Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 106


__ADS_3

"Benar juga sih."


"Ya udah deh terserah kamu saja, kamu tau yang terbaik kepada diri kamu sendiri." ucap Abel.


Enjel menoleh ke arah Heri. Heri langsung mengedip kan matanya membuat Enjel geli.


"Oh iya bagaimana kandungan kamu sampai hari ini sehat-sehat saja kan?" tanya Enjel.


"Alhamdulillah baik, hanya saja aku heran karena makanan ku akhir-akhir ini aneh, dan juga yang aku idam aneh-aneh." ucap Abel.


"Oh iya satu lagi, kalau aku tidak marah kepada kak Radit aku tidak akan bisa tenang." ucap Abel. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Untung saja kamu mengandung penerus keluarga suami kamu, kalau tidak mungkin pak Radit tidak betah." ucap Enjel.


"Humm kamu benar juga, tapi aku tidak akan seperti ini kalau bukan karena dia." ucap Abel.


Enjel mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Abel.


"Ya sudah kalau begitu kamu sebaiknya bantu aku membuat cemilan di dapur." ucap Abel.


Enjel mengangguk. Abel berjalan ke dapur kebetulan Bibik lagi mengiris bawang, Bibik seketika langsung memasukkan ke dalam kulkas agar aroma nya tidak menggangu Abel.


"Bibik lagi apa?" tanya Abel.


"Nih mau masak sayur non. Non sendiri ngapain masuk ke dapur? Bagaimana kalau mual non kambuh lagi?" tanya Bibik.


"Enggak kok bik, aku hanya mau menyiapkan cemilan untuk kak Radit dan juga yang lain nya.


"Tidak apa-apa non saya saja yang membuat nya." ucap Bibik. "Bibik dari tadi sudah capek bekerja, tidak apa-apa Bik aku dan Enjel saja." ucap Abel.


Bibik mengangguk. Tidak beberapa lama Farel masuk ke dapur.


"Mamah.. mamah.." ucap Farel.


"Iyah kenapa sayang?" tanya Abel.


"Makan...." Ucap Farel.


"Sebentar lagi yah, Bibik masak sayur dulu." ucap Bibik mengeluarkan bumbu dan langsung memasukkan nya ke kuali.


Mencium aroma itu membuat Abel mual dia berlari ke kamar mandi.


"Huff dia benar-benar sangat keras kepala." ucap Enjel.


"Sudah di bilang jangan masuk ke dapur namun tetap saja masuk ke dapur." ucap Enjel.


Enjel mengantarkan cemilan ke depan.


"Loh Abel mana?" tanya Radit.

__ADS_1


"Abel tadi di kamar mandi pak." ucap Enjel.


Setelah beberapa lama akhirnya Enjel dan juga Heri pamit pulang.


"Kenapa sih cepat-cepat pulang? Aku masih mau di sini." ucap Enjel kepada Heri.


"Sore ini saya ada janji dengan rekan kita." ucap Heri.


"Rekan mana? Perasaan Minggu jadwal kosong." ucap Enjel.


"Ini rencana pribadi. Rekan yang kemarin mengurus file-file itu." ucap Heri.


"Oohh mbak Salsa." ucap Enjel. Heri mengangguk.


"Kamu kan yang mau ketemu sama dia, sebaiknya kamu pulang saja sendiri aku mau di sini." ucap Enjel.


Heri menggeleng kan kepala nya. "Tidak bisa! Kamu harus ikut aku pulang." ucap Heri.


"Aku tidak mau! Ini hari Minggu jadi hari libur, aku berhak menolak perintah kamu. Sebaiknya kamu pergi saja kalau mau pergi." ucap Enjel menepis tangan Heri dan langsung pergi masuk.


Heri mau mengejar Enjel namun handphone nya sudah di telpon oleh Salsa.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Radit kepada Abel yang berbaring di tempat tidur.


Abel melihat ke arah Radit.


"Perut ku tiba-tiba mual. Dan sekarang Kepala ku sakit." ucap Abel dengan nada manja.


"Ya udah kalau begitu kamu istirahat saja. Istirahat yang banyak agar tidak terlalu pusing." ucap Radit.


Abel mengangguk. Radit melihat ke Farel yang sangat asyik bermain di karpet.


Di malam hari... Heri baru saja pulang dia masuk ke apartemen Abel.


"Kamu sudah pulang?" ucap Enjel kepada Heri. "Enjel! Kamu mengejutkan aku saja!" ucap Heri.


Enjel berdiri dia berjalan ke arah kamar nya.


"Apa malam ini kamu tidur di sini?" tanya Heri.


"Iyah, ada apa?" tanya Enjel.


"Tidak ada, aku hanya bertanya saja. Kenapa kamu tidak di apartemen Teman kamu?" tanya Heri.


"Dia kembali ke apartemen nya hari ini keluarga nya juga ikut. Jadi aku harus balik ke sini." ucap Enjel.


"Bagus deh kalau begitu, kapan lagi yah kan kita satu atap." ucap Heri.


Enjel memasang wajah datar. Dia berlalu begitu saja.

__ADS_1


Di rumah Radit...


Radit sadar kalau istri nya sedang berdiri di belakang pintu ruang kerja nya.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Radit. Abel memunculkan diri nya dia Memasang wajah datar.


"Ada apa?"


"Saya sudah bilang saya bekerja sebentar bukan? apa kamu tidak bisa tunggu sebentar saja?" ucap Radit.


"Humm itu kak." "Ada apa? Kalau seperti ini terus saya tidak bisa fokus bekerja." ucap Radit.


"Ya udah deh kalau gitu aku ke kamar dulu." Dia tidak jadi menyampaikan niat nya kepada suami nya dan setelah itu langsung pergi.


"Sangat aneh." ucap Radit.


Tidak beberapa lama akhirnya dia menyudahi pekerjaan nya karena sudah sangat mengantuk sekali dia juga sudah sangat lelah.


Namun sebelum masuk ke kamar dia mendengar suara tangisan Farel. Dia masuk ke kamar dan ternyata Farel sedang menangis di gendongan Abel.


"Kenapa?" yang Radit langsung menggendong Farel.


"Loh kok badan nya panas?" tanya Radit.


"Aku juga gak tau kak." ucap Abel. "Ya udah kalau begitu kita bawa periksa ke dokter." ucap Radit.


Ternyata Abel memanggil Radit tadi untuk memeriksa Farel yang tak kunjung diam menangis, namun karena melihat Radit sangat fokus bekerja akhirnya dia tidak jadi menyampaikan nya.


Sampai di rumah sakit ternyata Farel demam tinggi. Abel dan Radit sangat syok mendengar itu.


Setelah di berikan obat, Farel berhenti menangis Mereka pun pulang ke rumah.


"Bagaimana ini kak? Kok panas nya gak turun-turun?" ucap Abel.


"Sudah tidak perlu khawatir. Sudah di berikan obat oleh dokter pasti nanti cepat sembuh." ucap Radit.


Abel terlihat sangat khawatir sekali sehingga dia melupakan keadaan nya.


Mereka tidur namun Farel sama sekali tidak bisa nyenyak tidur, dia terbangun menangis membuat Radit dan Abel terganggu.


Akhirnya sepanjang malam mereka bergadang.. Radit sudah meminta istri nya untuk istirahat dan tidur namun Abel tidak bisa tidur.


Abel memangku dan memeluk Farel sambil bersandar ke sandaran kasur. Sementara Radit Mengompres badan Farel.


Hari sudah menunjukkan pukul tiga pagi, mereka baru bisa tertidur. Itu hanya tiga jam saja alarm handphone sudah membangun kan mereka.


Farel juga terbangun namun tidak menangis dia hanya diam saja.


"Kak seperti nya Farel rindu sama orang tua nya." ucap Abel.

__ADS_1


"Saya sudah mencoba menghubungi mereka, namun mereka sangat sibuk sehingga tidak bisa datang ke sini." ucap Radit.


"Kalau begitu aku yang akan mengunjungi mereka." ucap Abel.


__ADS_2