
Radit masuk ke dalam dia duduk di samping istri nya.
"Anak papah, apa kabar nak? Maaf yah papah pergi sangat lama membuat kamu sama mamah di sini." ucap Radit sambil mengelus perut Abel.
"Kalau dia bisa berbicara dia pasti sangat marah kepada kakak." ucap Radit. Radit mencium pipi Abel.
"Maafin saya yah, saya janji tidak akan pernah melakukan kesalahan ini lagi."
"Kakak membuat aku setiap malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, aku tidak bisa melupakan kakak, aku Selalu bertanya-tanya kakak di mana, kakak lagi apa dan sedang apa." ucap Abel.
"Stthhh!!! Sudah jangan membahas itu lagi, saya minta maaf..Saya minta maaf." ucap Radit. Abel memeluk suaminya.
"Aku tidak ingin kehilangan Kakak, aku takut jauh dari kakak." ucap Abel.
Radit tersenyum dia berusaha untuk menenangkan istri nya agar tidak berfikir yang aneh-aneh.
"Sudah-sudah jangan berfikir tentang itu lagi." ucap Radit.
Keesokan harinya...
Abel bangun pagi-pagi.
Dia melihat suami nya tidur di samping nya.
"Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak dan bisa bangun pagi." ucap Abel.
Dia melihat Handphone nya ternyata banyak panggilan tak terjawab dari orang tua nya.
"Ya Allah Mamah sama papah menelpon ku?"
"Abel langsung menjawab nya."
"Halo Pah."
"Kamu lagi di mana nak? Kenapa kamu tidak menjawab telpon dari mamah sama papah tadi malam?"
Abel mencoba menjelaskan apa yang terjadi.. Untung aja orang tua nya bisa tenang dan mau bertemu dengan Radit.
Abel tau orang tua nya akan marah dia membuat alasan karena Radit akan pergi ke kantor pagi-pagi sekali.
Radit bangun dia langsung memeluk istrinya.
"Selamat pagi sayang... Kamu habis nelpon sama siapa?" tanya Radit.
"Papah.. Dia menelpon aku karena khawatir. Dan mereka mau bertemu dengan Kakak." ucap Abel.
Radit bangun. "Tapi pagi ini saya harus ke rumah Mamah." ucap Radit.
"Ngapain?" tanya Abel.
"Ada urusan dengan mamah sama papah, kamu istirahat di rumah saja, jangan kemana-mana kamu pasti selama saya tidak di sini kamu sering keluar!" ucap Radit.
__ADS_1
Abel menghela nafas panjang. "Aku sangat bosan di rumah, aku juga tidak mempunyai kegiatan di rumah jadi aku memilih untuk keluar deh." ucap Abel.
Radit mendekati Abel. "Berapa kali saya bilang kalau kamu gak boleh sering-sering keluar." ucap Radit.
"Kalau begitu jangan pergi-pergi lagi, jangan coba-coba untuk pergi lama tidak ada kabar, karena aku akan melakukan larangan kakak." Ucap Abel.
"Baiklah saya tidak akan pergi. Maafin yah sayang." ucap Radit mencium pipi Abel.
Abel tersenyum.
"Kakak mau sarapan apa?" tanya Abel.
"Terserah saja, kamu tidak perlu repot-repot buat masak." ucap Radit.
"Kakak sudah satu Minggu tidak makan masakan aku, sebagai istri aku harus melayani suami ku dengan baik." ucap Abel.
Radit tersenyum. "Seperti nya kamu benar-benar sangat merindukan saya."
"Iyah, aku sangat merindukan kakak, namun kakak tidak merindukan aku." ucap Abel.
"Bukan seperti itu sayang. Saya jauh lebih merindukan kamu, setiap hari mengkhawatirkan kamu," ucap Radit.
"Kalau begitu kenapa kakak tidak mencoba mencari jaringan dan menghubungi aku?" tanya Abel.
"Sulit Abel."
"Ya sudah deh, aku tidak mau membahas itu lagi, kakak tidak akan jujur kepada ku. Kalau begitu aku akan pergi masak dulu." ucap Abel.
Dia punya keluar dari kamar untuk masak sarapan pagi.
"Tapi Non sedang hamil, bagaimana kalau mual-mual?" tanya Bibik.
"Tidak apa-apa Bik." ucap Abel. Abel memulai masak sarapan untuk suami nya.
Sementara Radit baru saja selesai mandi dan langsung turun ke bawah dengan terburu-buru.
"Saya berangkat ke rumah mamah dulu yah sayang." ucap Radit mencium kepala Abel yang sedang sibuk masak.
"Loh gak sarapan dulu?" tanya Abel.
"Nanti saja yah, saya sedang terburu-buru." ucap Radit langsung pergi setelah di Salim oleh istri nya.
Abel Menatap dengan tatapan curiga.
"Ada apa? Kok terburu-buru?" ucap Abel dalam hati.
Namun dia terus melanjutkan masak dan sarapan bersama Bibik.
Di kantor Enjel baru saja sampai. Dia melihat Heri dan Bawahan nya lewat. Heri tidak bisa menyapa Enjel karena lagi bersama klien nya juga.
Dia mengedipkan mata nya ke pada Enjel membuat Enjel berdelik geli.
__ADS_1
"Contoh-contoh laki-laki buaya." ucap Enjel sambil berjalan ke ruangan nya.
"Selamat pagi Rio." sapa Enjel.
"Pagi juga. Kamu sudah sarapan?" tanya Rio.
"Belum.. Aku sangat lapar sekali. Mau sarapan bersama aku traktir deh." ucap Enjel.
"Gak apa-apa biar aku saja yang bayar. Ayo ke kantin." ajak Rio.
Mereka ke kantin bersama.
Namun baru beberapa menit Heri datang ke ruangan Enjel dan yang lain nya.
"Selamat pagi pak." sapa karyawan langsung berdiri.
"Pagi!" jawab Heri dengan nada yang sangat dingin.
"Di mana Enjel?"
"Oohh Enjel baru saja turun ke bawah mau ke kantin sarapan pak."
"Sama siapa?"
"Sama Rio pak."
"Sama Rio...." ucap nya sambil mengepal kan tangan nya.
"Huff Enjel benar-benar cari penyakit saja kepada Pak Heri." ucap teman nya karena tatapan Heri sangat menakutkan sekali.
"Teman-teman hari ini pak direktur Akan datang siang, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan kita." ucap teman mereka yang baru saja masuk.
Novi di ruangan nya sedang memeriksa pekerjaan nya.
"Pak Radit sudah datang, namun Titik terang pekerjaan ini belum terlihat juga." ucap Novi pusing sendiri melihat Pekerjaan nya.
"Sudah deh tidak perlu pusing memikirkan itu, aku fokus saja satu-satu." ucap Novi.
"Permisi Pak... Apa bapak memanggil aku?" tanya Enjel mengetuk pintu ruangan Heri.
Heri melihat Enjel. "Iyah, duduk lah terlebih dahulu." ucap Heri karena masih ada orang di dalam ruangan nya berbicara dengan Heri.
Cukup lama Enjel menunggu akhirnya tamu Heri keluar.. Enjel kaget karena tiba-tiba Heri meletakkan buku di atas meja dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara yang keras.
"Huff siap-siap deh aku kena ceramahin, lagian teman satu ruangan ku Cepu semua." ucap Enjel dalam hati.
"Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak menjelaskan apapun?" tanya Heri.
"Humm pekerjaan yang tadi kamu minta sudah aku kirim kan ke Gmail kamu." ucap Enjel.
"Bukan tentang itu! Tentang pagi ini kamu sarapan dengan pria lain." ucap Heri.
__ADS_1
"Aku hanya sarapan bersama karena aku sangat lapar sekali, menunggu kamu bisa membuat penyakit ku kambuh." ucap Enjel.
"setelah kamu berjanji akan sarapan bersama dengan ku, kamu malah pergi dengan pria itu!" ucap Heri.