
Radit mengikuti nya.
"Apa hari ini kakak akan ke kantor bersama Novi?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Pekerjaan saya dengan Novi belum selesai. Mungkin saya belum bisa ke kantor hari ini." ucap Radit.
"Oohh." ucap Abel. Radit mengangguk.
"Saya akan mandi, kamu bisa menyiapkan pakaian saya?" tanya Radit.
Abel mengangguk. Radit masuk ke kamar mandi Abel Mengambil pakaian Radit.
"Huff aku harus melakukan sesuatu agar perempuan-perempuan yang mau mendekati kak Radit minder." Dia mengambil parfum nya dan menyemprotkan ke baju Radit.
"Kalau mereka mencium aroma perempuan, mereka tidak akan jadi menggoda kak Radit."
Tidak beberapa lama Radit keluar, dia melihat ke arah Abel yang langsung masuk ke kamar mandi.
Radit menghela nafas panjang.
"Aneh sekali." ucap Radit. Dia memasang baju nya namun dia merasa aneh dengan baju nya.
"Kok bau seperti ini? parfum ku tidak bau ini." ucap Radit.
Tidak beberapa lama Abel keluar dari kamar mandi dia melihat Radit sudah rapi.
"Loh kok kakak gak pakai baju yang sudah aku ambil kan?" tanya Abel.
"Saya kurang suka dengan bau nya, seperti nya kamu harus ganti pewangi." ucap Radit. Abel seketika langsung terdiam.
"Ya udah kalau begitu saya turun duluan yah " ucap Radit.
Seperti biasa Radit di jemput oleh Novi. Abel yang melihat itu hanya bisa kesal, marah dan tidak tau harus ngapain selain menggerutu sendiri.
Di kantor pun dia tidak mood sama sekali.
"Abel..." Panggil seseorang dari pintu ruangan nya. Abel dan Enjel menoleh ke arah pintu.
"Aku yang di panggil bukan kamu." ucap Abel.
Enjel terkekeh.
"Ada apa?" tanya Abel.
"Bu Vina dan Pak Malvin mencari kamu di luar." ucap Karyawan itu.
"Hah! Ngapain mereka ke sini?" batin Abel. "Buruan! Kamu jangan membuat mereka menunggu." ucap Enjel.
"Benar banget, dia adalah orang tua pak direktur." ucap teman di samping nya.
"Ada apa mereka mencari Abel? Apa Abel membuat kesalahan?" ucap Teman nya lagi.
"Sudah kamu tidak perlu ikut campur, urus saja urusan kamu sendiri." ucap Enjel.
__ADS_1
Abel beranjak dari tempat duduk nya dia keluar.
Dari jauh dia melihat mertua nya sedang duduk di depan.
"Huff Kenapa sih mereka pakai datang ke sini?" ucap Abel dalam hati.
"Abel... Mamah sangat merindukan kamu nak, sini.." ucap Bu Vina langsung memeluk Abel.
Semua orang yang melihat itu heran sekali.
Abel tersenyum, dia menyalim tangan kedua mertua nya.
"Ayo duduk di sini." ucap Bu Vina.
"Mamah sama papah ke sini mau ngajakin kamu ke Acara keluarga nanti malam. Sebagai menantu keluarga ini kamu harus datang." ucap Bu Vina.
Semua nya terperangah mendengar menantu.
"Apa? Abel menantu pak Malvin? Istri dari Siapa?" ucap staf yang mendengar.
"Istri pak Direktur lah, siapa lagi kalau bukan pak direktur." ucap Teman nya.
Mereka semua seperti tidak percaya, dan kabar itu sangat cepat tersebar.
"Iyah Mah aku akan datang. Apa aku datang sendirian?" tanya Abel.
"Sama suami kamu dong. Mamah sudah ngomong kok sama Radit." ucap Bu Vina.
"Iyah mah, aku pasti datang kok." ucap Abel.
"Abel kamu harus melihat ini." Ucap Enjel langsung memberi tau kalau sekarang semua orang tau dia adalah istri Direktur.
Abel tidak bisa mengatakan apapun. Semua mata tertuju pada nya.
"Sangat tidak mungkin Abel menjadi istri direktur. Aku yakin pak direktur hanya mau menjadi kan mainan saja." ucap orang yang kebetulan tidak jauh dari Abel.
Kata-kata yang tidak pantas di dengar oleh Abel sehingga membuat Diri nya malu, dia juga kesal.
"Aku tidak tau harus apa lagi Enjel, semua nya sudah terlanjur, aku tidak sanggup untuk melihat semua orang." ucap Abel.
Banyak yang tidak menerima hubungan Abel dengan bos mereka.
Abel memilih untuk kembali pulang ke rumah.
"Loh Non Abel kenapa sangat cepat pulang?" tanya Bibik.
"Bibik...." Ucap Abel langsung memeluk Bibik.
Bibik Heran. "Ada apa Non?"
"Semua orang sudah tau hubungan aku dengan Kak Radit." ucap Abel.
"Bagus dong non kalau begitu." ucap Bibik.
"Bagus dari mana Bik? Semua orang sekarang melontarkan kata-kata yang tidak baik, mereka berfikir negatif dan selalu mencaci ku." ucap Abel.
__ADS_1
Bibik terdiam. "Ini yang selama ini aku takut kan bik, aku benar-benar tidak tau harus apa. Aku mau marah namun tidak mungkin." ucap Abel.
Abel masuk ke kamar nya. "Aaaaarrrhhh!!!!" Dia kesal sekali.
Dia membuka handphone isi nya hanya kata-kata jahat dari orang yang membuat nya semakin sedih.
Radit lagi di perjalanan pulang. "Halo bik." ucap Radit karena Bibik menelpon.
"Apa tuan bisa segera ke rumah?" tanya Bibik.
"Ada apa bik?" tanya Radit.
"Sangat penting Tuan, ini tentang non Abel." ucap Bibik.
"Ada apa dengan Abel bik?" tanya Radit.
"Kalau begitu saya akan segera ke rumah." ucap Radit.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Novi kamu langsung ke kantor saja yah." ucap Radit. Novi mengangguk.
Radit masuk.
"Ada apa bik? ada apa dengan Abel? apa dia sakit?" tanya Radit sudah sangat panik.
"Tadi Siang bapak dengan ibuk datang ke kantor." ucap Bibik. Radit langsung mengerti kemana pembahasan Bibik.
Dia langsung ke kamar mencari istri nya. Radit melihat Abel menutupi tubuh nya dengan selimut.
"Abel..." panggil Radit. Abel tidak menjawab. "Abel." Radit menarik selimut itu namun Abel menahan nya.
"Jangan ganggu aku, aku lagi tidak ingin di ganggu.' ucap Abel. "Saya sudah tau, saya juga mau minta maaf karena ini semua karena saya." ucap Radit.
"Maksudnya?"
"Saya yang meminta Mamah sama papah datang ke kantor. namun saya tidak tau kalau semua nya akan seperti ini." ucap Radit.
Abel membuka selimut nya dia memukul dada Radit. Radit Menahan tangan Abel.
"Saya tidak berniat seperti ini." ucap Radit.
"Bohong! Kakak sengaja kan mau balas dendam dengan cara seperti ini! Karena selama ini aku tidak menjadi istri yang baik." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Aku sangat benci kakak,m." ucap Abel.
"Abel denger dulu." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak mau bekerja lagi, aku akan resign dari kantor. Aku tidak mau bertemu orang-orang itu." ucap Abel.
Radit tidak bisa berbicara karena Abel masih emosi dia menunggu Abel sedikit lebih tenang.
"Maaf kan saya." ucap Radit memeluk Abel.. Abel menolak namun Radit memaksakan nya.
__ADS_1
Radit juga mencium bibir Abel Dengan paksa. Abel tetap tidak mau. Namun beberapa lama Abel tenang karena ciuman Radit seperti membuat tubuh nya lemah.