Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 172


__ADS_3

"Kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan sekarang?" tanya Enjel.


"Apa Aku harus mencari nya?"


Novi menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu, kamu harus memberikan pak Heri waktu, dan kamu juga harus memikirkan semua nya sendiri setelah menemukan jawaban nya kamu dan pak Heri harus segera membicarakan nya." ucap Novi.


Enjel mengangguk. "Baiklah, aku mengerti Novi. Sekali lagi terimakasih banyak Novi." ucap Enjel.


Novi tersenyum.


"Aku selalu bisa memberikan solusi untuk orang lain. Untuk teman-teman ku, untuk Enjel dan pak Radit namun untuk kehidupan aku bahkan tidak bisa mencari solusi." ucap Novi.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di kantor.


"Tumben banget jam segini pak Radit belum sampai." ucap Novi karena tidak melihat mobil Radit dia parkiran nya.


"Mungkin masih di perjalanan, bukan kah lebih bagus kita sampai terlebih dahulu?" ucap Enjel. Novi mengangguk.


"Kalau begitu aku ke ruangan ku dulu yah." ucap Novi. Enjel juga masuk ke ruangan nya.


Baru saja duduk dia sudah mendapatkan notifikasi kalau gaji nya sudah masuk ke rekening dan semua teman-teman nya sudah belanja menggunakan uang mereka.


Enjel baru ingat kalau dia menjanjikan akan mengajak makan malam Heri.


Kemarin tidak jadi karena gajinya di tunda. Dan sekarang sudah keluar.


"Apakah Heri tidak mau makan malam bersama ku? Dia pergi bahkan sampai sekarang belum mengirimkan pesan apapun kepada ku." ucap Enjel.


Tidak terasa sudah sore saja.


Hari yang sangat membosankan bagi Enjel hari ini karena tidak ada Heri.


"Aku sadar kalau aku tidak bisa Tampa nya, namun aku harus belajar." ucap Enjel.


dia mengemasi semua barang-barang nya bersiap-siap untuk kembali ke rumah nya.


"Novi kamu pulang pakai apa?" tanya nya kepada Novi.


"Aku pulang menggunakan gojek, aku juga mau menjemput Mobil ku di bengkel." ucap Novi.


"Oohh ya udah kalau begitu aku akan pulang." ucap Enjel. Enjel pulang sendirian kali ini karena tidak bersama Heri atau Novi.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah, dia berfikir kalau Heri sudah pulang namun ternyata belum. Dia memeriksa handphone nya berharap ada pesan dari Heri namun tidak ada juga.


"Kemana dia pergi? Apa dia marah kepada ku dan meninggalkan semua nya begitu saja?" ucap Enjel dalam hati.


Mau menghubungi terlebih dahulu namun dia malu. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu saja.


Enjel menghubungi Abel.

__ADS_1


"Halo Abel..." ucap Enjel.


"Kebetulan banget kamu nelpon aku Enjel, aku sedang menuju apartemen kamu sekarang." ucap Abel.


"Tumben banget kamu mendadak datang ke sini?"


"Kebetulan saja aku lewat, aku mau mampir sebentar." ucap Abel.


"Oohh ya udah deh kalau begitu, aku akan menunggu..Aku mau masak kamu mau di Masakin apa?"


"Terserah kamu saja seh." ucap Abel.


Tidak beberapa lama akhirnya Abel datang bersama Mila.


"Wahh apartemen mbak sangat besar sekali, aku sangat ingin tinggal di apartemen seperti ini." ucap Mila.


"Kamu bisa saja, ini apartemen yang di sediakan oleh kakak ipar kamu." ucap Abel.


"Betul kah?" ucap Mila. Abel mengangguk bersamaan dengan Enjel.


"Wahh kalau seperti ini aku akan mengubah cita-cita ku yang mau menjadi Dosen dan memilih bekerja di perusahaan kak Radit." ucap Mila.


"Tapi bayar sendiri." ucap Enjel. Mila menghela nafas panjang.


"Huff ngomong dong dari awal." ucap Mila. mereka berdua tersenyum.


"Ayo masuk dulu, aku baru saja selesai masak ayo makan." ajak Enjel.


"Humm Heri sedang tidak di sini."


"Loh mbak satu atap dengan kak Heri?" tanya Mila.


"Iyahh." ucap Enjel.


"Wahh enak banget yah, bebas. coba saja kalau Mamah sama papah dia pasti akan membunuh ku kalau tau aku satu rumah dengan laki-laki." ucap Mila.


"Mila stop yah! Jangan membandingkan kamu dengan orang lain." ucap Abel.


Mila menghela nafas panjang.


"Ya udah deh." ucap Mila.


"Memang nya Heri kemana Enjel?"


"Aku juga tidak tau, dia pergi pagi-pagi sekali dan sampai sekarang tidak menghubungi ku."


"Apa kalian ada masalah?" Enjel mengangguk.


Abel menghela nafas panjang.


"Huff aku yakin sih kalau dia merajuk." ucap Abel. Enjel menghela nafas panjang. "Aku juga tidak tau, aku pusing memikirkan itu." ucap Enjel.

__ADS_1


"Sudah jangan terlalu di pikirkan." ucap Abel.


Enjel tersenyum.


Mereka bercerita cukup panjang sampai Radit meminta Abel pulang ke rumah.


Setelah Abel pulang Enjel jadi sangat kesepian. Dia memeriksa handphone nya kembali namun tidak ada kabar dari Heri.


"Apa benar dia marah? Apa benar Heri merajuk dan pergi meninggalkan aku?"


Enjel sepanjang malam jadi sangat overtingkhing.


Tengah malam dia juga tidak bisa tidur dia terus menunggu Heri di depan. Tiba-tiba pintu terbuka.


Enjel langsung berdiri di depan pintu dan benar saja Heri baru saja pulang. Wajah letih, baju yang lusuh penampilan yang sangat acak-acakan dia menatap Enjel dengan tatapan datar.


"Kamu datang mana? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Enjel.


Heri tidak mengatakan apapun dia melewati Enjel begitu Saja.


Enjel mencium bau alkohol.


"Kamu baru selesai minum? Kamu sangat bau." ucap Enjel. Heri membuka sepatu nya dia meletakkan semua barang-barang nya di atas meja dan masuk ke kamar mandi.


"Katakan kamu dari mana? kenapa kamu tidak menjawab aku? Kamu bilang kalau kamu keluar kota karena ada kerjaan, hari ini kamu tidak ada kerja di luar kota, kamu berbohong kepada ku." ucap Enjel.


Heri menoleh ke arah Enjel. Menatap nya dengan tatapan dingin. Dia mendekati Enjel sambil tersenyum.


"Aku sangat marah kepada kamu Enjel, aku juga marah kepada diri ku sendiri, aku tidak mau kamu melihat aku marah, aku butuh waktu untuk sendiri memikirkan semua nya." ucap Heri.


Heri meninggal kan Enjel yang terdiam di luar.


"Apa Heri benar-benar Akan menyudahi hubungan ini? Apa dia sangat marah sampai mengatakan hal itu?" ucap Enjel.


Dia masuk ke kamar namun tidak melihat Heri di sana. ternyata Heri sudah tidur di kamar nya sendiri.


Enjel semakin takut.


Keesokan harinya...


"Kamu tidak mau sarapan dulu? Aku sudah masak sarapan untuk kamu." ucap Enjel kepada Heri yang baru saja keluar dari kamar.


"Tidak perlu. Aku akan sarapan di kantor." ucap Heri.


Enjel tersenyum sambil mengangguk mengerti.


"Baiklah." ucap Enjel.


Heri berangkat ke kantor. Sampai di kantor dia langsung mengumumkan kepulangan nya besok. Dia juga mengadakan acara kecil-kecilan untuk perpisahan, pengucapan terimakasih.


Dan Enjel sama sekali tidak tau tentang itu. Enjel hanya bisa diam. Abel dan Novi tidak bisa mengatakan apapun kepada Enjel.

__ADS_1


__ADS_2