
"Tidak mungkin Enjel tidak tau kamu istri saya." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang. Dia mengambil bekal itu.
"Baiklah aku akan makan, sebaiknya kakak kembali saja ke ruangan kakak." ucap Abel.
Radit mengangguk. Dia pun pergi dari sana.
"Apa kamu tidak lihat kebaikan Pak Radit seperti apa kepada mu? Kamu benar-benar sangat buta Hanya karena Gaga." ucap Enjel.
Abel diam. "Pak direktur sangat Tampan, kata raya, dan juga baik, cooll pokoknya sempurna deh " ucap Enjel.
Sudah pulang kerja...
Abel duduk di ruang tamu bersama Bibik.
"Kok hari ini Non gak pulang barengan sama tuan sih?" tanya Bibik.
"Hari ini pekerjaan saya tidak terlalu banyak Bik, sementara Kak Radit kalau tidak salah ada janji sore ini." ucap Abel.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba Radit pulang. Abel dan Bibik langsung menoleh ke arah pintu. Abel melihat ke arah Jam.
"Walaikumsalam."
"Tumben banget kakak cepat pulang?" tanya Abel.
"Saya ada janji dekat sini, jadi saya tidak perlu kembali ke kantor lagi." ucap Radit.
Abel diam. "Kalau begitu saya ke kamar dulu." ucap Radit.
"Bagaimana saya harus mengajari Abel agar bisa menjadi istri yang baik?" batin Radit karena dia sangat kecewa Abel tidak menyambut nya dengan seperti apa harapan nya.
"Bik kita masak yok." ajak Abel.
"Masak?" ucap Bibik. "Iyah non, seperti nya kak Radit akan makan malam di sini." ucap Abel.
Bibik langsung berdiri dan menginyakan.
Mereka berdua berjalan bersama ke dapur untuk masak.
Radit baru saja turun dia tidak melihat Abel dan Bibik di Ruang tamu.
Dia mendengar suara dari dapur dia berjalan ke arah dapur.
Abel melihat Radit. "Ya ampun Kak Radit ganteng banget kalau memakai kaos dan juga celana pendek. Di tambah lagi rambut nya basah." ucap Abel dalam hati.
"Huff aku baru sadar kalau yang di katakan oleh Enjel ternyata benar." batin Abel.
"Kamu lagi masak apa?" tanya Radit. Abel langsung sadar.
"Oohh ini lagi masak cumi sambal." ucap Abel. Radit mendekati nya dia berdiri di belakang Abel.
Abel terdiam sejenak, dia tiba-tiba gugup karena bersentuhan dengan dada Radit dan mencium aroma sabun yang di pakai oleh Radit.
"Bau nya sangat enak." ucap Radit dia memegang tangan Abel yang menggoreng cumi.
__ADS_1
Abel kaget. Bibik yang melihat itu hanya bisa senyum-senyum sendiri.
"Saya jadi sangat lapar melihat nya." ucap Radit tepat di telinga Abel. Tiba-tiba Abel langsung melepaskan tangan nya dari tangan Radit.
"Kakak tunggu saja di sana, sebentar lagi akan masak." ucap Abel mendorong Radit pergi dari Dapur.
Radit tersenyum dia langsung pergi.
Abel melihat ke arah Bibik. Dia tersenyum canggung melihat Bibik dia sudah sangat malu.
Mereka makan bersama di meja makan.
"Bik ayo makan sama-sama." ajak Radit.
"Tidak apa-apa Tuan, saya makan terakhir saja." ucap Bibik.
"Tidak bik, ayo duduk di sini, ada yang mau saya bicarakan." ucap Radit.
Bibik tidak bisa menolak dia duduk di samping Abel.
"Ayo makan, jangan canggung." ucap Radit.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan.
"Oh iya bik ini untuk Bibik." ucap Radit memberikan paper bag.
Bibik terdiam sejenak, dia melihat ke arah Radit dan Abel.
Pagi tadi sebelum dia berangkat dia sudah melihat Paper bag itu di atas meja kamar Radit.
Dia berfikir itu untuk orang lain ternyata untuk Bibik, dia juga penasaran isi nya apa.
"Huff kira-kira itu isinya apa yah?" batin Abel.
Bibik membuka nya.
"Tuan.. Ini benaran untuk saya?" tanya Bibik. Radit mengangguk.
"Semoga Bibik suka yah." ucap Radit.
"Pasti sangat suka Tuan, tapi ini harganya pasti sangat mahal. Apa tuan tidak salah beli?" tanya Bibik.
Radit tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak bik, ini saya beliin khusus untuk Bibik agar Bibik tidak susah di hubungi dan juga Bibik bisa menghubungi keluarga Bibik." ucap Radit.
"Ya ampun Tuan. Terimakasih banyak Tuan. Terimakasih." ucap Bibik. Melihat Bibik senang Abel juga sangat senang melihat nya.
"Semoga handphone nya awet yah bik." ucap Abel. Bibik mengangguk sambil tersenyum.
"Sekali lagi terimakasih banyak Yah Tuan." ucap Bibik.
Radit mengangguk. Bibik sangat senang dia tidak berhenti memerhatikan ponsel nya.
__ADS_1
Setelah selesai makan mereka masuk ke kamar masing-masing.
Sementara Radit di ruang tamu berbicara dengan klien nya melalui handphone nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga. Radit sudah sangat kelelahan dia juga sudah ngantuk dia menutup laptopnya merapikan semua nya.
Sebelum dia ke kamar nya dia melihat pintu kamar Abel yang tidur tertutup sepenuhnya.
"Apa dia belum tidur?" ucap Radit. Dia mendekati pintu kamar itu. perlahan Radit mulai mendorong nya.
"Kak Radit." ucap Abel melihat Radit berdiri di depan pintu kamar nya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit melihat Abel duduk di lantai sambil membalut tubuh nya dengan selimut tebal tablet yang hidup di depan nya.
Tisu bersemangat dan juga Bungkus makanan yang sangat banyak.
"Apa yang kamu buat?" tanya Radit setelah menghidupkan lampu. Abel membuka Penutup kepala nya dia melihat ke arah Radit.
Radit kaget melihat Abel menangis.
"Kamu menangis? Kenapa?" tanya Radit langsung khawatir.
"Mereka berpisah...." Ucap Abel.
"Berpisah? Siapa yang berpisah?" tanya Radit dia langsung melanjutkan tangisan nya.
"Ada apa? Tenang kan dulu diri kamu." ucap Radit. Abel menangis dia langsung memeluk Abel. Tidak beberapa lama Abel berhenti menangis.
"Sudah-sudah tidak apa-apa." ucap Radit.
"Coba jelaskan apa yang berpisah?" tanya Radit.
"Film yang aku tonton kak." ucap Abel sambil menunjuk ke arah Tablet nya.
Radit melihat film Korea.
Dia langsung menghela nafas panjang, dia tidak habis pikir dengan apa yang Abel tangis kan.
"Hanya karena Flim kamu menangis seperti ini?" tanya Radit.
Abel mengangguk. "Mereka berpisah karena orang tua nya tidak merestui hubungan mereka." ucap Abel tambah menangis.
"Sudah-sudah tidak apa-apa." Radit menenangkan Abel lagi.
"Kakak harus melihat nya, kakak harus melihat kisah nya." ucap Abel. Radit mau menolak namun Abel memaksa nya untuk menonton.
Radit duduk di samping Abel. Dia juga membalut tubuh nya dengan selimut. Satu jam mereka menonton Radit sudah kelelahan dia mengantuk sehingga Abel tidak sadar kalau Radit sudah tidur dengan keadaan tidur.
"Orang tua nya sangat jahat sekali. Mereka tidak mengerti kepada anaknya sendiri." ucap Abel.
"Bagaimana menurut kakak?" tanya Abel. Namun Radit sudah tidak menjawab nya.
Abel melihat wajah Radit dan ternyata dia sudah tidur.
__ADS_1