
Abel terlihat sangat kesal, dia sudah lelah memasak namun Farel tidak mau makan.
Radit melarang Bibik membantu Abel agar dia tau tugas nya.
Farel baru saja selesai mandi dengan Radit.
"Apa kamu bisa membantu saya memasang kan baju Farel?" tanya Radit.
Abel yang sedang main handphone di kasur menoleh ke arah Radit yang sedang menggendong Farel di depan pintu kamar mandi.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak bisa, aku mau istirahat aku ngantuk." ucap Abel.
Radit tidak bisa mengatakan apapun akhirnya dia memasang baju Farel dan. setelah itu dia memakai baju.
Waktu nya untuk tidur. Abel lagi-lagi kesal karena Farel tak kunjung tidur dia malah menangis mencari mamah nya.
Melihat Abel bete Radit membawa Farel untuk bermain di luar.
Abel melihat jam sudah menunjuk ke arah jam sepuluh. Radit dan Farel tak kunjung kembali ke kamar.
"Kemana mereka? kenapa tidak kembali ke kamar?" ucap Abel. Dia melihat keluar dan ternyata Radit ketiduran bersama Farel di ruang tamu.
"Kok malah tidur di sini sih?"
Abel membangun kan Radit.
"Kak.." panggil Abel. Radit langsung bangun. "Kenapa kakak tidur di sini?" tanya Abel.
Radit melihat ke arah Farel yang sudah tidur.
"Pindah ke kamar." ucap Abel. Radit membawa Farel ke kamar.
Sampai di kamar Radit langsung tidur di samping Farel.
Abel melihat kedua nya tidur dengan sangat nyenyak.
"Huff karena Farel, kak Radit tidak memeluk ku tidur malam ini." ucap Abel.
Keesokan paginya..
"Sayang.." Panggil Radit dengan lembut di telinga Abel. Abel bergeliat dia melihat Radit duduk di samping nya.
"Kenapa kak?" tanya Abel.
Radit tidak mengatakan apapun dia berbaring di samping Abel.
Abel melihat jam ternyata masih jam empat pagi.
"Saya minta maaf tidak memeluk kamu saat tidur." ucap Radit.
"Kakak terbangun hanya karena itu?" tanya Abel. Radit mengangguk. Abel tersenyum.
Akhirnya mereka berdua kembali tidur sambil berpelukan.
Hari semakin pagi Farel merengek. Abel terbangun dia melihat Farel sudah duduk sambil menangis melihat Radit.
Abel dengan tingkah anak kecil menjulurkan lidah nya memeluk Radit semakin erat.
Farel menangis dia mencoba memisahkan mereka namun Abel tidak mau dia terus membuat Farel menangis.
Radit bangun.
__ADS_1
"Abel apa yang kamu lakukan?" tanya Radit. Abel langsung berpura-pura kalem.
Radit menenangkan Farel.
"Ini suami ku." ucap Abel membuat Farel menangis lagi.
Radit hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kamu buat susu untuk Farel, saya mau mandi." ucap Radit. Abel menahan tangan Radit sambil menunjuk pipi nya.
Radit Menatap nya dengan heran karena tidak biasa nya. "Buruan kak " ucap Abel.
Abel hanya ingin membuat Farel cemburu.
Setelah Radit pergi ke kamar mandi Abel membuat susu untuk Farel.
Radit sudah berangkat bekerja tinggal hanya Abel dan Radit.
Bibik keluar ada urusan di luar.
"Mamah.. Mamah..." Farel berjalan mendekati Abel mengajak nya untuk bermain.
"Kamu main saja sendiri Farel, jangan mengganggu aku." ucap Abel.
"Aku? Panggilan itu sungguh tidak baik untuk di ajarkan kepada anak kecil." ucap Abel. Dia mencoba memikirkan apa yang bagus.
"Aku belum tau dia harus panggil apa sama ku." ucap Abel.
"Farel sini deh." ucap Abel. Farel yang sudah paham sebagian kata-kata dia mendekati Abel sambil tersenyum.
"Aku tidak meminta kamu tersenyum, aku hanya ingin tau kamu baik nya panggil aku apa?" ucap Abel namun Farel tidak menjawab dia malah memberikan mainan nya kepada Abel.
Abel kesal dan marah, Farel menangis Abel merasa bersalah dia memangku Farel.
"Jangan nangis dong, nanti kalau kak Radit lihat dia bisa marah, kamu sih jadikan handphone mainan." ucap Abel.
"Huff sebaiknya aku tunggu kak Radit saja deh baru beli mainan." batin Abel.
Satu harian bersama Farel ternyata membuat Abel dan Farel cukup dekat. Abel sudah mulai menerima dan ikhlas merawat Farel.
Walaupun cukup melelahkan karena Farel lagi aktif-aktif nya.
"Pak Radit mau kemana?" tanya Novi.
"Saya mau pulang." ucap Radit.
"Tumben cepat pulang pak?" tanya Novi karena tidak biasa nya jam lima sudah pulang.
"Saya ada urusan." Radit langsung pergi.
Radit sama sekali tidak bisa tenang, dia selalu memikirkan Keadaan Abel dan Farel.
Radit menelpon nomor Abel namun tidak aktif, telpon rumah tidak di jawab, sementara Bibik masih di luar.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
"Assalamualaikum..."
"Astaga! Apa yang terjadi." dia kaget melihat rumah berantakan dan juga Tidak ada satu orang yang menjawab nya.
Dia berjalan masuk dia melihat Farel dan Abel ternyata tidur di karpet yang ada di lantai.
__ADS_1
"Huff syukurlah." dia merasa lega.
Namun melihat rumah seperti kapal pecah membuat nya bingung apa yang terjadi.
"Abel.." Panggil Radit. Abel bangun dia melihat Radit.
"Kakak sudah pulang?" ucap Abel berusaha untuk bangun.
"Apa yang terjadi?" tanya Radit.
"Sstt!!! Jangan kuat-kuat kak, nanti Farel bangun. Membuat nya tidur cukup susah." ucap Abel.
Abel bangun dia melihat rumah yang sangat berantakan.
"Aku minta maaf membuat rumah kacau seperti ini. Aku tidak tau harus mengajak Farel main apa, aku membuat semua barang-barang menjadi mainan agar dia tidak menangis." ucap Abel.
"Kamu juga ikut main?" Abel mengangguk sambil tersenyum tipis.
Radit menghela nafas panjang.
"Oh iya aku mau ngajakin kakak beli mainan untuk Farel." ucap Abel.
"Baiklah kalau begitu mandi dulu." ucap Radit. Mereka membawa Radit ke kamar.
"Abel.." panggil Radit, Abel menoleh ke pintu.
"Apa kamu tidak ingin mandi?" tanya Radit.
"Aku akan mandi Setelah kakak." ucap Abel.
"Mandi bersama akan menghemat waktu." ucap Radit.
Abel cukup terkejut dia diam.
"Saya hanya bercanda, pipi mu langsung merah." ucap Radit.
Radit masuk ke dalam.
"Kak Radit benar-benar sangat mesum."
"Tumben banget kak Radit cepat pulang, biasa nya selalu lama." ucap Abel.
Tidak beberapa lama Radit keluar dari kamar mandi.
"Apa pakaian saya sudah kamu ambil kan?" tanya Radit memeluk Abel dari belakang. Abel sedang memilih pakaian nya.
"Kak Radit.. Apa yang kakak lakukan?" ucap Abel karena Radit basah.
Radit tersenyum dia mencium pipi Abel.
"Saya mau kamu pakai ini." ucap Radit memilih pakaian untuk Abel.
Abel tersenyum. "Baiklah." ucap Abel.
"Sekarang lepas kan aku, aku mau mandi, pakaian kakak sudah di atas kasur." ucap Abel.
"Abel.. Apa kamu tidak nyaman saya peluk seperti ini? Saya sangat merindukan kamu." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang.
"Jangan seperti ini kak, bagaimana kalau Farel melihat nya." ucap Abel.
"Dia anak kecil, tidak tau apa-apa." ucap Radit.
__ADS_1