
Dia tidak sengaja melihat Tania memeluk Radit..Dia tetap berfikir positif dan tidak terlalu memikirkan nya agar tidak menjadi masalah bagi nya.
Novi dan Abel sedang duduk berdua.
"Kok kamu murung gitu sih?" tanya Novi. Abel menoleh ke arah Novi.
"Tadi aku seperti melihat Tania keluar dari kantor kak Radit. Namun kata kak Radit dia tidak datang. Apa aku yang salah lihat?"
"Kamu yang salah lihat, mana mungkin mbak Tania ke sini." ucap Novi.
"Kamu yakin Tania tidak pernah datang ke sini?" tanya Abel.
"Enggak." ucap Novi terlihat biasa saja padahal asli nya dia sudah sangat sedih, takut dan merasa bersalah sekali.
"Sudah lupa kan saja, Lagian kamu tau sendiri kan kalau Mbak Tania pasti sibuk dengan pekerjaan nya." ucap Novi.
"Humm kamu tau gak kalau dulu Tania sangat akrab dengan Kak Radit?" tanya Abel.
"Aku kurang tau juga sih, hanya saja Aku dengar nya begitu, namun setelah beberapa Bulan ini mbak Tania pindah tugas." ucap Novi.
"Apakah Kak Radit sedekat itu dengan Sepupu nya?"
"Sangat dekat. Dan kata orang tua pak Radit mereka sudah seperti saudara kandung." ucap Novi.
"Oohh gitu yah." ucap Abel.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak ada. Aku hanya penasaran saja karena aku merasa Tania kurang suka kepada ku." ucap Abel.
"Itu perasaan kamu saja mungkin, mbak Tania memang kelihatan nya sangat judes." ucap Novi.
"Oohh gitu yah." ucap Abel.
"Enjel mana?" tanya Abel baru sadar kalau Enjel tidak datang.
"Humm kamu baru sadar kalau dia tidak ada?" ucap Novi. Abel mengangguk.
"Hari ini pak Heri pulang. Jadi dia cuti hari ini mau melepaskan rindu nya." ucap Novi.
"Oohh begitu." ucap Abel.
"Oh iya Novi bagaimana keadaan kamu dengan keluarga kamu sekarang?" tanya Abel.
"Kamu sudah tau?" tanya Novi.
"Udah dari Enjel." ucap Abel.
"Sampai sekarang aku belum pulang ke rumah." ucap Novi.
"Lalu? Kamu tinggal di mana?" tanya Abel.
"Aku menyewa Apartemen yang sederhana untuk tinggal sebentar." ucap Novi.
"Wahh seperti nya masalah nya benar-benar rumit." ucap Abel.
Novi menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Apa mereka tidak meminta kamu pulang atau mencari kamu?" tanya Abel.
"Mereka mencari aku, tapi aku memilih untuk tetap tinggal dari sana, aku tidak ingin kembali kalau keadaan masih sama." ucap Novi.
"Kamu ada saran untuk aku?" tanya Novi.
"Saran dari aku sih kamu harus mendengarkan masing-masing orang tua kamu, dan cari jalan terbaik nya." ucap Abel.
"Bagaimana kalau keputusan mereka memang sama saja."
"Ya mungkin itu sudah jalan terbaik. Dari pada bersama terus saling menyakiti." ucap Abel.
"Saran kamu sama Enjel sama saja, Kalau di pikir-pikir bagus juga.. Tapi aku tetap tidak ingin merasakan perceraian orang tua." ucap Novi.
"Kamu sudah cukup dewasa, kalau kamu di posisi mereka pasti kamu memilih untuk berpisah dari pada bersama namun saling menyakiti." ucap Abel.
Novi mengangguk. "Terimakasih yah sarannya." ucap Novi.
"Abel...." panggil Radit. Abel melihat suami nya menyusul ke atas.
"Apa yang kamu lakukan di sini? saya mencari kamu dari tadi." ucap Radit.
"Aku sedang berbicara dengan Novi."
Radit melihat Novi dan Abel.
"Kamu sudah akur dengan Novi?" tanya Radit.
"Aku sudah dekat dengan Novi, awas saja kakak membuat aku salah paham kepada Novi." ucap Abel.
"Loh kok jadi yang salah saya?" tanya Radit.
"Novi aku pergi dulu yah, kalau kamu butuh teman datang saja ke rumah.. Pintu rumah ku selalu terbuka.. Tidak Perlu hiraukan pria ini. Di luar kantor kamu bukan lagi sekretaris nya." ucap Abel.
Novi tersenyum, Radit hanya bisa menggelengkan kepalanya kepala nya melihat istrinya.
"Sayang..." ucap Radit menahan tangan Abel saat di lobby.
"Ada apa? Jangan seperti ini? Kalau ada yang lewat bagaimana?" tanya Abel karena Radit Menahan nya di dinding.
"Kenapa kamu begitu cepat pulang? saya sangat merindukan kamu." ucap Radit. "Tapi aku harus cepat pulang karena mamah sama papah di rumah." ucap Abel.
"Orang tua saya?" tanya Radit. Abel mengangguk.
"Kenapa mereka sangat sering datang akhir-akhir ini?" tanya Radit.
"Mereka mau melihat keadaan ku dan juga keadaan cucunya. Mereka juga mau memastikan kalau kakak tidak selingkuh dari ku." ucap Abel.
"Maksudnya?"
"Ya mereka mau memantau kakak." ucap Abel.
"Sungguh tidak masuk akal." ucap Radit.
"Kakak harus ingat yah, sekarang aku sedang mengandung, jadi jangan coba-coba untuk selingkuh dari ku." ucap Abel.
"Siapa yang selingkuh sayang? saya tidak selingkuh."
__ADS_1
"Bagus deh kalau begitu." ucap Abel.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Radit menahan tangan Abel yang mau pergi.
"Aku harus pulang." ucap Abel. Radit mau mencium bibir Abel namun di tahan oleh Abel.
"Jangan aneh-aneh yah kak. Sekarang kita berada di kantor." ucap Abel.
"Ini sudah jam kerja, semua orang sudah di ruangan nya." ucap Radit.
"Jangan di sini kak."
"Bagaimana kalau di ruangan saya? Saya tidak bisa menahan nya lagi."
"Jangan kak, aku mohon." ucap Abel.
Tiba-tiba ada yang lewat dua orang.
Mereka kaget dan harus berpura-pura tidak melihat. Abel menghela nafas panjang.
"Tuh kan." ucap Abel. Radit tersenyum dia menatap wajah istri nya.
"Kakak aneh banget Hari ini, ada apa?" tanya Abel.
Radit melirik Abel dari kepala sampai kaki.
"Apa yang salah dengan pakaian ku?" tanya Abel.
"Kamu memakai baju yang sangat ketat sehingga menunjukkan lekuk-lekuk tubuh mu yang indah dan sampai anak saya juga kelihatan." ucap Radit.
"Ini perut ku yang semakin besar. Bukan anak." ucap Abel.
"Tapi di sini juga anak saya." ucap Radit sambil mengelus nya.
"Sudah-sudah sebaiknya aku pulang." ucap Abel.
"Tinggal lah sebentar lagi." ucap Radit.
"Tidak bisa kak."
"Baiklah kalau begitu hari ini saya akan pulang cepat. Saya minta Kamu mempersiapkan diri." ucap Radit.
"Mempersiapkan diri untuk apa? Bukan kah kemarin sudah?" ucap Abel.
"Saya hanya meminta jatah tiga kali seminggu, apa susahnya?' ucap Radit.
"Pelan-pelan kak, bagaimana kalau orang lain mendengar nya?" ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. Dia memegang tangan istrinya.
"Katakan apa yang kamu inginkan hari ini, saya akan membawa nya pulang." ucap Radit.
"Tidak ada, aku hanya ingin kakak cepat pulang." ucap Abel.
Radit tersenyum sambil mengangguk.
"Ekhem-ekhem..." Tiba-tiba Novi lewat.. Abel langsung melepaskan tangan nya namun di tahan oleh Radit.
__ADS_1
"Sangat memalukan. Kakak tidak seperti biasanya." ucap Abel. Radit tersenyum.
"Baiklah kalau begitu kamu pulang hati-hati, terimakasih bekal nya sayang." ucap Radit mencium kening istrinya.