
Abel sudah siang lemas dia tidak mampu untuk berdiri akhirnya Radit menggendong nya masuk ke dalam.
Radit membaringkan tubuh Abel di tempat tidur.
"Kakak mau kemana?" tanya Abel menahan tangan Radit.
"Saya akan menghidupkan Lilin. Hujan semakin deras, lampu nya pasti akan lama hidup nya." ucap Radit.
Abel melepaskan tangan Radit. Lilin tinggal satu yang kecil.
"Saya harap ini bisa menerangi sebentar menjelang kamu tidur." ucap Radit.
"Aku takut kak." ucap Abel menahan Radit.
Radit naik ke tempat tidur Tepat di samping Abel. Abel bisa merasakan Nafas Radit yang terdengar sangat sesak.
"Kenapa kakak bernafas seperti itu?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Apa Dada kakak terasa sakit?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
Abel tau kalau Radit pasti kesakitan seperti apa yang di rasakan nya tadi. Dia memeluk Radit tiba-tiba. Radit cukup kaget namun perlahan rasa sakit nya hilang.
"Lepaskan saya," ucap Radit. Namun Abel tidak menghiraukan nya. Radit melihat lilin sudah hampir mati dia mencoba melepaskan pelukan Abel dan ternyata Abel sudah tidur.
"Bagus deh kalau dia sudah tidur." ucap Radit. Dia melihat Lilin sudah mati.
Ruangan seketika menjadi gelap.
"Huff tidak biasa nya mati lampu seperti ini lama nya." batin Radit.
Keesokan harinya... Abel bangun pagi-pagi karena dia harus ke kantor.
Abel merabah tempat tidur di samping nya namun tidak ada Radit dia langsung bangun.
"Loh kemana kak Radit pagi-pagi sudah bangun?" tanya Abel.
Dia melihat ke arah pintu terbuka.
Abel keluar dia mendengar sesuatu di bawah.
"Kak Radit!" panggil Abel.. Namun ternyata itu bukan Radit melainkan Bibik.
"Loh Bibik sudah pulang?" tanya Abel kaget.
Bibik tersenyum sambil mengangguk.
"Iyah Non." ucap Bibik.
"Kok Bibik gak ngabarin?" tanya Abel.
"Maafin saya non, saya sampai shubuh tadi." ucap Bibik.
"Apa kabar Bibik?" tanya Abel. "Baik-baik saja Non. Non sendiri bagaimana kabar nya?" tanya Bibik.
"Seperti yang non lihat." ucap Abel.
__ADS_1
"Wajah non terlihat sangat sembab, apa Non baru saja menangis?" tanya Bibik.
"Enggak bik, itu karena baru bangun saja." ucap Abel.
Bibik tersenyum.
"Bibik bilang kalau Bibik masih lama di sana, kok tiba-tiba Bibik udah pulang?" tanya Abel.
"Iyah Non. Tuan Radit meminta saya pulang. Saya juga tidak tau kenapa. Alasan nya karena rumah tidak terurus." ucap Bibik.
"Namun yang saya lihat rumah terlihat rapi dan bersih, kelihatan nya Non sangat rajin bersih-bersih." ucap Bibik.
"Kak Radit meminta Bibik pulang?" ucap Abel. Bibik mengangguk.
"Humm kalau boleh tau kak Radit sekarang ke mana?" tanya Abel.
"Tadi Tuan ijin pergi pagi-pagi sekali." ucap Bibik.
"Pagi-pagi? Kemana?" tanya Abel.
Bibik tidak tau dia hanya diam saja.
"Ya udah kalau begitu Aku siap-siap mau ke kantor dulu yah bik, Bibik tidak perlu masak yah, saya akan sarapan di kantor." ucap Abel.
Abel sampai di kantor.
"Bu.. Apa hari ini pak direktur datang?" tanya Abel kepada Novi.
"Sekali lagi saya ingat kan kepala kamu agar mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Ini di kantor bukan di rumah." ucap Novi.
"Hari ini pak direktur tidak masuk." ucap Novi.
"Apa dia masih di villa?" tanya Abel. Novi kaget karena Abel bisa tau.
"Ibu tidak perlu kaget. Saya tau karena mengikuti Ibu." ucap Abel. Novi menghela nafas panjang.
"Sekarang lupakan peraturan kantor. Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Non." ucap Novi.
Abel terdiam.
"Non Abel sebaiknya berhenti membuat pak direktur seperti ini, apa non tidak kasian melihat pak direktur setiap hari pusing menghadapi istri seperti non Abel?" ucap Novi.
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu?" tanya Abel.
"Selama ini pak direktur tidak pernah seperti ini. Dia selalu saja menjalani kehidupan yang tenang, dia tidak pernah mau meninggalkan rumah nya. Rumah itu tempat paling nyaman bagi nya."
"Namun setelah menikah dengan Non, pak direktur selalu saja murung, tidak pernah fokus kepada pekerjaan. Semua pekerjaan terbengkalai dan sekarang pak direktur memilih tinggal di villa dari pada di rumah nya sendiri." ucap Novi.
"Ingat yah Non, kalau seandainya saja bukan perjodohan tidak mungkin pak direktur memilih Mbak. Semua mantan nya sangat lah berkelas. Wanita Karier bukan karyawan biasa seperti non." ucap Novi.
Abel mau marah.
"Sebaik nya Kamu kembali ke ruangan mu, ini jam kerja." ucap Novi.
Abel tidak bisa marah karena sadar Novi adalah atasan nya.
"Berani-beraninya dia berbicara seperti itu kepada ku? Cihh emang siapa dia." ucap Abel marah-marah sambil berjalan ke ruangan nya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kok kelihatan nya marah-marah?" tanya Enjel.
"Itu loh sekretaris..." Ucap Abel.
"Kenapa?" tanya Enjel. Abel melihat wajah Enjel.
"Gak apa-apa, lupakan saja." ucap Abel.
Enjel kebingungan. dia kepo namun dia harus melanjutkan pekerjaannya.
Tidak beberapa lama waktu istirahat.
"Loh sekretaris Novi mau kemana?" tanya Enjel.
"Palingan bertemu dengan pak direktur." ucap Abel.
"Pak direktur? Maksudnya?" tanya Enjel.
Abel tidak melanjutkan pembicaraannya dia langsung ke kantin.
Di malam hari...
Abel baru saja pulang. dia lembur karena pekerjaan sangat banyak.
"Kenapa non baru saja pulang?" tanya Bibik yang dari tadi menunggu di depan rumah.
"Maafin aku bik sudah buat Bibik menunggu lama. Aku bekerja di kantor sampai malam karena banyak pekerjaan." ucap Abel.
"Ya ampun non." Ucap Bibik karena melihat wajah kelelahan Abel.
"Tadi Tuan pulang." ucap Bibik.
"Pulang?" ucap Abel sambil duduk di sofa.
"Iyah Non." ucap Bibik.
"Biar kan saja bik, palingan dia mengambil pakaian nya saja, Bibik jangan mengganggu aku yah, aku sangat lelah." Abel membaringkan tubuh nya di sofa.
"Non langsung ke kamar saja." ucap Bibik.. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku di sini saja bik," ucap Abel dan tidak beberapa lama dia ketiduran.
Bibik yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ada apa sih dengan Tuan dan juga non Abel." ucap Bibik.
"Bik..." panggil Radit yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Iyah Tuan." Ternyata Radit pulang Sore ini, dia akan tinggal di sana lagi karena Bibik sudah pulang.. Namun Abel salah tanggap.
Radit melihat Abel. "Ada apa dengan Abel bik? kenapa dia tidur di sini?" tanya Radit.
"Non Abel baru saja pulang Tuan. Kelihatan nya dia sangat kecapean." ucap Bibik.
Radit mendekati Abel.
"Bik tolong siap kan Air yah bik, saya akan membawa nya ke atas." ucap Radit.
__ADS_1