Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 105


__ADS_3

"Wahh walaupun kamar kamu tidak di tempati tetap wangi dan juga rapi yah, sama seperti kamu." ucap Heri.


"Berhenti berbicara kalau tidak aku akan menyiram kamu." ucap Enjel.


"Kamu sangat galak sekali, baiklah aku akan diam." ucap Heri.


Enjel memasukkan pakaian ke mesin cuci dan Heri bagian untuk menjemur nya.


Dua jam akhirnya selesai juga. "Kamu masih di sini?" tanya Heri yang baru saja selesai mandi.


Enjel mengabaikan tidak menjawab.


"Kamu masak apa? wangi banget." ucap Heri mendekati Enjel yang sedang di dapur.


Enjel berbalik dia melihat Heri tidak memakai baju hanya celana joker saja.


"Kenapa Kamu tidak memakai baju?" tanya Enjel.


"Gerah. Pendingin di rumah kamu tidak berfungsi."


"Pakai atau kamu aku suruh keluar." ucap Enjel.


"Huff kamu seperti perempuan yang sangat jahat, baiklah aku akan memakai nya."


Heri selesai memakai bajunya dia langsung kembali ke meja makan, makanan sudah selesai di sajikan oleh Enjel.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Enjel.


"Kamu benar-benar calon istri yang sangat baik dan juga pintar. Tau aja kalau Calon suami nya suka makanan seperti ini." ucap Heri.


"Siapa calon istri kamu? Tidak ada! Kebetulan saja aku memiliki bahan makanan untuk di masak yang itu." ucap Enjel.


"Tapi tetap saja aku berterimakasih sama kamu, sekarang aku sangat lapar aku mau makan."


Mereka duduk saling hadap-hadapan.


Heri minta tolong di isi nasi ke piring nya. Enjel hanya bisa menuruti kemauan Heri.


"Humm enak banget... Aku tidak nyangka kamu bisa masak.. Mulai hari ini aku akan makan Masakan kamu."


"Aku tidak punya waktu untuk masak."


"Tidak mungkin kamu tidak memiliki waktu! Kamu harus masak untuk calon suami kamu."


"Bisa jangan mengatakan itu gak! Aku gak suka. Berapa kali aku bilang aku tidak suka." Ucap Enjel marah. Heri diam dia tidak bisa berbicara karena takut dan lanjut makan.


Tidak ada percakapan sama sekali sampai selesai makan.


"Sini aku aja," ucap Heri mau mencuci piring. Enjel melihat Heri.


"Yakin mau nyuci piring?" tanya Enjel. "Humm yakin.. Walaupun sebelum nya tidak pernah, tapi apa salah nya untuk belajar. Kelihatan nya juga gak susah." ucap Heri.


Enjel memerhatikan Heri mencuci piring.

__ADS_1


"Seperti ini, kamu harus memakai sabun yang banyak agar minyak-minyak nya hilang." Ucap Enjel mengajari Heri.


Heri sangat iseng dia mencolek pipi Enjel dengan busa sabun.


"Heri apa yang kamu lakukan?" ucap Enjel. Heri tersenyum menyengir. Enjel menghela nafas panjang.


"Sebaiknya kamu bersihkan meja saja, biar aku yang melanjutkan ini." ucap Enjel.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Heri.


Setelah semua nya selesai Enjel pergi mandi..


"Huff kenapa dia sangat lama di kamar nya?" ucap Heri yang duduk di ruang tamu namun sambil memerhatikan pintu kamar Enjel.


Tiba-tiba handphone nya bunyi telpon dari Mamah nya.


"Iyah halo mah."


"Kamu lagi di mana nak? Mamah sangat merindukan kamu."


"Oohh nih aku lagi di luar kota mah."


"kapan kamu akan pulang?"


"Masih lama lagi mah."


Tidak beberapa lama Enjel keluar.


"Kamu sama siapa di sana?" tanya Mamah nya. Heri memanggil Enjel.


Enjel kaget namun mau tidak mau dia harus tersenyum.


"Kamu sudah punya Pacar nak?" tanya Mamah nya.


"Sudah mah."


"Kenalin mah namanya Enjel, dia masih sedikit malu-malu." ucap Heri.


"Ya udah kalau begitu aku matikan dulu yah mah. Aku akan mengabari mamah kalau aku kembali." ucap Heri langsung mematikan handphone nya.


"Apa maksud kamu?" tanya Enjel dengan tatapan tajam. Marah dan kesal.


"Aku minta maaf, aku hanya menghindari percakapan yang banyak dengan Mamah." ucap Heri.


"Kenapa kamu harus membawa-bawa aku? Pakai bilang aku pacar kamu!" ucap Enjel.


"Ya udah deh maaf-maaf." ucap Heri.


"Tinggal dengan kamu membuat aku kesal saja, aku mau keluar." ucap Enjel.


"Mau kemana? Ikut dong."


Enjel menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Plissss aku mohon, aku tidak tau harus kemana hari ini, di apartemen saja sangat bosan."


"Aku janji deh gak bikin kamu marah, aku akan diam dan mengikuti semua kata-kata kamu." ucap Heri.


Enjel melihat wajah Heri.


"Benar juga sih, kasihan kalau di tinggal sendiri. Apalagi ini ke rumah pak Radit. Tidak apa-apa lah aku ajak." batin Enjel.


"Y udah kalau begitu ayo." ucap Enjel.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Radit dan Abel.


"Permisi...." Heri menyapa. Semua nya lagi ngumpul di ruang tamu.


"Enjel kamu ke sini juga?" tanya Abel kaget karena Enjel gak ngomong sebelum nya.


Sementara Heri kumpul dengan Radit dan juga teman-teman nya yang lain.


"Enjel kamu Seriusan tinggal dengan Heri akhir-akhir ini?" tanya Abel. Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok, aku mengungsi ke apartemen teman ku."


"Kok gitu sih?" tanya Abel.


"Aku dengan Heri tidak ada hubungan apapun. Aku juga tidak nyaman kalau satu apartemen."


"Huff sebaiknya kamu harus lebih menghormati Heri deh Enjel, aku takut nanti karier kamu yang kena. Secara kan sekarang Bos kamu adalah Heri."


"Huff tetap saja aku tidak suka kepada Heri. Aku benci kepada nya."


"Apa salah nya sih kamu menerima perbuatan baik dia? lagian dia baik kok."


"Dia baik karena ada mau nya."


"Heh Enjel justru kamu bangga dong. Bos seperti Heri yang sangat kaya, tampan dan juga berpendidikan tinggi menyukai kamu. Seharusnya kamu memanfaatkan situasi itu untuk karier kamu."


Enjel menggeleng kan kepala nya. "Mempunyai suami pengusaha itu tidak lah enak." ucap Enjel.


"Kenapa? Buktinya kamu lihat sendiri kak Radit seperti apa kan?" ucap Abel.


"Kamu dengan aku berbeda Abel. Kamu memang sudah di takdir kan dengan pak Radit. Dan juga sudah di restui oleh keluarga. Berbeda dengan aku yang hanya menjadi sekretaris sementara." ucap Enjel.


"Benar juga sih."


"Ya udah deh terserah kamu saja, kamu tau yang terbaik kepada diri kamu sendiri." ucap Abel.


Enjel menoleh ke arah Heri. Heri langsung mengedip kan matanya membuat Enjel geli.


"Oh iya bagaimana kandungan kamu sampai hari ini sehat-sehat saja kan?" tanya Enjel.


"Alhamdulillah baik, hanya saja aku heran karena makanan ku akhir-akhir ini aneh, dan juga yang aku idam aneh-aneh." ucap Abel.


"Oh iya satu lagi, kalau aku tidak marah kepada kak Radit aku tidak akan bisa tenang." ucap Abel. Enjel menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Untung saja kamu mengandung penerus keluarga suami kamu, kalau tidak mungkin pak Radit tidak betah." ucap Enjel.


__ADS_2