
"Saya tidak berniat seperti ini." ucap Radit.
"Bohong! Kakak sengaja kan mau balas dendam dengan cara seperti ini! Karena selama ini aku tidak menjadi istri yang baik." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Aku sangat benci kakak,m." ucap Abel.
"Abel denger dulu." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau bekerja lagi, aku akan resign dari kantor. Aku tidak mau bertemu orang-orang itu." ucap Abel.
Radit tidak bisa berbicara karena Abel masih emosi dia menunggu Abel sedikit lebih tenang.
"Maaf kan saya." ucap Radit memeluk Abel.. Abel menolak namun Radit memaksakan nya.
Radit juga mencium bibir Abel Dengan paksa. Abel tetap tidak mau. Namun beberapa lama Abel tenang karena ciuman Radit seperti membuat tubuh nya lemah.
Tidak beberapa lama tenang tiba-tiba dia menangis, Radit melepaskan ciuman nya.
"Mereka tidak tau apa yang terjadi, kenapa mereka harus menghakimi." ucap Abel sambil menangis.
"Tidak apa-apa.. Tidak Apa-apa." ucap Radit memeluk Abel.
Dia membawa Abel untuk tidur di pelukan nya.
Berusaha menenangkan Abel. Tidak beberapa lama Abel diam dan ternyata dia sudah tidur.
"Maafkan saya Abel. Tidak seharusnya saya meminta orang tua saya datang." ucap Radit.
Di sore hari nya... Abel merabah samping nya. Dia terbangun karena tidak merasakan pelukan Radit..
"Kak Radit. Kak.." panggil Abel namun tidak ada jawaban.
"Kemana kak Radit? Kok tidak ada di sini?" ucap Abel sambil turun dari tempat tidur.
Namun badan nya terasa sangat lemas, dia tidak berdaya untuk turun dari kasur.
Tidak beberapa lama Bibik masuk ke dalam kamar.
"Non sudah bangun? Bibik baru saja mau membangun kan." ucap Bibik.
"Kak Radit mana Bik?" tanya Abel. "Dari tadi ijin pergi keluar Non. Saya juga tidak tau kemana." ucap Bibik. " Oohh." ucap Abel.
"Wajah Non sangat pucat sekali." ucap Bibik memeriksa suhu badan Abel dan ternyata sedikit hangat.
"Sudah non tidak perlu terlalu di pikirkan. Mereka tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Terserah mereka saja mau berbicara apa." ucap Bibik.
"Tidak bisa bik, aku tidak mungkin mengabaikan kata-kata mereka." ucap Abel.
"Non harus buktikan kalau kata-kata mereka semua itu tidak lah benar." ucap Bibik.
__ADS_1
Abel terdiam. "Nih minu obat dulu non, setelah itu istirahat yah." ucap Bibik.
Abel mengangguk.
Tidak beberapa lama Mila pulang. "Kak Abel... Ada apa kak?" tanya Mila masuk ke kamar Abel.
"Kamu sudah pulang?" tanya Abel.
"Iyah kak, aku mendengar kakak sakit aku langsung pulang." ucap Mila.
"Jangan kasih tau sama Mamah dan papah yah." ucap Abel. Mila mengangguk.
"Kakak sakit karena apa? perasaan tadi sehat." ucap Mila.
"Hanya kecapean saja Kok,.kamu tidak perlu khawatir. Sebaiknya kamu pergi mandi." ucap Abel.
"Kakak yakin baik-baik saja? Wajah kakak sangat pucat, badan kakak juga sangat panas." ucap Mila. Abel tersenyum.
"Tidak apa-apa." ucap Abel.
"Mila tidak boleh tau tentang ini." ucap Abel.
Mila menemani Abel. Dia juga membantu memijit-mijit badan Abel sampai enakan.
Abel sudah meminta nya untuk pergi namun Mila memilih merawat Abel.
"Ini sudah jam Delapan kok kak Radit belum pulang sih?" ucap Mila.
"Istri sakit masih mementingkan pekerjaan." ucap Mila dengan kesal.
Tidak beberapa lama Radit masuk ke kamar. "Akhirnya kakak pulang juga. Seharusnya kakak mengutamakan istri kakak dari pada Pekerjaan." ucap Mila.
"Ada apa dengan Abel?" tanya Radit dia belum tau.
"Kak Abel demam tinggi." ucap Mila. Radit langsung memeriksa nya.
"Kenapa kamu tidak menghubungi saya?" tanya Radit.
"Tidak apa-apa kak, aku hanya demam biasa." ucap Abel.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat lah, terimakasih sudah membantu merawat kakak mu." ucap Radit. Mila mengangguk dia pun keluar dari sana.
Radit duduk di pinggir kasur. "Kamu sakit karena memikirkan hal yang tidak penting Abel." ucap Radit.
"Bagi kakak itu tidak penting, namun bagi ku itu sangat lah penting." ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Sekarang buka handphone kamu." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa buka saja." ucap Radit. Abel tetap tidak mau.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, sekarang istirahat lah saya juga mau mandi." ucap Radit. Abel menahan tangan Radit.
__ADS_1
"Kakak dari mana? Kenapa kakak baru pulang?" tanya Abel.
"Saya dari kantor." ucap Radit.
"Oohh." ucap Abel.
Radit mengangguk. Radit segera mandi tidak beberapa lama akhirnya selesai dia melihat Abel yang duduk.
"Kamu sudah makan?" tanya Radit. Abel mengangguk.
"Sekarang bagaimana badan kamu? Apa masih sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Radit.
"Tidak Perlu, nanti pasti sembuh." ucap Abel. Radit tersenyum.
Namun tiba-tiba handphone nya berbunyi. "Tunggu sebentar yah, Novi menelpon." ucap Radit.
"Huff Novi lagi." ucap Abel dalam hati. Cukup lama Radit berbicara di balkon.
"Kenapa mereka harus berbicara di balkon? Aku sangat Curiga." ucap Abel dalam hati.
Radit menyudahi pembicaraan nya dia masuk ke dalam Abel pura-pura tidur.
"Perasaan masih duduk, sekarang sudah tidur saja." ucap Radit.
Radit duduk di Samping Abel.
"Saya tau kamu pura-pura tidur." ucap Radit. Abel membuka mata nya.
"Lihat saya." ucap Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya. Namun Radit memaksa nya.
"Apa kamu malu menjadi istri saya?" tanya Radit..Abel menggeleng kan kepala nya.
"Lalu kenapa kamu terlihat sangat memikirkan setelah semua orang tau kita suami istri?" tanya Radit.
"Apa kakak tidak tau apa yang mereka bilang tentang ku?" tanya Abel.. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Mereka bilang kalau aku perempuan bayaran kakak, perempuan mainan kakak, hanya pelampiasan dan tidak mungkin kakak mencintai aku." ucap Abel.
"Banyak orang yang bilang aku tidak Cocok dengan kakak, ada perempuan yang lebih cocok dengan kakak, di tambah lagi mereka berfikir aku yang sangat genit kepada kakak." ucap Abel.
"Aku tidak terima dengan kata-kata mereka semua. Semua nya menyudut kan aku." ucap Abel.
"Emang apa salah nya perempuan biasa seperti ku ini menjadi istri dari orang yang luar biasa seperti kakak? Apa itu salah?" tanya Abel.
"Dan lagi kalau aku hanya karyawan biasa tidak boleh berhubungan dengan direktur? Apa harus yang berjabatan tinggi dan bersekolah tinggi?" ucap Abel.
"Kalau begitu kenapa kakak menikahi ku? Kenapa kakak tidak memilih saja perempuan yang berpendidikan orang kaya dan juga cantik." ucap Abel dengan sangat kesal.
Seketika dia lupa kalau dia lagi sakit.
__ADS_1
"Apa kamu rela saya dengan orang lain?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.