Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 52


__ADS_3

Abel mengangguk. "Mereka berpisah karena orang tua nya tidak merestui hubungan mereka." ucap Abel tambah menangis.


"Sudah-sudah tidak apa-apa." Radit menenangkan Abel lagi.


"Kakak harus melihat nya, kakak harus melihat kisah nya." ucap Abel. Radit mau menolak namun Abel memaksa nya untuk menonton.


Radit duduk di samping Abel. Dia juga membalut tubuh nya dengan selimut. Satu jam mereka menonton Radit sudah kelelahan dia mengantuk sehingga Abel tidak sadar kalau Radit sudah tidur dengan keadaan tidur.


"Orang tua nya sangat jahat sekali. Mereka tidak mengerti kepada anaknya sendiri." ucap Abel.


"Bagaimana menurut kakak?" tanya Abel. Namun Radit sudah tidak menjawab nya.


Abel melihat wajah Radit dan ternyata dia sudah tidur.


"Huff pantesan saja dari tadi diam terus." ucap Abel. Dia menggoyang kan tubuh suami nya.


"Kak.. Kak bangun." ucap Abel.


"Kenapa? Apa suami nya sudah menyesal?" tanya Radit spontan. Abel yang melihat itu hanya bisa bengong.


"Apa yang kakak katakan?" ucap Abel. Radit baru saja sadar. "Saya ketiduran sangat ngantuk sekali. Sebaiknya saya kembali ke kamar saja." ucap Radit.


Abel mengangguk. Radit berusaha untuk berdiri dan keluar dari kamar Abel.


Beberapa hari kemudian di hari Minggu. Radit dan Abel ke rumah orang tua Abel untuk berkunjung.


"Mamah aku sangat merindukan mamah." ucap Abel.


"Lalu kamu tidak rindu sama papah?" tanya papah nya.


"Aku juga rindu sama papah, tapi lebih rindu sama Mamah." ucap Abel.


Mereka tertawa mendengar Abel berbicara seperti itu.


Berbincang-bincang di ruang tamu. "Ya ampun Mila kamu baru bangun jam segini?" tanya Abel melihat adik nya turun dengan pakaian tidur, penampilan yang masih berantakan sekali.


"Eh Kakak," ucap Mila kaget, melihat ada Radit dia berlari ke kamar nya.


"Tunggu dulu yah kak, aku mau mandi dulu." ucap Mila langsung berlari ke atas lagi.


"Biasalah nak, kamu tau sendiri adik kamu seperti apa kalau di hari libur." ucap mamah nya.


"Tapi Papah tidak Akan marah, dari pada kamu terkadang tidak pulang kalau sudah hari Minggu." ucap Papah nya.


"Itu biasa untuk anak muda Pah." ucap Abel.

__ADS_1


"Sekarang kamu berani melawan papah karena sudah di dampingi suami mu, dulu melihat wajah Papah saja kamu tidak berani. Pulang setiap hari dari belakang." ucap Papah nya.


"Sudah pah jangan membahas itu." ucap Abel karena sangat malu kepada Radit.


"Istri kamu ini sudah nakal dari kecil, tidak bisa di bilangin keras kepala." ucap pak Handoko kepada Radit. Radit hanya tersenyum saja.


"Dan Abel juga sangat pembantah, bapak sudah melarang nya untuk berpacaran dengan Gaga, namun tetap saja berpacaran dengan pria yang tidak jelas itu." ucap Papah.


"Sudah pah jangan membahas itu.. Hanya masa lalu saja hal wajar lah." ucap Abel.


Papah nya menghela nafas panjang.


"Sudah lah mau bagaimana lagi itu hanya menjadi kenangan, sekarang papah sangat senang kamu sudah menikah dan bersama pria yang Papah yakin bisa bertanggung jawab sama kamu." ucap papah nya.


Abel mengangguk. "Iyah Abel. Pokoknya kamu harus menjadi istri yang baik, istri yang cerdas dan juga harus perhatian kepada suami." ucap Mamah nya.


Abel hanya tersenyum saja, walaupun permintaan Ibu nya sama sekali sangat jauh dari sifat asli nya.


"Huff aku malah merasa aku adalah manusia terjahat yang di temui oleh kak Radit." batin Abel.


"Ya udah deh kalau begitu aku iyakan saja, aku juga harus mendengarkan saran orang tua ku."


"Satu hal lagi jangan pernah membuat pasangan kita kecewa." ucap Mamah nya.


Abel dan Radit mengangguk.


"Mah, Pah aku gak bisa lama-lama di sini sama kak Radit. Nanti sore kamu ada peninjuan pekerjaan." ucap Abel.


"Oohh begitu tidak apa-apa nak, Kalian datang ke sini saja sudah membuat mamah dan papah bahagia." ucap Papah nya.


"Kamu sampai sekarang masih bekerja?" tanya mamah nya. "Iyah mah, Mamah tau sendiri kan kalau aku sangat ingin bekerja di perusahaan." ucap Abel.


"Untuk sekarang ini tidak lah masalah, yang penting suami kamu masih terurus oleh kamu.. Tapi Besok kalau sudah hamil atau sudah melahirkan kamu harus berhenti bekerja." ucap mamah nya.


Abel menoleh ke arah Radit.


"Iyah mah, mamah tidak perlu khawatir." ucap Abel.


Selesai berpamitan Mila baru saja turun.


"kak! Kak! Kakak kok sudah mau pulang sih?" tanya Mila berlari turun ke bawah sambil membawa tas nya.


"Iyah kakak masih ada urusan soal nya." ucap Abel.


"Aku beberapa hari boleh nginap di tempat kakak kan?" tanya Abel.

__ADS_1


"Loh kenapa?" tanya Abel heran karena tidak biasa nya.


"Iyah mbak, aku ada tugas di daerah sana, kebetulan tidak jauh dari tempat kakak dan aku juga butuh bantuan kakak menjelaskan pelajaran." ucap Mila.


Abel menoleh ke arah orang tua nya.


"Sebenarnya hari ini Papah mau mengantar kan dia ke rumah kalian. Namun kebetulan sudah datang sekaligus saja." ucap papah nya.


Mila memasang wajah berharap.


"Kak boleh kan?" tanya Abel. Radit mengangguk. Mila langsung sangat senang sekali.


Mereka pamit dan masuk ke dalam mobil.


"Wahh mobil kak Radit cantik banget." ucap Mila.


"Kamu hanya membuat alasan kan agar bisa bebas?" tanya kakak nya.


Mila menggeleng kan kepala nya.


"Enggak Kak, aku benar-benar ada tugas." ucap Mila.


"Kakak gak mau yah kena marah karena ulah kamu." ucap Abel.


"Iyah kak, aku janji deh gak aneh-aneh." ucap Mila.


Selama perjalanan mereka tidak berhenti berbicara.. Radit hanya diam fokus kepada jalanan.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga.


"Assalamualaikum bik." ucap Abel.


"Non sama Tuan sudah pulang?" ucap Bibik menyambut di depan pintu.. Radit dan Abel tersenyum.


Bibik melihat Mila. "Loh ini kan adik."


"Iyah bik, ini adik aku. Dia akan tinggal beberapa Hari di sini." ucap Abel.


Bibik terdiam sejenak.


"Aduh bagaimana ini. Kalau Non Mila tidur di sini dia tidak boleh tau kalau non Abel dan Tuan tidur dengan kamar yang terpisah." ucap Bibik dalam hati.


"Gak apa-apa kan bik aku tinggal di sini? aku janji gak akan makan banyak, gak bikin kekacauan dan juga tidak membuat piring kotor. Aku sudah biasa bersih-bersih di rumah aku bisa membantu." ucap Mila.


Radit dan Bibik yang melihat itu hanya bisa tersenyum saja karena seperti nya Mila berharap bisa di ijinkan untuk tinggal di sana.

__ADS_1


"Ya udah kamu tinggal saja di sini Mila. Saya tidak melarang nya." ucap Radit.


__ADS_2