
"Aku tidak pernah memiliki kekasih. Aku tidak pernah menjadi perempuan menjadi pacar ku, mereka hanya teman biasa."
"Teman seperti pacar yang kamu maksud? Teman yang bisa tidur dengan kamu?" ucap Enjel. "Aku memang melakukan hal seperti itu, tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi." ucap Heri.
Enjel menghela nafas panjang.
"Tetap saja aku tidak akan percaya." ucap Enjel. "Katakan apa saja yang harus aku lakukan agar kamu percaya." ucap Heri.
"Apa kamu mau melakukan nya?"
Heri mengangguk.
"Hapus semua kontak perempuan di handphone kamu. Berhenti bersifat genit kepada perempuan dan jangan pernah bermain perempuan, satu lagi jangan minum-minum." ucap Enjel.
Heri terdiam. "Tidak bisa kan? Aku tau kamu tidak akan bisa."
"Bisa! Semua nya akan aku lakukan."
"Bagus deh kalau begitu." ucap Enjel.
"Jadi hari ini kamu mau ikut atau tidak?" tanya Heri.
Enjel berfikir sejenak.
"Aku akan membeli kan barang yang kamu mau kalau kamu ikut dengan ku " ucap Heri. "Humm barang? Aku tidak menginginkan barang apapun." ucap Enjel.
"Tidak mungkin, kamu pasti mengatakan itu agar tidak ikut dengan ku." ucap Heri.
"Baiklah aku mau handphone baru. Kalau tidak bisa kamu tidak perlu menjanjikan nya."
"Huff kamu mengambil kesempatan yang sangat tepat sekali.. Baiklah aku akan membeli nya." ucap Heri. Enjel tersenyum.
Mereka langsung siap-siap mau menjemput orang tua nya dari bandara.
"Enjel... Lama sekali Apa yang kamu lakukan? kenapa sangat lama sekali?" tanya Heri dan balik pintu kamar Enjel.
"Sabar..." Ucap Enjel.
"Orang tua ku sudah menunggu di Sana." ucap Heri.
"Huftt kamu bisa Sabar gak?" ucap Enjel keluar dari kamar.
Heri melihat penampilan Enjel. Terdiam kagum.
"Enjel kamu sangat cantik sekali." ucap Heri.
"Tidak perlu berlebihan, setiap hari aku cantik, kamu saja tidak menyadari nya." ucap Enjel. Heri tersenyum.
"Tapi pakaian kamu cukup terbuka." ucap Heri melihat dress Enjel tidak memakai lengan.
__ADS_1
"Ini dress model Sabrina, yah wajar lah sedikit terbuka."
"Aku tidak ingin kamu memakai pakaian seperti ini." ucap Heri.
"Ini sudah telat, aku sudah memakai ini dan terlihat cantik. Ayo berangkat." ucap Enjel.
Mereka berangkat ke bandara.
Abel juga sedang dalam perjalanan ke rumah mertua nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai dan dia sangat kaget ternyata Novi suami nya ada di depan rumah mertua nya.
"Loh kok mobil gak Radit di sini? Bukan nya mereka berangkat menggunakan mobil kak Radit?" ucap Abel. dalam hati.
Abel keluar dari dalam mobil.
"Abel..." ucap Mamah mertua nya. Abel melihat mertua nya berdiri di depan pintu.
Abel berjalan masuk. "Kak Radit sudah pulang yah Mah? Kok mobil nya ada di sini?" tanya Abel.
"Oohh.. Radit berangkat menggunakan mobil Papah. Ayo masuk dulu. Kenapa kamu datang pagi-pagi ke sini sendirian pula." ucap mamah nya.
"Iyah mah, tadi Bibik mau ikut.. Namun Bibik tiba-tiba ada urusan jadi gak bisa ikut deh.
"Oohh."
"Kamu kenapa gak ngomong kalau mau ke sini?"
"Papah baru saja pergi bekerja."
"Tapi kan ini hari Minggu mah."
"Papah kamu kalau sudah sehat ya selalu seperti ini, tidak mau diam di rumah." ucap Mamah nya.
"Oohh gitu yah mah." ucap Abel.
"Kalau boleh tau apa yang sangat penting sehingga kamu datang ke sini jauh-jauh nak? Kamu sedang hamil tidak boleh mengendarai mobil sendirian." ucap Ma mm ay mertua nya.
"Maaf sudah membuat Mamah khawatir, aku minta maaf. Aku ke sini datang mau menanyakan kabar kak Radit. Sampai sekarang dia belum menghubungi aku dan aku tidak tau kabar nya seperti apa mah."
"Aku khawatir dengan keadaan nya. Aku tidak bisa tenang. Apa Mamah tau bagaimana keadaan mereka?" tanya Abel.
"Mamah juga tidak tau nak, tempat yang mereka tuju memang sangat susah Jaringan, jadi tidak mungkin mereka bisa menghubungi kita." ucap Mertua nya.
"Berarti sampai sekarang mereka belum keluar dari tempat itu?" tanya Abel.
"Seperti nya belum nak, kamu jangan khawatir dan memikirkan nya berlebihan, mereka pasti baik-baik saja dan pasti pulang kok.'
"Sudah jangan memikirkan nya berlebihan seperti itu." ucap mamah nya.
__ADS_1
"Kamu sedang mengandung, jangan sampai kesehatan kamu tidak stabil karena memikirkan hal itu." ucap Mamah nya.
"Iyah mah tapi tetap saja aku kefikiran."
"Gini aja deh. Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar agar kamu tidak stress dan bosan?" tanya mamah nya.
"Kebetulan mamah sudah lama tidak jalan-jalan, kita pergi ke pantai bagaimana?"
"Aku sudah bosan ke pantai mah."
"Lalu kamu mau kemana?"
"Aku mau ke air terjun."
"Air terjun?" ucap mamah nya heran karena dia tidak tau di Mana.
"Tidak jauh kok mah, jalan nya juga cukup bagus, ayo ke sana." ucap Abel. Mamah nya tidak mau menolak akhirnya mereka deal Akan berangkat.
Enjel dan Heri baru saja sampai di Bandara. Heri menarik tangan Enjel yang malu-malu mendekati Orang tua nya.
"Heri.. Ya ampun nak, mamah sangat merindukan kamu." Orang tua nya langsung memeluk Heri.
"Kamu benar-benar anak yang tidak memikirkan orang tua! Orang tua kamu sudah tua dan tidak bisa jauh-jauh dari anak nya namun kamu malah pergi jauh." ucap mamah nya.
"Aku minta maaf mah, aku minta maaf pah." ucap Heri.
"Bagaimana kabar mamah sama papah?"
"Tidak baik karena berminggu-minggu tidak bertemu dengan kamu."
Heri tersenyum. "Keadaan kamu di sini bagaimana? Siapa yang mengurus kamu? Siapa teman kamu di sini?" tanya Mamah nya.
Mereka menoleh ke arah Enjel yang berdiri di belakang Heri.
Heri meminta Enjel berdiri di samping nya.
"Apa mamah mengenal nya?"
"Loh ini kan pacar kamu yang kamu kenal kan sama mamah waktu itu?" ucap mamah nya.
"Bukan Tante, om, saya bukan pacar nya Heri.
"Tidak perlu malu seperti itu. kenalin kami adalah orang tua Heri. Kami sangat berterimakasih kamu sudah mau merawat anak kami di sini." ucap Mamah Heri.
Enjel tidak tau harus mengatakan apa dia hanya bisa menginyakan dan tersenyum saja.
Orang tua Heri sudah ke penginapan yang tidak jauh dari bandara. Di dalam mobil Enjel langsung memukul lengan Heri.
"Kamu Ngeselin! Kamu ngeselin! aku gak suka kamu bilang aku pacar kamu sama orang tua kamu. Mereka jadi salah paham." ucap Enjel.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Enjel? sakit!"
"Rasain! itu adalah hukuman. Sekarang orang tua kamu meminta kita tunangan karena kebohongan kamu!" ucap Enjel dengan kesal.