Perjodohan Sejak Dini

Perjodohan Sejak Dini
Episode 118


__ADS_3

"Ayo silahkan duduk."


"Apa kabar dengan kamu Radit?" tanya Tania.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagian? Bisnis kamu bagaimana."


"Semua nya berjalan lancar, terimakasih sudah membantu aku. Oh iya aku datang ke sini membawa oleh-oleh dari Jepang." ucap Tania.


"Ini untuk Tante dan Om. Dan ini untuk kamu." ucap Tania memberikan sepatu.


"Coba lah, aku takut kurang pas, terakhir kamu beli sepatu ukuran nya masih sama kan?" ucap Tania. Abel sangat heran dengan Tania..Dia juga heran melihat gerak-gerik suami nya yang gugup dan tidak banyak bicara.


Tania terlihat sangat akrab dan banyak tau tentang Radit.


"Oh iya aku dengar istri kamu hamil." ucap Tania.


"Iyah, sedang mengandung usia satu bulan lebih." ucap Radit.


"Wahh beruntung banget kamu, anak ini pasti sangat di tunggu-tunggu di keluarga kamu mau pun di keluarga Abel." ucap Tania.


Cukup banyak pembicaraan mereka di sana. Sampai pada akhirnya Radit dan Abel pamit pulang.. Sementara Tania akan menginap di sana.


Tania adalah dokter namun pebisnis juga. Dia datang ke kota Orang tua Radit karena ada pekerjaan.


"Humm apa kakak sudah lama kenal dengan Tania?" tanya Abel.


"Sudah." jawab Radit.


"Berapa lama?"


"Dari usia 18 tahun, dia adalah sepupu saya jadi kita sangat dekat sehingga dia bebas menginap di rumah orang tua saya." ucap Radit.


"Oohh begitu. Dia cantik yah, seperti nya mamah sama Papah juga sayang banget sama dia." ucap Abel.


"Mamah sama Papah tidak memiliki anak perempuan, wajar saja jika dia menyanyangi anak perempuan." ucap Radit.


setelah beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


Sementara di apartemen Enjel.


Enjel melihat jam sudah di angka empat.


"Heri Tumben-tumbenan sudah jam segini namun belum juga bangun. Dari jam sebelas sampai sekarang tak kunjung bangun." batin Enjel.


Akhirnya dia memutuskan untuk membangun kan Heri.


"Heri! apa kamu tidak bangun untuk makan? jangan karena hari libur kamu tidur sepanjang waktu." ucap Enjel.


Namun Heri tidak merespon nya.


"Heri bangun..." ucap Enjel menggoyang kan badan Heri. Perlahan Heri merespon dia membuka mata nya dan melihat Enjel.

__ADS_1


"Apa kamu tidak melihat ini sudah jam berapa? Ini sudah Sore kamu sudah tidur dari tadi." ucap Enjel.


"Aku mau istirahat jangan ganggu aku."


"Kamu memiliki kamar sendiri, kenapa malah tidur di sini?" ucap Enjel.


Heri duduk antara sadar dan tidak dia turun dari tempat tidur berjalan ke arah pintu.


"Kamu mau kemana?" tanya Enjel. Heri tidak menjawab..Enjel mengikuti ternyata Heri malah melanjutkan tidur Nya di kamar nya.


Enjel menghela nafas panjang. "Baiklah kalau kamu tidak mau makan.. Kalau kamu sakit perut jangan mengeluh pada ku." ucap Enjel.


Dia keluar dari kamar Heri.


Di malam hari nya Enjel menunggu Heri di meja makan untuk makan namun Heri tak kunjung keluar.


"Ada apa sih dengan dia? Kenapa tidur Terus? Biasanya dia selalu saja ribut dan Sibuk mengganggu ku, namun sekarang dia malah diam dan tidur." ucap Enjel.


Dia berjalan ke kamar.


"Apa kamu tidak mau Makan?" tanya nya karena Heri sudah bangun namun tetap berbaring di tempat tidur.


Heri menggeleng kan kepala nya. Enjel melihat pakaian Heri sudah rapi.


Heri melihat handphone nya berbunyi.


"Aku keluar dulu yah." ucap Heri mengambil jaket dan kunci mobil setelah itu langsung pergi.


Dia melihat Heri pergi begitu saja. "Berani-beraninya dia mengabaikan ku dan malah keluar malam-malam seperti ini!" ucap Enjel.


Enjel melihat makanan yang sudah di masak khusus untuk Heri namun tidak di makan.


"Selamat malam.." sapa Heri kepada Jesica.


"Malam juga.."


"Maaf yah aku buat kamu lama nunggu."


"Gak apa-apa kok..Kamu sudah makan? Aku sudah memesan makanan dia porsi."


"Pas banget aku belum makan." ucap Heri.


Enjel melihat Heri dan Jesica makan malam berdua.


"Oohh ternyata mereka makan malam berdua di sini, pantesan saja Heri mengabaikan ku." ucap Enjel.


"Eh tunggu dulu, apa yang aku lakukan di sini? kenapa aku mengikuti Heri ke sini." ucap Enjel.


Sepanjang malam Enjel tidak bisa tidur dia menunggu Heri namun tak kunjung pulang ke apartemen.


Di pagi hari nya.

__ADS_1


Enjel berangkat ke kantor dan ternyata Heri dan Radit sudah di kantor.


Heri tidak mengatakan apapun kepada Enjel mereka hanya berpapasan saja.. Hanya membahas soal pekerjaan saja dan sifat Heri tidak seperti biasanya.


Kali ini Enjel sarapan sendiri, dan makan siang sendiri.


"Enjel kok kamu melamun sih?" tanya Abel yang ternyata datang ke perusahaan mengantarkan makanan untuk suami nya.


"Abel.. kamu membuat aku terkejut saja." ucap Enjel.


"Ya abisnya kamu melamun sih, apa yang kamu pikirkan?" tanya Abel.


Enjel menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada, aku ke kantor dulu yah." ucap Enjel langsung pergi.. Abel kebingungan dengan teman nya itu.


"Sangat aneh, ada apa sih dengan dia?" ucap Abel.


Dia melihat Heri baru saja datang bersama Jesica yang jelas Abel tau perempuan itu siapa.


"Abel kamu di sini juga?" tanya Heri.


"Iyah, aku mau nganterin makan siang kak Radit, namun dia belum selesai Meeting." ucap Abel.


"Oohh." ucap Heri.


"Humm seperti nya kamu sudah memiliki gebetan baru nih, Enjel sudah kamu lupakan mentang-mentang sudah ketemu yang paling cantik." ucap Abel melihat Jesica.


"Ah mbak Abel bisa saja, aku dengan pak Radit hanya hubungan pekerjaan saja." ucap Jesica.


Abel tersenyum. Heri hanya memasang wajah datar.


Mereka duduk bersama di lobby menunggu Radit selesai dari ruangan meeting.


Tidak beberapa lama akhirnya keluar.


"Pak kali ini bapak makan siang dengan saya kan?" tanya Novi.


Radit menunjuk kearah loby. Novi heran dia langsung menoleh ke arah lobby dan ternyata Abel sudah tersenyum sambil melambaikan tangan nya.


"Istri saya sangat perhatian kepada saya, walaupun dia sedang hamil dia tetap memperhatikan suami nya." ucap Radit.


"Kalau begitu kamu makan siang saja dengan yang lain karena istri saya sudah membawa makan siang untuk saya." ucap Radit langsung meninggalkan Novi.


Novi terlihat sangat kesal dan greget sekali.


"Kamu sangat beruntung sekali memiliki istri seperti Abel yang sangat perhatian." ucap Heri.


"Cepat lah menikah, karena menikah itu sangat lah enak." ucap Radit. "Aku belum menemukan calon nya." ucap Heri.


"Loh Jesica tidak di anggap? Kalian sangat Cocok loh." ucap Abel. tidak sadar ternyata Enjel lewat dari samping mereka.

__ADS_1


Enjel tidak mengatakan apapun hanya memberikan hormat kepada Radit dan pergi.


__ADS_2