
"Aku belum selesai ngomong." ucap Heri.
"Apa lagi? Aku sedang tidak mood untuk berantem jadi pergi lah." ucap Enjel.
Heri tiba-tiba naik ke Kasur.
"Aku sangat ngantuk, aku mau tidur di sini." ucap Heri.
"Siapa yang mengijinkan kamu tidur di sini? Kamu memiliki kamar sendiri." ucap Enjel.
"Emang nya kenapa kalau aku tidur di sini? Aku tidak akan berbuat macem-macem kok, lagian kamu berfikir yang aneh-aneh sih tentang aku."
"Terserah kamu saja." ucap Enjel berbalik membelakangi Heri.
Tidak beberapa lama Heri sudah diam tinggal suara nafas yang terdengar. Enjel berbalik dia menatap wajah Heri yang sudah tidur.
Enjel mendinginkan AC agar Heri lebih nyaman, dia tau kalau Heri harus tidur di ruangan yang sangat dingin.
Enjel mendekati nya. Mengelus hidung Heri yang sangat mancung.
Heri bergeliat karena geli dengan sentuhan Yang di lakukan oleh Enjel.
"Jangan mengganggu ku dulu, aku sangat lelah memikirkan kamu seharian, aku tidak bisa tenang bekerja." ucap Heri.
Enjel tersenyum. "Baiklah." ucap nya.
Sementara di Rumah Abel dia tetap saja tidak bisa tenang karena suami nya belum juga pulang.
"Baiklah kalau sampai malam ini kak Radit tidak juga ada kabar aku akan pulang ke rumah orang tua ku." ucap Abel. Dia sudah terlanjur kesal dan marah.. Kecewa kepada suami nya.
"Enjel..." Panggil Heri baru bangun namun sudah tidak melihat Enjel di kamar.
"Enjel...." panggil Heri. Ternyata Enjel sedang di balkon menyiram tanaman.
"Kamu di sini, kenapa kamu tidak menjawab ku?" tanya Heri.
"Kamu selalu saja berteriak memanggil nama ku." ucap Enjel.
Heri menghela nafas panjang dia duduk di kursi sambil melihat Enjel.
"Kamu sudah makan?" tanya Heri. Enjel menoleh ke arah Heri.
"Aku belum makan dan tidak berselera makan." ucap Enjel. Heri menghela nafas panjang. "Kenapa kamu tidak makan?" tanya Heri.
Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Oh iya kenapa kamu meminta orang tua kamu datang ke sini mengantarkan obat dan makanan?" tanya Enjel.
"Orang tua ku ingin bertemu dengan mu, sekalian saja."
"Aku tidak suka Kamu melakukan sesuatu seperti itu tampa ijin dari ku!" ucap Enjel.
"Iyah-iyah aku minta maaf."
__ADS_1
"Aku jadi tidak enak kepada orang tua kamu." ucap Enjel.
"Tidak perlu sungkan, orang tua ku baik kok." ucap Heri. Enjel menghela nafas panjang.
"Terserah kamu saja. Oh iya malam ini aku akan berkunjung ke rumah Kakak ku. Mereka mengundang aku untuk makan malam di sana." ucap Enjel.
"Lalu aku akan tinggal sendiri di sini?" tanya Heri.
"Apa salah nya? biasa nya kamu meninggalkan aku sendiri juga tidak masalah." ucap Enjel.
Heri menghela nafas. "Aku ikut kamu," ucap Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bisa."
"Aku mau ikut, aku tidak mau tinggal." ucap Heri.
"Aku tidak mampu mengajak kamu." ucap Enjel.
Heri langsung diam, dia juga tidak bisa memaksakan kehendak nya.
Enjel masuk ke dalam mau siap-siap, namun melihat Heri diam di balkon termenung seperti anak kecil yang merajuk membuat dia tidak tega.
"Hufff baiklah kamu boleh ikut, tapi jangan mengaku-ngaku menjadi kekasih ku!" ucap Enjel.
Heri langsung berdiri tersenyum lebar dan mengangguk.
Mereka siap-siap. "Heri." ucap Enjel menahan Heri yang mau keluar dari apartemen.
Heri berhenti menoleh ke arah Enjel.
"Rapikan dulu kerah baju kamu agar terlihat bagus." ucap Enjel..Heri tersenyum.
Setelah selesai mereka pun siap-siap berangkat ke rumah kakak nya Enjel.
"Bukan kah kamu anak satu-satunya orang tua kamu?" tanya Heri.
"Ini Kakak dari keluarga ku, bukan kakak kandung, kamu aku cukup dekat dengan mereka. Sehingga ulang tahun anak nya aku di undang." ucap Enjel.
"Oohh." ucap Heri..
Sebelum ke sana mereka berhenti dulu Unesa membeli kado untuk keponakan nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
Mereka di sambut dengan sangat ramah.
Selepas pulang dari sana Heri senyum-senyum.
"Kelihatan nya kamu sangat bahagia, ada apa?" tanya Enjel. Heri menggeleng kan kepala nya.
"Kamu membicarakan apa tadi dengan kakak ku? kelihatan nya sangat akrab." ucap Enjel.
"Kamu penasaran sekali."ucap Heri.
__ADS_1
"Sudah lah aku tidak mau membahas nya." ucap Enjel.
Keesokan harinya Abel bangun dia memeriksa handphone nya tidak ada juga notifikasi dari Suami nya. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua nya.
Tidak menjelaskan apapun kepada orang tua nya ketika dia sampai di rumah nya. Tidak banyak berbicara Abel menghabis kan banyak waktu di kamar nya.
"Ada apa dengan kakak kamu Mila?" tanya mamah nya.
"Aku juga tidak tau Mah."
"Kalau ada papah di sini dia pasti sudah sangat marah melihat Abel datang sendiri dan menyetir sendiri." ucap mamah nya.
"Mungkin kak Abel dan kak Radit ribut." ucap Mila.
"Hus kamu bicara apa sih?" ucap mamah nya.
"Yah itu kan tebakan ku saja mah." ucap Mila.
"Sudah-sudah jangan berbicara lagi, sebaik nya kamu segera berangkat ke kampus sebelum telat." ucap Mamah nya.
Di kantor Enjel melihat Heri dan Jesica membahas pekerjaan bersama.
Duduk diam, memasang wajah cemburu. Novi tiba-tiba duduk di samping nya.
"Kamu cemburu yah melihat mereka?" Enjel menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu berbohong kamu pasti cemburu kan?" ucap Novi.
Enjel diam saja. "Aku sudah bilang sebelum nya sama kamu, sebelum kamu menyesal sebaiknya kamu jujur saja dengan perasaan kamu sendiri." ucap Novi.
"Aku tidak cemburu, aku tidak menyukai Heri." ucap Enjel langsung pergi.
Waktu makan siang. Heri dan Jesica menyusul Enjel.
"Enjel kamu sudah makan siang? Ayo makan siang bersama." ajak Jesica.
"Aku sudah makan kok." ucap Enjel.
"Hah, seriusan? Saya tidak melihat kamu makan siang." ucap Heri.
"Maksudnya aku sudah menitip.. Seseorang akan membeli nya." ucap Enjel.
"Oohh ya sudah kalau begitu kamu pergi makan siang dulu." ucap Jesica menarik tangan Heri.
"Jesica sudah punya pacar kenapa dia dekat-dekat dengan Heri?" ucap Enjel dalam hati.
"Enjel apa Kamu sudah makan siang?" tanya Pria yang baru saja datang. Pria yang satu ruangan dengan nya.
"Aku akan makan di kantor saja."
"Oohh kebetulan banget, aku boleh temanin gak? soalnya aku juga bawa Bekal." ucap Rio.
"Baiklah." ucap Enjel. Mereka makan bersama.
"Jesica aku lupa membawa Handphone ku, aku akan mengambil nya dulu." ucap Heri kembali ke ruangan nya.
__ADS_1
Namun dia melihat Enjel dan Rio makan siang bersama.
"Sialan! Enjel Sengaja menolak makan siang dengan ku agar bisa makan siang dengan teman laki-laki nya." ucap Heri dalam hati kesal.