Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 152


__ADS_3

"Heri...." ucap Enjel..


"Iyah."


"Kembali lah, aku merindukan kamu." ucap Enjel.. Baru pertama kali nya Heri melihat Enjel memohon dan dia benar-benar sangat baper dan langsung luluh.


"Baiklah aku akan berangkat malam ini juga."


"Kamu seriusan?" tanya Enjel. Heri mengangguk.


Heri mematikan sambungan telepon nya dan langsung mandi.


Enjel tidak sedih lagi dia bisa tersenyum karena Heri sudah mau pulang. Dia sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan Heri di perjalanan seperti apa..


"Heri tidak akan sampai malam ini juga di sini, kenapa aku sangat merindukan nya?" tanya Enjel.


Keesokan harinya...


"Tok!! Tok!! Tok!!" Ketukan pintu.


Namun Enjel masih tidur dia tidak mendengar walaupun bel sudah berbunyi.


"Huff kemana sih dia? Kenapa dia tidak membuka pintu?" ucap Heri.


Mencoba menelpon namun tidak aktif.


"Enjel benar-benar." ucap Heri karena dia sudah sangat lelah mau istirahat dan tidak sabar juga dia ingin bertemu dengan Enjel.


Enjel libur karena permintaan Heri.


Enjel mulai mendengar suara bel dan ketukan pintu. Dia bangun melihat jam ternyata sudah jam sembilan. Dia sangat kaget sekali.


Enjel keluar dari kamar berlari ke pintu depan membuka pintu dan benar saja di balik pintu adalah Heri.


Enjel memerhatikan Heri.


"Huff aku pikir kamu menunggu ku. Namun ternyata kamu masih tidur jam segini. Mentang-mentang to berangkat ke kantor." ucap Heri.


"Maafin aku. Kamu pasti sudah sangat lama di luar. Ayo masuk dulu." ucap Enjel.


Heri merentangkan tangan nya. Enjel terdiam sejenak.


namun tiba-tiba di langsung memeluk Heri Dengan sangat erat.


"Aku sangat merindukan kamu sayang." ucap Heri.


Enjel diam saja.


"Ayo masuk." ucap Heri namun Enjel menahan pelukan nya.


"Aku tau semalaman kamu tidak tidur kan karena nungguin aku? Kamu juga pasti sangat merindukan aku." ucap Heri.


Enjel melepaskan pelukannya. "Loh kamu kok nangis?" tanya Heri.


"Enggak. Aku gak nangis. Mata aku kelilipan." ucap Enjel. Heri tersenyum.

__ADS_1


"Ayo masuk ke dalam." ucap Enjel membantu membawa barang-barang Heri.


"Huff cukup sulit untuk menjelaskan nya tapi aku sangat bahagia." ucap Enjel sambil melihat Heri yang berjalan di depan nya.


"Humm kamu mau minum dulu? Kamu pengen minum apa?" tanya Enjel.


"Kopi saja seperti biasa." ucap Heri. Enji mengangguk.


Tidak beberapa lama kopi nya datang. "Nih kamu minum dulu. Aku akan masak sarapan untuk kamu." ucap Enjel.


Heri menahan tangan Enjel.. Enjel kaget dia menatap Heri.


Heri menepuk tempat duduk di samping nya.


"Duduk lah."


"Tapi kamu harus sarapan dulu sebelum istirahat." ucap Enjel.


"Saya sudah sarapan dari luar." ucap Heri. Enji duduk. Heri menatap wajah Enjel.


"Tatap saya." ucap Heri Menaik kan dagu Enjel.


Mereka saling bertatapan. Heri mau mencium Enjel namun di tahan oleh Enjel.


"Aku belum gosok gigi , aku juga belum mandi ." ucap Enjel.


Heri tersenyum. "Tidak apa-apa." ucap Heri langsung mencium bibir Enjel.


Enjel tidak bisa menolak nya dia membalas ciuman dari Heri.


Kedua nya bertatapan..


"Kamu istirahat yah, kamu terlihat sangat letih." ucap Enjel dengan lembut.


"Kamu temanin aku." ucap Heri.


"Hum baiklah." ucap Enjel. Heri tersenyum dia langsung menarik tangan Enjel ke kamar nya.


"Loh bagaimana dengan kopi nya?" tanya Enjel.


"Aku akan minum setelah bangun." ucap Heri.


Sampai di kamar Heri benar-benar langsung berbaring.


"Aku sudah sangat merindukan kamar ini." ucap Heri.


"Kamu hanya merindukan kamar ini?"


"Merindukan kamu juga sayang." ucap Heri mencubit hidung Enjel.


Baru aja berbaring namun Heri sudah tidur. Enjel tidak bisa tidur lagi karena dia baru saja bangun.


Dia menatap wajah Heri. "Entah mengapa setiap bersama kamu aku merasa nyaman, aku merindukan kasih sayang seorang Papah juga dan sekarang aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu." ucap Enjel.


Dia tidur di dada Heri. Sementara di tempat lain Abel mengantar kan makan siang untuk suami nya.

__ADS_1


"Selamat Siang Bu." sapa para staf kepada Abel.. Namun tidak sengaja Abel melihat Tania keluar dari ruangan suami nya.


"Loh bukannya itu Tania? Ngapain dia ke sini?" tanya Abel dalam hati.


Dia mau mengejar nya namun keburu di tahan oleh Novi.


"Mbak Abel." ucap Novi. Abel menoleh ke arah Novi.


"Eh kamu Novi, jangan panggil mbak lah aku tidak biasa, kamu lebih tua dari aku."


"Tapi tetap saja ini peraturan kantor yang harus di turuti karena kamu istri bos kami. untung mbak, bagaimana kalau ibu." ucap Novi.


Abel menggelengkan kepalanya.


"Jangan, terserah kamu saja deh." ucap Abel.


"Humm kamu ke sini mau nganterin makan siang untuk Pak Radit?" tanya Novi.


"Iyah, kalau begitu aku masuk dulu yah, keburu bos kalian lapar. Nanti kita berbicara." ucap Abel. Novi mencoba menahan namun terlanjur Abel sudah masuk.


"Abel." ucap Radit kaget melihat Abel datang tiba-tiba.


"Kakak sudah makan siang?" tanya Abel melihat Radit sedang makan.


Radit melihat makanan di tangan istrinya.


"Saya sudah terlanjur pesan makanan dari luar, seharusnya kamu ngomong kalau kamu mau mengantar kan makan siang." ucap Radit.


"Loh kakak gak baca pesan aku?" tanya Abel, Radit langsung memeriksa handphone nya ternyata sudah ada pesan dari istri satu jam yang lalu kalau dia akan datang membawa makan siang.


"Maafin saya, saya tidak membaca nya.. Tapi tidak apa-apa Saya akan memakan masakan kamu." ucap Radit langsung berhenti makan makanan yang dia makan entah beberapa suap.


"Tapi membuang makanan tidak baik." ucap Abel.


"Saya lebih suka dan lebih kenyang makan masakan kamu." ucap Radit membuka Bekal dari istri nya.


"Oh iya kak, tadi aku seperti melihat Tania keluar dari sini." ucap Abel.


"Tania? Kamu salah lihat mungkin, mana mungkin Tania ke sini." ucap Radit.


"Sudah lupa kan saja, mungkin mirip saja." ucap Abel. Walaupun sebenarnya dia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu waktu di Paris.


Dia tidak sengaja melihat Tania memeluk Radit..Dia tetap berfikir positif dan tidak terlalu memikirkan nya agar tidak menjadi masalah bagi nya.


Novi dan Abel sedang duduk berdua.


"Kok kamu murung gitu sih?" tanya Novi. Abel menoleh ke arah Novi.


"Tadi aku seperti melihat Tania keluar dari kantor kak Radit. Namun kata kak Radit dia tidak datang. Apa aku yang salah lihat?"


"Kamu yang salah lihat, mana mungkin mbak Tania ke sini." ucap Novi.


"Kamu yakin Tania tidak pernah datang ke sini?" tanya Abel.


"Enggak." ucap Novi terlihat biasa saja padahal asli nya dia sudah sangat sedih, takut dan merasa bersalah sekali.

__ADS_1


__ADS_2