rumah.
Dia sudah tau istri nya tidak bisa di larang, akhirnya dia berpura-pura menjadi Taksi di saat istri nya berusaha kabur.
Di malam hari nya Radit baru bisa pulang.
"Pak Radit sudah mau pulang?" tanya Novi.
Radit mengangguk.
"Ada apa? ada yang bisa saya bantu?" tanya Radit.
"Humm ini pak, saya mau ngajak bapak makan malam." ucap Novi. Radit melihat jam.
"Sudah jam sembilan malam. Saya juga sudah di tunggu oleh istri saya di rumah." ucap Radit.
"Tapi pak saya sudah memesan meja untuk kita."
"Kenapa kamu memesan meja Tampa ijin kepada saya? saya belum tentu mau." ucap Radit.
Novi terdiam. "Sudah ajak saja yang lain." ucap Radit langsung pergi. "Sekali ini saja pak."
Radit menghela nafas panjang.
"Memang banyak di luar sana sekretaris lebih banyak menghabiskan waktu dengan Tuan nya, namun kamu memiliki keluarga juga yang merindukan kamu di rumah.. Pulang dan istirahat lah." ucap Radit.
Novi menghela nafas panjang. Dia melihat Radit pergi.
"Huff pak Radit seperti nya tidak bisa melihat niat tulus ku untuk mencintai dia, namun tetap saja aku tidak akan menyerah." ucap Novi.
Radit mengendarai mobil sampai ke rumah. Selesai mandi dia makan dan duduk di ruang tamu.
Abel yang masih sedikit kesal tidak mengajak suami nya berbicara, bahkan tidak menyambut atau menyiapkan pakaian atau makan malam.
Farel baru saja tidur dia melihat ke arah pintu.
__ADS_1
"Kenapa kak Radit tidak kunjung masuk yah? Padahal sudah sangat lama di luar." ucap Abel dalam hati.
"Huff sebaiknya aku lihat sebentar." ucap Abel. Dia membuka pintu dan keluar dari kamar. Saat berjalan menuruni anak tangga dia melihat Radit yang sedang duduk di ruang tamu.
Dia memijit-mijit tangan kanan nya. Abel mendekati nya.
"Ada apa?" tanya Radit melihat Abel berdiri di samping nya.
Abel menunjuk tangan Radit.
"Ada apa dengan tangan kakak?" tanya Abel Deng nada yang sedikit judes.
"Hanya sedikit nyeri." ucap Radit. Abel duduk dia menarik tangan kanan Radit. Dia juga menuang kan minyak urut.
"Jangan melakukan ini lagi kalau sendiri, bisa jadi semakin parah kalau asal pijit." ucap Abel.
"Huff mau bagaimana lagi, istri saya lagi ngambek, dia bahkan tidak menyapa saya sama sekali." ucap Radit.
"Kakak menyindir aku?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Tidak kok." Abel langsung memasang wajah kesal.
"Aku sudah bilang beberapa kali tangan kakak jangan terlalu kecapean, kalau seperti ini bisa jadi sakit lagi." ucap Abel.
"Saya tidak akan seperti ini kalau saya datang tepat waktu ke kantor hari ini." ucap Radit.
"saya tidak mengatakan itu." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang.
"Maka nya jangan terlalu berlebihan menahan istri." ucap Abel. "Saya melakukan itu demi kebaikan kamu." ucap Radit.
"Kebaikan ku tidak seperti itu " ucap Abel. Radit menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu Terserah kamu saja, namun sampai kapan pun saya tidak mengijinkan kamu keluar kalau bukan dengan saya." ucap Radit.
Abel menyudahi pijitan nya. "Aku tidak mau tidur dengan kakak malam ini." ucap Abel.
"Lalu saya tidur di mana?"
"Di rumah ini banyak kamar yang kosong, kakak bisa tidur di sana." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Saya mau tidur di kamar kita." "Kalau begitu aku akan tidur di kamar yang lain."
Radit tiba-tiba mencium bibir Abel. Abel menolak nya namun Radit terus memaksa nya.
"Kenapa Kakak sangat kasar sih?"
"Kamu yang membuat saya seperti itu." ucap Radit.
__ADS_1
"Tidak ada perdebatan lagi, sebaiknya kita tidur saja, tidak malu di dengar Bibik." ucap Radit masuk ke kamar terlebih dahulu.
Abel memasang wajah kesal, tidak berhenti mengomel.
"Aku tidak boleh luluh dengan dia, bodo amat mau marah atau tidak." ucap Abel.
Abel masuk ke kamar dia melihat Radit sudah tidur di kasur. Dia juga langsung tidur menutupi semua badan nya.
"Kakak benar-benar sangat keras kepala." ucap Abel. Radit menoleh ke arah Abel.
"Kamu yang keras kepala, kenapa kamu menyalah kan saya?" tanya Radit.
Abel langsung diam. Radit memeluk Abel dari belakang.
"Jangan Peluk aku, jangan pernah mendekati aku, jangan juga melewati batas ini." ucap Abel.
Radit tidak mendengar kan nya dia memeluk Abel tidak melepaskan nya walaupun Abel sudah berontak.
Abel menghela nafas panjang, tidak bisa mengelak kalau dia harus menahan amarahnya karena di peluk oleh suami nya.
Keesokan harinya pagi-pagi Abel seperti biasa akan mual sampai wajah nya pucat.
"Ya ampun Abel wajah kamu sangat pucat sekali." ucap Radit.
Radit membawa nya ke kasur.
"Saya sudah bilang kamu harus banyak istirahat yah." ucap Radit.
Abel menatap kesal kepada suami nya. "Bahas itu lagi, bahas itu lagi." ucap Abel dengan kesal.
"Nih minum obat dulu." ucap Radit memberi kan obat.
"Ya udah kamu lanjut tidur, saya mau mandi." ucap Radit.
Abel Tidak mengatakan apapun dia langsung tidur. Tidak beberapa lama Farel bangun Radit baru saja selesai mandi dia langsung menggendong Farel agar tidak membangunkan kan Abel.
Namun ternyata Abel dari tadi tidak tidur, melainkan hanya Berbaring saja. Dia melihat badan suami nya yang sangat bagus sekali.
"Huff pantesan saja banyak orang yang suka sama kak Radit, semua nya pasti menginginkan kak Radit termasuk teman-teman ku." ucap Abel.
Dia sedikit kesal karena teman-teman nya tidak berhenti memuji suami nya. Dia juga cemburu.
Tapi dia juga harus bersyukur sudah bisa memiliki suami seperti Radit walaupun sekarang dia masih kesal kepada suami nya itu.
Farel sudah tenang dia memakai baju nya.
"Hari ini say akan pulang cepat." ucap Radit. "Humm." ucap Abel.
"Kalau kamu mau kita akan berkunjung ke rumah orang tua kamu." ucap Radit.
__ADS_1