Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 134


__ADS_3

Cukup lama Enjel menunggu akhirnya tamu Heri keluar.. Enjel kaget karena tiba-tiba Heri meletakkan buku di atas meja dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara yang keras.


"Huff siap-siap deh aku kena ceramahin, lagian teman satu ruangan ku Cepu semua." ucap Enjel dalam hati.


"Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak menjelaskan apapun?" tanya Heri.


"Humm pekerjaan yang tadi kamu minta sudah aku kirim kan ke Gmail kamu." ucap Enjel.


"Bukan tentang itu! Tentang pagi ini kamu sarapan dengan pria lain." ucap Heri.


"Aku hanya sarapan bersama karena aku sangat lapar sekali, menunggu kamu bisa membuat penyakit ku kambuh." ucap Enjel.


"setelah kamu berjanji akan sarapan bersama dengan ku, kamu malah pergi dengan pria itu!" ucap Heri.


"Aku sudah tidak bisa menahan nya lagi, kamu masih Sibuk." ucap Enjel.


Heri mau marah namun mencoba menahan nya karena sudah janji agar tidak cemburu berlebihan.


"Aku juga hanya sarapan saja, kamu juga pasti sudah sarapan dengan klien kamu." ucap Enjel.


"Saya belum sarapan." ucap Heri.


"Huff pantesan saja ngamuk seperti singa." ucap Enjel.


"Kamu bilang apa?"


Enjel langsung menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok, tidak ada." ucap Enjel.


"Kalau begitu aku akan membeli sarapan untuk kamu, tunggu sebentar. Liam belas menit." ucap Enjel langsung keluar dengan cepat.


"15 menit, aku salah bilang." ucap Enjel sambil terus berlari ke kantin.


Butuh waktu untuk masak nasi goreng. Akhirnya selesai juga dia masuk ke ruangan Heri.


"Kenapa begitu lama?" tanya Heri.


"Aku minta maaf, tadi sangat ramai yang beli, sekarang sudah masak kamu makan lah." ucap Enjel.


"Tangan ku Sibuk, aku harus menyiapkan pekerjaan ini." ucap Heri.


"Kalau begitu setelah pekerjaan nya selesai kamu makan yah." ucap Enjel dengan lembut. Heri menghela nafas panjang. Dia menatap Enjel.


"Kenapa? apa aku salah berbicara?"


"kenapa kamu gak peka sih? saya bilang seperti ini. Itu artinya saya mau di suapi!" ucap Heri.


"Su-suapin?" tanya Enjel. Heri menatap Enjel.


"Enjel kamu sudah berjanji akan belajar membuka hati. Kenapa kamu hal seperti ini saja tidak paham." ucap Heri.


"A-aku..." "Ya sudah kalau kamu tidak mau, kamu keluar saja." ucap Heri mengambil nya dari tangan Enjel dan makan sambil memasang wajah kesal.


Di malam hari Heri baru pulang dari kantor sementara Enjel sudah dari tadi sore.


"Tok!! Tok!! Tok!!" ketukan Pintu apartemen mengganggu Enjel yang sedang Menelpon dengan Abel di ruang tamu.

__ADS_1


"Seperti nya kamu ada tamu Enjel, sebaiknya buka dulu pintu nya." ucap Abel.


"Biarkan saja, itu pasti Heri. Dia tau pin nya." ucap Enjel.


"Tapi ketukan nya tidak berhenti." ucap Abel.


"Huff benar-benar tuh orang!" ucap Enjel dengan kesal.


"Ya udah deh kalau begitu aku tutup dulu yah telpon nya." ucap Enjel.


"Jangan lupa datang membawa kan aku sate." ucap Abel.


"Baiklah." ucap Enjel. Abel tersenyum dan langsung mematikan sambungan telepon.


Enjel membuka pintu dia melihat Heri berdiri di depan pintu.


"Apa yang kamu lakukan sih? Kamu tau pin nya kamu juga membawa kartu nya kenapa mengetuk pintu?" tanya Enjel.


"Bukan kah pada umumnya pasangan yang satu akan membuka kan pasangan yang lain nya pintu ketika pulang bekerja."


"Tapi kan kita bukan pasangan." ucap Enjel. Heri langsung menghela nafas panjang.


"Aku mau keluar dulu." ucap Enjel.


"Mau kemana?"


"Ke rumah Abel sebentar mengantar kan dia sate."


"Loh bukannya suami nya sudah pulang? kenapa kamu yang mengantarkan Sate kepada dia?"


"Kamu lupa kalau pak Radit lembur di kantor hari ini. Pak Radit tidak mengijinkan Abel keluar sendiri."


"Aku tidak apa-apa, aku juga ingin melihat keadaan dia.. Permintaan wanita hamil tuh tidak boleh di tolak." ucap Enjel.


"Tapi ini sudah malam. Aku juga baru pulang." ucap Heri.


"Kalau kamu lelah istirahat saja." ucap Enjel. Heri menghela nafas panjang.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


"Aku ikut."


"Aku hanya sebentar saja mengantarkan Sate lalu pulang." ucap Enjel agar Heri tidak perlu ikut.


"Tidak mungkin, kamu pasti akan sangat lama kalau pergi sendiri."


Akhirnya mereka pergi berdua. Namun saat membeli Sate Radit menghubungi Heri.


"Halo Heri."


"Ada apa Dit?"


"Apa sekarang kamu sedang menuju ke rumah ku?"


"Iyah, nih lagi sama Enjel. Istri mu meminta Sate." ucap Heri.


"Maaf ya bro menyusahkan kamu dengan Enjel."

__ADS_1


"Lagian kamu sih! Istri sedang hamil malah Sibuk bekerja." ucap Heri.


"Mau bagaimana lagi bro, pekerjaan ini sangat penting." ucap Radit.


"Ya sudah kalau begitu, selesaikan pekerjaan mu dan segera lah pulang. Istri mu pasti cemas." ucap Heri.


"Siapa yang berbicara dengan kamu?" tanya Enjel baru saja masuk ke dalam mobil."


"Radit, dia minta maaf karena menyusahkan kamu." ucap Heri.


"Oohh."


"Kamu sudah makan malam belum? Nih Sate untuk kamu." ucap Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak suka sate." ucap Heri.


"Lalu kamu mau apa? Bagaimana kalau kamu tiba-tiba lapar?"


Heri menatap wajah Enjel. "Kenapa diam saja? Kamu mau apa?"


"Mau kamu." ucap Heri sambil menunjuk Enjel. Enjel langsung terdiam sejenak.


"Mau Aku? Aku tidak bisa di makan." ucap Enjel.


"Bisa." ucap Heri.


"Coba saja kalau bisa, kalau kamu memakan ku, aku akan terluka dan kesakitan." ucap Enjel.


Tiba-tiba Heri mencium bibir Enjel membuat Enjel kaget. Heri menggigit bibir Enjel. Enjel kesakitan.


"Ssttt sakit!" ucap Enjel.


"Maaf-maaf." ucap Heri sambil mengelus bibir Enjel.


"Kamu yakin tidak mau makan?" tanya Enjel.. Heri menatap wajah Enjel.


"Di apartemen saja, aku akan masak ." ucap Heri.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Enjel.


Mereka melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di Antara keduanya.


Karena Heri canggung setelah apa yang dia lakukan sementara Enjel malu.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai berbincang-bincang sebentar setelah itu Enjel pamit pulang karena Heri menunggu di dalam mobil.


Di masuk ke dalam mobil dan ternyata Heri Malah ketiduran.


"Tuh kan sudah aku bilang kamu di rumah saja, namun sangat keras kepala." ucap Enjel. Heri mendengar suara Enjel dia langsung bangun.


"Sudah datang, ayo kita pulang." ucap Heri. Enjel mengangguk. Walaupun sangat ngantuk dia pun langsung meninggalkan rumah Radit.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Heri langsung membaringkan tubuh nya di sofa.


"Kamu mandi dulu. Tidak mungkin kamu tidur dengan pakaian seperti ini." ucap Enjel.


Heri mengangguk dia berjalan ke kamar. Tidak beberapa lama akhirnya. Setelah selesai dia mendengar Pintu kamar nya di ketuk oleh Enjel.

__ADS_1


"Makan dulu sebelum tidur." ucap Enjel sambil menunjuk kan mie ramen yang dia buat.


__ADS_2