
"Aku di sini saja bik," ucap Abel dan tidak beberapa lama dia ketiduran.
Bibik yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ada apa sih dengan Tuan dan juga non Abel." ucap Bibik.
"Bik..." panggil Radit yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Iyah Tuan." Ternyata Radit pulang Sore ini, dia akan tinggal di sana lagi karena Bibik sudah pulang.. Namun Abel salah tanggap.
Radit melihat Abel. "Ada apa dengan Abel bik? kenapa dia tidur di sini?" tanya Radit.
"Non Abel baru saja pulang Tuan. Kelihatan nya dia sangat kecapean." ucap Bibik.
Radit mendekati Abel.
"Bik tolong siap kan Air yah bik, saya akan membawa nya ke atas." ucap Radit.
Radit membaringkan tubuh Abel di tempat tidur.
Bibik datang membawa Air.
"Apakah Tuan Akan membersihkan nya sendiri?" tanya Bibik.
"Gak apa-apa Bik, biar saya saja." ucap Radit.
Bibik terdiam sejenak.
"Bibik tidak perlu khawatir yah." ucap Radit.
Bibik memberikan air dan kain kepada Radit. Radit meminta Bibik keluar.
Radit mau membersihkan tubuh Abel namun tidak jadi karena dia tidak biasa, bahkan tidak pernah melakukan nya.
"Bik sebaiknya Bibik membersihkan nya." ucap Radit kepada Bibik.
Radit meninggalkan Bibik dengan Abel di kamar.
"Huff aku harus bisa melupakan perasaan ini, aku harus menghilangkan Abel dari pikiran ku." ucap Radit.
Keesokan harinya Abel bangun dia baru sadar kalau tubuh nya sudah di kamar nya.
"Loh kok aku di sini? Aku tidur di sofa tadi malam." ucap Abel.
Melihat baju nya sudah terganti dia kaget.
"Loh kok bisa?" ucap nya. Dia melihat ke sekitar nya tidak ada siapa-siapa di sana.
"Loh siapa yang membantu aku ke kamar? Tidak mungkin Bibik." ucap Abel.
"Ah sudahlah mungkin aku berjalan sendiri ke kamar dan tidak sadar mengganti pakaian ku sendiri." ucap Abel.
Namun saat mau ke kamar mandi dia melihat Mangkuk dan juga kain lap yang khusus untuk badan.
"Huff ini pasti Bibik." ucap Abel. Dia siap-siap ke kantor.
__ADS_1
"Non sudah bangun?" tanya Bibik melihat Abel keluar dari kamar nya.
"Iyah Bik." ucap Abel.
"Ayo sarapan dulu non." ucap Bibik.
"Saya sarapan di kantor saja bik." ucap Abel. Lagi-lagi Abel menolak untuk sarapan di rumah.
"Tapi Non. sebaiknya Non sarapan dulu sebelum berangkat bekerja. Dan juga non jangan sampai bekerja terlalu larut malam." ucap Bibik.
"Tidak apa-apa Bik, lagian ini sudah tugas saya sebagai karyawan." ucap Abel.
Bibik terdiam sejenak.
"Oh iya bik aku kok bisa tidur di kamar yah? Aku ingat aku tidur di sofa." ucap Abel.
"humm.."
"Pasti aku jalan sendiri yah bik? atau Bibik yang membawa ku ke atas? Huff aku sangat merepotkan sekali yah bik?" ucap Abel.
Bibik mau ngasih tau kalau itu Radit namun Abel langsung memotong pembicaraan nya.
"Ya udah bik kalau begitu aku berangkat dulu yah."
Abel pergi dia meninggal kan rumah.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di Kantor. Enjel Dari tadi sudah menunggu nya.
"Apa kamu tidak melihat ini sudah jam berapa?" tanya Enjel kepada Abel.
"Huff aku telat beberapa menit saja." ucap Abel.
"Oohh dia datang, Bagus deh palingan juga mau bertemu dengan Sekretaris Novi." ucap Abel.
"Maksudnya?"
"Sudah lah tidak perlu di bahas, ayo masuk." ucap Abel.
Namun saat ke kantor tidak sengaja berpapasan dengan Sekretaris Novi. Abel tidak mengatakan apapun atau menyapa dia lewat begitu saja membuat Enjel bingung.
Tidak beberapa lama berpapasan lagi dengan Radit. Abel berhenti sejenak begitu juga dengan Radit.
"Pak direktur." Tiba-tiba sekertaris Novi datang membawa Surat-surat.
Abel dan Enjel langsung pergi masuk ke dalam ruangan nya.
Radit melihat Abel masuk.
"Pak direktur." panggil Novi karena Radit tidak bisa fokus sama sekali.
Di malam hari nya.. Radit baru saja mau pulang dia melihat lampu Ruangan kerja Abel masih hidup.
"Loh kok masih hidup? Siapa yang bekerja jam segini?" tanya Radit.
Dia melihat ke dalam melalui jendela.
__ADS_1
"Abel." ucap Radit.
Dia langsung menelpon Novi menanyakan apa yang sedang di kerjakan oleh Abel. Dan ternyata Novi sengaja membuat pekerjaan Abel lebih berat seperti perintah Radit sebelum nya.
Radit tidak bisa marah karena itu permintaan nya sendiri.
Radit mengetuk pintu. Abel menoleh ke arah pintu.
Tidak mengatakan apapun dia langsung berdiri.
"Kenapa jam segini kamu masih di sini?" tanya Radit.
"Apa bapak tidak melihat semua ini? Ini semua karena Sekertaris kesayangan bapak itu." ucap Abel.
Radit melihat kerjaan yang numpuk di atas meja.
"Sebaiknya kamu pulang saja." ucap Radit.
"Malam ini aku akan menginap di sini." ucap Abel sambil menunjuk persiapan yang dia bawa.
Radit melihat barang-barang itu.
"Kamu tau peraturan kantor kalau tidak ada ijin membiarkan karyawan tidur di kantor." ucap Radit.
"Ini permintaan Kakak kan? Kakak tidak ingin aku tinggal di rumah kakak, dan aku sebagai orang biasa harus sadar kalau itu adalah rumah kakak, seharusnya kakak tidak pergi ke tempat lain untuk tidur." ucap Abel.
"Sebaiknya kakak kembali ke rumah, aku akan keluar dari rumah itu kalau membuat kakak tidak nyaman." ucap Abel.
Radit terdiam sejenak.
"Saya tidak pernah mengatakan seperti itu." ucap Radit.
"Kakak tidak perlu berbohong, sebaiknya sekarang kakak jujur saja kepada ku. Kalau kakak kesal lakukan saja apa yang mau kakak lakukan." ucap Abel.
Radit benar-benar tidak paham dengan kata-kata Abel yang sangat aneh sekali.
"Ah sudahlah berbicara dengan kamu hanya menambah masalah saja, saya tidak mengerti dengan apa yang kamu sampaikan." ucap Radit.
Radit mau pergi namun tiba-tiba Abel menghentikan nya.
"Kakak benar-benar ingin menyerah dengan pernikahan ini?" tanya Abel. Radit tidak jadi keluar dari pintu ruangan itu.
"Kenapa Kakak diam?" tanya Abel.
"Saya tidak tau harus menjawab apa Abel. Saya bingung harus bagaimana menghadapi kamu. Semua keputusan ada di tangan kamu." ucap Radit.
"Apa yang Kakak maksud?" tanya Abel.
"Saya akan mengikuti saja apa yang kamu putuskan." ucap Radit.
Abel diam. "Saya permisi." ucap Radit.
Abel mengejar Radit dia menahan Radit. Dia berdiri di depan Radit.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Radit.
__ADS_1
"Apa kakak akan kembali ke penginapan itu?" tanya Abel. Radit tidak menjawab nya.
"Aku minta maaf kalau sudah membuat kakak tidak nyaman di rumah. Aku mohon kakak kembali ke rumah. Aku tidak ingin orang lain bertanggapan lain tentang hubungan kita." ucap Abel.