
Radit hanya bisa diam melihat itu. "Kalau kamu tidak mau berbicara ya sudah, saya mau mengenakan pakaian saya." ucap Radit.
Abel menahan tangan Radit.
"Humm apa Mamah sama papah marah kepada kakak?" tanya Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. "Kenapa mereka harus marah kepada anak nya sendiri?" ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Aku tidak tau, aku berfirasat mereka marah kepada kakak. Dan itu berhubungan kepada ku." ucap Abel.
Radit Menatap Abel. "Apa Dada kamu terasa sakit?" tanya Radit.
Abel mengangguk. Wajah Radit langsung khawatir dia mau meletakkan tangan nya di dada Abel namun Abel tidak mau.
"Jangan aneh-aneh, aku tidak sakit." ucap Abel. Radit diam.
"Jawab pertanyaan ku dengan jujur, orang tua kakak marah kan sama kakak?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Tidak, kamu tau itu dari mana? Tidak mungkin mereka marah." ucap Radit. Abel menghela nafas panjang. "Kakak tidak perlu berbohong! Jujur saja." ucap Abel.
Radit diam. "Apa orang tua kakak marah tentang aku?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya. Abel menghela nafas panjang.
"Jangan berbohong kak, aku mau kakak jujur." ucap Abel.
"Sudah tidak perlu membahas itu." ucap Radit. dia memakai baju nya.
"Kamu pergi lah istirahat ke kamar, kamu pasti kelelahan." ucap Radit.
"Ya udah deh. Kakak jangan lupa minum obat." ucap Abel. Radit mengangguk. Dia melihat Abel keluar dari kamar nya.
"Huff seandainya saja kamu mengerti dengan apa yang terjadi Abel, seandainya saja kamu bisa bersikap dewasa." ucap Radit.
Di kamar Abel sedang berfikir keras apa yang membuat dada nya tiba-tiba sakit.
"kenapa sih tiba-tiba sakit seperti ini." ucap Abel.
Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian dia tiduran sebentar untuk meluruskan pinggang nya.. Tidak terasa dia malah ketiduran.
"Apa yang membuat dia begitu lama di kamar? Kenapa dia tidak kunjung keluar dari kamar nya?" ucap Radit.
Radit melihat ke arah pintu kamar Abel. "Huff perut ku terasa sangat lapar."
Radit ingin masak sendiri Tampa menyusahkan Istri nya namun dia tidak bisa karena tangan kanan nya belum bisa di gerakkan.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Radit mengetuk pintu kamar Abel.
Tidak ada jawaban akhirnya dia masuk Tampa Ijin dari yang punya kamar.
"Huff dia malah tidur." ucap Radit.
__ADS_1
Radit duduk di pinggir kasur dia menatap wajah Abel yang sangat pulas tidur.
"Saya sudah bilang tidak perlu bekerja, namun dia sangat keras kepala." ucap Radit.
Radit melihat handphone Abel yang dari tadi ada pesan masuk. Dia membuka nya ternyata pesan dari teman kerja di kantor nya.
"Apa-apaan Pria itu mengirimkan pesan yang banyak kepada Abel?" ucap Radit dengan kesal. Abel bergeliat Dia melihat Radit duduk di samping nya.
"Kakak!! Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Abel terkejut dan langsung duduk.
"Jangan berfikir yang aneh-aneh, saya di sini mau membangun kan kamu " ucap Radit. Abel melihat Handphone nya di tangan Radit.
"Kenapa handphone ku ada pada kakak?" tanya Abel. Radit langsung meletakkan nya.
"Tidak ada, saya hanya penasaran dengan pesan barusan yang masuk ke handphone kamu." ucap Radit.
Abel melihat nya. "Oohh ini urusan kerjaan." ucap Abel.
"Kakak sendiri ngapain di sini?" tanya Abel.
"Saya membangun kan kamu untuk masak, saya sangat lapar." ucap Radit.
Abel melihat jam ternyata sudah jam delapan malam.
"Ya ampun aku kok ketiduran sih?" ucap Abel.
"Huff seperti nya tugas ku menjadi istri harus di lakukan, aku tidak bisa mengelak lagi." batin Abel.
"Baiklah aku Akan masak, kakak mau makan apa?" tanya Abel.
Radit berfikir sejenak. "Saya tidak tau, kamu masak saja saya tidak pemilih makanan." ucap Radit.
"Yakin!" tanya Abel.
"Asal kamu jangan masak udang dan juga Kerang." ucap Radit. Abel tersenyum.
"Sebenarnya aku sangat benci memasak, aku tidak suka mereka selalu saja membuat kulit ku ini terluka." ucap Abel.
"Saya akan membayar biaya perawatan kamu." ucap Radit.
"Seriusan?" tanya Abel dia sangat senang karena Radit langsung peka.
"Berhubung besok hari Minggu saya akan mengijinkan kamu pergi perawatan." ucap Radit.
"Humm perawatan sendirian sangat lah membosankan, kakak temanin aku yah." ucap Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Kakak ngapain di rumah sendirian? Kakak tidak bosan duduk di depan laptop?" ucap Abel.
Radit menghela nafas panjang. "Terserah saja, sekarang saya mau makan, saya sangat lapar. cepat siap kan saya makanan yang enak." ucap Radit.
__ADS_1
Abel sangat bersemangat dia mengangguk. "Baiklah." ucap Abel. Dia mau turun dari kasur namun tidak dia sadari ternyata kaki nya terikat oleh selimut dia mendorong Radit yang duduk di pinggir kasur dan mereka berdua tertidur di kasur bersama.
Radit Menatap wajah Abel, begitu juga dengan Abel.
"Ada apa ini? Jantung ku berdetak begitu cepat, Jangan-jangan aku sudah..."
"Aaahh tidak mungkin, itu mungkin terjadi." ucap nya.
"Tangan saya sangat sakit kamu tekan." ucap Radit.
"A-apa? Aku minta maaf aku tidak tau kak." Abel langsung duduk.
"Tidak apa-apa kan kak? aku minta maaf." ucap Abel.
Dia langsung memeriksa tangan Radit.
"Apa kakak tidak ingin kontrol ke rumah sakit?" tanya Abel. Radit menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak berminat ke rumah sakit." ucap Radit.
Abel menghela nafas panjang. "Sebaiknya kakak ke rumah sakit saja, jauh lebih aman dan juga kita bisa tau kemajuan nya seperti apa." ucap Abel.
Radit menggeleng kan kepala nya. Abel menghela nafas panjang.
"Krukk!!! Krukk!! Bunyi perut Abel. Radit menatap Abel.
"Ternyata cacing di perut aku juga sudah minta makan." ucap Abel.
Radit tersenyum melihat muka Abel memerah karena malu.
"Ya udah deh kalau begitu ayo keluar, aku akan Masak." ucap Abel.
Mereka berjalan ke arah dapur.
"Saya bantuin agar cepat selesai." ucap Radit.
"Kakak tunggu saja di sana." ucap Abel menolak.
"Tapi saya bisa melakukan sesuatu agar kamu tidak terlalu repot." ucap Radit.
Abel menggeleng kan kepala nya. "Lihat lah tangan kakak, mana bisa kakak membantu aku memasak kalau tangan Kakak hanya satu." ucap Abel.
"Kalau begitu saya akan membantu menggoreng ikan." ucap Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu kak." ucap Abel mengambil sendok dari tangan Abel.
"Saya bisa melakukan nya." ucap Radit memasukkan Ikan ke wajan namun ternyata minyak banyak Air sehingga minyak nya melompat-lompat keluar.
Mereka berdua sangat panik, Radit juga kaget dia langsung melindungi Abel Deng badan nya.
__ADS_1