
Radit yang duduk di ruang tamu melihat handphone nya bunyi, ada pesan dari nomor baru namun Radit sudah tau siapa itu.
Dia tidak membalas nya.
"Huff kenapa dia tidak membalas nya."
"Kamu lagi menunggu chat siapa sih?" tanya Teman nya.
"Enggak ada kok." ucap Abel langsung mematikan handphone nya. Setengah jam kemudian dia tidak enak dia selalu kefikiran kepada Radit akhirnya dia pun pergi pamit pulang.
Teman-teman nya seperti biasa berusaha untuk menahan nya namun tetap saja dia harus pergi.
Teman-teman nya banyak yang ngambek karena dia pulang sangat cepat sekali.
Di perjalanan pulang dia melihat banyak jajanan yang enak di makan. Dia membeli nya dan membawa ke rumah.
Sesampainya di rumah dia kaget karena Radit masih duduk di ruang tamu seperti yang dia tinggal kan tadi.
"Loh kakak masih duduk di sini? gak pindah-pindah?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Kenapa? kakak tidak bisa jalan sendiri? Apa kakak pusing?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. Abel bingung ada apa dengan Radit.
"Kakak sudah makan?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Ya udah kalau begitu kakak makan dulu nih, setelah itu baru minum obat." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya sambil memasak wajah datar.
Abel menghela nafas panjang.
"Ada apa sih kak? Kenapa dari tadi kakak menggeleng kan kepala terus? Aku tidak paham." ucap Abel.
Radit diam saja. "Kakak mau apa sih?" tanya Abel.
Abel menghela nafas panjang. "Ini sudah malam sebaiknya kakak istirahat ke kamar, kalau kakak tidak mau makan tidak apa-apa, minum obat saja." ucap Abel.
Dia membawa Radit ke kamar, dia memberikan obat.
"Kakak tidur lah, aku juga akan tidur di kamar ku malam ini." ucap Abel karena Radit sudah lebih baik sekarang.
Abel mau pergi namun dia tidak enak karena Radit hanya diam saja.
"Apa kakak marah kepada ku?" tanya Abel. Radit diam.
"Aku minta maaf kalau pulang terlambat. jalanan cukup macet, aku juga membeli jajanan ini, kau pikir kakak akan Mau karena aku pernah melihat kakak makan ini. Aku juga sudah mengantri panjang untuk ini." ucap Abel.
Radit menatap wajah Abel.
"Kenapa kamu bilang saya tidak perlu menunggu kamu? Kamu bilang kamu akan pulang larut malam!" ucap Radit.
__ADS_1
Abel terdiam sejenak.
"Aku hanya tidak ingin kakak menunggu ku sampai bergadang." ucap Abel. Radit diam.
"Sekarang aku sudah pulang, kakak berhenti lah marah." ucap Abel. "Aku yakin kakak pasti lapar, makan lah sedikit." ucap Abel memberikan Makanan itu.
Akhirnya Radit mau. "Hum dasar pria aneh, kalau saja aku tidak minta maaf dia tidak Akan makan dan akan terus diam kepada ku." batin Abel.
"Beberapa hari saja dia pulang tengah malam tidak mengatakan apapun kepada ku dia tidak perduli." ucap Abel.
Setelah selesai makan Abel membersihkan nya. "Kaka tidur lah." ucap Abel.
"Tidur lah di sini." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa?"
"Aku tidak nyaman tidur di sini, aku sudah terbiasa sendiri."
"Saya tidak akan melakukan apapun kepada kamu." ucap Radit.
"Bukan seperti kak," ucap Abel. "Tidur lah di sini." ucap Radit. Abel Tidak bisa membantah kata-kata suami nya akhirnya dia mau tidur di sana.
"Mau bagaimana pun aku tidak bisa memikirkan diri ku sendiri, kak Radit sakit seperti ini karena ulah ku juga." ucap Abel dalam hati.
"Sebelum nya aku mau tukar baju dulu, aku tidak bisa tidur dengan pakaian seperti ini." ucap Abel.
"Dia sudah tidur?"
"Kenapa begitu cepat?"
Dia perlahan berbaring di kasur, Abel menyelimuti Radit terlebih dahulu.
"Sebaiknya aku membuka Perban tangan nya agar lebih longgar." ucap Abel.
setelah selesai membukanya dia menatap wajah Radit.
Cukup lama dia menatap wajah Radit.
Radit bergeliat dia memeluk Abel. Abel tidak bisa bergerak dia akhirnya tidur di pelukan Radit.
Sepanjang malam Abel tidur dengan sangat nyenyak sekali.
Radit terbangun karena haus, dia melihat Abel tidur di samping nya.
"Abel saya haus." ucap Radit. Abel bergerak dia mengambil air dan memberikan nya kepada Radit.
Setelah selesai minum Abel kembali tidur.
"Abel saya lapar." ucap Radit.
__ADS_1
"Sisa makanan tadi ada di atas meja." ucap Abel. mata nya lanjut tertutup dan tidur.
Radit selesai makan. "Abel badan saya tiba-tiba terasa dingin." ucap Radit.
Abel membuka mata nya.
"Kakak bisa gak sih membiarkan aku tidur dengan tenang dan nyenyak? Aku sangat benci tidur di sini." ucap Abel dengan kesal.
Radit diam. Melihat Radit diam terkejut karena dia marah membuat nya langsung mendekat kan diri dan langsung memeluk nya.
"Tidur lah, pelukan ku cukup hangat." ucap Abel.
Radit kaget karena di peluk oleh Abel, dia tidak berani bergerak melihat wajah Abel yang sangat ngantuk dia tidak tega membangun kan nya.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku begitu manja terhadap Abel." ucap Radit.
"Aku dengar sejarah kalau kita bertemu dengan orang yang tepat kita akan bersifat manja dan juga menunjukkan sifat asli." ucap Abel.
Antara sadar dan tidak sadar. Radit saja heran melihat nya.
"Bisa-bisa nya dia berbicara ketika sedang tidur."
Radit menatap wajah Abel.
"Sangat cantik sekali, tapi sayang dia sangat galak. ketika dia marah aku tidak berani berbicara." batin Radit.
"Apakah aku yang di sebut dengan pria yang takut istri?"
"Ah tidak mungkin, aku hanya menghargai nya saja."
"Tapi aku benar-benar takut, dia tidak bisa di bantah sama sekali."
"Bahkan semua kata-kata nya aku turuti termasuk kontrak itu, walaupun aku tidak menanggung semua nya."
"Ahhrgh aku bisa gila dengan ini." ucap Radit. Menatap wajah Abel beberapa menit membuat nya ngantuk dan akhirnya dia tidur.
Di pagi hari yang sangat cerah Abel terbangun karena cahaya yang menembus sela-sela jendela kamar Radit.
Abel bergeliat dia langsung melihat ke samping nya setelah sadar. Melihat Radit tidur dengan nyenyak membuat nya tenang.
Memastikan badan Radit tidak panas.
"Aku harus bertingkah baik, kalau tidak ingin kak Radit sakit. Karena kalau dia sakit aku sendiri yang repot." ucap Abel.
Abel mau turun dari kasur namun langsung di tahan oleh Radit.
"Jangan pergi." ucap Radit. "Aku mau ke kamar mandi." ucap Abel sambil menoleh ke arah Radit namun ternyata Radit masih tidur.
Abel melepaskan tangan nya dan berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1