
Mereka semua meledek teman nya itu.
Enjel masuk ke ruangan Heri dengan tatapan kesal.
"Ada apa dengan kamu? kenapa kamu tiba-tiba masuk dan memasang wajah jelek seperti itu?"
"Apa yang kamu katakan kepada teman-teman ku?"
"Tidak ada." ucap Heri.
"Aku serius!" ucap Enjel.
"Mereka bertanya kalau aku sudah punya pacar apa belum, dan aku bilang kalau aku punya."
"Kamu bilang nama aku?" Heri dengan polos nya sambil mengangguk.
Enjel menghela nafas panjang.
"Aku sudah bilang kan Jangan sampai orang lain tau hubungan kita."
"Kita sudah pacaran berbulan-bulan Enjel, sampai kapan kamu mau menyembunyikan hubungan kita seperti ini? Aku jadi gak lelah, selama ini aku mendengar kan perkataan kamu." ucap Heri.
"Kalau kamu lelah ya sudah kita putus saja." ucap Enjel. Heri kaget diam menatap Enjel.
"Bukan seperti itu Enjel, aku tidak bermaksud seperti itu." ucap Heri.
"Kamu dari awal sudah setuju kalau kamu mau mendengar kan semua permintaan ku. Namun sekarang semua nya bohong." ucap Enjel.
"Ya udah kalau begitu aku minta maaf. Aku minta maaf dan tidak akan mengulangi nya lagi." ucap Heri sudah takut melihat Enjel marah dan dia takut juga Enjel mengatakan hal yang tidak enak di dengar.
"Akhir-akhir aku merasa hubungan kita toxic banget, aku tidak betah kalau seperti ini, sebaiknya kita udahan saja." ucap Enjel.
Heri menatap nya bingung.
"Maksud kamu apa Enjel? Jangan berbicara seperti itu." ucap Heri.
Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Minggu depan kamu sudah kembali ke kota kamu, dan aku harap Hubungan kita sampai di sini saja." ucap Enjel.
Heri menghela nafas panjang dia mendekati Enjel.
"Maafin aku Kalau aku membuat kamu marah, tapi jangan seperti ini." ucap Heri.
"Aku sudah memikirkan nya dari kemarin Heri. Kita tidak cocok. Sampai di sini saja." ucap Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau, aku sudah sangat mencintai kamu. Aku tidak akan mau berpisah dari kamu." ucap Heri. Enjel melepaskan tangan Heri.
"Aku mau kamu mendengar kan keputusan aku." ucap Enjel.
"Kenapa Enjel? Apa aku membuat kesalahan yang benar-benar sangat fatal sehingga kamu memutuskan hubungan kita seperti ini?" tanya Heri.
__ADS_1
"Kita tidak cocok satu sam lain Heri." ucap Enjel. Heri mendekati Enjel dia memeluk nya dengan sangat erat.
"Tenang kan diri kamu dulu, jangan mengambil keputusan di saat lagi emosi seperti ini. Mari kita bicara kan ini di luar Jangan di kantor." ucap Heri.
Enjel diam saja, setelah itu Heri melepaskan pelukan nya.
"Apa yang Kamu lakukan di sini Enjel?" tanya Novi.
"Kasian sekali ikan nya dari tadi kamu lempari batu." ucap Novi.
Enjel Menatap Novi.
"Huff ternyata bukan pak Radit saja yang memiliki masalah, ternyata kamu juga. Coba ceritakan ada apa?" tanya Novi.
Enjel menghela nafas panjang.
"Aku kesal kepada Radit karena mengatakan kepada orang yang ada di ruangan kerja ku kalau kita pacaran." ucap Enjel.
"Lalu?"
"Aku minta putus."
"Hah? Hanya karena itu kamu marah?" tanya Novi. Enjel diam.
"Pasti ada sebab lain kamu marah." ucap Novi. Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Pasti karena pak Heri mau kembali ke kota nya kan?" ucap Novi. Enjel diam.
"Dari semua kata-kata yang kamu katakan kepada ku bukan hanya karena marah kepada pak Heri tentang masalah itu. Hanya saja kamu marah karena pak Radit mau pergi." ucap Novi.
"Kenapa?"
"Banyak yang bilang kalau seorang karyawan biasa tidak pantas bersama seorang Bos yang sangat kaya raya." ucap Enjel.
Novi tersenyum mendengar itu. "Kamu Sendiri saja belum bisa memahami apa mau kamu sendiri, bagaimana kamu bisa memahami pasangan kamu?" ucap Novi.
"Maksud kamu?"
"Sebaik nya kamu pikirkan saja deh apa yang kamu mau, jangan memikirkan diri sendiri dan melukai perasaan orang lain." ucap Novi.
Enjel diamb sejenak.
"Bukan nya sepuluh menit lagi kamu ada meeting dengan pak Heri?" ucap Novi mengingat kan.
"Ya ampun aku bisa telat." ucap Enjel setelah melihat jam, dia sangat panik dan langsung mengejar masuk ke dalam.
Di ruangan meeting dia tidak berhenti memerhatikan Heri yang sedang menjelaskan kepada klien.
"Kenapa aku sangat tega sih sama Heri? Dia sangat tulus, dia juga baik kepada ku." batin Enjel.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu mengerjakan yang itu, saya akan menyiapkan nya." ucap Heri kepada Enjel.
"Tapi nanti malam ini harus di kirim."
Heri mengambil laptop dari tangan Enjel dan mengerjakan semua nya.. Tidak butuh waktu lama semua nya selesai.
"Kamu selalu saja mengerjakan pekerjaan ku, aku jadi gak enak." ucap Enjel. Heri tersenyum.
"Hari ini tanggal gajian kamu kan?" tanya Heri. Enjel mengangguk.
"Sebagai bayaran nya kamu harus traktir saya makan malam." ucap Heri. "Kamu seriusan?" tanya Enjel karena biasanya Heri tidak mau memakai uang Enjel. Heri mengangguk.
Enjel terlihat sangat senang dia mengangguk.
Abel dan Mila baru saja sampai di rumah orang tua nya.
"Mamag,... papah.." ucap Abel memeluk orang tua nya.
"Kamu apa kabar nak?" tanya Mamah nya.
"Baik Mah."
"Bagaimana kabar calon Cucu Mamah?"
"Alhamdulillah baik, Mamah sama Papah bagaimana? aku mendengar kalau kalian akhir-akhir ini sering sakit." ucap Abel.
"Iyah nak, namanya juga sudah tua."
"Mila benar-benar aneh, sudah jelas mamah sama Papah sakit namun tetap saja keluyuran." ucap Abel. Mila mendengar nya.
"Kok jadi aku sih yang salah?" ucap Mila.
"Sudah-sudah, ayo Makan siang dulu, lihat Mamah masak untuk apa untuk kamu." ucap mamah nya.
"Untuk kak Abel saja? aku tidak?" ucap Mila.
"Untuk kamu iya juga Mila," ucap papah nya. Mila memasang wajah cemberut.
"Kalian selalu saja membedakan aku dengan kak Abel." ucap Mila.
"Jangan berbicara seperti Mila kakak bisa marah." ucap Abel. Mila langsung tersenyum.
"Ya Maaf, abisnya kakak sih kenapa nikah dan ninggalin kita di sini." ucap Mila.
Abel menghela nafas panjang.
"Sudah-sudah, adik kamu memang suka seperti itu, ayo makan." ucap Mamah nya.
Mila akan selalu cemburu kepada kakak karena sudah bebas sekarang dari orang tua nya, sementara dia kemana-mana dan apapun yang dia lakukan harus melapor dulu dan selalu di larang Melakukan apapun yang dia suka.
Setelah selesai makan mamah nya menghampiri Abel yang duduk sendirian sambil main handphone nya.
__ADS_1
"Nih di minum dulu, mamah buat jus mangga." ucap Mamah nya.
"Loh untuk aku gak ada?" tanya Mila yang baru saja turun.