
Dia membuka pintu.
Abel sudah berdiri di depan pintu. "Sayang... Apa yang kamu pakai?" ucap Radit kaget langsung menutup mata Farel.
Abel juga kaget karena Farel ikut di bawa masuk.
Dia langsung mengambil bantal menutup badan nya.
"Farel di luar sama Bibik yah." ucap Radit langsung membuat Farel di depan pintu. Bibik melihat Farel dia langsung mengambil nya.
Radit melihat penampilan Abel yang tidak biasanya.
"Abel...." Ucap Radit. Abel malu-malu.
"Humm aku mau mencoba nya saja, percuma saja ada di lemari kalau tidak di pakai." ucap Abel.
Radit mengunci pintu, dia mendekati Abel.
"Kak..." "Humm??"
"Kamu sangat cantik sekali." ucap Radit.
Abel tersipu malu. "Humm apa kamu mau saya melakukan sesuatu?" tanya Radit sambil menyentuh pipi Abel.
Abel hanya diam saja. Radit menaikkan dagu Abel. "Kenapa kamu melihat ke bawah? Apa kamu tidak sabar lagi sehingga melihat ke bawah terus?" tanya Radit.
Abel menatap wajah Radit. "Aku malu..."
"Kenapa kamu malu? Bukan kah kamu yang mau melakukan hal seperti ini?" tanya Radit.
"Huff seharusnya aku tidak perlu melakukan ini." ucap Abel dalam hati.
Radit mengelus leher Abel. Radit mencium aroma leher Radit. "Kamu sangat wangi." ucap Radit.
Abel mundur perlahan berbaring di tempat tidur.
"Bagaimana? Apa kamu siap?" tanya Radit.
Abel mengangguk.
Radit tidak berfikir panjang dia langsung membuka baju nya dia melakukan hal yang sudah beberapa hari tidak dia lakukan sehingga sangat menyiksa diri nya.
"Maafin saya kalau saya berbuat terlalu kasar." ucap Radit. "Lakukan saja " ucap Abel. Radit mendengar itu tambah semangat.
Beberapa jam akhirnya selesai. Radit memeluk Abel dari belakang sambil mencium punggung Abel.
"Kak jangan lakukan lagi." ucap Abel.
"Kenapa? Apa kamu sudah lelah?" tanya Radit..
Abel berbalik dia menatap Radit.
"Aku tidak akan melakukan nya lagi." ucap Abel. Radit tertawa kecil dia mencubit hidung Abel.
"Ada apa dengan kamu? kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Radit.
__ADS_1
Abel menggeleng kan kepala nya. "Kamu pasti memiliki Alasan." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Katakan saja." ucap Radit.
"Humm aku merasa akhir-akhir ini aku sudah terlalu jahat kepada kakak, aku sering melakukan hal yang membuat kakak kesal dan juga aku tidak melayani kakak." ucap Abel.
"Maksudnya?"
"Semenjak hamil mood ku sangat buruk, terkadang aku tiba-tiba marah, tiba-tiba kesal tidak ada sebab. Dan aku sering marah-marah sama kakak." ucap Abel.
Radit Menatap wajah Abel.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah, saya paham dan saya mengerti." ucap Radit.
"Sebisa saya, saya akan berusaha mengerti dan selalu ada untuk kamu. di posisi hamil seperti ini tidak lah mudah." ucap Radit.
"Kakak sangat baik, kakak sangat pengertian. Aku jadi merasa sangat malu karena aku sama sekali tidak bisa membalas kebaikan kakak." ucap Abel.
"Kata siapa? Justru saya yang sangat beruntung memiliki kamu." ucap Radit. Abel menaikkan alisnya.
"Iyah.. Soal nya kamu sudah hadir di hidup saya, sudah menjadi pendamping hidup saya, sudah mencintai saya dan bahkan sudah mengandung anak saya." ucap Radit.
"Hummm tapi itu semua belum setimpal sama kebaikan kakak."
Radit menggeleng kan kepala nya. "Jangan pernah berfikir demikian, saya tidak suka mendengar nya. Justru saya yang harus banyak berkorban untuk istri saya." ucap Radit.
Abel memeluk suaminya.
"Terimakasih kak." ucap Abel.. Radit tersenyum.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Ketika saya melakukan itu saya terkadang tidak sadar, saya takut akan menyakiti kamu." ucap Radit.
"Tapi kakak tidak perlu menahan nya."
Radit tersenyum. "Saya khawatir dengan janin yang di perut kamu, saya tidak boleh egois." ucap Radit.
Abel tersenyum. Dia mengelus rambut Radit. "Suami yang benar-benar sangat baik sekali."
"Mamah... Papah..." Tiba-tiba Farel mengetuk pintu dan memanggil nama mereka berdua dari luar.
"Kak bagaimana ini? Aku belum memakai baju?" tanya Abel.
"Kamu tunggu saja di sini, saya akan membuka nya." ucap Radit.
Radit hanya memakai celana pendek saja bertelanjang dada dia membuka pintu.
"Kenapa nak?"
Dan ternyata ada Bibik.. Melihat tuan nya tidak mengenakan pakaian dia langsung menutup mata dan mengalihkan pandangannya.
"Seperti nya Farel sudah ngantuk Tuan." ucap Bibik.
"Oohh baiklah bik. Terimakasih sudah menjaga nya dengan baik." ucap Radit membawa Farel masuk. Radit menutup pintu. Bibik menghela nafas panjang.
"Huff benar-benar yah Tuan Radit sekarang sudah tidak menjaga image nya." batin Bibik.
__ADS_1
"Mamah ..." Farrel mau di peluk oleh Abel.
Abel menidurkan Farel sebentar. Sementara Radit pergi mandi.
Tengah malam Radit sudah ngantuk dia tidur namun tiba-tiba Abel membangun kan nya.
"Kak.. Kak bangun dulu." ucap Abel.. Radit duduk dia menatap Abel..
"Ada apa?" tanya Radit.
"Aku mau makan goreng pisang." ucap Abel.
"Goreng pisang?" tanya Radit heran.
Abel mengangguk. "Tapi ini sudah malam."
"Justru malam seperti ini banyak yang jual goreng."
Radit tidak bisa menolak dia keluar sebentar mencari gorengan yang di mau oleh istri nya.
"Huff Abel benar-benar." ucap Radit. Setelah mendapatkan apa yang dia cari dia pulang. Sampai di kamar dia melihat Abel sudah tidur.
"Abel...." Radit membangun kan istri nya.
"Jangan ganggu aku dulu kak, aku ngantuk." ucap Abel.
"Ini sudah ada goreng nya." ucap Radit.
"Biarkan saja kak, aku sudah tidak ingin lagi, kakak sangat lama sekali datang nya." ucap Abel. Radit menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu."
"Sebaik nya aku tidak perlu membangun kan dia," ucap Radit. Akhirnya dia sendiri yang makan Goreng itu.
Keesokan harinya..
"Kak aku ke rumah mamah yah." ucap Abel.
"Ngapain?" tanya Radit.
"Aku rindu mereka." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya. "Mamah sama papah Akan marah kalau tau kamu keluar rumah." ucap Radit.
"Di tambah lagi saya belum bisa mengantarkan kamu ke sana." ucap Radit.
"Tapi..."
"Tidak bisa saya bilang! Jangan keras kepala. Kalau kamu tidak Hamil mau kemana saja terserah, namun sekarang kamu hamil." ucap Radit.
"Sama Bibik. Aku janji deh gak kemana-mana hanya ke rumah mamah saja "
Radit tetap saja tidak setuju.
"Kak aku mohon, aku bosan di rumah saja."
"Biasa nya kamu di rumah saja tidak mengeluh, kamu tidak boleh membantah, sekarang di rumah. Jaga kesehatan kamu jangan terlalu lelah." ucap Radit.
__ADS_1
"Yahhh..." Radit tidak perduli dengan wajah sedih yang sudah di pasang oleh Abel.