Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 46


__ADS_3

"Pak direktur tidak mengijinkan saya memberi tau di mana posisi nya sekarang." ucap Novi.


"Apakah dia baik-baik saja? apakah kak Radit minum obat nya rutin?" tanya Abel.


"Kamu tidak perlu khawatir, saya pastikan pak direktur teratur minum obat." ucap Novi.


Abel menghela nafas panjang. "Huff seharusnya saya tidak seperti ini. kak Radit jadi tidak nyaman di rumah nya sendiri." ucap Abel dalam hati.


"Ada yang perlu di tanyakan lagi?"


"Tidak ada Bu."


"Kalau begitu saya akan lanjut bekerja."


"Terimakasih, saya permisi Dulu." ucap Abel.


Novi bekerja beberapa jam, tidak beberapa lama meninggal kan Kantor menyusul Ke tempat Radit.


"Apa istri saya bertanya tentang saya?" tanya Radit.


"Bapak pasti sudah tau, bapak tidak Perlu bertanya lagi, saya datang ke sini mau memberikan ini." ucap Novi.


Novi memberikan berkas-berkas seperti biasa urusan pekerjaan dan setelah itu pergi dari sana.


Radit menginap di salah satu villa milik nya, tidak mungkin dia kembali ke rumah orang tua nya. Dia akan membuat masalah baru.


Radit duduk di sofa sambil meletakkan kertas di atas meja.


"Tok!! tok!! Tok!!"


Di malam hari tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.


"Siapa yang berani mengganggu ku malam-malam seperti ini?" ucap Radit.


Dia ingin beristirahat. Baru saja mau tidur sudah ada yang menggangu nya.


Dia berjalan ke pintu depan dan membuka kunci. Dia melihat istrinya berdiri di depan nya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Radit.


"Kakak berbohong kepada ku! Kakak sengaja kan menghindari aku." ucap Abel.


Radit Menatap wajah Abel. "Bukan kah ini yang kamu mau? Saya pergi dari hidup kamu, berhenti membuat kamu dalam masalah."


"Saya juga sudah memikirkan semua nya dengan matang. Seperti perjanjian kita dari awal dalam jangka enam bulan hubungan kita tidak ada kemajuan nya sebaik nya Kita menemui orang pintar. Dan lebih baik berpisah." ucap Radit.


Abel terdiam mendengar kata-kata Radit.


"Aku pikir kamu akan sama seperti ku, perlahan-lahan memiliki perasaan, perlahan mulai jatuh hati. Namun ternyata aku salah."

__ADS_1


Abel tercengang mendengar Radit memiliki perasaan kepada nya.


"Saya tau kamu pasti sangat membenci saya, tidak mungkin kamu memiliki perasaan kepada saya." ucap Radit.


"Kak...."


"Sudah, sebaiknya kita mengurus kehidupan masing-masing saja. Saya juga akan mencoba membuang jauh-jauh pemikiran saya, saya juga akan menghapus perasaan ini." ucap Radit.


"Kakak yakin akan melakukan itu?" tanya Abel. Radit Menatap wajah Abel Menatap mata nya.


"Saya Mencintai kamu, saya ingin kamu bahagia. dengan keputusan yang kamu buat dan saya buat itu akan membuat kamu bahagia." ucap Radit.


Abel menundukkan kepala nya. "Aku datang ke sini berharap kita bisa membicarakan semua nya dengan baik-baik. namun ternyata keputusan kakak sudah seperti ini." ucap Abel.


"Jangan berbicara seakan-akan saya yang menginginkan semua ini Abel! Kamu yang menginginkan semua nya ini. Bukan kah sebelum nya kita sudah membicarakan ini dengan baik-baik?"


"Tapi berbicara dengan kamu, semua nya sia-sia. Mau bagaimana pun saya adalah suami kamu, saya harus tetap mengalah." ucap Radit.


Abel terdiam. Dia mati kata.


"Apa aku begitu egois sekali? Apa aku tidak pernah bersifat dewasa?" ucap Abel dalam hati.


"Saya akan tinggal di sini beberapa hari, sebaiknya kamu pulang lah, ini sudah malam." ucap Radit.


Abel menundukkan kepala nya, dia menangis tampan sepengatahuan Radit.


"Tapi kamu harus pulang." ucap Radit.


"Aku tidak mau. Aku ingin kakak pulang ke rumah." ucap Abel.


"Jangan membuat saya emosi Abel! Segera lah pulang sebelum semakin malam!" ucap Radit meninggikan nada bicara nya.


"Baiklah kak, aku akan pulang.." ucap Abel. Dia berbalik berjalan perlahan-lahan.


"Maafin saya Abel, saya minta maaf. Saya tidak ingin membentak kamu, saya tidak ingin marah kepada kamu. Namun ini semua demi kebaikan kamu dan saya." ucap Radit.


Dada nya yang sakit dari tadi hanya bisa dia tahan.


Abel di perjalanan pulang. Hari hujan perjalanan ke rumah cukup memakan waktu setengah jam.


"Kenapa setelah kak Radit mengatakan itu aku menjadi keberatan."


"Aku merasa kalau ada yang lain dengan aku."


Sepanjang perjalanan dia menangis, dia tidak bisa melupakan Radit yang sepanjang berbicara hanya marah.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dia melihat rumah yang sangat sepi.


"Kenapa harus hujan sih? Aku sangat benci hujan ketika aku sendiri." ucap Abel.

__ADS_1


Dia berjalan masuk ke rumah.


menukar pakaian dan duduk di ruang tamu menghangat kan tubuh nya.


"Sangat sepi, tidak ada yang bisa yang membuat aku nyaman di rumah ini." ucap Abel.


Dia mau ke kamar nya namun tiba-tiba petir sangat kuat. Dia terkejut.


"Ya Allah lindungilah aku, maafin semua kesalahan ku." ucap nya menutup telinga nya.


Tiba-tiba Dada nya sakit.


"Ya Allah kenapa Dada ku mendadak sakit seperti ini? Kenapa harus sekarang?" ucap Abel karena dia tau kalau tidak ada Radit dia tidak akan bisa sehat Tampa bantuan obat.


Abel berusaha berdiri. Suara petir dan hujan menjadi satu, kilat masuk ke rumah membuat Abel semakin takut.


"Kak Radit... Aku takut... kak..." dia memanggil Radit sambil menangis.


Tidak biasanya dia takut akan petir, tidak biasanya dia benci kepada hujan, namun sekarang dia sangat membenci nya.


Abel berusaha untuk berdiri namun dada nya semakin sakit.


Tiba-tiba Radit memeluk nya dari belakang.


"Kak Radit..." Abel tau itu Radit karena dia bisa merasakan. Dada nya tidak sakit lagi.


"Tenang... saya Di sini. tidak perlu takut." ucap Radit menenangkan istri nya. Abel memeluk Radit dengan sangat erat. Dan tidak beberapa lama lampu mati.


Abel tidak setakut yang tadi lagi. "Kamu jangan takut, sebentar lagi pasti hidup. Saya akan membawa kamu ke kamar." ucap Radit.


Abel sudah siang lemas dia tidak mampu untuk berdiri akhirnya Radit menggendong nya masuk ke dalam.


Radit membaringkan tubuh Abel di tempat tidur.


"Kakak mau kemana?" tanya Abel menahan tangan Radit.


"Saya akan menghidupkan Lilin. Hujan semakin deras, lampu nya pasti akan lama hidup nya." ucap Radit.


Abel melepaskan tangan Radit. Lilin tinggal satu yang kecil.


"Saya harap ini bisa menerangi sebentar menjelang kamu tidur." ucap Radit.


"Aku takut kak." ucap Abel menahan Radit.


Radit naik ke tempat tidur Tepat di samping Abel. Abel bisa merasakan Nafas Radit yang terdengar sangat sesak.


"Kenapa kakak bernafas seperti itu?" tanya Abel.


Radit menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


__ADS_2