Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 150


__ADS_3

"Huff ternyata di balik kepribadian kamu yang dingin, bodoh amat ternyata banyak masalah." ucap Enjel.


Novi tersenyum.


"Apa sampai sekarang Pak Heri belum menghubungi kamu?" tanya Novi. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"aku mematikan handphone ku." ucap Enjel.


Novi tersenyum. "Buka saja, aku yakin sekarang dia pasti mencari kamu." ucap Novi. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Buka saja, jangan membuat kamu semakin pusing memikirkan hal itu." ucap Novi.


Enjel akhirnya mau dia mengaktifkan handphone nya dan benar saja banyak panggilan pesan. Dan baru saja membuka pesan Heri langsung menelpon nya.


"Jawab saja." ucap Novi.


"Aku jawab dulu yah." ucap Enjel dan pergi dari meja makan.


"Halo.." ucap Enjel.


"Enjel kamu dari mana saja? kenapa kamu baru aktif?" tanya Heri.


"A-aku...."


"Kamu sengaja tidak mengaktifkan handphone kamu tidak mengabari aku?" tanya Heri. Enjel diam saja.


"Kamu tidak merindukan aku?" tanya Heri.


"Aku hanya tidak ingin mengganggu kamu dengan teman kamu." ucap Enjel.


"Aku di sini bersama keluarga ku. Aku bahkan belum bertemu teman ku." ucap Heri.


"Lalu perempuan kemarin?"


"Dia adalah kakak ku."


"Tapi dia bilang kamu teman perempuan nya."


Heri menghela nafas panjang.


"Dia pasti iseng. Kamu jangan salah paham." ucap Heri.


"Enjel aku minta maaf karena berbohong. Aku hanya ingin melihat kamu cemburu karena kata Heri kamu tidak pernah cemburu kepada nya." ucap perempuan di balik telepon.


Enjel diam. "Sudah kakak masuk saja, aku akan berbicara dengan Enjel dulu." ucap Heri.


"Ya udah kalau begitu kalian jangan bertengkar, aku akan masuk." ucap kakak nya.


"Kamu sudah mendengar nya kan?" ucap Heri.


"Humm."


"Kenapa kamu sangat cuek sih? Aku sangat merindukan kamu, apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Heri.


Enjel hanya diam saja. "Seperti nya kamu sedang sibuk, ya sudah kalau begitu." ucap Heri.


"Aku juga merindukan kamu." ucap Enjel. Heri tersenyum.


"Kamu sangat mudah ngambek hanya masalah kecil saja." ucap Enjel.


"Aku butuh perhatian kamu, aku ingin kamu perduli kepada ku walaupun hal kecil. kalau aku tidak ngambek atau marah kamu tidak akan mengerti." ucap Heri.

__ADS_1


"Aku minta maaf." ucap Enjel.


"Aku yang harus minta maaf." ucap Heri. Enjel diam.


"Kamu mau berangkat bekerja?" tanya Heri.


"Iyah, hari ini aku harus mengganti kan kamu meeting." ucap Enjel.


Heri tersenyum.


"Kalau boleh tau kamu akan ke perusahaan kamu atau tidak?" tanya Enjel.


"Aku baru saja dari sana, hari ini Persiapan untuk acara dan besok acara nya, mungkin setelah selesai saya akan ke perusahaan." ucap Heri.


"Oohh." ucap Enjel.


"Ya udah kalau begitu aku akan berangkat ke kantor." ucap Enjel.


"Hati-hati." ucap Heri. Enjel mengangguk telpon langsung mati.


"Enjel kenapa sampai sekarang tetap cuek banget sih? kapan sih dia benar-benar perduli dan menganggap aku ada?" ucap Heri.


Sementara Enjel dan Novi berangkat ke kantor.


Baru saja sampai di kantor Mereka sudah di panggil ke ruangan Radit.


"Ada apa Ini Enjel?" tanya Novi Heran karena tidak biasa nya.


"Aku juga tidak tau, perasaan ku tidak enak." ucap Enjel.


"Sama Enjel." ucap Novi. Mereka berdua berjalan masuk ke ruangan Radit tidak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Selamat pagi pak, apa benar bapak memanggil kita berdua?" tanya Novi.


Radit mengangguk.


Mereka merasa tidak melakukan kesalahan apapun, mereka juga tidak terlambat.


"Ada apa yah pak?"


"Apa benar kemarin kalian bersama istri saya?" tanya Radit.


"Maaf maksud nya Mbak Abel?" tanya Novi.


"Iyah, jadi maksud kamu siapa?" tanya Radit dengan sedikit kesal.


Mereka terdiam.


"Iyah Pak, Abel datang ke apartemen saya pagi-pagi dan kami melakukan banyak hal satu hari sampai berbelanja dan Makan bersama di luar." ucap Enjel.


"Apa istri saya mengatakan sesuatu hal yang lain?" tanya Radit.


"Tidak ada pak, dia hanya bilang ingin berbelanja." ucap Enjel.


"Apa istri saya terlihat sangat sedih?"


Enjel dan Novi mengangguk bersama. Radit seketika memasang wajah prustasi.


"Mungkin karena lagi hamil mood Mbak Abel kurang baik pak." ucap Novi. Radit menghela nafas panjang.


"Tapi tujuan saya meminta kalian ke sini bukan hanya mau menanyakan hal itu. Tapi...."

__ADS_1


Kedua nya langsung serius.


"Kalian tidak mengatakan apapun tentang Tania kan?" tanya Radit. Enjel dan Novi menggeleng kan kepala nya.


"Huff bagus deh kalau begitu." ucap Radit. Enjel mau berbicara namun tidak jadi.


Setelah berbicara cukup banyak mereka pun langsung keluar dari sana.


"Huff sangat menegangkan sekali." ucap Novi kepada Enjel.


"Ya udah kalau begitu aku ke ruangan aku dulu." ucap Enjel. Novi mengangguk.


Radit di ruangan nya mencoba menelpon istri nya namun tidak di jawab.


"Seperti nya Abel Masih marah, bagaimana yah caranya membujuk dia?" batin Radit.


Handphone Radit berbunyi.


"Halo mah."


"Iyah ada apa mah?"


"Ini Mamah sudah mau berangkat ke rumah kamu, istri kamu di rumah kan?" tanya mamah nya.


"Di rumah kok mah." ucap Radit.


"Bagus deh kalau begitu, Mamah harus melihat keadaan nya karena kemarin dia tiba-tiba sakit dada jadi mamah mau membawa dokter memeriksa dia."


"Sakit Dada mah?"


"Iyah, kata dia sih kecapean. Namun mamah curiga kalau Abel sakit..Mamah khawatir."' ucap mamah nya.


"Sebaik nya jangan mah, Abel memang suka sakit Dada kalau lagi kecapean, aku takut kalau bertemu dengan dokter dia tidak nyaman." ucap Radit.


"Oh iya juga yah, tapi tetap saja mamah khawatir." ucap mamah nya.


"Gak apa-apa mah."


"Oohh ya udah deh kalau begitu nak. Mamah mau kamu harus fokus menjaga istri kamu dengan baik." ucap mamah nya.


Radit mengangguk. "Oh iya mamah akan tetap ke sana melihat istri kamu."


"Iyah mah. Tapi tidak perlu bawa dokter." ucap Radit..Mamah nya menginyakan.


Setelah berbicara panggilan telepon tertutup dan Radit kembali bekerja.


Di ruangan Enjel dia sedang siap-siap mau ke ruangan meeting. Namun sebelum nya dia harus memeriksa materi nya terlebih dahulu.


"Semua nya sudah bagus, dan sudah lengkap, semoga saja tidak mengecewakan." ucap Enjel. Handphone nya berbunyi dari Heri.


"Halo pak."


"Bisa gak jangan panggil bapak?" ucap Heri.


"Ini sedang di kantor." ucap Enjel. Heri menghela nafas panjang.


"Baiklah Bu Enjel, apa meeting sudah di mulai?" tanya Heri.. Enjel kaget di panggil Ibu.


"Baru saja akan di mulai pak."


"Saya ingin menambah materi dan saya sudah mengirimkan nya ke Gmail kamu." ucap Heri.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan memeriksa nya." Telpon langsung mati.


"Rasa hormat apa seperti ini kepada bos? Dia mematikan telpon secara sepihak." ucap Heri dengan kesal.


__ADS_2