
"Saya tidak suka tubuh saya di sentuh oleh orang lain termasuk wajah saya." ucap Radit. Abel menoleh ke arah Radit.
"Kakak harus terbiasa, agar kakak semakin tampan, semua perempuan di luar sana pasti terpikat kalau wajah kakak bersih." ucap Abel.
"Saya tidak ingin. Saya sudah Tampan Tampa perawatan." ucap Radit.
"Ck sangat percaya diri sekali." ucap Abel.
"Saya ingin kamu yang membersihkan wajah saya." ucap Radit. Abel kaget dia melihat ke arah mbak-mbak yang sedang di ruangan itu.
"Humm mbak bisa keluar dulu kan? saya mau berbicara dengan bos saya." ucap Abel. Mereka keluar dari sana.
"Kakak bisa gak sih lihat situasi kalau mau bercanda?" ucap Abel.
"Saya serius, tidak bercanda." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Terserah kakak saja deh. Aku jadi tidak mood untuk perawatan." ucap Abel.
"Kenapa? Kamu sangat membenci saya karena kata-kata saya?" tanya Radit. "Iyah! aku tidak suka kakak seperti ini. Jangan karena aku baik kepada kakak akhir-akhir ini kakak jadi berfikir aku membuka hati." ucap Abel.
"Saya tidak pernah berfikir demikian." ucap Radit.
"Aku berharap kakak jangan lupa dengan apa yang sudah di sepakati sebelum nya." ucap Abel.
"Apa kamu tidak berniat untuk memperbaiki hubungan kita?" tanya Radit. "Kakak bisa diam gak? Aku tidak mau, sekali lagi aku bilang aku tidak mau." ucap Abel.
Radit seketika langsung terdiam.
Mereka melanjutkan perawatan tidak ada percakapan diantara mereka berdua lagi.
Setelah selesai mereka pulang ke rumah. "Saya sangat lapar sebaiknya kita makan dulu." ucap Radit kepada Abel yang sangat fokus menyetir.
"Makan di rumah saja, aku tidak ingin makan di luar." ucap Abel.
Radit tidak bisa membantah apa yang di katakan oleh istri nya, akhirnya dia pun memiliki untuk mengikuti istri nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
Seperti biasa Abel akan selalu marah. Radit tidak berani untuk berbicara atau menegur Abel karena Radit saja sangat takut melihat wajah Abel.
Radit duduk di ruang tamu dia melihat ke arah Abel yang masuk ke dalam kamar nya.
Tidak beberapa lama perut nya terasa sangat lapar.
"Huff perut ku sangat lapar sekali." Radit berjalan ke arah dapur berharap ada sesuatu yang bisa di makan.
Karena ada roti dia memakan nya untuk mengganjal perut nya.
Namun dia rasa makan Roti saja tidak cukup.
Mau memesan makanan dari luar namun dia takut tidak berselera.
Mau tidak mau dia harus memesan makanan dari luar untuk dia makan.
__ADS_1
Setelah selesai makan akhir nya dia tidur ke kamar nya.
Di kamar dia duduk sambil melamun.
"Mungkin yang di katakan oleh Abel benar. Aku seharusnya tidak berfikir ke sana." ucap Radit.
Keesokan harinya... Radit mempersiapkan diri ke kantor. Begitu juga dengan Abel.
Abel tidak memasak dia membeli makanan dari luar untuk sarapan Radit.
Radit berangkat dengan supir nya. Sementara Abel berangkat membawa mobil nya sendiri.
Sesampainya di kantor Abel dengan Radit sama sekali tidak berbicara satu sama lain.
"Kamu akhir-akhir ini kenapa sih sangat jarang datang ke kantor?" tanya Enjel.
"Gak apa-apa, aku hanya ingin bekerja dari rumah saja." ucap Abel.
"Kenapa kamu gak sekalian berhenti aja sih? Pemilik perusahaan adalah suami kamu sendiri, kamu tidak akan rugi." ucap Enjel.
"Sudah jel jangan membahas itu, pekerjaan ku sangat banyak." ucap Abel. Enjel menghela nafas panjang.
"Kamu masih belum bisa mencintai suami kamu?" tanya Enjel. Abel menatap wajah Enjel.
"Nanti yah kita bahas ini, sekarang aku harus mengerjakan ini sebelum Jam istirahat." ucap Abel.
Enjel mengangguk.
"Pak ini laporan yang Bapak minta." Abel datang ke ruangan Radit.
Radit mengambil. Tidak mengatakan apapun Abel langsung keluar. Novi masuk ke ruangan itu.
"Bapak dengan Abel bertengkar?" tanya Novi.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Wajah Bapak terlihat sangat murung sekali." ucap Novi.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir." ucap Radit.
"Apa Bapak sudah makan siang?" tanya Novi.
"Belum." jawab Radit.
"Bagaimana kalau kita makan di luar pak?" tanya Novi.
"Tapi.."
"Sudah ayo saja pak." Novi memaksa Radit.
Sementara di tempat makan Abel dengan Enjel sedang bercerita.
"Kamu masih belum move on dari Gaga?" tanya Enjel. Abel menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Aku tidak tau pasti nya, tapi aku belum bisa membuka hati kepada siapapun." ucap Abel.
."Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari Abel. Menurut aku sih kamu sudah keterlaluan kepada Pak direktur." ucap Enjel.
Abel sudah menceritakan semua nya.
"Mau bagaimana lagi Enjel, terkadang Kak Radit membuat aku kesal. Mau bagaimana pun aku tetap kesal kepada nya karena tidak menolak saja pernikahan itu." ucap Abel.
"Kamu sungguh kekanak-kanakan Abel. Jangan sampai suatu saat nanti pak direktur di ambil oleh orang lain, kamu akan di tinggal kan dan menjadi janda." ucap Enjel.
Abel tidak menjawab dia melihat ke arah Radit dan juga sekertaris Novi datang.
"Loh itu kan sekretaris Novi dengan pak direktur." ucap Enjel.
Enjel sangat iseng dia memanggil mereka. Abel sudah ketar-ketir dan sangat jengkel kepada teman nya itu.
"Kamu ngeselin banget sih!" ucap Abel kepada Enjel.
"Biar ramai, siapa tau suami kamu mau membayar kan makanan kita." ucap Enjel.
Radit dan Novi melihat mereka berdua.
"Kita duduk di sana saja pak, kebetulan Di sini semua meja sudah penuh." ucap Novi.
"Tapi di sana ada Abel."
"Tidak apa-apa pak, lagian saya dengan Enjel saja yang ada di sini." ucap Novi.
Novi menarik tangan kiri Radit berjalan ke arah Abel.
"Huff benar-benar yah sekretaris Novi sangat tidak sopan menggandeng Suami orang seperti itu." ucap Enjel.
"Kamu tidak perlu membuat aku cemburu, aku tidak akan cemburu." ucap Abel. "Siapa yang bikin kamu cemburu, aku hanya bilang saja." ucap Enjel.
"Sudah kamu diam saja." ucap Abel.
Radit dan Abel sudah duduk di sana.
"Ternyata kalian berdua Makan di sini juga." ucap Novi.
"Iyah Bu." ucap Enjel.
Mereka memesan makanan. Novi juga memilih makanan untuk Radit.
Abel melirik ke arah Radit dan Novi. Novi sangat perhatian dan mengerti kepada Radit.
"Percuma saja Abel dengan pak direktur menikah seperti ini. Aku harus bersaksi, aku tidak boleh tinggal diam saja." ucap Enjel dalam hati.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai Makan, mereka kembali ke kantor.
Radit sama sekali tidak menegur Abel. Begitu juga dengan sebaliknya.
Kalau seperti itu orang lain tidak akan curiga sama sekali dengan mereka berdua.
__ADS_1