
"Aku sudah duduk di sini, aku tidak mau pindah karena sudah nyaman di sini." ucap Enjel.
"Kamu jangan membantah kata-kata ku."
"Mau sampai kapan kalian berbicara? ayo masuk!" ucap Radit.
Novi masuk di tengah-tengah juga, membuat Radit kejepit di pinggir.
Dia hanya bisa menghela nafas panjang.
Beberapa jam di dalam mobil akhirnya sampai juga.
"Abel kamu selalu mendampingi saya, dan kamu Novi tolong temui beberapa klien kita." ucap Radit.
"Loh bapak tidak bertemu dengan klien Langsung?"
"Saya tidak bisa, Saya sudah ada janji sebelum nya dengan teman saya." ucap Radit.
"Kalau begitu biar kan Enjel yang memeriksa pekerjaan dengan klien, saya akan mendampingi bapak."
"Saya sudah mengatur sebelum nya seperti apa bukan? Kamu bisa langsung berangkat ke alamat. Mobil sudah menunggu." ucap Radit.
Novi tidak bisa mengatakan apapun dia pun pergi ke alamat yang sudah di janjikan.
"Kamu ikut saya." ucap Radit kepada Enjel.
"Bisa gak sih aku tukaran sama sekretaris Novi? Aku tidak mau bertemu dengan teman-teman bapak itu." ucap Enjel.
"Saya bos nya, kamu tidak boleh membantah apa perintah saya." ucap Radit.
Enjel menghela nafas, dia mengikuti Radit. Dia sebenarnya kurang tau tempat nya.
Enjel melihat Radit sudah lihai membawa mobil.
"Saya tidak pernah menyangka kalau tangan bapak sembuh setelah menikah dengan Abel " ucap Enjel.
"Abel sudah di takdir kan jadi obat saya, apapun penyakit nya kalau bersama akan sembuh cepat." ucap Radit.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai..
"Radit... Apa kabar Bro?" Dua laki-laki datang menghampiri Radit yang baru saja datang ke sebuah gedung besar dan mewah.
"Baik. Loe sendiri bagaimana?"
"Yah seperti ini lah. Maaf yah kita terpaksa bertemu di sini karena aku ada kerjaan di sini." ucap Pria itu.
Radit tersenyum. "Tidak apa-apa." ucap Radit. Pria itu menoleh ke arah Enjel.
"Aku pikir kamu tidak jadi ikut ke sini, kamu bagaimana kabar nya sudah lama kita tidak bertemu." ucap Heri.
Enjel menatap Heri. "Aku baik-baik saja." jawab Enjel dengan judes.
__ADS_1
"Kamu masih sama saja seperti yang dulu.. Selalu saja judes." ucap Heri.
Enjel diam. "Kalau begitu ayo kita masuk." ucap Heri.. Mereka berbincang-bincang sebentar mengenai pekerjaan.
"Hufff aku sangat muak di sini, melihat wajah Heri saja membuat aku kesal." ucap Enjel dalam hati.
"Tapi ngomong-ngomong Sekertaris nya ganteng juga. Dia juga kalem kelihatan nya." ucap Enjel sambil memerhatikan sekretaris nya yang sedang menyimak pembahasan mereka.
Lagi asik ngobrol tiba-tiba handphone Radit berdering telepon dari Novi.
"Kalian tunggu sebentar." ucap Radit dia ke depan untuk berbicara dengan Novi.
Enjel mau ikut juga namun langsung di tahan oleh Heri.
"Kamu mau ke mana? Aku masih ingin berbicara dengan kamu." ucap Heri. "Lepaskan tanganku! Kamu jangan lancang." ucap Enjel.
"Baiklah-baiklah." Heri melepaskan nya.
"Aku dengar sampai sekarang kamu belum punya pacar, aku sudah bilang kalau tidak ada pria yang mau sama kamu selain aku. Sebaiknya kamu terima saja tawaran ku menjadi pacar ku." ucap Heri.
"Aku tidak akan mau." ucap Enjel.
"Kenapa? apa yang kamu ragukan kepada ku? aku Tampan, kaya dan juga Semua yang kamu minta bisa aku berikan." ucap Heri.
"Aku bukan perempuan matre yang hanya menginginkan uang." ucap Enjel. Heri tertawa.
"Jangan keras kepala deh Enjel, nanti kamu menyesal sudah menolak aku." ucap Heri.
"Tapi sayang nya mulai dari sekarang kamu akan lebih sering bertemu dengan aku." ucap Heri.
"Sekarang bos mu sudah bekerja sama dengan perusahaan ku, dan lagi bos mu sudah mengijinkan kamu untuk bekerja dengan saya." ucap Heri.
Enjel kaget mendengar nya. "Bekerja dengan kamu? tidak mungkin." ucap Enjel.
"Percaya atau tidak itu adalah urusan kamu." ucap Heri.
Tidak beberapa lama Radit datang. "Yang di katakan Heri benar, kita sangat butuh banyak bantuan kamu. Kamu bisa bekerja di perusahaan Heri untuk sementara waktu." ucap Radit.
Mau menolak namun Enjel tidak mungkin membantah bos nya.
Dia melihat ke arah Heri yang tersenyum sangat manis dan dia juga terlihat sangat senang sekali membuat Enjel jengkel.
Radit dan Novi sudah pulang di malam hari.
"Huff Untung saja tuh perempuan gak ikut pulang, jadi aku bisa duduk berdua dengan pak Radit."' dalam hati Novi.
Namun sepanjang jalan Radit hanya diam saja, sesekali Sibuk dengan handphone nya berbalas pesan dengan istri nya membuat Novi sedikit kesal.
Abel dan Farel bermain dengan Bibik.
Namun tiba-tiba saja Abel merasa pusing.
__ADS_1
"Ada apa non?" tanya Bibik.
"Ini Bik kepala ku terasa pusing tiba-tiba." ucap Abel.
"Non mungkin kecapean, non istirahat saja yah. Saya akan membawa kan obat." ucap Bibik. Abel mengangguk.
Setelah selesai minum obat Bibik keluar untuk menjaga Farel.
Tepat jam Sembilan malam Radit baru saja pulang.
"Assalamualaikum Bibik."
"Walaikumsalam Tuan."
"Loh Farel belum tidur? Ini sudah jam berapa sayang?" ucap Radit.
Farel sibuk dengan mainan nya.
"Abel mana Bik?" tanya Radit.
"Di kamar tuan, tiba-tiba Kepala Non Abel sakit." ucap Bibik.
"Kok bisa?" tanya Radit.
"Mungkin karena kecapean seharian gak ada istirahat. Saya sudah meminta non Abel istirahat namun non Abel memaksa kan diri." ucap Bibik.
Radit langsung ke kamar dia melihat istrinya tidur di kasur.
"Sayang..." Panggil Radit. Abel bergeliat dia melihat suami nya duduk di samping nya.
"Kata Bibik kamu Sakit. Apa kita ke rumah sakit saja?" tanya Radit. Abel menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu kak, aku hanya kecapean saja. Aku sudah minum obat dan hanya butuh istirahat saja." ucap Abel.
"Apa sekarang masih sakit?" tanya Radit. Abel duduk dia menggeleng kan kepala nya.
"Sudah membaik kok kak, hanya sedikit lemas saja."
"Kamu sudah makan?". Abel menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak berselera mau makan kak."
"Kamu harus makan, saya akan mengambil nya."
Abel menahan Radit. "Gak usah, kakak pergi mandi dan istirahat, aku tidak ingin kakak juga sakit karena sibuk bekerja dan tidak istirahat."
"Tapi."
"Kakak sudah pulang jam segini, Waktu nya untuk istirahat." ucap Abel.
Radit juga sudah sangat lelah, dia pun mandi dan setelah itu tidur di samping istri nya.
Beberapa menit saja berbaring sambil memeluk Abel dia sudah tidur dengan sangat pulas sekali.
__ADS_1
"Bagaimana yah Farel? kenapa dia belum juga tidur?" ucap Abel karena belum di bawa Bibik masuk ke dalam kamar nya.