Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 124


__ADS_3

Enjel menekan pin pintu.


"Loh itu kan tanggal lahir kamu?" ucap Heri.


"Kamu tau tanggal lahir ku?" tanya Enjel. Heri mengangguk.


"Apa sih yang tidak aku tau tentang kamu."


"Apa kamu tau tentang orang tua ku?" tanya Enjel. Seketika Heri langsung diam.


"Tidak mungkin aku tau, aku tidak pernah bertemu dengan mereka." ucap Heri.


"Tapi kamu tau semua nya tentang aku." ucap Enjel. "Aku hanya bercanda." ucap Heri.


"Papah dan mamah sudah bercerai dari aku remaja." ucap Enjel sambil masuk ke dalam.


"Jadi mereka sekarang sudah tidak tinggal satu rumah?" tanya Heri. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Sudah tidak lagi. Mereka sudah memiliki kehidupan nya masing-masing."


"Kehidupan masing-masing? apa orang tua kamu menikah lagi?" tanya Heri.


"Papah menikah dengan selingkuhan nya dan meninggalkan Mamah. Karena pada saat itu mamah masih muda jadi kakek dan nenek menjodohkan orang lain dengan Mamah yang sudah memiliki anak dua."


"Kamu tinggal dengan siapa?"


"Aku tinggal dengan nenek dan kakek. Sekarang kakek sudah tidak ada." ucap Enjel.


Heri duduk di sofa sambil melihat Enjel yang membongkar belanjaan nya.


"Humm apa kamu tidak pernah bertemu dengan orang tua kamu?"


Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak pernah lagi setelah mereka bercerai. Mamah menikah."


Melihat wajah Enjel semakin sedih Heri memilih untuk berhenti bertanya terus tentang kehidupan Enjel.


"Sudah jangan membahas itu. Aku ingin tau kenapa kamu membeli peralatan alat mandi sebanyak ini dan masing-masing dua?" tanya Heri.


"Ini di kamar mandi milik mu, agar kamu tidak memiliki alasan lagi mengganggu ku di kamar." ucap Enjel.


"Huff kamu seperti nya sangat tidak suka aku ganggu." ucap Heri. Enjel tidak menjawab.


"Oh iya ini untuk kamu." ucap Enjel memberikan satu bungkus plastik Hitam.


"Apa ini?" tanya Heri.


"Buka lah." Heri membuka nya dia sangat kaget karena isinya adalah ****** ***** laki-laki.

__ADS_1


"Kenapa kamu membeli ini?" tanya Heri.


"Aku tau kamu hanya membawa beberapa ****** ***** sehingga setiap hari kamu mencuci di balkon ku." ucap Enjel.


Heri terlihat sangat malu sekali.


"Tidak perlu malu. Banyak perempuan di luar sana yang membelikan ****** ***** untuk suami nya."


"Tapi tetap saja aku sangat malu, kita belum menjadi suami istri bahkan bukan pacaran." ucap Heri.


"Ini untuk kamu." ucap Enjel memberikan celana pendek, baju kaos."


Heri sangat heran kenapa tiba-tiba Enjel membeli itu semua.


"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku kepada kamu." ucap Enjel. "Simpan lah, terserah mau di pakai atau tidak. Aku ke kamar dulu." ucap Enjel.


Tiba-tiba Heri berdiri dan menahan tangan Enjel, dia langsung memeluk Enjel membuat Enjel kaget.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Enjel.


"Terimakasih.. Seharusnya aku yang minta maaf kepada kamu." ucap Heri.


"Aku sudah berbicara dengan kasar dan aku juga tidak menghargai Kerja keras kamu merapikan pakaian ku." ucap Heri.


"Aku tidak suka sifat kasar kamu, aku tidak mengenal Heri yang kasar. Aku tau Heri yang bisa menggonta-ganti pasangan setiap bulan dan pandai berbual dan memiliki mulut yang berbicara manis setiap hari nya." ucap Enjel.


Heri tersenyum. "Baiklah. Aku tidak akan melakukan nya lagi, aku tidak akan pernah membuat kamu takut kepada ku karena sifat ku." ucap Heri.


"Humm kalau begitu aku ke kamar dulu. Aku baru keringat." ucap Enjel.


Heri mencium Enjel lebih dekat.


"Gak kok, gak bau." ucap Heri.


"Tapi tetap saja aku sangat gerah. Aku berkeringat karena aku mengelilingi mall." ucap Enjel.


"Kamu juga sudah bau keringat, pergi lah mandi." ucap Enjel. Heri mencium baju nya namun tidak tercium sama sekali.


"Tidak bau, coba kamu cium." ucap Heri. Enjel mencium di bagian dada, namun tiba-tiba Heri mencium kening Enjel.


Enjel kaget. "Maaf.. Kamu boleh mandi sekarang." ucap Heri.


Enjel menghela nafas panjang. "Baiklah."


Enjel masuk ke kamar tiba-tiba dia senyum-senyum dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Jantung ku.." Dia menyentuh dadanya.


"Ini tidak mungkin.. Tidak mungkin aku menyukai Heri secepat ini." ucap Enjel.

__ADS_1


Di Rumah Abel dia baru saja mau tidur. Dia berbaring di tempat tidur.


"Kak Radit kemana sih? Kenapa sampai sekarang dia tidak ada kabar?" ucap Abel. Sepanjang hari Abel sama sekali tidak bisa tenang dia tidak tau harus bagaimana untuk menghubungi suami nya.


"Non.." panggil Bibik.


"Iyah bik kenapa?" tanya Abel.


"Ini buah yang non minta tadi." ucap Bibik.


"Oohh bawa sini saja bik "


"Bik.. Kenapa yah sampai sekarang kak Radit tidak juga menghubungi aku?" tanya Abel.


"Bibik juga tidak tau non, bagaimana kalau non mencoba tanya kepada Orang tua Tuan Radit?" tanya Bibik.


"Aku gak enak bik,"


"Tapi kalau seperti ini sudah membuat khawatir non, sebaiknya tanya saja." ucap Bibik.


"Baiklah bik aku akan menghubungi mertua ku." ucap Abel. Abel menelpon orang tua suami nya namun tidak di jawab.


"Seperti nya mereka sudah tidur bik." ucap Abel.


"Ya udah kalau begitu besok Non langsung ke sana saja." ucap Bibik.


Abel mengangguk. "Oh iya boleh gak nanya tentang Tania?" tanya Abel.


"Boleh, emang nya kenapa Non?"


"Kok aku merasa Tania sudah sangat dekat dengan kak Radit yah bik? Bahkan dia memiliki tugas di luar kota saja harus kak Radit yang mengantarkan nya." ucap Abel.


"Oohh mereka memang sudah cukup dekat non, dari dulu tuan selalu mendampingi Non Tania Kemana saja, mungkin sekarang non Tania masih belum terbiasa kalau tuan sudah menikah jadi masih memaksa untuk di antar." ucap Bibik.


"Oohh gitu yah bik."


"Iyah non.. Emang nya kenapa?"


"Kok aku berfikir mereka bukan seperti sepupu yah? Aku tau jelas keluarga pak Malvin berapa dan siapa saja Keluarga dekat nya." ucap Abel karena sudah lama Abel mengagumi keluarga pak Malvin.


"Kalau itu saya kurang tau juga Non." ucap Bibik..Abel menghela nafas panjang."


"Apa Tania itu sudah menikah?" tanya Abel.


"Humm sudah pernah menikah non, namun sudah bercerai karena satu alasan yang Bibik juga tidak tau." ucap Bibik.


"Oohh. aku sudah menduga nya. Setau aku juga umur nya lebih tua dari aku satu tahun." ucap Abel.


"Aku takut nanti dia menyukai kak Radit." ucap Abel. "Huss Non berbicara apa sih? jangan berbicara seperti itu tidak baik " ucap Bibik. Abel menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Non jangan berfikir yang aneh-aneh seperti itu, tidak baik non. Apalagi non lagi hamil muda seperti ini." ucap Bibik.


__ADS_2