
"Pasti ada, kamu tunggu lah di sini."
"Aku masih memiliki obat yang kemarin kamu beli di laci." Heri membuka laci dan ternyata hanya sisa satu.
"Apa cukup satu saja?"
"Hum untuk malam ini bisa agar perut ku lebih nyaman." ucap Enjel.
Enjel minum obat. Heri terlihat sangat khawatir melihat Enjel kesakitan sampai meringkuk dan merengek-rengek.
Heri duduk di belakang Enjel di pinggir kasur.
"Katakan apa saja yang kamu butuhkan? Aku akan membeli nya atau melakukan nya." ucap Heri.
Enjel menoleh ke arah Heri.
"Perut ku u sangat sakit." Heri meletakkan tangan nya di perut Enjel.
Namun Enjel membuka baju nya dan memasukkan tangan Heri.
"Aahh tangan mu cukup hangat." ucap Enjel, sementara Heri sudah sangat gugup. Dengan cepat dia langsung menarik tangan nya.
"Aku akan mengompres perut kamu dengan air hangat." ucap Heri.
Heri mencari botol mengisi air hangat dan tidak lupa membalut dengan kain meletakkan nya di atas perut Enjel.
Keesokan harinya...
"Pagi.." Sapa Heri kepada Enjel yang baru saja keluar kamar.
"Humm"
"Apa kamu masih sakit?" tanya Heri.. Enjel mengangguk.
"Hari ini kamu tidak perlu datang ke kantor. Lagian tidak ada kerjaan yang sangat penting. Yang lain nya bisa di urus oleh Novi dan Jesica."
"Tapi."
"Jangan banyak membantah! Sekarang kamu di rumah saja istirahat sampai kamu sembuh."
Enjel mengangguk. Heri pun pamit untuk berangkat ke kantor.
Baru saja sampai di kantor dia melihat mobil Abel di depan Pintu perusahaan.
"Heri." ucap Abel.
"Kamu kok bisa di sini sepagi ini?" tanya Heri.
"Aku ke sini mau bertemu kamu."
"Ada apa? ada Masalah kah?"
"Apa kamu dapat kabar dari kak Radit? Sudah dua hari dia tidak ada kabar."
"Loh bukannya Radit pergi mengantarkan Tania seperti yang di katakan sebelumnya?"
"Iyah, tapi setelah itu dia tidak ada kabar sama sekali, aku khawatir." ucap Abel.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku sehingga tidak kefikiran ke sana. Bagaimana dengan Novi? dia pasti tau." ucap Heri.
"Oh iya kamu benar juga. Aku akan bertanya kepada dia."
"Tapi sepertinya dia belum datang. Kamu tunggu lah di lobby." ucap Heri.
Abel masuk bersama Heri ke dalam.
"Enjel mana? Kenapa gak sama-sama datang?" tanya Abel.
"Enjel hari ini tidak masuk ke kantor karena perut nya sakit." ucap Heri.
"Sakit? Kok bisa sih?"
"Biasa lah menstruasi. Enjel akan mengalami kesakitan yang luar biasa ketika menstruasi." ucap Heri.
"Oohh, aku juga seperti itu kok bukan hanya Enjel."
"Tapi sekarang sudah tidak lagi. Sekarang sudah ada bayi di perut ku jadi tidak akan menstruasi."
"Berarti kalau ada bayi di dalam perut perempuan dia tidak akan menstruasi." batin Heri.
"Seperti nya ini adalah cara ampuh." batin Heri.
Tidak beberapa lama Novi datang.
"Novi ke sini dulu " ucap Heri.
"Iyah pak ada yang bisa saya bantu?"
"Abel mau berbicara dengan kamu." ucap Heri.
"Kalau begitu kalian lanjut berbicara, saya akan ke ruangan saya." ucap Heri.
Novi duduk di depan Abel.
"Tidak perlu canggung seperti itu, mari lupakan masa lalu. Aku ke sini mau nanya apa kamu tau kabar kak Radit?" tanya Abel.
"Pak Radit?" ucap Novi.
"Iyah, sudah dua hari dia pergi mengantarkan sepupu nya yang bernama Tania ke luar kota namun sampai sekarang dia tidak ada mengirim kabar."
"Saya ingin tau apa kamu tau kak Radit sekarang di mana?" tanya Abel.. Novi menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak tau karena pak Radit juga tidak ada mengirim pesan atau membahas apa pun." ucap Novi.
"Huff seperti nya dia benar-benar tidak mengabari semua orang." ucap Abel.
"Tunggu saja Bu, ini sudah kebiasaan Pak Radit kalau berhubungan dengan sepupu nya. Sekitar satu Minggu pak Radit akan pulang." ucap Novi.
"Ini bukan yang pertama kali?" tanya Abel.
Novi mengangguk.
"Pantesan saja orang tua dan orang sekitar nya santai saja." batin Abel. "Tidak lama di perusahaan Suami nya dia memilih untuk pulang, namun dia singgah dulu ke apartemen Enjel.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
__ADS_1
"Itu pasti Abel." Enjel sangat bersemangat untuk membuka pintu.
"Abel... akhirnya kamu datang juga." ucap Enjel.
"Maaf yah aku lama, tadi aku beli makanan dulu." ucap Abel. "Gak apa-apa yang penting kamu datang. Aku mau menceritakan sesuatu." ucap Enjel.
Abel masuk dia mendengar kan Enjel yang bercerita penuh emosi.
"Huff dari tadi sudah hampir satu jam lebih kamu menceritakan keburukan Heri. Kamu sama sekali tidak membahas kebaikan nya, aku curiga kalau kalian menjadi jodoh." ucap Abel.
"Abel!!! Aku lagi kesal, kamu jangan bercanda dong." ucap Enjel. Abel tersenyum.
"Karena kalau kelewatan membentuk bisa-bisa kalian menjadi jodoh." ucap Abel.
Enjel menghela nafas panjang.
"Sudah lah aku tidak mau membahas nya lagi, aku bahkan tidak mau mengingat nya." ucap Enjel.
"Baiklah-baiklah jangan membahas itu." ucap Abel.
Namun tiba-tiba handphone Enjel berbunyi telpon dari Heri.
Enjel menghela nafas panjang. "Kenapa sih dia harus menelpon ku?" ucap Enjel.
"Mungkin dia merindukan kamu, jawab saja tidak baik seperti itu." ucap Abel.
Akhirnya Enjel pun menjawab nya.
"Halo?"
"Kamu di rumah sedang bersama Abel?" tanya Heri.
"Kenapa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya saja, bagaimana keadaan kamu apa kamu masih sakit perut?" tanya Heri.
"Masih sangat sakit sekali. Aku harus segera istirahat. Ya sudah kalau begitu aku matikan dulu yah telpon nya." ucap Enjel langsung mematikan Tampa ijin dari Heri.
Heri menelpon lagi.
"Ada apa lagi sih? Aku mau tidur." ucap Enjel.
"Aku sudah mengirim obat dan makanan ke apartemen, mungkin sebentar lagi sudah tiba. Jangan lupa makan dan minum obat. aku akan pulang lebih cepat kamu tidak perlu khawatir." ucap Heri langsung mematikan sambungan telepon.
Enjel terdiam sejenak.
Tiba-tiba pintu apartemen ada yang mengetuk.
"Apa kamu ada tamu Enjel?" tanya Abel.
"Humm enggak kok, tadi Heri memesan makanan. Aku akan mengambil nya." ucap Enjel.
"Humm Heri sangat baik dan perhatian, namun tetap saja Enjel membenci nya." batin Abel.
Enjel membuka pintu dia kaget melihat orang yang di balik pintu bukan kurir tapi orang tua Heri.
"Om, Tante kok bisa di sini?" tanya Enjel kaget.
__ADS_1
"Heri meminta kami datang ke sini, katanya kamu sakit. Dia juga meminta kamu mengirimkan makanan dan obat." ucap Mamah nya Heri.
Enjel kaget. "Maaf Tante sudah merepotkan." ucap Enjel sudah sangat malu dan tidak enak hati.