Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 71


__ADS_3

"Tidak-tidak. Radit kamu tidak boleh melakukan nya." ucap Radit.


"Maaf." dia tiba-tiba melepaskan kan ciuman nya dan masuk ke kamar mandi meninggalkan Abel.


Abel menatap Radit. Dia hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun kepada Radit.


Radit keluar dari kamar mandi dia melihat Abel sudah berbaring membelakangi Nya. Radit mau memeluk nya namun dia tidak bisa karena dia merasa canggung.


"Huff seharusnya aku bisa menahan diri, jadi canggung seperti ini." ucap Radit.


Sementara Abel dari pada pusing menahan rasa kesalnya dia memilih untuk tidur saja.


Kali ini Radit yang tidak bisa tidur. Berusaha untuk tidur agar besok bisa bekerja lebih awal.


Besok pagi nya seperti biasa Radit akan berangkat ke kantor.


"Saya berangkat dulu yah." ucap Radit menjulurkan tangan kepada istri nya dan mencium kening istrinya.


"Kenapa kakak tak pergi juga?" tanya Abel karena Radit tak kunjung pergi.


"Apa kamu tidak mau memberikan saya pelukan?" tanya Radit. Abel menghela nafas panjang.


Dia pun memeluk Suaminya itu. "Ya udah kalau begitu kakak berangkat sebelum telat." ucap Abel.


Radit mengangguk. Setelah Radit pergi Abel duduk di kursi depan rumah.


"Kenapa aku sangat kecewa yah ketika kak Radit memberikan harapan palsu kepada ku." ucap Abel mengingat kejadian tadi malam.


"Kak Radit apa tidak ingin melakukan nya dengan ku?" ucap Abel.


"kalau seperti ini aku tidak akan pernah mengandung Dan akan membuat keluarga kecewa." ucap Abel.


"Non Abel sedang memikirkan apa sih?" tanya Bibik.


"Eh Bibik." ucap Abel. Bibik duduk di samping Abel.


"Ada apa non? Coba cerita sama Bibik."


Abel menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada kok Bu." ucap Abel.


"Kenapa? Lagi memiliki masalah dengan tuan?" tanya Bibik.


"Enggak kok bik." ucap Abel. "Lantas kenapa Non? Wajah non terlihat sangat banyak masakan saja." ucap Bibik.


"Aku hanya stres kalau di rumah saja Bik." ucap Abel.


"Pergilah jalan-jalan Non." ucap Bibik. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak ingin pergi jalan-jalan sendiri, lagian aku gak pengen jalan-jalan sendiri Bik." ucap Abel.


Bibik tidak tau harus memberikan saran apa. "Ya udah kalau begitu ayo temanin Bibik bersih-bersih halaman." ajak Bibik.


Kebetulan masih pagi, belum terlalu panas Abel Pun menginyakan agar tidak terlalu boring di rumah saja hanya diam.

__ADS_1


"Oh iya Non Bibik boleh bertanya-tanya gak?" tanya Bibik.


"Boleh Bik." ucap Abel.


"Apa Non tidak ingin memiliki keturunan dari tuan Radit?" tanya Bibik.


Abel terdiam sejenak. "Sangat banyak yang menginginkan Non memberikan keturunan." ucap Bibik.


"Iyah bik saya tau." ucap Abel.


"Sudah-sudah jangan membahas itu lagi, ayo kita lanjut bekerja." ucap Bibik.


Tidak terasa sudah siang saja. Abel baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar nya.


"Non."


"Iyah."


"Tuan akan makan siang di rumah hari ini." ucap Bibik. "Seriusan bik? Tumben banget." ucap Abel. Bibik mengangguk.


"Kok dia gak ngomong yah sama ku." ucap Abel.


Bibik terdiam. Dia juga tidak tau apa alasan nya.


"Ya udah kalau begitu bik ayo kita masak." ajak Abel.


Saat Sedang asik masak tiba-tiba ada tamu datang.


"Kenapa Kak Radit begitu cepat?" batin Abel. dia membuka pintu dan ternyata itu bukan Radit melainkan Teman nya Enjel.


"Kamu dari mana saja sih kenapa tidak pernah memberikan kabar kepada ku? Aku sangat merindukan kamu." ucap Enjel memeluk Abel.


"Maafin aku, aku tidak membuka media sosial ku sekarang." ucap Abel.


"Masih tentang masalah itu?" tanya Enjel. Abel mengangguk.


"Ya udah kalau begitu ayo masuk dulu." ucap Abel.


"Kamu sedang apa? Apa kamu hanya sendiri Saja?" tanya Enjel.


"Ada Bibik di belakang." ucap Abel.


"Oohh begitu ." ucap Enjel sambil melihat ke arah dapur.


"Oh iya kamu kesini emang nya gak kerja?" tanya Abel.


"Aku ada survei tempat dan kebetulan ini sudah mau jam makan siang aku singgah deh di sini. Emangnya gak boleh yah?" ucap Enjel.


"Bukan nya gak boleh, aku hanya bertanya saja." ucap Abel.


"Aku dan Bibik sedang Masak untuk makan siang, kita makan siang di sini aja yah." ucap Abel. Enjel tidak menolak. Dia juga membantu Mereka Memasak.


"Assalamualaikum..." Tiba-tiba Radit pulang. Semua mata melihat Radit. "Walaikumsalam.."

__ADS_1


"Radit kaget melihat Enjel di sana, Enjel juga kaget Radit pulang ke rumah nya.


"Loh kamu gak ngomong sih kalau pak direktur pulang?" ucap Enjel kepada Abel berbisik.


"Hanya makan siang saja kok." ucap Abel.


"Huff aku sebaiknya pulang saja kalau seperti ini." ucap Enjel.


"Loh kenapa pulang sih? Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Abel. "Huff.." Enjel tidak bisa mengatakan apapun dia sudah terlanjur di sana.


"Bagaimana pekerjaan mu Enjel?" tanya Radit.


"Baik Pak direktur, semua nya berjalan dengan baik, saya sudah memberikan data-data nya kepada sekretaris Novi." ucap Enjel.


"Bagus deh kalau begitu. Kamu bisa pulang lebih cepat hari ini Tidak perlu kembali ke kantor." ucap Radit.


"Pak direktur seriusan?" tanya Enjel. Radit mengangguk.


Enjel dan Abel terlihat sangat senang. Mereka memiliki waktu yang banyak untuk berbicara.


"Saya sudah sangat lapar apa belum masak?" tanya Radit.


"Humm tunggu sebentar yah kak, ini sudah masak kok." ucap Abel. Radit bagaikan raja yang di layani oleh tiga dayang-dayang nya.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka makan siang bersama.


Meja makan awal nya sangat canggung sekali. Namun karena ada Bibik yang berusaha memecah keheningan akhirnya meja makan terlihat sangat asyik.


Setelah selesai makan Abel menyusul suami nya yang duduk di ruang tamu.


"Apa kakak mau kembali ke kantor?" tanya Abel. Radit menoleh ke arah Abel.


"Iyah. Ada apa?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak biasanya kakak makan siang ke rumah, apa sekretaris Novi tidak membawa kan makan siang?" ucap Abel.


Radit menghela nafas panjang. "Sejak kapan Novi membawa kan saya makanan?" ucap Radit. Abel terdiam sejenak.


"Ya siapa tau kan. Kalau tidak di bawain makanan pasti makan berdua." ucap Abel.


"Kamu jangan mencari-cari masalah Abel, apa yang kamu mau katakan saja." ucap Radit dengan nada kesal.


Abel yang tadi nya mau bercanda tiba-tiba takut dengan nada dan tatapan Radit.


"Aku hanya bercanda saja kenapa kakak harus serius banget sih?" ucap Abel. Radit menghela nafas lagi.


"Katakan apa yang kamu mau." ucap Radit.


"Tidak ada." ucap Abel.


"Kalau begitu saya akan berangkat ke kantor." ucap Radit. Dia pun meninggalkan istri nya.


Abel memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Kak Radit hanya baik sebentar saja, huff aku yakin dia pasti sudah bosan." ucap Abel.


__ADS_2