
Dia masuk ke kamar namun tidak melihat Heri di sana. ternyata Heri sudah tidur di kamar nya sendiri.
Enjel semakin takut.
Keesokan harinya...
"Kamu tidak mau sarapan dulu? Aku sudah masak sarapan untuk kamu." ucap Enjel kepada Heri yang baru saja keluar dari kamar.
"Tidak perlu. Aku akan sarapan di kantor." ucap Heri.
Enjel tersenyum sambil mengangguk mengerti.
"Baiklah." ucap Enjel.
Heri berangkat ke kantor. Sampai di kantor dia langsung mengumumkan kepulangan nya besok. Dia juga mengadakan acara kecil-kecilan untuk perpisahan, pengucapan terimakasih.
Dan Enjel sama sekali tidak tau tentang itu. Enjel hanya bisa diam. Abel dan Novi tidak bisa mengatakan apapun kepada Enjel.
Hari berlalu begitu Saja, Abel dan Radit duduk di lobby berdua. Tidak sengaja mereka melihat Heri lewat.
"Loh-loh kamu sudah membawa barang-barang kamu?" ucap Abel. Heri berhenti dia mengangguk.
"Duduk dulu." ucap Radit. Heri duduk di depan Radit.
"Ada apa kamu dengan Enjel? Kenapa seperti nya ada masalah?" tanya Radit. "Baik-baik saja, tidak ada yang salah." ucap Heri.
"Jangan berbohong Heri." ucap Radit.
Heri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada Radit, kalau begitu aku kembali dulu. Senang bisa bekerjasama dan sekali lagi terimakasih banyak." ucap Heri.
"Sudah lah mungkin dia tidak mau membahas nya." ucap Abel.
"Kamu pulang duluan gak apa-apa kan?" tanya Radit kepada Abel.
"Loh emangnya kakak mau kemana?" tanya Abel.
"Mau ketemu sama teman-teman saya."
"Minum lagi?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Hanya bertemu seperti biasa, mungkin mereka minum namun seperti nya saya tidak." ucap Radit.
"Bagus deh." ucap Abel.
Abel berpamitan pulang kepada semua orang.
__ADS_1
"Novi kamu tidak ada kegiatan lagi kan? ayo pulang." ucap Abel.
"Ini belum jam pulang, aku takut pak Radit akan marah." ucap Novi. Abel tersenyum. "Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu yah." ucap Abel.
"Iyah kamu hati-hati, jangan sampai calon keponakan ku kenapa-kenapa." ucap Novi, Abel mengacung kan jempol nya sambil tersenyum.
"Betapa beruntungnya pak Radit memiliki Abel." ucap Novi.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Ketukan pintu ruangan Radit.
"Masuk." ucap Radit dari dalam.
"Ada apa Enjel? Silahkan duduk dulu."
"Saya mau ijin pulang lebih awal hari ini pak." ucap Enjel.
"Tapi pekerjaan kamu masih banyak. "Saya akan menyiapkan nya di rumah Pak, saya mohon." ucap Enjel.
"Baiklah kamu boleh pulang." ucap Radit karena dia tau pasti mau bertemu dengan Heri.
Enjel sangat senang setelah di berikan ijin untuk pulang ke rumah.
Selama perjalanan dia tidak sabar ingin sampai ke rumah Deng cepat sebelum terlambat. Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
Dia masuk ke dalam apartemen nya. Dia melihat Heri yang sedang merapikan pakaian nya ke koper.
"Setelah semua yang terjadi kamu mau pergi begitu saja? Kamu mendiamkan aku dan melakukan semua nya Tampa mengatakan apapun kepada ku?" tanya Enjel dengan nada marah.
"Kenapa kamu pulang begitu cepat sementara perjanjian dari awal kamu akan kembali dua hari lagi." ucap Enjel.
Heri diam.
"Aku apa bagi mu? apa aku tidak penting lagi bagi mu sehingga kamu mengabaikan aku seperti ini?" tanya Enjel.
Heri menoleh ke arah Enjel. "Justru aku yang harus bertanya seperti itu kepada kamu Enjel. Aku apa bagi mu?"
"Kamu kekasih ku, kamu adalah pasangan ku." ucap Enjel.
"Kalau aku benar pasangan kamu kenapa kamu tidak pernah mengerti dengan perasaan ku? Kenapa kamu tidak pernah perduli kepada ku?"
"Kata siapa aku tidak perduli kepada kamu? Aku sangat perduli."
"Apakah ini cara kamu untuk perduli kepada pasangan kamu?" ucap Heri. "Maksud kamu?"
"Dengan cara meminta putus. Membesar-besarkan masalah kecil dan juga saling mengabaikan seperti ini?" tanya Heri.
"Enjel... Aku sudah berusaha untuk mengerti kamu, aku sudah berusaha untuk selalu ada untuk kamu. Namun kamu tidak perlu melakukan hal itu kepada ku." ucap Heri.
__ADS_1
"Aku minta maaf... Itu semua keluar dari mulut ku karena aku marah, aku di stres." ucap Enjel.
Heri menatap Enjel.
"Aku tau aku masih banyak kurang di mata kamu, aku tau aku tidak seperti pria idaman kamu, tapi aku butuh di hargai Enjel."
Tiba-tiba Enjel mendekati Heri dan mencium bibir Heri menutup mulut Heri dengan bibir nya.
Heri menolak nya. "Aku sedang serius Enjel." ucap Heri dengan tatapan marah.
"Aku sudah minta maaf, aku benar-benar minta maaf." ucap Enjel.
"Aku tetap akan kembali ke kota ku. Dan aku akan menuruti semua permintaan kamu agar kamu senang. Aku sangat mencintai kamu dan aku ingin kamu bahagia dengan keputusan kamu." ucap Heri.
Enjel menghela nafas panjang.
"Heri... aku mohon jangan emosi seperti ini. Aku takut kamu akan menyesali nya sama seorang aku." ucap Enjel.
"Aku sudah tidak peduli. Aku kehilangan akal sehat ku, aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Sepanjang hari aku memikirkan apa salah ku yang sangat fatal sampai kamu memutuskan untuk berpisah." ucap Heri.
"Aku hanya ingin semua orang tau kalau kamu adalah kekasih ku, aku sangat ingin orang tau."
"Tapi itu tidak baik untuk kamu dan juga aku Heri. Semua orang bertanggal negatif tentang aku mau pun kamu."
"Apakah kamu lebih perduli kepada orang lain dari pada aku? Aku tidak perduli dengan orang lain katakan. Aku hanya ingin mengumumkan kepada semua orang kalau kamu adalah milik ku." ucap Heri.
"Hanya dengan ini cara ku membuktikan cinta dan ketulusan hati ku. Namun kamu selalu berfikir kalau aku tidak pernah mendengar kan kata-kata dan tidak mengerti kamu."
"Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Untuk apa kamu mementingkan perkataan orang lain? Apakah mereka mempengaruhi hubungan kita, semua nya tergantung kepada kita Enjel.
Enjel tiba-tiba memeluk Heri. "Aku minta maaf..." ucap Enjel dengan lirik.
Heri masih emosi dia menghela nafas panjang.
"Berhenti lah marah, aku minta maaf." ucap Enjel. Heri mencoba melepaskan pelukan Enjel namun Enjel tidak mau.
"Aku mohon jangan pergi. Aku kesal ketika membayangkan ketika kamu pergi dan jauh dari ku. Aku takut sendirian, aku kesepian dan aku takut kamu akan menemukan perempuan lain."
Heri menghela nafas panjang.
"Aku sudah bilang kamu jangan memikirkan semua nya berlebihan Enjel." ucap Heri.
Enjel menatap wajah Heri.
"Aku hanya takut Heri. Aku takut dengan apa yang terjadi sebelum nya, aku tidak ingin terluka lagi." ucap Enjel.
__ADS_1